27.1.11

HIKAM; HIKMAH 3

HIKMAH 3 : Pasrah kepada Qadar Allah

KH. Muhammad Wafi, Lc


سوابق الههم لا تخرق أسوار الأقدار

“Semangat yang tinggi tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah”

1. Penjelasan
Etika yang harus dilakukan dalam maqam asbab adalah percaya akan takdir Allah. Etika ini sangat urgen untuk di pegang oleh salik yang ingin selamat dari kesesatan. Karena sebesar apapun usaha salik pasti tidak akan keluar dari takdir Allah. Oleh karena itu Ibnu Atha'illah menjelaskan dengan kata hikmahnya :
“Semangat yang tinggi tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah”.

"Semangat" disini adalah kemauan keras yang diberikan Allah kepada manusia untuk menghadapi kehidupan mereka seperti kerja, mengajar, dan sebagainya. Kemauan atau semangat keras yang diberikan Allah kepada manusia tersebut tidak akan mampu menembus dinding takdir Allah. Ibnu Atha'illah menyerupakan Qadar (takdir Allah) dengan dinding kokoh yang membentengi suatu negara. Jika ada seorang musuh yang ingin menghancurkan dinding tersebut maka dia tidak akan berhasil. Begitu juga manusia, dia tidak akan mampu membatalkan takdir Allah dengan kemauan dan semangat kerasnya tersebut.
Intisari makna kata hikmah Ibnu Atha'illah adalah lakukanlah asbab (bekerja) sesuai kemampuanmu, namun ketahuilah bahwa asbab yang kamu kerjakan walaupun disertai kemauan keras dan efektifitas akan menjadi sirna jika berhalangan dengaan Qadla’ dan hukum Allah yang telah digariskan.

Perlu kita ketahui bahwa Qadla' dan Qadar itu memiliki arti yang berbeda. Qadla' adalah ilmu Allah pada zaman azali dengan segala sesuatu yang akan terjadi, sedangkan Qadar adalah terjadinya sesuatu hal sesuai dengan ilmu Allah pada zaman azali tadi. Kemudian Qadla' yang namanya berubah menjadi Qadar ketika telah terealisasi, ada kalanya hanya Allah-lah sebagai pemegang kendali (kehendak manusia tidak ikut andil) seperti datangnya musibah dan bencana alam. Dan ada kalanya Qadla' Qadar terjadi atas kehendak Allah tetapi manusia memiliki andil di dalamnya seperti bekerja dan beribadah. Walaupun keduanya berbeda namun keduanya termasuk dalam Qadla' dan Qadar Allah SWT. Karena kesemuanya bekerja sesuai ilmu dan penciptaan Allah. Oleh karena itu segala sesuatu yang tunduk di bawah Qadla' dan Qadar Allah tidak ada hubungannya dengan ikhtiyar (usaha) dan idltirar (keterpaksaan) manusia.

2. Dalil
1. Al-Qur’an surat al-Dzariyyat : 58
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Artinya :
58. Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.

Dan juga surat Al-Ankabut : 17
...فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya :
17. ...Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.

Serta hadist Nabi :
شرح الأربعين النووية في الأحاديث الصحيحة النبوية - (ج 1 / ص 9)
إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ في بَطنِ أُمِّهِ أَربعينَ يَوماً نطفة ، ثمَّ يكونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلكَ ، ثمَّ يكونُ مُضغةً مِثلَ ذلكَ ، ثمَّ يُرسلُ إليه المَلَك ، فيَنْفُخُ فيه الرُّوحَ ويُؤْمَرُ بأربَعِ كلماتٍ : بِكَتْب رِزقه وأجَلِه وعمله ، وشقيٌّ أو سَعيدٌ

Artinya :
Sesungguhnya kejadian kalian di kumpulkan dalam perut ibu selama 40 hari berupa air mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging juga selama 40 hari, lalu Allah mengirim malaikat untuk meniupkan ruh dan di perintah agar menulis 4 perkara yaitu rizqinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau beruntung.

Dari ketiga dalil diatas bisa kita ketahui bahwa rizqi telah digariskan dalam ilmu Allah dan masuk dalam genggaman Qadla'-Nya. Segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali telah tergaris dalam ilmu-Nya. Adapun kesungguhan dan kerja keras kita hanyalah sebagai pelayan bagi segala sesuatu yang telah termaktub (tertulis) dalam Qadla' dan hukum Allah dan juga sebagai pelayan bagi Qadar yang realisasinya pasti sesuai dengan ilmu dan Qadla'-Nya.

2. Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 255
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Artinya :
255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Allah mensifati Dzat-Nya dengan Al-Qoyyum yang artinya Dzat yang mengurusi segala urusan untuk selama-lamanya. Jadi tidak ada satu makhluk yang bergerak atau memberi pengaruh kecuali dengan tindakan langsung dari Allah SWT.

3. Al-Qur’an surat Al-Rum : 25
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ
Artinya :
25. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

Jadi bergeraknya Afaq (cakrawala) bumi dan apa saja yang ada di dalamnya tergantung dari rahmat Allah. Perlu kita ketahui, ayat di atas menggunakan kalimah “تقوم ” yaitu fi'il mudlari’ yang menunjukkan zaman al-istimror (selama-lamanya dan terus-menerus). Segala sesuatu yang kita lihat baik berupa gerakan maupun perubahan, besar maupun kecil tidak akan sempurna tanpa kekuasaan dan perintah Allah SWT. Lalu (dengan penetapan ini) apakah ada yang mengatur segala sesuatu selain Allah?

4. Al-Qur’an surat Al-Fatir : 41
إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
Artinya :
41. Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Perhatikanlah ayat di atas, Allah memberikan redaksi dengan kalimah “يمسك” yaitu fiil mudlari’ yang juga bermakna zaman Al-istimror. Ayat di atas menjelaskan bahwa langit dan bumi bisa teratur dari waktu ke waktu karena aturan dan hukum Allah. Seandainya satu detik saja Allah tidak mengaturnya maka segala sesuatu pasti akan hancur dan tentunya sangat jauh apabila ada makhluk atau penyebab lain yang menempati posisi Allah sebagai pelaku utama yang mengatur alam ini.

5. Al-Qur’an surat Yasin : 41
وَآَيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
Artinya :
41. Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.

Jika memang perahu yang mengarungi gelombang laut itu adalah pelaku pengangkutan yang berpotensi dan mandiri, lalu kenapa Allah menisbatkan (menyandarkan) pekerjan mengangkut manusia di atas kapal kepada Dzat-Nya sendiri, dan tidak menisbatkannya pada kapal yang lahirnya memiliki kekuatan tersendiri?.
Ayat di atas dengan jelas menjelaskan bahwa yang mengangkut kapal dan manusia di dalamnya adalah Allah. Dengan demikian sirnalah kesalah pahaman dan benarlah bahwa al-Sababiyyah al-Haqiqiyyah (penyebab haqiqi) dalam pengangkutan hanyalah Allah SWT.

3. Aplikasi

a. Contoh
1) Kehidupan masyarakat
Banyak sekali cara yang dilakukan orang demi memperoleh rizqi. Namun setelah diteliti cara-cara tersebut tidak disyari'atkan (diperbolehkan) oleh agama. Suatu ketika ada orang yang menasehatinya agar menjauhi dan tidak melakukan cara tersebut karena tidak sesuai dengan syari'at. Lalu orang tersebut malah mencacinya dengan mengatakan : Sebenarnya cara yang saya kerjakan dalam mencari rizqi itu disyari'atkan dan diperintahkan, selain itu Allah juga tidak menyukai orang-orang yang malas dan tidak mau bekerja. Orang tersebut juga kadang membantah dengan mengatakan : Saya menjalankan kata hikmah dari Ibnu 'Atha'illah. Sesungguhnya Allah telah menempatkanku pada maqam asbab, lalu kenapa saya tidak boleh bekerja dengan caraku.

Fenomena di atas hanya dapat kita tepis dengan hikmah Ibnu 'Atha'illah bahwa semangat yang tinggi tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah. Ketika kita merasa bahwa diri kita berada di daerah yang dipenuhi dengan keharaman-keharaman dan kita ikut terseret untuk melakukan dosa, maka kita harus menjauhkan tangan kita dari pekerjaan dan perdagangan itu. Kita juga harus pindah tempat yang di situ tidak ada maksiat dan dosa seperti tempat pertama. Jika syaitan membisiki kita dengan berkata : Cara yang kamu kerjakan itu telah ditakdirkan oleh Allah, lalu apakah kamu akan mendapatkan ganti jika kamu tidak bekerja?. Maka kita harus menjawabnya : Dari mana argumen bahwa pekerjaan dan rutinitasku di daerah tersebut adalah sumber rizqiku yang menjadi penyebab kenikmatan dan kehidupanku?, Dan bagaimana argumen tersebut harus aku terima padahal aku akan selalu hidup sebagaimana firman Allah bahwa hanya Allah-lah yang memberi rizqi.

Kita juga harus menepis syaitan dengan jawaban : Jika memang Allah telah menakdirkan saya kaya, maka hal itu pasti akan terwujud di manapun saya pergi. Dan jika Allah menakdirkan diri saya miskin, maka hal itu juga akan terwujud walaupun saya telah bekerja keras dan pergi ke semua daerah untuk bekerja.

Sebagian orang juga terkadang berasumsi dengan mengatakan : Lalu apa gunanya bekerja jika memang hal itu tidak bisa merubah takdir Allah. Dan apa gunanya pergi ke penjuru daerah untuk mencari rizqi jika telah di gariskan Allah SWT?

Jawabannya adalah dalam bekerja kita itu berada pada salah satu posisi. Posisi pertama adalah jika bekerja itu terasa jauh dan tidak bisa mendorong semangat dan kerja keras kita. Jika kita berada dalam posisi ini, maka berarti kita berada pada maqam tajrid dan yang harus kita lakukan adalah pasrah serta menjauhi pekerjaan tadi.

Posisi kedua adalah jika bekerja itu ada di depan kita, maka kita harus menerima dan melakukannya. Tapi bukan karena bekerja itu memiliki kekuatan dan mampu melawan Qadla' dan Qadar Allah, melainkan karena Allah telah menempatkan kita pada maqam asbab dan memerintahkan kita untuk menjalankannya. Kita juga harus yakin bahwa yang menjadikan kita hidup adalah kehendak dan hukum Allah bukan pekerjaan yang kita lakukan tadi. Jadi pekerjaan yang kita tekuni hanyalah rutinitas yang telah ditempatkan dan diperintahkan oleh Allah kepada kita. Pada hakikatnya kita bisa hidup adalah dari Allah, bukan dari pekerjaan kita.

Sebagian orang Islam juga terkadang meyakini bahwa di dalam suatu perkara (seperti air, api, makanan) itu memiliki kekuatan atau potensi yang terpendam di dalamnya. Jadi dengan potensi tersebut perkara tadi bisa memberi atsar (efek) pada kita. Jika kita juga merasakan keyakinan tersebut, maka kita harus ingat akidah keimanan kita bahwa sebenarnya Allah-lah yang memberi kekuatan pada perkara tersebut, sehingga perkara tadi bisa memberi manfaat pada kita.

Kita juga harus meyakini bahwa Allah itu satu Dzat-Nya. Maka tidak ada Tuhan dalam alam semesta ini kecuali Dia. Allah juga satu sifat-Nya, dan Allah juga satu pekerjaan-Nya, maka tidak ada satu makhluk di dunia ini yang iktu campur dalam pekerjaan Allah, karena Allah adalah satu-satunya Dzat pencipta.

Jika ada orang yang meyakini bahwa di dalam api itu ada kekuatan mambakar yang dititipkan Allah di dalamnya kemudian Allah meninggalkannya. Lalu dengan kekuatan ini api bisa membakar dengan sendirinya. Maka orang tersebut berarti menetapkan bahwa dalam suatu perkara ada kekuatan (selain kekuatan Allah) yang ikut andil dalam mengatur sesuatu. Dengan demikian orang tersebut telah menyekutukan Allah, dan keluar dari jalan yang lurus.

2) Cerita sayyidah Maryam

sesungguhnya pekerjaan yang kita lakukan hanyalah menuruti perintah dan aturan yang telah ditetapkan Allah pada semua makhluk. Kita diperintahkan untuk makan, minum dan berobat jika kita lapar, haus, dan sakit. Kita juga diperintah agar waspada pada penyakit dan musibah. Keyakinan bahwa tidak ada pelaku selain Allah harus ditancapkan dalam diri kita. Hanya Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu dan tidak ada pengaruh kecuali dari hukum-Nya. Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-A'raf : 54 :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Artinya :
54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy[548]. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.


Allah memerintahkan kita untuk mengerjakan pekerjaan, di sisi lain Allah juga memerintahkan pada kita untuk meyakini bahwa semangat yang kuat tidak mampu menembus dinding-dinding takdir.

Syari’at (aturan) yang dibebankan Allah dan keyakinan yang diajarkan-Nya (pelaku hakiki hanyalah Allah) teraplikasikan dalam khitabNya kepada Sayyidah Maryam ketika bersandar pada pohon kurma dalam keadaan hamil. Allah berfirman di dalam surat Maryam : 25 :
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
Artinya :
25. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,


Pohon yang disandari Sayyidah Maryam adalah pohon kurma yang sudah tua dan tentunya tidak berbuah lagi. Namun seketika itu pula Allah menumbuhkan buah kurma yang masih segar. Tidak perlu diragukan lagi bahwa Allah sangat mampu sekali untuk menurunkan buah kurma dalam pangkuan Sayyidah Maryam tanpa harus memerintahkan Sayyidah Maryam untuk menggoyang pohon kurma tersebut. Namun Allah ingin mengajarkan aturan dan syari’at kepada manusia. Oleh karena itu Allah berfirman :
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ ...
Artinya :
"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu"

Dengan demikian kita tahu bahwa yang menciptakan kurma adalah Allah, namun Allah mengajarkan sebab demi turunnya buah kurma yaitu dengan menggoyang pohonnya.

b. Efek Edukasi

Marilah kita melihat education efec (pengaruh edukasi) dengan melakukan asbab (pekerjaaan), namun didasari keyakinan bahwa tidak ada pelaku selain Allah dan segala sesuatu pasti tunduk pada Qadar Allah, maka kita akan menemukan efek yang baik pada diri manusia serta akan membentuk jiwa dan pikiran yang sehat.

Jika usaha kita yang berada di bawah Qadla' dan Qadar Allah, telah menghasilkan cita-cita kita, maka kita akan yakin bahwa anugerah ini adalah pemberian Allah SWT dan dari sinilah kita harus banyak bersyukur dan memuji Allah SWT. Sebaliknya, jika cita-cita kita belum terwujud maka kita menyadari bahwa semuanya telah menjadi takdir Allah. Oleh karena itu kita tidak akan kebingungan dalam menghadapi kehidupan ini dan kita tidak akan mengandai-andai bahwa jika kita melakukan seperti ini niscaya tidak akan terjadi seperti ini, dan jika kita melakukan seperti apa yang dilakukan seseorang niscaya kita akan sukses seperti mereka.

Fenomena di atas telah meracuni sebagian manusia yang mengakibatkan mereka stress dan hidup dalam kesedihan. Namun seorang mukmin yang patuh pada hukum-hukum syar’i serta dilandasi keyakinan pada qadla ilahi pasti akan selamat dari musibah dan penyakit ini. Karena mereka tahu bahwa ini semua terjadi atas kehendak Allah. Dengan percaya dan ridla atas kehendakNya, maka mereka semakin tenang dan yakin bahwa kehendak Allah tersebut adalah yang terbaik bagi mereka.

Pada akhirnya kita akan tunduk dan menjalankan wasiat Nabi Muhammad SAW, yaitu :
استعن بالله ولاتعجز وان أصابك شئ فلا تقل لو أني فعلت كذا لكان كذا, فان لو تفتح عمل الشيطان ولكن قل قدر الله وما شاء فعل. (رواه مسلم)
Artinya :
Mintalah pertolongan pada Allah dan janganlah lemah, jika kamu tertimpa sesuatu janganlah kamu mengatakan bahwa sendainya saya melakukan seperti ini niscaya tidak akan terjadi seperti ini, karena mengandai-andai itu akan membuka pintu sayetan. Akan tetapi katakanlah bahwa Allah telah menakdirkan seperti ini dan Allah berhak untuk melakukan apa saja yang Dia inginkan.

Kita juga harus tahu bahwa dengan adanya Qadla' dan Qadar Allah bukan berarti kita tidak memiliki ikhtiyar (usaha), karena masalah Qadla' dan Qadar itu tidak ada hubungannya dengan ada atau tidaknya usaha manusia. Inilah hal yang perlu kita perhatikan dan janganlah kita tertipu oleh asumsi sebagian manusia dalam memahami makna Qadla' dan Qadar. Dengan demikian kita akan selamat dari kesesatan dan hidup dalam penuh kehormatan dan ketenangan.

17.1.11

HIKAM : HIKMAH 2 Oleh KH. M. WAFI, LC

HIKAM IBNU ATA'ILLAH AS-SAKANDARY  
HIKMAH 2 
PEMBAGIAN MAQAM

KH. Muhammad Wafi, Lc
 
 
ارادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الاسباب من الشهوة الخفية,
وإرادتك الاسباب مع اقامة الله اياك في التجريد إنحطاط عن الهمة العلية

"Kamu ingin maqam tajrid padahal Allah menempatkanmu di maqam asbab itu termasuk syahwat yang samar,
sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur"

1. Dalil-Dalil
Mengenai maqam tajrid, terdapat dalam firmannya (dalam surat Al_Muzammil ayat 1-4) :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ . قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا . نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا . أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا .

Artinya :
1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),
2. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
4. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

Mengenai maqam asbab, terdapat dalam firmannya (dalam surat al-Furqan ayat 20) :
بعضكم لبعض فتنة اتصبرون وكان ربك بصيرا وجعلنا
Artinya :
20. dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.


2. penjelasan
a. Maqam Tajrid
Maqam Tajrid adalah dirimu jauh untuk melaksanakan asbab (berinteraksi dengan manusia lain/bekerja) karena posisi dan kondisi mu itu menuntut untuk meninggalkannya.atau bisa di istilahkan Hablun min Allah.

Ciri-cirinya adalah dirimu sudah ada yang menjamin dalam masalah rizqi, sehingga dengan mudah engkau dapat menghindar ke akhirat.

b. Maqam Asbab adalah selalu di kuasai oleh asbab(cara-cara interaksi dengan sesama), maksudnya di manapun ia bergerak, ia tidak bisa menghindar dari asbab tersebut.atau bisa di istilahkan dengan Hablun min an-nas.

Ciri-cirinya adalah dirimu adalah punya tanggung jawab terhadap kehidupan orang lain, sehingga harus memikirkan keberlangsungan kehidupan mereka.

Bagian pertama dari hikmah ini

إرادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من الشهوة الخفية...

Artinya:
sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur"

Oleh karena itu, yang dituntut oleh Allah SWT pada hambanya adalah melaksanakan segenap perintah-Nya dan meniggalkan segala larangan-Nya dengan memandang posisi dirinya, artinya tidak layak baginya untuk menjalankan asbab dan meninggalkannya dengan sesuka hati, tanpa memikir dan mengangan-angan posisi sebenarnya dirinya, begitu juga sebaliknya.

Untuk lebih jelasnya, akan kami paparkan beberapa contoh padamu. Ada seseorang yang bertanggung jawab keluarga, istri, dan anak-anak. Jadi dia diposisikan agar mencari dan bersusah payah dengan rizqi. Bayangkan, seandainya ia berkata pada dirinya sendiri : "Aku tidak butuh ke pasar, karena aku telah yakin semua rizqi itu telah ditentukan oleh Allah SWT". Kemudian orang itu benar-benar pasrah dan tidak berupaya untuk memperoleh rizqi.

Kami katakan padanya : engkau harus tahu situai dan posisi apa yang sedang Allah SWT tempatkan padamu. Ingatlah sekarang Allah sedang memposisikan dirimu di maqam asbab. Buktinya ia bebankan padamu tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Apabila kau berpaling dari posisi ini, ingat engkau sedang melakukakan ta'at secara lahiriyyah, tetapi sebenarnya kau mengikuti hawa nafsumu, agar kelihatan zuhud dan sufi di mata orang lain. Dan ini adalah kesalahan besar dan bahaya dalam syari'at agama Islam. Adapun metode dan sistem semestinya engkau harus tahu apabila Allah menjadikan dirimu pemimpin keluarga berarti artinya Dia telah memberikan tanggung jawab urusan keluarga padamu. Artinya engkau tidak bisa bermuamalah dengan Allah atas dasar keadaan dirimu sendiri saja, tapi kamu perlu memperhatikan kahidupan istri-istri dan anak-anakmu. Dengan kata lain, apabila engkau menyangka dirimu telah percaya penuh dengan pembagian Allah SWT sehingga kau konsen penuh untuk beribadah dan meninggalkan dunia, lalu kenapa engkau paksa istri dan anakmu untuk menjalankan kepercayaan itu? Dan untuk menjalankan zuhud yang kau inginkan itu?

Katakan pada orang ini : "Allah SWT telah menempatkan di antara dua piringan timbangan syari'atNya. Firman Allah SWT :

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ . أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ . وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ.

Artinya :
7. Dan Allah Telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan).
8. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.
9. Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Ingatlah! hidup ini untuk keluargamu bukan untuk dirimu sendiri, dan yang dapat mengatur perjalanan agamamu adalah ketentuan syari'at-Nya. Sementara syara' menyuruhmu untuk mempersiapkan-semampumu- kehidupan yang layak bagi keluargamu, dan untuk mendidik putra-putrimu lahir dan batin dengan didikan yang baik lagi sempurna. Apabila engkau berpaling dari asbab ini, itu artinya kau telah berbuat buruk dan su'ul-adab kepada allah SWT. Karena kau telah berpaling dari aturan-aturan(SunnatuLlah) yang semestinya. Allah SWT berfirman padamu : metode untuk menjaga keluargamu itu harus menjalankan asbab. Bila kau berkata : "tidak mau. Karena aku ingin murni bersimpuh di hadapanmu, maka Allah berfirman : "Tinggalkan keinginanmu dan lakukan apa yang aku katakana padamu, keluarlah ke pasar, bekerjalah, berdagang dan lakukanlah sesuatu yang membuka jalan rizqimu!.

Dan ingatlah! mematuhi perintah-perintah ini adalah ibadah bagimu, itu adalah tasbih dan tahmidmu.

Yang perlu di perhatikan, ta'at dan ibadah itu tidak tertentu hanya pada amalan-amalan khusus saja, lalu bila tidak melakukan amalan-amalan itu ia di sebut materialistis (bersifat duniawi).

Tapi semua amal kebaikan itu ibadah, apabila ada niat dan tujuan Allah SWT tergantung situasi dan kondisi. Sebagaimana hikmah Ibnu 'Atha'illah :

تنوعت اجناس الأعمال بتنوع واردات الاحوال

Artinya :
"Amal itu bermacam-macam sesuai keadaan manusia"

Oleh karena itu, amal shalih bagi orang yang tidak ada hubungan dengan masyarakat dan jauh dari tanggung jawab(seperti santri) itu adalah ibadah yang kembali pada dirinya seperti sholat, puasa, dzikir dan lain-lain. Adapun ibadah orang yang mempunyai tanggung jawab dalam keluarga politik atau masyarakat, maka amal shalih baginya adalah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan semestinya, begitu juga bagi penjaga benteng pertahanan, amal shalih untuknya adalah ikhlas dan benar-benar memperhatikan musuh yang ada di sekelilingnya, begitulah seterusnya. Disini perlu di ingat, bahwa ada ibadah-ibadah yang wajib di laksanakan oleh semua golongan dengan tanpa memandang situasi dan kondisi tertentu, yaitu ibadah-ibadah yang pokok, misalnya shalat fardlu, puasa, ibadah haji serta dzikir-dzikir yang pokok.
Bagian kedua dari hikmah ini

...وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية

Artinya :
"…Sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur."

Penjelasan
Ada sebagian orang yang sudah tidak memerlukan lagi mencari rizki karena dia tidak mengurusi keluarga dan orang lain dan sudah di anugrahi Allah kecukupan rizki, maka dia harus menggunakan waktunya untuk mencari ilmu, ibadah dan dzikir (mengingat Allah).disini Ibnu Athoillah menyarankan untuk tidak terjun masalah duniawi karena itu akan menurunkannya dari cita-cita luhur

Artinya: Apabila engkau ingin bermalas-malasan karena telah percaya pada hartamu, lalu kamu hanya makan, minum dan tidur sampai kamu mati, ini artinya kahidupanmu seperti hewan. Adapun jika kamu ingin mempelajari agama-Nya dimana karena kamu telah kecukupan dalam segi materi, maka inilah metode terbaik dan paling tepat bagi orang yang memiliki cita-cita luhur. Itu di karenakan ketika Allah SWT menjauhkan dirimu dari tanggung jawab, itu berarti Allah menempatkan dirimu pada maqam tajrid. Maka konsenterasikan fikiranmu untuk mempelajari agama dan syari'at-Nya atau kau berada di antara berisan pasukan perang demi membela agama-Ny, apabila itu memungkinkan.

Apabila orang ini berkata : "Tapi bekerja kan juga ibadah, sesuai dengan firman Allah SWT ……dan sabda Rasul…. ?".
maka ketahuilah! bahwa gejolak jiwa yang menggodanya ini adalah rayuan syaitan dan itu hanyalah penurunan dari derajat yang tinggi sebagaimana pernyataan Ibnu 'Atha'illah.

Jika perkataan ini benar perintah ketuhanan, itu berarti kita akan menyalahkan perbuatan para santri-santri yang mondok diberbagai pondok. Yaitu para pemuda yang di tempatkan Allah pada maqam tajrid dan bebas dari beban asbab lalu mendarmakan hidupnya untuk mempelajari agama Islam dan hukum-hukumnya. Para pemuda-pemuda ini selama belum memiliki beban tanggung jawab keluarga atau masyarakat, dan mereka masih tetap dan semangat belajar ilmu-ilmu agama Islam, maka kita menganggap mereka adalah orang-orang besar dan orang-orang yang lebih di antara manusia,kita mengharap turunnya rahmat Allah bertawassul dengan mereka.

Dari sini kami dapat menyimpulkan bahwa syara' itulah yang menjadi barometer seorang apakah dia ada di maqam tajrid atau asbab?. Apabila sampai melewati ketentuan-ketentua syari'at demi mengikuti keinginan dan kesukaan hatinya, maka akan terjebak dalam kondisi yang disebut syahwat yang samar(الشهوة الخفية), atau turun dari cita-cita tinggi(انحطاط عن الهمة العلية).

3. Contoh-Contoh
Akan saya paparkan beberapa contoh untuk memudahkan mengaplikasikan peraturan-peraturan syari'at :

a. Contoh Pertama
Sekelompok orang bersiap-siap untuk haji, sebagian ada yang terbebas dari tanggung jawab dan berkonsentrasi untuk melaksanakan ibadah dan ta'at. Dan sebagian lain ada yang menjadi dokter yang bertanggung jawab untuk menangani serta mengobati para jamaah haji. Maka orang pertama berada pada maqam yang di sebut Ibnu 'Atha'illah dengan maqam tajrid dan dia di tuntut untuk memperbanyak ibadah, dzikir-dzikir atau banyak-banyak melakukan shalat sunnah. Sedangkan orang nomer dua ada pada maqam yang di sebut maqam asbab, dan dia dituntut untuk mengurusi asbab, Jadi para dokter-dokter itu di suruh untuk memperhatikan kesehatan para pasien yang sedang menjalankan ibadah haji itu.

b. Contoh Kedua
Ada pemuda yang di perintah oleh ayahnya : "Aku akan mengurusi dan memenuhi segala keperluanmu, yang aku kehendaki kamu Cuma konsentrasi mempelajari kitab Allah dan syari'at-Nya!"
Maka santri ini oleh Allah SWT telah di tempatkan di maqam tajrid. Oleh karena itu dia dituntut untuk melakukan hal yang sesuai dengan maqamnya, yaitu mempelajari al-Quran dan ilmu syri'at.

Orang seperti ini tidak boleh dikataan : "Syara' memerintahmu untuk mencari rizqi dan mencegah untuk melakukan pengangguran". karena yang diperintahkan syara' untuk pergi ke pasar dan mencari rizqi itu adalah orang-orang yang tidak memiliki tanggung jawab seperti orang tua dan para pejabat. Adapun orang yang telah di beri Allah SWT kebutuhan rizqi, seperti santri maka di dia syari'atkan tidak mencari rizqi. Yang di larang Syara' adalah jadi pengangguran padhal santri bukan menganggur tetapi waktunya di alihkan dari maqam asbab(cari rizki) ke maqam tajrid (mempelajari agama).

c. Contoh Ketiga
Seseorang yang bekerja di sebuah toko, dia mengetahui jika dia bekarja dari jam 07.00 pagi sampai jam 17.00 sore, maka dia akan mendapatkan uang yang cukup. Maka syara' akan berkata kepadanya : "Allah SWT telah menempatkan dirimu dari jam 07.00 pagi-jam17.00 sore di maqam asbab dan kamu wajib bekerja dengan keras. Adapun sebelum dan sesudah waktu tersebut, Allah menepatkan dirimu pada maqam tajrid. Oleh karena itu kamu harus menggunakan waktu untuk mendalami pengetahuan tentang Islam dan beribadah.

d. Contoh keempat
Seseorang yang sedang berada di Amerika untuk belajar, setelah itu dia berkeinginan mendapatkan harta dan kehidupan baik. Kemudian dia menetap bersama keluarganya dan mencari pekerjaan disana. Apakah yang demikian itu sesuai dengan tuntunan syari'at?
Realitalah yang akan menjawabnya.realita yang ada mengatakan bahwa orang yang hidup di Amerika dan Eropa bersama anak-anak dan keluarganya rusak moralnya karena lingkungan di Amerika dan Eropa yang bebas dalam pergaulan. Oleh karena itu semestinya orang tersebut sedang menjalankan maqam tajrid bukan maqam asbab, buktinya jika orang tersebut masih mencari harta di Amerika, maka anak-anaknya akan terjerumus pada pemikiran-pemikiran yang tidak Islami. Inilah yang di sebut Ibnu 'Atha'illah :

...وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية

Artinya :
"…Sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur."

Download audinya Klik Disini

Baca Juga
Hikmah 1
Hikmah 3
Hikmah 4
Hikmah 5

HIKAM HIKMAH 1 Oleh; KH. WAFI MZ





 HIKAM IBNU ATHA'ILLAH  AS-SAKANDARY

HIKMAH 1 : 
Tidak Mengandalkan Amal dan Alamatnya

KH. Muhammad Wafi, Lc 
 
من علامات الإعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

"Termasuk tanda berpegang pada amal adalah kurang mengharapkan ampunan Allah SWT ketika berbuat kesalahan"

1. Penjelasan
Berpegang pada amal (mengandalkan amal) adalah suatu hal yang tercela. Ibnu Atha’illah menasehati kita : “Takutlah kamu berpegang pada amal seperti shalat, puasa, shadaqah, dan lain-lain untuk mencapai ridla Allah SWT dan memperoleh balasan yang Allah SWT janjikan. Tetapi berpeganglah pada pemberian Allah dan anugrah-Nya.
Al-Allamah Burhanuddin Ibrahim bin Ibrahim bin Hasan Al-Laqqoni di dalam kitab Jauharotul Al- Tauhid :

وان يعذب فبمحض العدل              فإن يثبنا فبمحض الفضل
Artinya :
Apabila Allah memberi pahala kepada kita maka itu adalah murni dari anugrah-Nya, dan bila Allah menyiksa kita maka itu adala murni keadilan-Nya.

Ini adalah salah satu konsep aqidah yang harus dimiliki oleh setiap muslim sebagaimana aqidah ulama-ulama salaf.

Terkadang ada orang yang berkata, secara lahir pahala yang berhak dimiliki seseorang adalah karena amal shaleh yang dia lakukan. Namun ketika kita mau berfikir dan merenung tentang hubungan antara hamba dan Tuhannya, maka kita akan mengerti bahwa apa yang diucapkan oleh orang tersebut adalah salah.

Kesalahan tersebut muncul ketika dia mengatakan bahwa surga bisa diperoleh dengan amal ibadah. Maka maknanya, Allah telah menentukan harga surga bukan dengan dinar atau dirham, melainkan dengan taat beribadah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan konsekwensinya ketika dia telah menyerahkan ibadah sebagai harga, maka dia telah memiliki surga dan berhak mengeluarkan penjualnya (Allah) seperti halnya hubungan antara penjual dan pembeli.

Tentunya ini adalah kesalahan yang sangat fatal sekali. Ingatlah ketika Allah SWT memerintah kita untuk beribadah dan melarang dari maksiat serta memberi taufiq dan hidayah kepada kita sehingga kita bisa beribadah. Siapakah Dzat yang telah memberi kita kekuatan untuk shalat dan puasa? Siapakah Dzat yang telah memberikan kelapangan dada untuk beriman?. Jawabannya tidak lain adalah hanya Allah SWT semata.

2. Dalil
a. Firman Allah dalam surat Al-Hujurat : 17 :

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [الحجرات/17]
Artinya :
Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuk kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Hujurat : 17)

Jadi sangat tidak pantas sekali ketika seseorang mengatakan bahwa ibadah adalah harga untuk membeli surga Allah SWT.

Oleh karena itu, jangan sampai terbesit sedikit pun dalam hati kita bahwa kita berhak memperoleh surga dan pahala sebab telah melakukan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah SWT dan telah menjauhi larangan-larangan-Nya, karena bila kita meyakini hal tersebut, maka itu merupakan salah satu bentuk dari kemusyrikan.

Hubungan antara manusia dan Tuhannya tidak bisa disamakan dengan hubungan antar sesama manusia sebab Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan manusia dan segala apa yang dia lakukan, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada ummatnya.
لا حولا ولا قوّة إلا بالله
Artinya :
Tidak ada daya untuk melakukan ibadah dan tidak ada kekuatan untuk menjauhi maksiat kecuali Allah.

Ketika kita memuji Allah dengan mulut kita, maka kita wajib bersyukur kepada Allah karena dia telah menggerakkan mulut untuk memuji-Nya, ketika kita melakukan shalat tahajjud, maka wajib bagi kita untuk bersyukur karena Allah telah memberikan taufiq-Nya, dan seandainya bukan karena rahmat, inayah dan hidayah-Nya, maka kita pasti masih tenggelam dalam lelap tidur.

Dari penjelasan-penjelasan di atas terkadang timbul pertanyaan mengenai makna firman Allah yang terdapat di dalam surat An-Nahl : 32

...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32]
Artinya :
Masuklah kamu ke dalam surga itu di sebabkan apa yang telah kamu kerjakan. (QS. An-Nahl :32)

Bila dilihat dari dhahirnya, seolah-olah ayat di atas memberi kesan bahwa masuk surga itu disebabkan oleh amal seseorang, apakah memang demikian?, jawabannya adalah tidak, karena kalam tersebut hanya berasal dari satu pihak yaitu Allah SWT, bukan dari dua pihak yang sedang melakukan akad. Pertama kali Allah memberi kita taufiq sehingga kita bisa beramal shalih dan melakukan kebaikan. Setelah itu Allah SWT berfirman :

...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32]
Artinya :
…Masuklah kedalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan. (QS. An-Nahl : 32)

Maka kesimpulannya, masuk surga bukanlah sebab amal kita tetapi murni dari anugrah dan ihsan Allah SWT. Dan bila perasaan tersebut (masuk surga karena amal sholih) sulit dihilangkan, maka kita harus memahami makna ubudiyyah kepada Allah SWT dan kita juga harus ingat bahwa kita sangat butuh pada pertolongan dan inayah Allah SWT.

b. Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari ra. :

لن يدخل أحدكم الجنة عمله قالوا ولا أنت يا رسول الله قال : "ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمة".
Artinya :
Salah satu diantara kalian amalnya tidak akan memasukkannya ke surga. Para Shahabat bertanya : Dan bukan engkau ya Rasulullah?. Rasulullah SAW menjawab : “Dan bukan aku, hanya saja Allah meliputi rahmat-Nya kepadaku”.

Jadi amal ibadah bukanlah harta yang bisa untuk membeli surga. Oleh karena itu yang dituntut dari seseorang yang diberi hidayah Allah SWT ketika dia mampu melakukan ibadah adalah merasa bahwa dia bisa mendapatkan ridla Allah SWT karena anugrah dan rahmat-Nya, bukan karena amal ibadah yang dia lakukan.


3. Aplikasi
a. Contoh
Sebuah perumpamaan yang bisa menggambarkan penjelasan di atas adalah kejadian sebagai berikut :
Ada seorang ayah yang ingin melatih amal kebaikan kepada anaknya. sang ayah pun berkata kepada anaknya : "Bila kamu bershadaqah kepada orang miskin, maka aku akan memberimu hadiah". Setelah itu sang ayah meletakkan sejumlah uang di dalam saku sang anak tanpa sepengetahuannya, lalu sang anak merenungkan perkataan ayahnya. Kemudian sang anak bershadaqah dengan uang tersebut kepada orang miskin. Sehingga sang ayah gembira melihat hal tersebut karena sang anak bisa melakukan kebaikan. Lalu dia pun memberi hadiah kepada anaknya.

Dari perumpamaan tersebut tidak bisa diragukan lagi bahwa uang yang di gunakan shadaqah adalah milik sang ayah. Sedangkan pemberian hadiah kepada sang anak walaupun secara dhahirnya dinamakan imbalan (jaza’), namun pada hakikatnya pemberian hadiah tersebut karena sang ayah sayang dan mendorongnya untuk melakukan amal sosial.

Diceritakan bahwa ada sebagian ulama’ ketika tidur bermimpi bertemu dengan salah satu waliyullah yang sudah wafat. Di dalam mimpinya dia bertanya kepada wali tersebut “Apa yang Allah lakukan kepadamu?”, wali tadi menjawab : ”Aku dihadapkan kepada Allah SWT dan Allah bertanya kepadaku : ”Dengan apa engkau datang kesini?”, lalu aku menjawab : “Ya Rabbi, saya adalah seorang hamba sahaya (budak), sedangkan hamba itu tidak memiliki apa-apa yang bisa diberikan. Aku datang kepada-Mu dengan penuh harapan mendapat ampunan dan rahmat-Mu”.

Jawaban yang disampaikan wali tersebut merupakan salah satu bentuk ubudiyyah yang bisa difaham dari hadist Abi Hurairah :

لن يدخل أحدكم الجنة عمله قالوا ولا أنت يا رسول الله قال : "ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمة

".
Artinya :
Salah satu diantara kalian amalnya tidak akan memasukkannya ke surga. Para Shahabat bertanya : Dan bukan engkau ya Rasulullah?. Rasulullah SAW menjawab : “Dan bukan aku, hanya saja Allah memberikan rahmat-Nya kepadaku”.

Ibarat yang digunakan Rasulullah di dalam hadist di atas adalah عمله dan tidak menggunakan kata بعمله , karena seandainya Rasulullah menggunakan kalimat بعمله , maka akan bertentangan dengan ayat :

...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32]

Hadist tersebut juga mengandung makna bahwa berpegang pada amal tanpa mengharapkan ampunan dan rahmat dari Allah SWT, bisa menyebabkan kerugian dan tidak akan mencapai impian-impian yang dicita-citakan. Hal ini di disebabkan Allah telah menjadikan amal yang sangat rendah dan kurang sebagai jalan untuk memperoleh ampunan dan rahmat-Nya seperti di dalam ayat :

...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32]

Lihatlah ketika ada orang bershadaqah kepada fakir miskin, maka kamu akan mengetahui betapa berat rahmat Allah kepada hamba-Nya. Karena pada hakikatnya harta yang dia shadaqahkan adalah milik Allah SWT.

Di dalam surat An-Nur : 33 dijelaskan :
...وَآَتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آَتَاكُمْ... [النور/33]
Artinya :
Dia berikan kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.(QS. An-Nur : 33)

Kemudian Allah mengkhitabi manusia di dalam surat Al-Baqarah :240 :
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (245)
Artinya :
Siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (QS. Al-Baqarah : 245)

Di dalam ayat di atas Allah menempatkan Dzat-Nya seolah-olah sebagai orang yang berhutang kepada manusia yang bershadaqah dan Allah akan memberi balasan yang berlipat atas shadaqahnya.

Bila kita menyangka bahkan yakin bahwa Allah berhutang, sehingga kita bisa menuntut pahala ketika sudah bershadaqah, maka berarti kita telah mabuk dan gila, karena kita lupa bahwa apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah milik Allah SWT.

Terkadang timbul pertanyaan apakah ada pertentangan antara Allah memasukkan manusia dengan rahmat-Nya dan Allah memerintah manusia untuk beribadah? .

Jawabannya adalah tidak. Ibadah merupakan hak Allah yang wajib dilakukan manusia sebagai pembuktian bahwa dia adalah hamba Allah. Sedangkan surga adalah karunia Allah sebagai bukti sifat-sifat rahmat-Nya dan Allah telah memutuskan bahwa orang yang paling berhak mendapat rahmat adalah yang paling banyak melakukan kewajiban-kewajiban. Di dalam surat Al-A’raf : 156, dijelaskan :
...وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [الأعراف/156]
Artinya :
Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-A’raf : 156)

b. Alamat I'timad Pada Amal

Kurang percaya terhadap rahmat Allah SWT termasuk mengandalkan amal. Adapun cara menghilangkannya adalah dengan tidak mengandalkan pada suatu amal dan selalu mengharap rahmat dan ampunan Allah SWT serta takut akan siksa dan adzab-Nya ketika melakukan kesalahan. Sehingga ketika seseorang merasa tidak memiliki kekuatan untuk melakukan ibadah dan kewajiban yang sangat banyak maka akan timbul dua perasaan, yaitu perasaan mengharap ampunan dan rahmat Allah SWT dan perasaan malu dan takut di sisi Allah SWT.

Terkadang syetan akan menghasut manusia bahwa ibadah dan takut itu tidak berperan dalam memperoleh rahmat Allah sehingga tidak ada perbedaan antara melakukan ibadah dan meniggalkannya (melakukan maksiat).

Hasutan ini tidak boleh di turuti. Karena dalam ayat :

...وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [الأعراف/156]

ternyata Allah menggunakan kalimat لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ (Bagi orang-orang bertaqwa) Dan tidak menggunakan kalimat ِللنَّاِس (semua manusia).
Ayat ini juga mengandung dua hal yang saling talazum (bergantung dan mengisi), yaitu:
1) Seseorang harus berjalan di jalan yang benar dengan melakukan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.
2) Seseorang harus mengerti bahwa surga dan pahala itu diperoleh dengan rahmat dan ampunan Allah, bukan dengan amal ibadah.

Dua hal ini juga terkandung di dalam surat Thaha : 82 :

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى (82)

Artinya :
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. Thaha : 82)

Dari ayat di atas bisa difahami bahwa iman dan amal shalih adalah hal yang wajib, sedangkan pahala itu diperoleh dari ampunan dan rahmat Allah SWT.

Mungkin di dalam hati kita timbul sebuah pertanyaan : Allah telah menakut-nakuti orang yang berdosa dan berbuat maksiat dengan siksa-siksa-Nya, lalu bagaimana mungkin orang yang berbuat dosa tidak berkurang harapannya terhadap ampunan dan rahmat Allah? padahal Allah juga mensyaratkan iman dan takwa untuk memperoleh rahmat-Nya. Seperti pada surat Al-A'raf ayat 156 :

...فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ... (156)
Artinya :
Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-A’raf : 156)

Jawabannya adalah orang yang berbuat maksiat harus bertaubat karena dia tidak mungkin bisa menghadap Allah dengan mengharapkan rahmat-Nya kecuali dengan bertaubat dan menyesali dosa-dosanya.

Bila dia mau bertaubat dengan sungguh-sungguh maka harapan terhadap rahmat Allah akan selalu bertambah dan Allah pasti akan menerima taubatnya, Allah SWT berfirman di dalam surat At-Taubah : 104 :

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ [التوبة/104]
Artinya :
Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah : 104)

Demikian pula di dalam hadist qudsi di terangkan :
اذ نب عبد ذنبا فقال : اللهم اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد فأذنب فقال اي رب اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد فأذنب ثم عاد فأذنب فقال اي رب اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب قد غفرت لعبدي فليفعل ما شاء.(الحديث)
Artinya :
Ada seseorang melakukan dosa lalu dia berdo’a : Ya Allah ampunilah dosaku. Lalu Allah berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa. Kemudian sang hamba kembali melakukan dosa, lalu dia berdo’a : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku. Lalu Allah berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa. Kemudian sang hamba kembali melakukan dosa, lalu dia berdo’a : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku. Lalu Allah berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memilik Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa. Sungguh aku telah mengampui hambaku, maka hendaknya dia berbuat apa yang dia mau.

Semua penjelasan diatas juga bisa difaham balik (Mafhum Mukholafah) bahwa orang yang bertambah harapannya terhadap rahmat Allah SWT ketika melakukan amal shalih, maka dia termasuk orang yang mengandalkan amalnya.

Hal tersebut bisa divisualisasikan dengan keadaan seseorang yang sudah tua yang selalu melakukan ibadah dan memperbanyaknya sampai-sampai dia merasa bahwa dengan ibadah yang banyak dia akan memperoleh pahala yang banyak dan pasti termasuk penghuni surga.

Adapun cara menjauhinya adalah dengan mengetahui bahwa hak-hak Allah SWT yang wajib dilakukan hambanya tidak bisa dipenuhi dengan banyak atau sedikitnya taat. Seandainya hak tersebut bisa dipenuhi dengan taat, maka orang yang paling utama melakukan hal tersebut adalah para Nabi dan Rasul. Tetapi tidak ada satu pun Nabi dan Rasul yang menghubungkan harapan rahmat Allah dan ampunan-Nya dengan taat dan ibadah mereka, namun mereka selalu mengharapkan ampunan Allah SWT.

Contohnya adalah Nabi Ibrahim, beliau merasa di bawah derajat orang-orang yang shalih dan selalu meminta kepada Allah agar dipertemukan dengan orang-orang yang shalih.

Di dalam Al-Qur’an di jelaskan :
رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ [الشعراء/83
Artinya :
(Ibrahim berdo’a), Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih. (QS. Syu’ara’ : 83)

Dan beliau selalu mengharapkan ampunan dari Allah SWT seperti yang diterangkan di dalam surat Ibrahim : 41.
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (إبراهيم/41
Artinya :
Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada terjadinya hisab (Hari Kiamat). (QS. Ibrahim:41)

Demikian pula Nabi Yusuf, beliau merasa jauh untuk sampai pada derajat shalihin dan beliau selalu meminta Allah agar dipertemukan dengan orang-orang shalih.
رَبِّ قَدْ آَتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ [يوسف/101]

Artinya :
Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugrahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengerjakan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhanku) pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan kumpulkanlah aku dengan orang-orang shalih.(QS. Yusuf:101)

Begitu pula baginda Nabi Muhammad SAW, seperti yang dijelaskan di dalam hadist.
...ولا اتا الا ان يتغامدني الله برحمته
Jadi amal ibadah yang dilakukan manusia hanyalah bayaran yang sangat kecil akan kewajiban mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung. Maka bagaimana mungkin hal itu bisa dijadikan imbalan (ganti) untuk masuk surga?.

Seseorang setelah mengetahui dan mengerti bahwa dia adalah hamba yang di miliki Allah, maka dia wajib untuk menyembah Allah, baik akan diberi pahala atas ibadahnya atau pun tidak. Kemudian dia harus meminta surga kepada Allah dengan rahmat-Nya dan ihsan-Nya, serta meminta perlindungan dari api neraka dengan kelembutan dan ampunan-Nya.

Seandainya seseorang mengaku bahwa dia menyembah Allah karena mengharapkan surga-Nya, sekiranya jika dia tahu bahwa dia tidak akan memperoleh surga dengan amalnya, lalu dia berhenti beribadah dan tidak mempedulikan hukum (syari’at Allah), maka dia bukanlah orang yang mukmin. Karena dia telah memperlihatkan bahwa dia bukan hamba Allah, melainkan hamba surga.

Dari sini kita mengetahui betapa tingginya ajaran tauhid dalam munajat Rabi’ah Al-Adawiyyah ketika berdo’a. Beliau berdo’a : ”Ya Allah sesungguhnya aku tidak menyembah-Mu ketika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu dan takut dari neraka-Mu. Tetapi aku mengetahui bahwa Engkau adalah Tuhan yang berhak untuk disembah sehingga aku menyembah-Mu".

Sebagian orang yang dangkal pemikirannya menyangka bahwa Rabi’ah tidak membutuhkan surga yang telah dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang shalih, sehingga mereka mencela Rabi’ah. Persangkaan ini sangatlah keliru, karena di dalam munajat-munajat yang lain, Rabi’ah meminta surga dan dijauhkan dari neraka. Hanya saja Rabi’ah tidak meminta hal tersebut sebagai upah atas shalat dan ibadah-ibadahnya, melainkan beliau meminta hal tersebut karena Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Mulia. Sedangakan Rabi’ah adalah orang yang fakir dan mengharap kemurahan Allah SWT.

Ini semua adalah salah satu kunci hidup yang harus dipegang oleh setiap orang islam yakni tidak mengandalkan amal ibadahnya, tetapi yakin atas rahmat dan ampunan dari Allah SWT.

Download Audionya pengajian Hikam Oleh KH WAFI MZ LC MSI di sini
Hikmah 1-1
Hikmah 1-2

Baca juga
Hikmah 2
Hikmah 3
Hikmah 4
Hikmah 5

16.1.11

ASURANSI DALAM PANDANGAN ISLAM

ASURANSI
DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A. Pengertian Asuransi dan tujuannya
Kata Asuransi berasal dari bahasa Inggris, Insurance yang artinya jaminan. Menurut istilah ialah perjanjian pertanggungan bersama antara dua orang atau lebih. Pihak yang satu akan menerima pembayaran tertentu bila terjadi akibat kecelakaan, sedangkan pihak yang lain (termasuk yang terkena musibah) membayar iuran yang telah ditentukan waktu dan jumlahnya.
Adapun tujuan asuransi secara umum adalah untuk kemaslahatan dan kepentingan bersama melaui semacan iuran yang dikoordinir oleh penanggung (asuransi).

B. Macam dan jenis Asuransi
Ada berbagai jenis asuransi, antara lain :
  1. Asuransi Timbal balik, yaitu beberapa orang yang mengadakan perjanjian diantara mereka, mengenai sesuatu kecelakaan yang mungkin menimpa salah seorang diantara mereka. Kerugian salah seorang diantara anggota itu dipukul bersama oleh mereka. Umpamanya sekelompok orang yang kawatir rumahnya terbakar , lalu mereka mengadakan perjanjian asuransi timbal balik ini, perjanjian yang mereka lakukan adalah mengikat mereka bersama untuk meringgankan penderitaan yang dialami oleh seorang anggotanya bila mana terjadi kebakaran.
  2. Asuransi Jiwa, yaitu asuransi jiwa seseorang yang mempertanggungkannya. Menurut asuransi ini penanggung (asurator) berjanji akan membayar sejumlah uang bila mana orang yang mempertanggungkan jiwa kepadanya meninggal dunia atau setelah sesuatu masa berlalu.
  3. Asuransi yang menimpa atas bahaya yang menimpa seseorang seperti asuransi atas mata, telinga, atau sesuatu atas penyakit tertentu.
  4. Asuransi yang demikian biasanya banyak dilakukan terhadap buruh-buruh industri yang mungkin menghadapi berbagai macam kecelakaan dalam menjalankan tugasnya.
  5. Asuransi terhadap bahaya-bahaya pertanggung jawab sipil. Asuransi ini dilakukan terhadap bahaya-bahaya yang menimpahak pertanggung jawab sipil yang berupa harta seperti kendaraan, kapal laut, kapal udara, dan lain lain.
C. Hukum Asuransi
Di dunia timur, asuransi baru dikenal pada abad XIX M, sedang di barat telah dikenal sejak abad XIV M, karena itu para imam madzhab empat tidak ada yang menyinggung persoalan ini.
Hukum Asursnsi secara eksplisit tidak disebut dalam Al-Qur'an ataupun Hadits, sehingga melalui ijtihad para ulama terdapat bermacam-macam pendapat, antara lain :

1. haram, apapun bentuk asuransinya. Pendapat ini antara lain didukung oleh Sayyid Sabiq, Syekh yusuf Qordhowi, dan Abdullah Al Qalqili, alasannya antara lain :

a. Mengandung unsure riba dan serupa dengan judi
b. Mengandung unsur tidak jelas dan tidak pasti.
c. Termasuk akad jual beli atau tukar menukar mata uang secara tunai.
d. Menjadikan hidup dan mati (umur) sebagai obyek bisnis yang berarti mendahului takdir Allah SWT.

2. Boleh apapun bentuk asuransinya. Demikian pendapat Abdul Wahab Khalaf, Musthofa Ahmad Zaras, Muhammad Yusuf Musa, dengan alasan lain :
a. Tidak ada nash Al-Qur'an ataupun Hadits yang secara tegas melarang asuransi
b. Saling menguntungkan dan keduanya saling merelakan
c Bisa dimasukkan dalam akad mudhorobah (bagi hasil) atau syirkah Ta'awuniyyah  (koperasi)
d. Mengandung kepentingan umum.
e. Haram pada asuransi yang bersifat komersil dan boleh pada asuransi yang bersifat social. Demikian dikemukakan antara lain oleh Muhammad Abu Zahrah.

D. Perbandingan Asuransi dengan Riba
Bila kita cermati dari berbagai pandangan ulama tentang asuransi, maka tampak bahwa sebagian ulama ada yang menganggap asuransi termasuk riba atau terdapat unsur-unsur riba. Sedangkan sebagaian ulama lainnya berpendapat bahwa asuransi dengan riba tidak sama atau terdapat perbedaan.
Karena itu tidak heran bila ada yang mengharamkan dan ada pula yang membolehkan. Bagi yang mengharamkan karena dinilai sama dengan riba, disamakan dengan perjudian dan tidak percaya pada takdir Allah Swt. Namun meski terdapat perbedaan, ternyata kebanyakan ulama condong pada bolehnya asurasni yang sifatnya adalah sosial dan tolong-menolong. Namun meski demikian tetap dituntut kesucian usahanya dari praktek riba.

Sumber : PP Al-Anwar Web

PENDIDIKAN PADA ANAK USIA DINI

 ETIKA MENDIDIK ANAK
BAG 1

Setiap orang tua mempunyai kewajiban mendidik anak agar menjadi manusia sholeh, berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Lebih khusus lagi membuat kebahagiaan kedua orang tua, baik ketika masih di dunia maupun di akhirat kelak.


Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam surat At-Tahrim : 6
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.


MEMPERHATIKAN KONDISI FISIK DAN MENTAL


    Didalam mendidik anak, orang tua perlu memperhatikan kondisi fisik dan mental anak. Karena dengan kondisi yang segar mental dan fisik, anak dapat memusatkan perhatian kepada pelajaran yang diberikan.


    Pada umumnya, anak-anak yang secara fisik dalam keadaan lelah itu sulit memusatkan hati dan pikirannya pada pelajaran yang diberikan. Begitu juga dengan anak-anak yang secara mental dalam keadaan lelah itu sulit memusatkan hati dan pikirannya untuk menerima pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.


    Dapat kita lihat contohnya di sekolah, setelah anak-anak mengikuti pelajaran olah raga, sulit bagi mereka untuk mengikuti pelajaran selanjutnya yang dapat menguras otak, misalnya fisika, kimia dan matematika. Dengan kondisi fisik yang lelah, maka itu sangat berpengaruh bagi kondisi mentalnya. Untuk itu, seorang guru harus benar-benar memperhatikan hal tersebut, yaitu setelah mengikuti pelajaran olah raga, haruslah dicari pelajaran yang bersifat santai, sehingga anak-anak dapat mengikutinya dengan senang hati dan dapat menguasai materi pendidikan dengan baik serta mencapai hasil yang diharapkan.


    Contoh lainnya dalam kehidupan sehari-hari adalah shalat. Dalam hal ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik, Abu Dawud dan Tirmidzi yang bersumber dari Aisyah, ia berkata : “Rasulullah Saw bersabda : “Apabila seseorang di antara kamu mengantuk ketika akan melakukan shalat, hendaklah ia tidur lebih dahulu sampai hilang rasa kantuknya. Karena jika seseorang di antara kamu shalat dalam keadaan mengantuk, tentu ia tidak akan menyadari barang kali saat ia ingin memohon ampun kepada Allah, tetapi ternyata mengucapkan celaan dan makin kepada dirinya”.
    Sabda Rasulullah Saw di atas menerangkan bahwa orang yang akan melakukan shalat hendaklah memperhatikan kondisi dirinya. Apabila ia dalam keadaan capek atau mengantuk, janganlah melakukan shalat sampai ia menjadi segar dan tidak mengantuk lagi.


    Ibadah shalat sama artinya menghadap kepada Allah SWT, Tuhan yang sedang disembahnya. Untuk itu, supaya ibadah tersebut diterima, maka di dalam shalat diperlukan hati yang khusyu’, pikiran yang tenang dan badan yang segar. Apabila seseorang mengerjakan shalat dengan badan yang capek atau mata mengantuk, ia tentu tidak akan mengkonsentrasikan diri, hati dan pikirannya kepada Allah SWT. Dengan demikian, maka untuk memenuhi kriteria shalat yang khusyu’, hendkalah setiap orang melakukannya pada saat fisik dan mentalnya dalam keadaan segar sehingga shalat itu benar-benar sempurna dan diterima oleh Allah SWT
     
    MEMPERHATIKAN KONDISI DAN SITUASI

    Di dalam mendidik atau mengajarkan sesuatu kepada anak-anak, orang tua harus senantiasa memperhatikan kondisi dan situasi anak-anaknya. Sebagai orang tua harus mencari waktu dan tempat yang tepat supaya nasehat atau pelajaran yang akan disampaikan kepada anaknya dapat memberi kesan mendalam di hati mereka dan mereka dapat membina akhlak dan agama anak-anaknya dengan baik.
               
    Contohnya, ketika orang tua dan anak-anaknya bepergian, hendaklah orang tua memberikan nasehat kepada mereka tentang sopan santun dan akhlak dalam berlalu lintas atau menggunakan jalan umum. Nasehat seperti ini akan sangat berkesan kepada anak-anak dalam mengikuti aturan agama mengenai akhlak menggunakan jalan umum. Atau ketika orang tua dan anak-anaknya makan bersama, orang tua dapat memberikan tuntunan atau aturan agama tentang makan dan minum, misalnya kalau makan tidak boleh menggunakan tangan kiri dan sebelum makan harus membaca kalimat basmalah terlebih dahulu. Dengan begitu anak-anak akan dapat memahaminya secara praktis tanpa bersusah payah menghafalnya.
               
    Contoh lainnya seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah dalam hadits-hadits di bawah ini.
               
    Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bersumber dari Anas, ia berkata: “Ada seorang anak yahudi yang menjadi pelayan Nabi Muhammad Saw duduk disebelah kepalanya, lalu beliau bersabda: “masuklah islam”. Kemudian anak tersebut memandang kepada ayahnya yang duduk disebelahnya, lalu ayahnya berkata: “ikutilah Abul Qosim (Nabi Muhammad Saw), lalu ia masuk islam. Kemudian Nabi Muhammad Saw bersabda: “segala nikmat karunia hanyalah milik Allah, tuhan yang telah menyelamatkan anak itu dari neraka”.
               
    Hadits di atas menerangkan bahwa Nabi Muhammad Saw mengunjungi seorang anak yahudi yang sakit dan memberikan nasihat padanya agar mau membaca kalimat tauhid guna menghadapi sakarotul maut. Hal tersebut beliau ajarkan kepada anak itu dalam kondisi dan keadaanya yang tepat,sehingga yang bersangkutan dapat diselamatkan dari ancaman Allah SWT di neraka.
               
    Ada lagi hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi yang bersumber dari Abbas, ia berkata:  “pada suatu hari aku (dibonceng) dibelakang Rasulullah Saw, lalu beliau bersabda: “wahai anak remaja, sungguh aku akan mengajarkanmu sebuah kalimat, yaitu: peliharalah Allah SWT, niscaya engkau akan dipelihara-Nya dan peliharalah Allah SWT, niscaya engkau akan menemukan-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah dan apabila engaku memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah bahwa sekiranya semua manusia bersatu untuk memberikan suatu keuntungan kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat melakukannya sedikitpun selain yang Allah takdirkan untukmu. Dan sekiranya mereka bersatu untuk mencelakakan kamu, niscaya mereka tidak akan dapat melakukannya sedikitpun kecuali yang telah Allah takdirkan kepadamu. Semua pena telah di angkat dan kertas-kertas telah menjadi kering”.
               
    Hadits di atas menerangkan bahwa Nabi Muhammad Saw memberi nasehat kepada Ibnu Abbas saat ia dibonceng oleh beliau di belakang untanya. Beliau memberi nasehat tentang hal-hal yang sangat penting, yaitu: manusia hendaknya senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan menjaga yang bersangkutan. Manusia tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan cara apapun, bila Allah tidak menghendaki hal itu terjadi kepada yang bersangkutan. Manusia hendaknya senantiasa percaya adanya takdir. Hal tersebut beliau ajarkan kepada Ibnu Abbas yang ketika itu masih kanak-kanak dan beliau menganggu bahwa saat itu adalah saat yang tepat untuk menyampaikan nasehat secara santai.
               
    Ada lagi hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bersumber dari Umar Bin Abi Salamah, ia berkata: “ketika aku masih kanak-kanak aku berada di bawah asuhan Rasulullah Saw. Ketika itu tanganku meraih makanan di nampan, lalu Rasulullah Saw bersabda kepadaku: “wahai anak, sebutlah nama Allah lebih dahulu, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang dekat di depanmu”. Selanjutnya, cara seperti itulah yang kemudian aku lakukan bila makan”.
               
    Hadits di atas menerangkan bahwa Umar bin Abu Salamah ketika berada di bawah asuhan Nabi Muhammad Saw makan bersama beliau. Ia mengambil makanan di nampan yang jauh darinya, kemudian diperingatkan oleh beliau dan diberi tahu tentang bagaimana cara makan yang baik. Hal tersebut disampaikan beliau pada kondisi dan saat yang tepat, sehingga selalu terkesan dalam dirinya dan selanjutnya ia praktekkan dalam kehidupannya sehari-hari.
               
    Nabi Muhammad Saw dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak selalu memilih waktu dan tempat untuk menyampaikan materi yang dibutuhkan, yaitu yang sesuai dengan permasalahan dan kondisi yang dihadapi oleh anak agar perilaku mereka sesuai dengan ajaran Allah dan rasul-Nya.
               
    Orang tua harus benar-benar memperhatikan hal ini, supaya anak-anak dapat memperoleh pegangan yang sangat berpengaruh kepada mereka dalam menerapkan kehidupan beragama yang benar 

    15.1.11

    Daftar Situs Penyedia Layanan Gratis Auto Backlink






    Daftar Situs Penyedia Layanan Gratis Auto Backlink

    Blog anda sudah lebih dari 3 bulan. Jika blog masih baru, saya sarankan jangan agar tidak terkena banned dari Google.

    Anda harus melakukan ini satu minggu sekali. Jika sudah menanam backlink gratis pada Indonesia Auto Backlin. Satu minggu kemudian lakukan penanaman backlink pada no.2 Backlink Builder + Ping dan seterusnya. Jangan lakukan hal-hal dibawah ini dalam satu hari. Website anda dibanned, tanggung sendiri resikonya.

    Perlunya diingat untuk Autobacklink yang menyediakan ribuan backlink sebaiknya dicoba dulu pada blog dummy anda dan sangat tidak disarankan digunakan untuk blog utama atau sudah berumur. Gunakan untuk kontes SEO atau untuk blog dummy anda. Ingat resiko tanggung sendiri!!!
    Gunakan untuk kontes SEO atau untuk blog dummy anda.

    Ingat resiko tanggung sendiri!!!

    Situs-situs yang menyediakan layanan gratis auto backlink gratis adalah sebagai berikut :

    1. Indonesia auto backlink – 104 Free Backlinks.
    Auto backlink ini buatan anak bangsa dari Kediri. Salut untuk anak bangsa ini.

    auto backlink
    2.  Backlink Builder + Ping
    Selain melakukan penanaman backlink. Wesite ini juga melakukan ping terhadap backlink yang terbentuk sehingga anda cepat mendapatkan backlink.
    3. Backlink Generator – Free 324 Instant backlink !
    Website ini menyediakan sebanyak 324 bakclink gratis.

    324 backlinks 1
    324 backlinks 2
    4.  Free 663 Backlinks
    Anda akan mendapatkan 663 lebih backlink. Pada page one anda akan mendapatkan 100 backlink, page two 100 backlink dan seterusnya page eight.
    Lakukan submit 1 bulan sekali per page, misal page one pada bulan pertama, page two bulan kedua dan seterusnya agar tidak dicurigai oleh search engine
    5. Auto approve web directories + pagerank
    LittlewebDirectory.com – PR3 (Squidoo friendly)

    Gishworld.com – PR2

    Mtnmix.com – PR2

    Cycsail.com – PR2

    Dupront.com – PR2

    Cerako.com – PR2

    Dlogicwebsolutions.com – PR2

    Mwebsolutions.com – PR2

    Webdowap.com – PR2

    Webmasteradspace.com – PR2

    Vosnethosting.com – PR2

    Softecnet.com – PR2

    Pattayaza.com – PR1

    Websenkar.com – PR1

    Zonicanetwork.com – PR0

    Theyyouweblog.com – PR0

    Jinicms.com – PR0

    Minautica.com – PR0

    Brandsintheair.com – PR0

    Ronimiami.com – PR0

    Revoludesigns.com – PR0
    6. Free automatic backlinks
    Here are a few sites that will automatically link back to your web sites.

    Markosweb
    This site is my favorite and out of all sites I recommend you submit your site here! Simply add your site and get an automatic backlink to your site. The anchor text will be generated from the title used on your site. So make sure you have optimized your site first. I suggest you register with this site. Why??? Because this site will allow you to add your own description…PLUS allow you to add 4 links to inner pages of your site. Wow! That is huge.
    Surcentro
    Here you can find stats information about site traffic of every single page on the web. Get a free backlink. No anchor text…simply get a free backlink for your url.
    Cubestat
    Free and perfect tool for website value calculation, estimations and information. Get a free backlink, but the anchor text will read “visit the website”.
    WooRank
    Website analysis tool. Gives detailed info
    7. Free 2534 Backlinks
    Website ini menyediakan layanan gratis sampai 2534 bakclink. Untuk website baru. Batasi backlink anda hanya pada top 50. Jika website andan sudah berumur lebih dari 6 bulan, Baru boleh daftar ke 2534 backink.
    8. Free 342 Backlinks dari http://www.webmasterdeck.com/tools/wsbacklinker/
    Website ini menyediakan layanan gratis sampai 342 backlinks.
    9. Free 1600 Backlinks dari – http://verifiedfile.com/seo/
    Website ini menyediakan backlink gratis sebanyak 1600 backlinks.
    10.  Free 500 Backlink dari http://backlink.gudang-script.cz.cc/
    Website bikinan anak bangsa ini menyediakan 500 backlinks gratis.
    11.Auto Backlinks dari high pagerank website :


    12. Free 100 Auto Backlink + Social Bookmark dari http://www.bl01.co.cc

    13. Free Backlinks + Ping Services dari http://www.profitinstruments.com/quickindex

    14. High Quality Auto Backlinks dari http://www.autobacklinks.co.cc/auto-back-links.html
    Anda harus memasukkannya kode HTML dan memasukkan ke widget text di WordPress blog.
    16.Free Social Bookmarking http://www.socialposter.com/generator.php
    Menyediakan fasilitas untuk mendaftarkan website anda ke puluhan situs social bookmarking.


    14.1.11

    DOWNLOAD TEMPLATE BLOG AHADAN

    Bagi temen-temen yang ingin ikut menggunakan template seperti blog ahadan ini silahkan download template nya disini







     Download

    13.1.11

    MAUIDLOH KH. MAIMOEN ZUBAIR

    MAUIDLOH-2 MBAH MUN

    Semua mauidloh KH. Maimun Zubair berupa files WMA agar bisa di putar dengan hasil maksimal silahkan anda Convert menjadi MP3 128Kbps atau 160Kbps menggunakan program Audio Coverter: Jet Audio 5+ atau 7+, FFC dll
    Bagi yang belum punya programnya silakan download dulu
    Jet Audio 5+
    Jet Audio 7+
    Format Factory Coverter

    Bagi yang belum pernah menconvert Audio files silakan download Tutorialnya 

    (Cara Convert WMA Menjadi  MP3 menggunakan JetAudio)
    Bagi yang berminat silakan Download
    1. Mauidloh Yai Di Pati (PASSTI) tahun 2010, 01
    2. Mauidloh Yai Di Pati (PASSTI) tahun 2010, 02
    3. Malam Ta'aruf 04
    4. Mauidhoh yai padaHaul Ibu Masti'ah
    5. Ngaji Mulud
    6. Temu Alumni Tahun 1431 H (HIMMAH)
    7. Reuni Alumni 2011 Ziddu.com / 4Share.com
    8. Harlah 2011 Ziddu.com / 4Sahared.com
    9. Maulidiyah 2011

    Download Koleksi Mauidhoh Terlengkap Klik disini (40-an Mawaid)

    Download Mawidhoh KH. Maimoen Zubair Disini

     
    oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan