29.3.11

Pusi Collection (Gus MUS)

KH. A. Mustofa Bisri 
Disamping budayawan, dia juga dikenal sebagai penyair. Karya-karyanya yang telah diterbitkan, antara lain, Dasar-dasar Islam (terjemahan, Penerbit Abdillah Putra Kendal, 1401 H), Ensklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987) dan masih banyak lagi karya-karya beliau.


Puisi Gus MUS

Wanita Cantik Di Multazam
Di tengah-tengah himpitan daging-daging doa di pelataran rumahMu yang agung
Aku mengalirkan diri dan ratapku hingga terantuk pada dinding mustajabMu
Menumpahkan luap pinta di dadaku
Kubaca segala yang bisa kubaca dalam berbagai bahasa runduk hamba
Dari tahlil ke tasbih, dari tasbih ke tahmid, dari tahmid ke takbir, dari takbir ke istighfar, dari istighfar ke syukur, dari syukur ke khauf, dari khauf ke raja, dari raja ke khauf, raja khauf, khauf raja, raja khauf, khauf raja, sampai tawakal
Tiba-tiba sebelum benar-benar fana
Melela dari arah Multazam seorang wanita cantik sekali
masyaAllah..Tabarokallah..
Allah..apa amalku jika kurnia, apa dosaku jika coba
Allah..putih kulitnya dalam putih kerudungnya
Indah sekali alisnya, indah sekali matanya, indah sekali hidungnya, indah sekali bibirnya dalam indah wajahMu
Allahku..kunikmati keindahan dalam keindahan, di atas keindahan, di bawah keindahan di kanan-kiri keindahan, di tengah-tengah keindahan yang indah sekali
Allahku inilah kerapuhanku
Tak kutanyakan kenapa, Engkau bertanya bukan ditanya kenapa
Tapi apa jawabku, ampunilah aku
Tanyalah jua yang kupunya kini
Allah..mukalafkah aku dalam keindahanMu?

Masih banyak lagi Puisi beliau, berikut ini beberapa puisi beliau dan ceramah-ceramah beliau yang berupa MP3 & WAV
  1. Aku Merindukanmu Oh, Muhammadku
  2. Aku Tak Bisa lagi menyanyi
  3. Bagimu
  4. Basrah
  5. Buah Mata
  6. Di Araffah
  7. Di Pelataran AgungMu nan Lapang
  8. Dzikir Malam
  9. Gelombang gelap
  10. Kau ini bagaimana
  11. Kaum beragama di Negeri ini
  12. La Ilaahailallah
  13. Lirboyo
  14. Nasihat Ramadhan
  15. S. Asy-Syu’ara’
  16. Selamat Idul Fitri
  17. Sujud
  18. Syahadad
  19. Tadarus
  20. Tahun Baru
  21. Wanita Di Multazam
  22. Ya Rasulullah
  23. Penyair
  24. Bila Kutitipkan
  25. Ini Bagaimna, aku harus bagimana 

CERAMAH GUS MUS
  1. Ceramah_1
  2. Diskusi
  3. Idul Fitri
  4. Pengajian Ibu-ibu
  5. Pengajian Midori
  6. Tarawih_1
  7. Tarawih_2
  8. Tarawih_3
  9. Tarawih_4
  10. Tarawih_5
  11. Tarawih_6
  12. Tarawih_7

25.3.11

HIKAM HIKMAH 5 "Yakin pada Janji Allah"

 OLEH : KH. M. WAFI. MZ. LC. MSI


اجتهادك فيماضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة فيك
"Usaha kamu pada perkara yang sudah dijamin Allah dan lalai kamu akan tugas yang diwajibkan padamu adalah sebagai pertanda akan padamnya mata hatimu"

Penjelasan
Etika yang tidak kalah penting bagi seorang mukmin adalah yakin akan janji Allah. Seorang yang patuh kepada Allah harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepadanya. Jika kewajiban tersebut telah dilaksanakan dengan baik dan benar, maka Allah akan memenuhi janjinya, yaitu mensejahterakan kehidupan dan menjadikan masyarakat disekelilingnya patuh demi kebaikan mukmin tadi. Hal tersebut tidak lain karena Allah telah memerintahkan kita, dan di sisi lain Allah juga telah berjanji akan menanggung kehidupan kita. Oleh karena itu, yang harus kita laksanakan adalah mencurahkan segala kemampuan dan pikiran untuk melakukan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan Allah. Kita juga harus yakin akan tanggungan Allah yang telah dijanjikan kepada kita, sehingga kita tidak perlu pusing untuk memikirkan diri kita sendiri.
Sebagai manusia kita harus tahu bahwa semua makhluk baik hewan, tumbuh-tumbuhan, maupun benda mati pasti diberi kewajiban oleh Allah SWT. Coba kita amati makhluk-makhluk kecil yang tidak bisa tampak kecuali dengan pembesar (mikroskop). Kemudian makhluk yang lebih besar dan lebih besar lagi sampai planet dan bintang-bintang dengan berbagai jenisnya, burung-burung serta ikan yang ada di laut. Maka kita akan menemukan bahwa semua makhluk tersebut melaksanakan kewajiban atau rutinitas yang telah di tetapkan Allah. Semuanya tidak ada yang melanggar atau keluar dari jalur hukum Allah. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat Al-Nur ayat 41:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ.

Artinya :
Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. masing-masing Telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Manusia bukanlah makhluk yang baru, namun manusia sangat berbeda dengan makhluk yang lain karena manusia diberi petunjuk pada sesuatu yang penting. Kalau makhluk lain melaksanakan kewajibannya dengan paksaan dan tabiat (insting), maka manusia diciptakan oleh Allah memiliki kemauan dan keinginan (ikhtiar). Oleh karena itu, manusia melaksanakan kewajibannya dengan ikhtiar tersebut bukan dengan paksaan pada dirinya. Hal ini tidak lain untuk memuliakan dan mensucikan manusia agar tidak disamakan seperti hewan dan makhluk lainnya yang hanya berdasar pada insting belaka.
Hal di atas lah yang menjadikan sebagian besar manusia durhaka, bahkan menyimpang dari kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan. Sementara itu, makhluk-makhluk lain dengan berbagai jenisnya selalu patuh dan melaksanakan kewajiban serta tugas yang diciptakan untuknya. Ini karena manusia melakukan kewajiban atau rutinitasnya dengan hurriyyah (kemerdekaan, kemandirian) dan kesenangannya. Jadi penyimpangan dan kepatuhan pasti bisa timbul pada diri manusia. Adapun makhluk lain, dalam melaksanakan kewajibannya, sebagaimana pada benda-benda mati dan tumbuh-tumbuhan maka dengan menggunakan tabiat / insting seperti halnya pada binatang-binatang. Jadi penyelewengan akan tertutup dan tidak akan timbul. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 18 :

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ.
Artinya :
Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang Telah ditetapkan azab atasnya. dan barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dia kehendaki.

Dalam ayat di atas sudah sangat jelas bahwa yang dimaksud sujud adalah patuh pada kewajiban atau tugas yang dibebankan Allah pada makhluk. Coba kita lihat dalam ayat tersebut bahwa Allah mengumumkan kepatuhan semua makhluk yang disebut, pada perintah-perintah yang telah dibebankan-Nya. Lalu ketika sampai pada manusia, maka Allah menjelaskan bahwa pada manusia itu ada yang patuh dan ada yang durhaka. Oleh karena itu, Allah mengatakan (menyambung) dengan lafadz كثير من الناس (sebagian banyak manusia), bukan dengan lafadz كل الناس (semua manusia), lebih-lebih setelah itu Allah menjelaskan bahwa yang paling banyak adalah manusia yang durhaka sehingga mereka akan mendapatkan siksa-Nya.
Dari fenomena itulah, maka banyak sekali orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari kebutuhan hidup (padahal hal tersebut sudah ditanggung oleh Allah), namun mereka malah lalai dalam melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban yang telah dibebankan oleh Allah SWT. Ini menunjukkan betapa buramnya hati mereka sebagaimana kata hikmah Ibnu 'Atho'illah : "Kesungguhanmu dalam hal-hal yang telah di tanggung oleh Allah dan kecerobohanmu dalam hal-hal yang di perintahkan kepadamu adalah bukti betapa buramnya hatimu".

Dalil - dalil
a. Surat Al-Dzariyyat ayat 56-58

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ .
Artinya :
56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
57. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.
58. Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.

Dan surat Thaha ayat 132
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.

Artinya :
132. Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
 
b. Surat Al-Nahl ayat 97

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.
Artinya :
97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.
 
c. Surat Al-Nur ayat 55

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya :
55. Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.


Aplikasi
Allah memang tidak akan mengingkari janji-Nya dan seandainya saja sejarah tidak menyaksikan kebenaran janji Allah tersebut, maka akan ada keraguan pada diri orang Islam. Mereka pasti akan ragu pada janji Allah, melihat zaman sekarang ini banyak orang Islam yang sangat lemah keyakinannya atas janji Tuhan mereka sendiri.
Sejarah Islam telah berbicara kepada telinga dunia ini atas kebenaran janji-janji Allah. Pada awal pertumbuhan Islam, orang muslim hanyalah sekelompok kecil dari orang-orang Arab. Namun setelah mereka mendengarkan perintah Allah, menjalankan tugas yang telah dibebankan oleh-Nya, beriman kepada-Nya, percaya akan janji dan hukum Allah, serta berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan tugas-tugas yang diwajibkan (beribadah kepada Allah), maka Allah memenuhi janji yang telah disanggupi-Nya.
Allah telah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 13-14 :
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ . وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

Artinya :
13. Orang-orang kafir Berkata kepada rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu,
14. Dan kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku".

Kita telah mengetahui bahwa Allah telah menaklukkan kerajaan Romawi, Persia dan Yunani, serta menjadikan orang Islam (sekelompok kecil orang Arab) sebagai pemimpin di negara-negara tersebut. Allah juga telah mewariskan bumi dan kekayaan yang ada dalam negara-negara tersebut kepada mereka.
Orang yang mau berfikir pada sejarah tersebut pasti akan heran atas apa yang telah Allah penuhi sebagai ganti atas apa yang telah bangsa Arab lakukan. Orang tersebut akan menemukan bahwa kejadian tersebut tidak ada keraguan lagi.
Contoh realita yang lebih jelas lagi adalah ucapan Sayyidina Umar ra. kepada Abu Ubaidah. Suatu ketika Sayyidina Umar ra. sampai ke negara Syam dan bertemu dengan pembesar-pembesar negara tersebut. Waktu itu Sayyidina Umar memakai baju yang tidak kurang dari dua belas tambalan. Pada waktu itu juga Abu Ubaidah berbisik pada telinga Sayyidina Umar supaya beliau mengganti pakaianya, maka Sayyidina Umar mengatakan:
"Kita adalah suatu kelompok yang dimuliakan Allah dengan Islam. Dan kapan saja kita mencari kemuliaan dengan cara yang tidak dimuliakan Allah, maka Allah pasti akan menghina kita".
Seandainya saja Sayyidina Umar ra. memakai baju yang mewah dan menghadap pembesar-pembesar Syam dengan sombong, pasti hal tersebut akan mengisyaratkan bahwa bangsa Arab bisa menang dan mengalahkan mereka dengan kemewahan tersebut. Dengan demikian akan muncul distorsi pada sebab yang hakiki dan akan melupakan anugerah Allah yang telah menolong dan memuliakan orang Arab. Oleh karena itu, pembesar-pembesar Syam harus melihat realita keadaan bangsa Arab pada waktu itu, sehingga mereka tahu bahwa yang mengangkat bangsa Arab hanyalah Allah SWT.
Itulah sikap yang ditampilkan Sayyidina Umar ra. pada pembesar-pembesar Syam, yaitu dengan memakai baju tambalan yang mengandung dua hal pokok :
1). Sangat minimnya sarana dan prasarana untuk mencapai kemenangan orang arab dan sungguh tidak ada tipe untuk bisa mengalahkan musuh-musuhnya yang sangat kuat.
2). Kekuasaan Tuhanlah yang telah mengangkat derajat dan mengharumkan nama mereka dan Allahlah yang menganugrahi segala keagungan padahal mereka sangat-sangat lemah.
Adapun kita sekarang ini sebagai generasi mereka, maka kita justru tidak mau bangkit dengan tugas yang dibebankan Allah kepada kita. Kita juga tidak mempercayai janji Allah dan tidak mau berkaca pada sejarah Islam. Kebanyakan dari kita justru berkelana ke penjuru dunia dan mencari pintu-pintu kehinaan, bukannya pintu kemuliaan Allah. Hal itu akan semakin menambah kerugian jika kita tidak mau kembali pada pintu yang telah di tunjukkan Allah dan melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan-Nya.

Kewajiban seorang mukmin
Adapun kewajiban agama yang dibebankan Allah kepada mukmin dan keluarganya dalam etika ini adalah belajar hukum-hukum agama, mengetahui aqidah-aqidah islam beserta dalil-dalinya, belajar Al-Qur'an beserta tafsir dan mendidik keluarganya dengan tarbiyyah (pendidikan) Islam. Dia juga harus bersungguh-sungguh dalam mencari rizqi dengan cara-cara yang di syari'atkan oleh Allah. Walaupun pada kenyataannya mencari rizqi adalah kebutuhan duniawi, namun pada hakekatnya adalah bagian dari tugas yang dibebankan oleh Allah SWT, lebih-lebih jika dalam mencari rizqi tersebut bertujuan untuk menjalankan perintah Allah sebagaimana dalam Al-Qur'an surat Al Mulk ayat 15 :
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Artinya :
15. Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
 
Bahkan mencari rizqi dengan cara dan tujuan seperti di atas merupakan bagian dari jihad di jalan Allah. Imam Thabarani dalam kitab mu'jamnya, meriwayatkan hadist dari Ka'ab bin Ujrah. Suatu ketika Rasulullah SAW keluar bersama shahabatnya. Kemudian mereka melihat seseorang yang bekerja pagi-pagi sekali. Mereka sangat heran ketika melihat kerja keras dan semangat orang itu. Lalu salah satu dari shahabat berkata : "Celaka orang ini. Seandainya saja dia mau jihad di jalan Allah". Kemudian Rasulullah bersabda :

إن كان خرج يسعى على ولد له صغارا فهو في سبيل الله وان كان خرج يسعى على ابوين شيخين فهو في سبيل الله وان كان خرج يسعى على نفسه ليعفها فهو في سبيل الله وان كان يسعى على اهله فهو في سبيل الله وان كان خرج يسعى تفاخرا فهو في سبيل الشيطان

Artinya :
"Jika orang tersebut bekerja untuk anak-anak kecilnya, maka orang tersebut berda dalam jalan Allah. Dan jika orang tersebut bekerja untuk kedua orang tuanya, maka dia juga berada di jalan Allah. Dan jika orang tersebut bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri maka orang tersebut juga berada di jalan Allah dan jika orang tersebut bekerja untuk kesombongan dan mencari kekayaan, maka dia berada di jalan syaitan."

Memang ibadah itu tidak hanya tertentu dalam sholat, puasa, haji, membaca al-Qur'an dan berdzikir. Ibadah juga mencakup semua perbuatan-perbuatan untuk mencari kedekatan kepada Allah. Oleh karena itu, semua jenis pekerjaan, perdagangan, pertanian dan pembangunan adalah bagian dari ibadah.
Namun yang perlu diketahui adalah semua usaha yang dilakukan untuk mencari ridla Allah itu harus disyari'atkan dan diperbolehkan. Usaha-usaha tersebut juga harus dilakukan setelah ibadah-ibadah wajib yang menjadi rukun islam di kerjakan dengan baik. Sebelum itu salik juga harus mengatahui dua sumber utama hukum Islam, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadist. Salik juga harus mengetahui hukum-hukum syari'at islam yang menjadi dasar dan hukum-hukum yang berhubungan dengan individu.
Jika tidak demikian, lalu bagaimana mungkin perdagangan, pekerjaan, dan kegiatan politik itu dikatakan usaha di jalan Allah atau salah satu dari ibadah dan amal untuk mendekatkan kepada Allah, jika orang yang melakukannya lupa pada shalat, ibadah dan berpaling dari pendidikan Islam, sedangkan dia juga tidak mau tahu-menahu akan aqidah dan hukum-hukum Islam?
Orang yang demikian pasti tidak mungkin tujuan dari amal dan kegiatan duniawinya itu termasuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Karena jika tujuannya adalah untuk Allah, maka hal itu pasti akan mendorongnya untuk menghadiri shalat jumuah, jamaah, majlis ilmu dan juga majlis dzikir.
Memang kebanyakan kegiatan duniawi sekarang ini sangat jauh dari apa yang telah dikatakan Rasulullah bahwasanya dia berada di jalan Allah. Jika kita melihat mayoritas masyarakat, maka kita akan tahu bahwa mereka memang lupa atau sengaja melupakan perintah-perintah dan tugas-tugas yang telah di bebankan Allah. Mereka tidak mau tahu hukum agama Islam dan membuang serta melupakan risalah Al-Qur'an yang telah diturunkan Allah SWT. Lafadz-lafadz Al-Qur'an asing di lidah mereka apalagi artinya. Merekalah realita dari ucapan Ibnu 'Atha'illah :
"Kesungguhanmu dalam hal-hal yang telah di tanggung oleh Allah dan kecerobohanmu dalam hal-hal yang diperintahkan kepadamu adalah bukti betapa buramnya hatimu".


Kesimpulan
Sebagai hamba Allah yang shalih, kita memang harus terus percaya kepada janji-janji-Nya. Marilah kita berkaca pada pemimpin-pemimpin pada awal perkembangan Islam. Allah telah membukakan kepada mereka pintu-pintu kemenangan dan juga menjadikan mereka kaya setelah fakir. Hal tersebut terjadi tidak lain karena mereka menjalankan agama Allah, menjadikan diri mereka sebagai pasukan untuk memenuhi tugas-tugas yang telah dibebankan Allah dan mereka juga membenarkan Allah atas apa yang telah disanggupi mereka. Oleh karena itu, benarlah firman Allah (surat Ibrahim ayat 13-14) :

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ . وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ.
Artinya :
13. Orang-orang kafir Berkata kepada rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu,
14. Dan kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku".

Dan juga lihatlah orang-orang setelah mereka yang juga menjalankan tugas-tugas yang telah dibebankan oleh Allah seperti Nuruddin zinki, Shalahuddin Al-Ayyubi, Usman Arthagrul (pendiri khilafah Umayyah), Muhammad Al-Fatih (penakluk Al-Qustantiniyyah) dan Abdul Al-Rahman Al-Dakhil (pendiri daulah Umayyah di Eropa).
Dan marilah kita juga berkaca pada orang-orang yang hanya ingin merasakan manisnya dunia, yaitu orang-orang yang datang setelah para pimpinan-pimpinan yang sholih. Orang-orang tersebut lupa akan tugas suci yang di bebankan kepada mereka. Mereka hanya mengumpulkan harta, membangun istana yang indah, mencari kesenangan dan kenikmatan. Mereka menganggap bahwa yang menjadikan mereka hidup enak adalah kekuatan dan kemenangan mereka.
Sungguh suatu musibah tampak pada buramnya mata hati mereka. Mereka lupa bahwa sumber kemuliaan mereka adalah Islam. Mereka mengingkari dan berpaling dari Islam. Mereka mencoba mencari-cari apa yang menjadikan mereka mulia, tapi mereka tidak menemukannya.
Sungguh benar perkataan Ibnu 'Atha'illah,
"Kesungguhanmu dalam hal-hal yang telah di tanggung oleh Allah dan kecerobohanmu dalam hal-hal yang di perintahkan kepadamu adalah bukti betapa buramnya hatimu."

Download Audio Hikmah 5

Baca juga
Hikmah 1
Hikmah 2
Hikmah 3
Hikmah 4

22.3.11

Quo Vadis AHMADIYAH (Wawancara Dr. KH. Abdul Ghofur MZ. LC. M.Si) dengan Majalah Sinar (bag-2)

Dr. KH. ABDUL GHOFUR, MZ. Lc. M.SI
4. Kapan dan bagaimanakah paham dan ajaran Ahmadiyah masuk Indonesia? 

Tidak tahu persis, kapan awal mula Ahmadiyah masuk Indonesia. Akan tetapi ia mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1924 ketika dua pendakwah Ahmadiyah Lahore datang ke Jogja. Pada kesempatan ini mereka berdua diundang oleh Minhadjurrahman Djojosoegito, Sekretaris Muhammadiyah dalam Muktamar Muhammadiyah ke-13. Di kemudian hari, ia ketahuan telah masuk kedalam ajaran Ahmadiyah Lahore. Lalu dikeluarkan dari Muhammadiyah. Pada tahun 1930 ia mendirikan secara resmi Gerakan Ahmadiyah (GIA) dan duduk sebagai puncak kepemimpinan.

Ahmadiyah Lahore sendiri lahir setelah kematian khalifah AI-Masih yang pertama, Almulawi Nuruddin, pada 13 Maret 1914. Menurut kelompok ini, MGA tidak membutuhkan khalifah perorangan. Cukup Anjuman -lembaga yang didirikan oleh MGA mula-mula untuk mengawasi keuangan dan maqbarah Bahishti di Qadiyan yang diperuntukkan bagi para pejuang Ahmdiyah- sebagai estafet penerus kepemimpinan dakwah.

Ketika Khalifah kedua, Basyiruddin Mahmud Ahmad, terpilih, mereka, dipimpin oleh Mulawi Muhammad Aly, tidak setuju. Lalu mereka keluar dari Qadiyian. pindah ke Lahore, dan mendirikan Anjuman tandingan. Sejak saat itulah kedua kelompok ini terputus, dan masing-masing saling mengklaim paling benar. Bahkan ortodoksi Qadiyan lazim menyebut Lahore sebagai kelompok sempaian yang sesat.
Ada sejumlah revisi versi Lahore terhadap tradisi keimanan Qadiyan. Selain doktrin khilafah yang menjadi pemicu perpecahan, adalah doktrin kenabian MGA. Bagi Lahore, kenabian telah berakhir, walau pewahyuan itu sendiri tidak pernah berhenti. Menurut mereka, jika kenabian masih ada, Sayidina Ali tentulah sudah menjadi nabi. Karena dalam sebuah hadits, kedudukan Sayidina Ali sama dengan
kedudukan Nabi Harun bagi Nabi Musa. Akan tetapi kenabian telah berakhir, dan Sayidina Ali tidak pernah menyandang kenabian.

Dari konsep kenabian yang hampir mirip dengan konsep Ahlusunnah ini. pewahyuan MGA ditarik lagi ke dalam konsep yang semi internal. Mereka yang tidak percaya terhadap wahyu MGA tidak kafir. Mereka sah menjadi imam bagi non-Ahmadi. Jenazahnya juga harus  dishalati. Selama-tidak mengkafirkan Ahmadi, maka mereka adalah sesaudara.
Kehadiran mereka di Jogja walau menimbulkan riak, akan tetapi tidak sampai kepada gelombang yang besar. Buku-buku terbitan Ahmadiyah Lahore bahkan banyak dinikmati oleh mendiang Bung Karno, dan. HOS Tjokroaminoto, karena kerasionalannya. Juga sejumlah mahasiswanya bergabung dengan HMI.

Adapun Ahmadiyah Qadiyan, kehadirannya ke Indonesia murni misi messiah sebagai penerus Imam Mahdi MGA. Adalah Maulana Rahmat Ali orang pertame yang datang ke Indonesia melalui Aceh pada tahun 1925. la datang ke Sumatra atas rekomendasi tiga pelajar Thawalib di Qadiyan. Tiga pelajar ini awal mula merencanakan melanjutkan studi ke Mesir, akan tetapi guru-gurunya di Thawaiib. Padang, menyarankannya untuk pergi ke India. Di India mereka mula-mula mengenal Ahmadiyah Lahore, yang kemudian mengantarkannya kepada
ortodoksi Ahmadiyah di Qadian.
Ketiga pelajar inilah sejatinya yang melapangkan jalan bagi masuknya Ahmadiyah dengan agak mulus ke Indonesia. Mereka banyak berkorespondensi kepada keluarganya tentang datangnya Imam Mahdi, dan mengharap agar masyarakat di sana kelak menyambut dengan hangat utusan Imam Mahdi. Dan benar, ketika Maulana Rahmat Ali datang ke Tapaktuan. Aceh, ia disambut hangat oleh masyarakat.

la mulai berdakwah di Aceh, lalu meluaskan dakwahnya ke Padang, Bukittinggi, Padang Panjang, dan daerah sekitar. Dan pada tahun 1931 ia pergi ke Jakarta.

5. Dalam sejarahnya, Ahmadiyah masuk ke Indonesia pada 1924 dan 1925 Artinya ajaran itu sudah lama masuk dan menyebar di Indonesia. Lalu mengapa penentangan terhadap aliran itu baru muncul belakangan?

Benar tapi bukan tanpa perlawanan dari ortodoksi Islam Sunny. Pada tahun 1926 Haji Rasul mendebat 'Ahmad Baiq, pendakwah Ahmadiyah Lahore. Dan pada tahun 1929 Muktamar Muhammadiyah resmi melarang Ahmadiyah diajarkan di lingkukan Muhammadiyah. Bahkan Muhammadiyah telah resmi mengkafirkan mereka yang percaya adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Di Padang perdebatan-perdebatan Ahmadiyah-Sunny marak sejak menit-menit awal pendakwahan Ahmadiyah. Dan ketika Rahmat Ali datang ke Jakarta, Ahmad Hassan, pimpinan PERSIS, rajin mendebat Ahmadiyah, hingga terjadi dialog, atau debat terbuka, dengan menyedot banyak pengunjung.

Persolana Ahmadiyah kemudian menjadi terlupakan karena Indonesia secara umum disibukkan oleh perang kemerdekaan,  perang revolusi   dan pemberontakan PKI. Ahmadiyah benar-benar terlupakan, dan baru muncul kembali pada tahun 1980-an ketika Indonesia relative tenang. Saat itu, entah siapa yang kembali mengangkat isu Ahmadiyah, hingga MUI mengeluarksn fatwa sesatnya Ahmadiyah yang terkenal itu.

6. Saya dengar dan baca dari beberapa artikel bahwa pada tahun 1928, tokoh Muhammadiyah Raden Ngabehi HM. Djojosoegito, saudara sepupu dari Hasyim Asy'ari -kakek Abdurrahman Wahid (Gus Dur)- dan Wahab Chasballah, mendirikan Ahmadiyah Indonesia. Hasyim Asy'ari dan Wahab Chasbullah yang juga bersaudara sepupu adalah pendiri NU (NandlatuI Ulama) tahun 1926, apa itu benar?

Saya kira ini hanya kebetulan saja. Tidak memiliki arti yang penting. Kebetulan Kiyai Hasyim adalah seorang Raden, keturunan Hamengkubuwono II. Djojosoegito juga raden dari keturunan yang sama. Lebih tepat sebetulnya menyandingkan Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dengan Hasyim Asy'ari pendiri NU Keduanya sama-sama belajar di Mekkah. Keduanya murid Al-Khatib AI-Minangkabawy, seorang ulama bumi pertiwi yang berkarir di Saudi hingga menjadi imam Masjidil Haram madzhab Syafi'iy. Khathib Minangkabaw adalah seorang tradisionalis, tapi sekaligus pengagum Muhammad Abduh, pembaharu paling berpengaruh saat itu. Ahmad Dahlan tampaknya lebih meresap. titisan Muhammad Abduh dalam diri AI-Khatib, sementara Hasyim Ashari lebih meresapi tradisinya. Tapi jelas keduanya memiliki guru yang sama dan ini berpengaruh kepada sikap toleransi keduanya.

7. Apakah benar kalau sebenarnya tokoh-tokoh NU, Muhammadiyah, Sl, dan Ahmadiyah berasal dari rumpun keluarga yang sama?

Kalau ditilik dari para pendiri utamanya, ya ada benarnya. Semuanya tidak keluar dari Solo-Jogja, dan semua di lingkungan keraton, dua kerajaan terakhir Jawa. Tapi dari keseluruhan para tokohnya. saya kira tidak demikian. Di lingkungan NU sendiri, sebetulnya yang paling aktif pada masa-masa awal adalah kiyai Wahab Hasbullah, tapi untuk mendirikan NU, dibutuhkan tokoh Kharismatik yang sangat disegani, dan figur ini ada pada Kiyai Hasyim.

8. Saya dengar bahwa terjadi pro-kontra dalam tubuh NU terhadap masalah Ahmadiyah ini, bagaimana pandangan bapak terhadap masalah ini? Dan pendapat manakah menurut bapak yang seharusnya kita ikuti?


Benar, di NU terjadi pro-kontra, karena isinya juga macam-macam. Sejak tahun 1984, Gus Dur memimpin NU dan berlangsung selama tiga periode, masa kepemimpinan yang cukup lama. Sejak saat itu, Gus Dur rajin menggarap para pelajar progresif NU. Sekarang ini, anak didik Gus Dur sudah merasuk kemana-mana. Bahkan pemimpin sejumlah pesantren mambu-mambu sebagai pengikutnya. Tapi secara resmi PBNU dan juga PWNU Jatim, basis utama NU, menganggap sesat Ahmadiyah. Yang perlu.diketahui juga, dalam bahtsul masail PBNU terakhir, yang menyesatkan Ahmadiyah, pimpinan sidangnya adalah Kiyai Ma'ruf Amin, Dr. Said Aqiel Siraj, dan Pak Masdar Masudi. Kiyai Makruf mewakili kelompok kiyai Faqih yang lurus, yang sering juga menjadi juru bicara MUI. Sementara Said Aqil dan Masdar adalah dua kiyai yang sebetulnya lebih dekat kepada Gus Dur. Tori keputusannya tetap menganggap Ahmadiyah sesat, dan menyerahkan sepenuhnya permasalah ini kepada pemerintah.

Ini artinya dalam tubuh NU hampir terjadi kesepakatan soal ketidak cocokan diametral antara faham NU dengan Ahmadiyah. Tapi permasalahan utama adalah soal cara menyikapi Ahmadiyah dalam kehidupan berbangsa. Di sinilah kelompok Gus Durian bersikap tegas : Tegakkan Pancasila. Kalau Gus Dur sendiri jangan ditanya soal akidah, karena akidanya susah ditebak. He he .....3x. Jangankan di luar NU, di tubuh NU sendiri banyak yang dibuat bingung oleh sikap-sikapnya.

Dilingkungan NU Mesir sendiri, terjadi perdebatan yang panjang soal ini. dalam dua kali Bahtsul Masail. Dan keputusan tenkhir, tetap menganggap Ahmadiyah menyimpang dari faham Ahlussunnah wal Jamaah yang diikuti oleh Nahdiiyin, dan Muslim Indonesia secara luas. Tapi ketika pada pembahasan apakah mereka sampai keluar dari Islam, di sini tidak ada kata sepakat. Mungkin memang harus demikian. Biarkan macem-macem isinya.

9. Apa pendapat dan tonggapan bapak tentang SKB 3 Menteri yang berkenaan dengan Ahmadiyah yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Hendarman Supandji, Mendagri Mardiyanto dan Menteri Agama Maftuh Basyuni yang dirilis di Departemen Agama, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin 9 Juni 2008 tersebut?

Secara pribadi saya tidak berani melarang seseorang menafsirkan agama sesuai keyakinan masing-masing tapi memang tak perlulah menyebarkannya kepada orang yang berbeda keyakinan secara deametral, seperti Qadiyan dan Islam Indonesia secara umum. Saya ingin membandingkan misalnya Syiah di Saudi Arabiya dan Sunni di Iran. Populasi Syiah di Arab Saudi mencapai 20 persen, sesuai laporan The Arabic Network for Human Right. Akan tetapi terjadi diskriminasi cukup besar atas hak-hak beribadah, dan hak-hak sipil mereka. Begitu pula sebaliknya Sunni di Iran. Menurut laporan Irania Sunni Leage, populasi mereka di lian mencapa sepertiga penduduk secara keseluruhan, atau sekitar 15 sampai 20 juta. Namun begitu, di Taheran, ibu kota Iran, satu masjid pun mereka tak punya. Padahal gereja Kristen, Sinagog Yahudi, rumah ibadah Majusi dan Hindupun boieh berdiri. Jadi harus ada kesadaran pada masing-masing, bahwa keyakinan yang dianut, ternyata bagi orang lain bisa menyakitkan. Klaim Jemaat Ahmadiyah yang mengkafirkan non-Ahmadi bagi banyak kalangan tentu menyakitkan. Posisi pemerintah yang melarang pengajaran Ahmadiyah ke non-Ahmadi saya kira bisa dibenarkan.
Mungkin harus diketahui ya, SKB tiga menteri secara definitif menunjuk kepada Jemaat Islam Ahmadiyah (JIA) atau Ahmadiyah Qadian, yang berpusat di Parung, Bogor, bukan Gerakan Isiam Ahmadiyah (GIA) atau Ahmadiyah Lahore, yang berpusat di Jogja.

10. Apakah menurut bapak Ahmadiyah itu perlu dibubarkan? Atau hanya cukup dengan pelarangan penyebarannya saja?

Cukuplah dilarang penyebarannya. Saya melihat, bahwa aliran-aliran yang dilarang. justru akan semakin militan, karena tidak mempunyai kesempatan untuk berbenah, dan sibuk memuja diri. Yang diperlukan adalah kritik terus menerus kepada Ahmadiyah Qadian. agar membuka pintu kebenaran bagi yang lain.

Sikapnya yang tidak mau menshalati jenazah non-Ahmadi misalnya, adalah bentuk doktrin yang tak perlu diteruskan. Di sini, Ah-nadiyah Lahore sudah bergerak ke sana. Beri kesempatan kepada masing-masing sekte, untuk melakukan kritik dan dikritik.

11. Bagimana seharusnya -menurut bapak- bangsa Indonesia terutama warga NU bersikap dalam menanggapi masalah Aliran Ahmadiyah ini?

Kembali kepada umat. Jangan terlalu sibuk dengan rebutan politik. Instropeksi, dan berbenah diri. Saya melihat para pemimpin kita sibuk pada wilayat potitik, tapi umat kurang diperhatikan Ketika umat kita tiba-tiba direbut orang lain, kita menyalahkan yang lain.

Tulis comment anda untuk berbagi ilmu dengan kami...

Quo Vadis AHMADIYAH (Wawancara Dr. KH. Abdul Ghofur MZ. LC. M.Si) dengan Majalah Sinar (bag-1)

Dr. KH. ABDUL GHOFUR MZ. Lc. M.SI
Aliran Ahmadiyah yang sudah menyebar dan merajalela di Nusantara ini membawa berbgai pertanyaan dalam ajarannya, sebenarnya bagaimana Aliran Ahmadiyah tersebut menurut Dr. KH. Abdul Ghofur MZ. Lc. M.Si. Moggo disimak sareng-sareng wawancara yang diadakan oeh majalah Sinar dan wawancara ini menjadi Makalah Talk Show yang diselenggarakan oleh PAC IPNU-IPPNU Kec. Kragan dan Irmas Al-Ishlah Kec. Kragan.
Silakan Simak baik-baik wawancara berikut


1. Menurut bapak apa aliran Ahmadiyah itu?
Ahmadiyah adalah aliran yang menjadikan Mirza ghulam Ahmad sebagai Imam Akbarnya. ghulam lahir di Punjab India, pada tahun 1835, dan mengaku diri mendapat wahyu sebagai nabi pada tahun 1876, saat itu usianya 41 tahun. Ahmadiyah sendiri didirikan tahun 1889, tiga belas tahun kemudian. Ini menyangkut karir pewahyuan.

Pada awal-awal pewahyuan, ia masih ragu. Bahkan ia tidak berani menamakan diri sebagai nabi, hanya muhaddats, atau orang yang diajak bicara oleh Allah SWT. Ia juga tidak berani mengaku diri sebagai Al-Masih. Atau ketika dia mengaku diri nabi, ia menganggap itu sebagai nabi majazan wa isti'aratan atau nabi dalam arti metaforis.

Dan tampaknya pada tahun 1889, ia telah mantap dengan wahyunya, maka mendirikan jamaat Ahmadiyah. Walau sebetulnya kemantapan yang tegas baru terjadi pada kira-kira tahun 1901, dua tahun setelah berdirinya jamaat Ahmadiyah.

2. Bagaimanakah akidah mereka dan apakah akidah mereka telah keluar dari maintream akidah islam sehingga mereka dapat dikatakan sesat atau bahkan kafir?
Mirza Ghulam Ahmad tampak sekali hidup dalam lingkungan sufistik yang kental, sehingga ia tidak merasa asing dengan pertemuan langsung antara manusia dengan tuhannya. Akan tetapi seperti sufi-sufi lainnya, ia beranggapan bahwa karir kenabian telah berakhir. Pertemuan antara manusia dengan Allah hanya bisa melalui "Ilham". Dalam wahyu-wahyu pertamanya, walaupun sudah ada penyebutan "ya nabiy" atau bahkan "ya rasuul" dia lebih memilih untuk memahami wahyunya itu dalam bentuknya yang metaforis.

Akan tetapi seiring dengan karir pewahyuannya yang semakin meningkat, baik folume maupun kwalitasnya, dia mulai mengubah pandangannya, keistimewaan berdialog dengan Allah yang ia peroleh bukan semata ilham kewalian, akan tetapi adalah wahyu kenabian.

Dalam al-Khazan Arruhaniyah, dia menegaskan "Almuhaddats", atau seseorang yang diajak bicara Allah, adalah nabi juga dalam salah satu artinya walaupun ia tidak mencapai kenabian yang sempurna, ia tetap seorang nabi parsial, karena ia mendapatkan kehormatan berdialog dengan tuhan, dan mendapat kesempatan penampakan hal-hal yang gaib.

Atas dasar inilah, akidah Ahmadiyah dibangun. Sebuah akidah yang menurut pengikutnya, merupakan revolusi atas konsep pewahyuan lama.

Sampai di sini, akidah Ahmadiyah tidak memiliki problem krusial. Dalam sebuah hadits ditegaskan pertemuan dengan Tuhan adalah bagian dari kenabian, atau kenabian yang sempurna. seperti riwayat Anas RA dari rasulullah SAW. "Kerasulan dan Kenabian telah terputus, maka tidak ada nabi dan rasul setelah diriku" Kata Anas: "ucapan baginda Rasul ini terasa berat bagi kami" lalu nabi mengatakan "Akan tetapi Al-Mubasysyiraat" kami menanyakan " Apa itu Al-Mubasysyiraat?" Kata Rasul "Mimpi-mimpi baik seorang muslim, itu adalah bagian dari kenabian".

Jika Pengakuan Mirza Ghulam Ahmad benar, maka itu adalah bagian dari kenabian, atau kenabian yang tidak sempurna. Menurut pengakuan Mirza, ia memang benar-benar berdialog dengan Allah SWT, dan hal itu ia peroleh melalui perantara "Nur Muhammady". Dan dari Nur Muhammady ini, kemudian lahir istilah "Naby Dzilly" atau nabi di bawah bayangan Nur Muhammady. Nur Muhammady sendiri adalah konsep sufy yang dikenalkan oleh Al-Hallaj dan Ibnu 'Aroby, dan luas dipercaya oleh para sufi. Ibnu 'Aroby juga mengaku hal yang sama, ia dalam mi'rojnya, mendapatkan nahwu, melalui perjalanan spiritualnya dibawah naungan Nur Muhammady.

Problem MGA (Mirza Ghulam Ahmad) menjadi serius, ketika pengakuannya ia sertai dengan "tahaddy", atau tantangan. Kenabian dan kerasulan adalah konsep internal dan eksternal sekaligus, semantara konsep kewalian, atau yang diistilahkan oleh MGA dengan kenabian parsial, atau kenabian dzilly, adalah internal belaka. Dalam pandangan para sufy, kewalian yang sempurna adalah bagi mereka yang mampu menyimpan rahasia ketuhanan. Al-Hallaj, ketika sadar dari "Jadzabnya", benar-benar menyesal karena telah mengumbar "rahasia ketuhanan".

Maksud dari eksternal adalah bahwa kenabian harus disuarakan kepada khalayak. dan untuk itu, kenabian memputuhkan dua hal. pertama tahaddy, atau tantangan atas sebuah mukjizat. kedua seorang nabi harus Ma'sum saat menyuarakan wahyu. tanpa kedua hal ini, kanabian menjadi tidak bermakna. Dan kenabian seperti ini implikasinya sangat berat. Sangat tepat sekali Baginda Rasul mengakhirinya saja.

Karena jika tantangan sudah diumumkan, dan kema'suman telah menyertainya, maka yang ia suarakan adalah kebenaran belaka. Persis disinilah keruwetan kenabian itu. Permasalahannya bukan lagi kebenaran kenabian itu sendiri, tetapi telah masuk kepada pembawanya, yakni nabi itu sendiri. umat nabi bukan lagi harus percaya kepada kebenaran kandungan wahyu, tapi juga harus percaya kenabian pembawanya.

Dalam pandangan umat islam secara umum, tidak lagi konsep kemaksuman setelah Nabi Muhammad, biarpun tinggi derajat seseorang, dan biarpun kemampuan dia berdialog dengan Tuhan. Biarpun pengakuan MGA benar, tetaplah dia tidak ma'sum -dan karena itu boleh dikritisi-, dan tidak ada konsekuensi apapun dengan tidak mempercayainya. Ibnu Taymiyah, yang sangat kritis terhadap Ibnu 'Araby, tidak kurang sedikitpun ketakwaanya, apalagi keislamannya, biarpun yang benar misalnya Ibn 'Araby. Kenabian parsial setelah Nabi Muhammad adalah internal.

MGA dengan memposisikan diri sebagai nabi dengan tahaddynya, ia telah menjadi "diktator" kebenaran. Kandungan wahyunya menjadi kebenaran mutlak, dan tidak boleh dikritik. Penafsirannya terhadap penyaliban Nabi Isa misalnya, menjadi satu-satunya penafsiran yang benar. bahkan implikasinya lebih luas lagi, yang tidak sah menjadi imam shalat bagi Ahmady. Nereka yang jelas-jelas tidak iman kepada kenabian MGA jika mati tidak boleh dishalati jenazahnya.

Di sinilah perbedaan antara sufisme Ahlussunah Wal Jama'ah dari sufisme yang dikembangkan MGA. Jelas sekali, MGA telah menyimpang dari paham-paham sufistik Ahlussunnah Wal Jama'ah, walau untuk mengatakan dia telah keluar dari Islam kurang tepat. Dia tetap Muslim, tetapi konsep ke-Islamannya menjadi radikal, tidak jauh beda dari para fundamentalis-fundamentalis lainnya, yang ingin mengasai kebenaran penafsiran Islam.
Dia memang telah mengkafirkan kelompok non-Ahmady, termasuk para sufy Ahlussunnah Wal-Jama'ah, tetapi tidak seyogyanya kita ikut membalas sikap itu. "Walaa yajrimannakum syanaanu qoumin 'alaa anlaa ta'diluu, I'diluu huwa aqrabu littaqwa."

3. Jikalau mereka telah sah kesesatannya atau kekafirannya menurut syayat-syarat dan kreteria syari'at, bagaimana tanggapan bapak terhadap sekelompok orang yang mendukung mereka? dan apakah mereka sama saja dalam pandangan syari'at islam atau beda?
Ada dua hal yang harus dibedakan, mendukung kesesatannya dan mendukung konsep kehidupan bernegara dengan naungan Pancasila. mendukung dalam arti yang pertama adalah keslahan, dan saya kira tidak ada yang melakukan itu kecuali mereka yang percaya pada kenabian MGA. Akan tetapi mendukung dalam arti kedua hanya perbedaan pandangansaja dalam ber-Islam di negeri seperti Indonesia. tidak lebih dan tidak kurang.
Tugas kita adalah menjelaskan kepada umat tentang bahayanya konsep kenabian MGA agar tidak terjerumus ke dalamnya.

 
4. Kapan dan bagaimanakah paham dan ajaran Ahmadiyah masuk Indonesia?

21.3.11

AUDIO, MP3 NADHOM ALFIAH VERSI LANGITAN

Kalau kalian suka dengan lagu-lagu islami asal langitan pasti kalian semua tau prediksi kiranya seperti apa Audio Nadhom alfiah ini, Audio muhafadhoh Nadzom Alfiah Ibnu malik ini iringan musiknya sangat berbeda dengan Nadzom alfiah milik anak didik dari Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah (MGS) terlebih dengan nadhom afiah yang dilantunkan oleh rekan-rekan kita di Pondok Pesantren Al-Anwar tahun 80-an yang hanya mengandalkan kesederhanaan tetapi dari sebuah kesederhanaan itu nadhom alfiah milik anak didik PP AL-ANWAR terdengar sangat klasik berbeda dengan yang lain.

Langsung aja deh bagi yang mau download Alfiah dari langitan silakan klik link dibawa sesuai dengan urutannya Baitnya
1. Bait 1 - 51
2. Bait 52 - 105
3. Bait 106 - 163
4. Bait 164 - 205
5. Bait 206 - 261
6. Bait 262 - 302
7. Bait 303 - 355
8. Bait 356 - 395
9. Bait 396 - 456
10. Bait 457  - 505 
11. Bait 506 - 551
12 Bait 552 - 597
13. Bait 598 - 654
14. Bait 655 - 694
15. Bait 695 - 749
16. Bait 750 - 807
17. Bait 808 - 849
18. Bait 881 - 915
19. Bait 916 - 942
20. Bait 943 - Tammat

Download Juga Alfiah Al-Anwar Dan Alfiah MGS

20.3.11

MEREKAM NGAJI TAFSIR JALALAIN (NGAJI AHADAN) KH. MAIMOEN ZUBAIR

Setelah terselesaikannya radio online milik PP Al-Anwar membuka peluang bagi para alumni dan para masyarakat se antero jagat ini untuk mengikuti pengajian di pondok pesantren Al-Anwar.

Tapi ingatan kita yang terbatas membuat kita tidak bisa mengingat semua pesan-pesan yang terkandung dalam pengajian tersebut, terutama pengajian TAFSIR JALALAIN yang dikaji setiap hari Ahad jam 10.30 WIB-Selesai Oleh KH. MAIMOEN ZUBAIR yang banyak sekali pelajaran-pelajaran yang tidak kita dapatkan dari kitab dan dari orang lain.

Alangkah baiknya kalau pengajian itu kita rekam dan kita gunakan sebagi koleksi kalau suwaktu-waktu membutuhkan atau ada orang lain yang membutuhkan kan bisa kita bagi tuh...

Bagi yang belum tau caranya simak posting saya kali ini baik baik ya....


  1. Klik aja tuh Radio Online PP Al-Anwar yang ada diblog ahadan
  2. Tunggu beberapa saat sampai tampilan radio online muncul setelah ada suaranya (berarti udah online tu radio) lanjut ke langkah 3
  3. Buka program JetAudio (kalau belum punya download dulu klik disini untuk melihat link downloadnya)
  4. Klik Record setelah itu di tab Source kasih Centang Stereo mix (perhatikan garis merah di gambar) Tinggal klik star (garis kuning) beres sekarang kajian yang ada di PP al-Anwar terekam dengan rapi deh.
  5. Untuk pengaturan-pengaturan lainnya anda coba-coba sendiri, kalau kurang paham silakan tulis komentar disini Insya allah aku jawab.

18.3.11

Butuhnya Manusia Pada Ajaran Islam

Oleh : Syaikh M. Najih MZ

Ajaran Islam tidak terkhususkan pada umat ini saja, tetapi Islam adalah ajaran semua Nabi dan utusan-utusan Allah SWT untuk mengentaskan manusia dari gelapnya kesesatan serta kemusyrikan menuju terangnya cahaya tauhid. Dan Allah SWT telah memerintahkan setiap orang yang berakal untuk meninggalkan kemusyrikan(1), firman Allah:

قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَمَّا جَاءَنِيَ البَيِّنَاتُ مِنْ رَبِّي وَأُمِرْتُ أَنْ أُسْلِمَ لِرَبِّ العَالَمِينَ (غافر:66

“Katakanlah (ya Muhammad): "Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah SWT setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam” (QS. Ghofir: 66).

Dan Allah SWT telah menjelaskan dalam beberapa ayat bahwa agama yang diridloi oleh-Nya hanyalah Islam. Firman Allah:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلاَمُ (آل عمران:19

“Sesungguhnya agama (yang diridloi) di sisi Allah SWT hanyalah Islam”. (QS. Ali ‘imron: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآَخِرَةِ مِنَ الخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali ‘Imron: 85). 
 
Sungguh nyata, manusia disetiap waktu dan zaman selalu membutuhkan makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan jasmani mereka, dan sebenarnya mereka lebih butuh terhadap apa yang dibawa oleh para utusan Allah SWT yaitu petunjuk-petunjuk yang agung dan pesan-pesan yang penuh arti untuk memenuhi kebutuhan rohani sekaligus menjadi bekal untuk kehidupan akhirat.



(1)  Prof. Dr. M. Sayyid Tanthowi, Hadza Huwa Al-Islam.

14.3.11

Islam Agama Universal

Oleh : Syaikh M. Najih MZ
Karangmangu Sarang Rembang

Agama Islam adalah Agama Universal pranata hukumnya masuk dalam semua aspek kehidupan manusia, dalam bidang ekonomi, sosial atau politik. Semua itu tidak terlepas dari hukum-hukum Islam yang mengaturnya, yang akan membawa kedamaian manusia di dunia dan akhirat.

Sejak pertama kali risalah Islam diwahyukan oleh Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW. Sasaran risalah ini adalah seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Firman Allah SWT :

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لاَ إِلَهَ إِلاَ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (الأعراف:158)

"Katakanlah "’Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah SWT  kepadamu (manusia) semua … " (QS. Al A’raaf: 158).
Kelengkapan agama Islam memantapkan Islam sebagai satu-satunya sistem hidup yang berasal dari Allah SWT, Pencipta seluruh makhluk, Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui. Ajarannya yang rinci, lengkap, dan mampu menjawab seluruh problematika umat manusia sepanjang zaman telah dijamin sendiri oleh Allah SWT  :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (النحل:89)

"Dan Kami turunkan kepadamu al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (QS. An-Nahl: 89).
Ayat ini menegaskan bahwa salah satu fungsi al-Quran adalah menjelaskan (menjawab) segala problematika yang ada di hadapan manusia, di manapun dan kapanpun. Sebaliknya bila manusia (termasuk kaum muslimin) mengabaikan peringatan-peringatan dan hukum-hukum al-Quran maka yang diperoleh hanyalah kesempitan hidup, kesengsaraan dan kehinaan. Allah SWT  berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ أَعْمَى (طه:124)

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (berupa sistem hukum Islam), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit …" 

Sarang  : 6 Shofar 1431



Biografi Syaikh M. Najih MZ Click here
Biografi Syaikh M. Najih MZ & Keluarga Click here



Baca juga

Tasawwuf dan Peradaban

Tasawwuf di Abad Modern
Hukum Valentine
Mauidloh KH Maimoen Zubair  th. 2011

13.3.11

Tasawwuf di Abad Modern

Kaum sufi yang merupakan kaum elit dan kaum terdepan. Merupakan roda penggerak utama islam pada masanya.

Sepanjang abad ke-18, ke-19 dan awal abad ke-20, gerakan-gerakan sufi besar di Afrika dan Asia sering dihubungkan dengan gerakan-gerakan Islam umumnya.

Kaum sufi adalah kaum elit masyarakatnya, dan sering memimpin gerakan pembaruan, atau perlawanan terhadap penindasan dan dominasi asing atau kolonial. Maka, misalnya, mereka terlibat jauh dalam gerakan politik seperti kebangkitan di Maroko dan Aljazair melawan Prancis, dan pembangunan kembali masyarakat dan pemerintahan Islam di Libya, yang sebagian besar dilakukan oleh para anggota tarekat Sanusi. Di Nigeria utara, Syekh 'Utsman dan Fobio (m. 1817), seorang anggota Tarekat Qadiriyah, memimpin jihad melawan para penguasa Habe yang telah gagal memerintah menurut syariat Islam, yang telah mengadakan pembebanan pajak yang dibuat-buat, korupsi umum, penindasan, dari menjatuhkan moralitas Islam pada tingkat rakyat maupun istana. Lebih jauh ke timur, Syekh Muhammad Ahmad al-Mahdi (m. 1885), anggota tarekat Tsemaniyah, berhasil menentang pemerintahan kolonial Inggris di Sudan. Fenomena serupa terjadi pula di Timur. Misalnya, kaum sufi Naqsabandiyyah dan Syah Waliyullah menentang kekuasaan kolonial Inggris di India.

Demikianlah kaum sufi beraksi di banyak negara di masa penjajahan, menentang usaha kolonial untuk menjungkirkan pemerintahan Islam, dan berusaha menghidupkan kembali serta mempertahankan Islam yang asli. Mereka sering membentuk atau berada di jantung kelompok-kelompok sosial yang kuat, dan mempunyai banyak pengikut di banyak bagian dunia. Yang membuat gerakan-gerakan ini tetap berhubungan dan kuat ialah kenyataan bahwa selama abad ke-19 rakyat tidak aktif, dan kendali atas pemilikan tanah, bersama dengan pengaruh tradisi kultural yang telah lama mapan, memainkan peranan penting dalam stabilitas masyarakat. Namun, di abad ke-20 situasi ini mulai berubah secara cepat dan radikal.

Penjajahan Barat atas kebanyakan negeri Muslim hampir sempurna menjelang akhir Perang Dunia Pertama. Setelah itu, kedatangan para penguasa sekuler dan sering "klien", yang ditunjuk atau disetujui oleh Barat, menentukan suasana. Kepentingan serta pengaruh agama dan kaum sufi menjadi nomor dua, karena erosi yang cepat dalam nilai-nilai dan gaya hidup masa lalu dan tradisional, dan menjadi bertambah sulit dan berbahaya untuk mengikuti jalan Islam yang asli secara utuh di negeri-negeri Muslim. Berlawanan dengan apa yang terjadi di Timur, banyak organisasi dan masyarakat spiritual muncul di Barat, sering dimulai oleh para pencari pengetahuan Barat.

Kenyataan bahwa banyak orang dari masyarakat Barat mengikuti gerakan-gerakan agama semu (psendo-religions), seperti gerakan Bahai dan Subud, maupun berbagai cabang Budhisme, Hinduisme, dan agama-agama baru minor lainnya, atau versi-versi agama lama yang dihidupkan kembali, menunjukkan kehausan dan minat akan pengetahuan spiritual di Barat, dimana berbagai versi agama Kristen yang lebih berdasarkan pikiran atau emosi ketimbang berdasarkan "hati", telah gagal memberikan santapan rohani yang sesungguhnya selama beberapa abad. Lebih berpengaruh dari berbagai gerakan ini adalah gerakan kaum Teosofi dan Mason. Menjelang awal abad ke-20 kita dapati perhatian yang amat besar pada spiritualisme di Eropa maupun Amerika Utara.

Karya para orientalis yang berusaha menggali dimensi spiritual agama-agama Timur --sekalipun dalam kerangka konseptual mereka yang khas, termasuk Islam, turut memperbesar minat terhadap spiritualisme dan pencarian pengalaman mistik di Barat, melalui tulisan dan terjemahan mereka atas karya-karya asli tentang tradisi-tradisi, kesenian, kultur, falsafah dan agama-agama Timur. Tasawuf mulai tiba di Barat bersama dengan gerakan spiritual semu atau gerakan spiritual sesungguhnya.

Kedatangan banyak guru India dan ahli kebatinan Budha bertepatan dengan lahirnya perhatian terhadap tasawuf. Di pertengahan abad ke-20, cukup banyak masyarakat dan gerakan sufi muncul di Eropa dan Amerika Utara, sebagian didirikan oleh orang sufi yang sesungguhnya dan sebagian oleh sufi semu. Dengan berjalannya waktu, lebih banyak informasi tentang tasawuf dan Islam yang lengkap dapat diperoleh di Barat. Krisis minyak di Barat dan ledakan minyak di sejumlah negara Timur Tengah juga membantu meningkatkan kontak dengan Timur Tengah dan bahasa Arab serta informasi tentang Islam. Kemudian datang Revolusi Islam Iran di tahun 1979 yang menyebabkan bangkitnya perhatian dunia kepada tradisi Islam. Tidaklah lepas dari konteks apabila dikatakan di sini bahwa kediaman Imam Khomeini sebelumnya, dan tempat di mana ia menyambut tamu-tamu rakyatnya di utara Teheran, adalah masjid dan tempat suci sufi. Sebenarnya Imam Khomeini berkonsentrasi pada ilmu tasawuf dan 'irfaan (gnosil), pada tahun-tahun awal di sekolah agama di Qum. dan tulisan-tulisannya yang awal terutama mengenai makna batin dari berjaga malam (qiyamul-lail), shalat malam dan kebangunan-diri.

Perlu diperhatikan bahwa kita jangan merancukan kualitas spiritual dari seorang individu dengan kejadian lahiriah. Imam 'Ali, guru semua sufi, hanya mengurusi peperangan selama bertahun-tahun sebagai pemimpin umat Islam. Kejadian-kejadian lahiriah kadang membingungkan penonton dan menyembunyikan cahaya orang-orang semacam itu. Tentang keadaan tasawuf di Barat di masa lalu yang lebih belakangan ini, kami mengamati dan menyimpulkan bahwa banyak kelompok yang menerima tasawuf untuk mengambil manfaat dari beberapa disiplin, doktrin, praktik atau pengalamannya, telah mulai terpecah belah.

Kelompok-kelompok gerakan zaman baru ini yang mengikuti sejumlah gagasan yang diambil dari tasawuf sedang terpecah-pecah karena jalan hidup mereka tidak selaras dengan garis umum Islam yang asli, dan oleh karena itu mereka tidak mendapat perlindungan lahiriah yang diperlukan untuk melindungi dan menjamin keselamatan gerakan batinnya. Maka selama beberapa dasawarsa terakhir abad ini, kita lihat bahwa kebanyakan gerakan sufi di Barat telah menguat karena berpegang pada amal-amal lahiriah Islam, atau melemah dan merosot karena tidak berlaku demikian.

Baca Juga
Hikmah 1 
Hikmah 2
Hikmah 3

11.3.11

TASAWWUF DAN PERADABAN

Oleh: KH. Muhammad Wafi MZ. Lc. MSi.

Bila mendengar kata tasawuf seketika yang terbayangkan dibenak penulis adalah sederet nama para Auliya’ Allah, mulai dari Ibnu Athoillah As-Sakandari, Syekh Abul Hasan As-Syadzili, Syekh Ahmad Ar-Rifa’I, Al-Imam Al-Ghozali dan masih banyak lagi nama-nama lain yang merupakan tokoh-tokoh tasawuf yang kita miliki. Disamping itu, penulis juga teringat akan beberapa judul buku yang mengupas tentang tasawuf, mulai dari yang Turots seperti Ihya’nya Al-Imam Al-Ghozali, Hikamnya Ibnu Athoillah dan risalahnya Al-Qusyairi, ataupun yang terbaru, seperti Syarh (kupasan) Hikam yang ditulis Dr. Said Romadlon Al-Buthi dan beberapa buku kecil karya beliau yang membahas tentang tasawuf.
Jika menelaah beberapa literatur yang membahas tentang tasawuf, yang sebagian telah penulis sebut diatas, maka akan banyak kita temukan definisi tentang tasawuf yang biasanya adalah merupakan ungkapan dari para pelaku taSAWuf itu sendiri. Hal ini terjadi karena memang tasawuf adalah thoriqohnya Arbab Al-Ahwal yakni thoriqohnya orang-orang yang berjalan menuju kepada Allah SWT (Salik), bukan thoriqohnya Ahl Al-Aqwal (orang yang menitik beratkan sesuatu pada ucapan). Dan para Salikin dalam melakukan aktifitas kesufiannya tidak hanya mendasarkan pada dalil-dalil yang tertulis (Naqliyyah) ataupun dalil-dalil yang rasional (Aqliyyah) saja, akan tetapi juga dalil yang berupa intuisi (Dzauq)[1]. Sedang antara Dzauq satu orang dan yang lain tentunya berbeda-beda, inilah salah satu penyebab terjadinya perbedaan dalam pendefinisian tasawuf diatas[2].
Kesulitan dalam memahami tasawuf seperti diatas tidak hanya terjadi pada pemaknaan tasawuf secara definitif, akan tetapi hal itu juga terjadi pada asal muasal kata tasawuf sendiri. Karena para Ulama yang mengkaji tentang tasawuf sendiri ada yang berpendapat bahwa kata Tasawuf berasal dari bahasa arab, ada pula yang berpendapat bahwa kata Tasawuf berasal dari bahasa ‘Ajam (bahasa selain bahasa arab). Sedang ulama yang berpendapat bahwa kata Tasawuf berasal dari bahasa arab pun juga berbeda pendapat, apakah Tasawuf adalah kata yang Musytaq (ada kata dasarnya) atau tidak? Dan yang mengatakan bahwa kata Tasawuf adalah kata yang Musytaq pun berbeda pendapat tentang kata dasar dari kata Tasawuf itu sendiri yang jika kita perhatikan, ternyata kita akan menemukan betapa banyak akar kata Tasawuf yang ditawarkan oleh para ulama[3].
Ya sudahlah, kita tidak usah terlalu pusing tentang hal-hal diatas. Karena pada dasarnya, tasawuf merupakan implementasi dari Al-Ihsan, yang disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Sayyidina Umar RA, dan Tazkiyyah An-Nafs yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim[4].
Dalam hadis diatas Rosulullah SAW menempatkan Al-Ihsan pada posisi terakhir, yakni setelah Al-Iman dan Al-Islam. Hal ini memberi pengetian bagi kita, bahwa derajat Al-Ihsan, yang bisa juga disebut dengan tasawuf, dapat dicapai oleh seseorang jika ia telah beriman dengan sungguh-sungguh dan mengamalkan islam secara sempurna. Karena Al-Ihsan merupakan perwujudan dari kuatnya Tauhid dalam hati seseorang. Sedang hakekat dari Tauhid, sebagaimana dikatakan oleh Al-Ghozali, adalah jika seorang hamba melihat dan meyakini bahwa segala sesuatu yang di alam semesta ini dari Allah SWT[5]. Buah dari tauhid tersebut adalah Al-Ihsan yang berarti penyembahan seseorang terhadap Allah sekan-akan ia melihat Allah SAW atau ia dilihat oleh Allah SWT. Jadi, kesungguhan iman dan kesempurnaan islam seseorang merupakan syarat mutlak bagi seseorang yang ingin mencapai derajat Al-Ihsan atau tasawuf.
Termasuk hal yang wajib diimani oleh umat islam, lebih-lebih mereka yang ingin mencapai derajat Al-Ihsan atau paling tidak ingin menjadi seorang sufi, adalah Qadla dan Qadar, sebagaimana hal itu bisa kita lihat pada hadis riwayat sayyidina umar diatas. Akan tetapi banyak dari kalangan umat islam sendiri yang tidak beriman pada Qadla dan Qadar, bahkan sekarang ini hal itu muncul dari sebagian orang yang memposisikan dirinya sebagai seorang sufi. Mereka pun beranggapan bahwa percaya pada Qadla dan Qadar adalah biang dari kemunduran umat Islam saat ini, jika umat islam ingin maju maka mereka harus menanggalkan keimanan mereka terhadap Qadla dan Qadar. Benarkah statement tersebut? Atau malah sebaliknya yang benar? Dalam tulisan singkat ini penulis akan berusaha untuk mengurai benang kusut seputar Qadla dan Qadar.

Seputar Qadla Dan Qadar.

                Sebelum kita membahas lebih jauh, maka kita jawab dulu pertanyaan, Apa itu Qadla dan Qadar? Qadla adalah ilmu atau ketetapan Allah SWT berkenaan dengan seluruh makhluk-Nya, yang telah ditetapkan-Nya pada azal (sesuatu yang tak bermula), yang diantaranya adalah ketetapan Allah SWT berkenaan dengan semua perbuatan yang dilakukan oleh manusia baik perbuatan yang Ikhtiyari (dari kehendak manusia sendiri) ataupun tidak. Adapun Qadar adalah terjadinya penciptaan sesuai dengan keputusan yang ditetapkan oleh Allah sebelumnya (Qadla). Dengan demikian, berarti Qadar merupakan implementasi dari Qadla.
                Setelah mengetahui definisi Qadla dan Qadar sebagaimana diatas, maka yang muncul dibenak penulis selanjutnya adalah sebuah pertanyaan baru, apa korelasi antara iman terhadap qadla dan qadar dan kemunduran yang dialami umat saat ini? Jika kita cermati dengan sungguh-sungguh, sebenarnya tidak ada korelasi sama sekali antara iman kepada qadla dan qadar dengan kemunduran umat islam saat ini, Bahkan keduanya pada ujung yang berbeda. Karena iman terhadap qadla dan qadar adalah bagian dari keyakinan kita terhadap Dzat dan sifat-sifat Allah SWT, sedang segala perbuatan dan tingkah laku manusia merupakan bentuk ketundukannya terhadap perintah dan larangan Allah SWT. 

                Untuk membuktikan hal diatas coba saja kita perhatikan beberapa hal dibawah ini:
  1. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk Imarah Al-Ardl (membangun, memberdayakan, mengolah dan mengembangkan potensi yang ada di bumi), baik secara materi ataupun peradaban. Hal tersebut bisa kita baca pada Q.S. Al-Hud: 6: “ dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya ”. Allah juga menyuruh agar kita memperhatikan bumi yang telah Dia jadikan “pelayan” bagi kita, untuk kemudian kita bisa menggali dan mengeluarkan semua potensi yang terkandung didalamnya. Coba kita perhatikan Q.S. Al-Mulk: 15: “ Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan ”. dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang mengisyaratkan perintah Allah SWT yang senada dengan perintah-perintah diatas. Yang sekarang perlu kita renungkan, apakah mungkin setelah Allah SWT memerintahkan kita untuk mengolah dan mengembangkan potensi bumi yang kita huni ini, lalu setelah itu Dia pun juga memerintahkan kita agar bermalas-malasan, dengan dalih bahwa konsekuensi dari iman terhadap qadla dan qadar adalah bermalas-malasan? Bukankah arti Taskhir Al-Ard (menjadikan bumi sebagai “pelayan” manusia) yang terdapat pada firman Allah Q.S. luqman: 20: “ Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan ”, adalah dengan mengerahkan semua daya dan upaya yang kita miliki? Atau malah sebaliknya, yakni dengan santai-santai, tidur-tiduran dan bermalas-malas? Tentu kita sudah tahu jawaban dari pertanyaan diatas.
  2. Kalau kita membaca Sirah atau perjalanan hidup dan perjuangan para As-Salaf As-Sholih, seperti para sahabat Nabi Muhammad SAW, Tabi’in dan Tabi’ At-Tabi’in, maka kita akan melihat bahwa mereka hidup dalam kesejahteraan baik secara lahiriah maupun bathiniah, dan hal itu tidak bisa dipungkiri oleh siapapun kecuali orang-orang yang memang tidak bisa melihat terangnya sinar matahari di siang bolong. Para sahabat adalah orang-orang yang paling sah untuk kita jadikan tauladan dalam berbagai aspek kehidupan, mereka telah berhasil merajut kebangkitan ilmiah, budaya, ekonomi, militer dan banyak yag lainnya, padahal sebelumnya mereka hanya bangsa arab yang Ummi, hidup di padang pasir yang gersang dan tidak punya nilai dihadapan bangsa-bangsa lain. Yang mengganjal dibenak penulis sekarang adalah sebuah pertanyaan besar, apakah kesejahteraan yang diperoleh oleh para para sahabat itu adalah merupakan hasil dari tidak iman mereka terhadap qadla dan qadar? Tentunya, bagi orang-orang yang menganggap iman terhadap qadla dan qadar sebagai biang dari kemunduran dan kekalahan umat islam saat ini harus menjawab “iya” pertanyaan penulis diatas. Karena hal itu adalah konsekuensi secara logis dari keyakinan mereka. Akan tetapi hal itu terbantahkan oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam muslim dalam buku shohihnya. Alkisah, ketika Ma’bad Al-Juhani, orang pertama yang menafikan adanya qadar Allah, muncul di kota Bashrah ada dua orang yang sedang melaksanakan ibadah haji sowan kepada sahabat Nabi Adullah bin Umar RA untuk menanyakan perihal Ma’bad Al-Juhani tersebut. Lalu jawaban Ibnu umar adalah: “ jika engkau bertemu dengan mereka maka kabarkanlah bahwa aku lepas dari apa yang mereka yakini dan mereka juga terlepas dari apa yang aku yakini, andaikan salah satu dari mereka memiliki emas sebesar gunung uhud dan kemudian mereka infaqkan niscaya allah tidak akan menerima amal mereka tersebut selagi mereka tidak beriman terhadap qadar [6]”. Kemudian beliau menyitir hadis riwayat sayyidina umar tentang iman, islam, dan ihsan diatas. Ungkapan sahabat Ibnu Umar diatas memberi ketegasan kepada kita bahwa para sahabat pun beriman terhadap qadla dan qadar, dan serta merta juga membantah logika bahwa kemajuan yang mereka peroleh didorong oleh sebuah pengingkaran terhadap qadla dan qadar.
Dari dua poin yang sudah penulis sebutkan diatas, tentu sekarang kita bisa yakin bahwa kemunduran umat Islam saat ini bukan disebabkan keimanan mereka terhadap qadla dan qadar. Bahkan malah sebaliknya, keimanan mereka terhadap qadla dan qadarlah yang mendorong mereka untuk menjadi bangsa yang berperadaban tinggi. Bagaimana logikanya? Jika sebuah bangsa telah mempunyai iman yang kuat terhadap Allah SWT, dan bahkan iman tersebut tidak hanya sebatas Taqlid tapi sudah mencapai taraf cinta, mengagungkan, memuliakan, hanya bergantung pada Allah SWT saja dan meyakini seyakin-yakinnya bahwa hanya Allah lah sumber dari segala kekuatan yang ada, maka ia akan bertambah tunduk setunduk-tunduknya terhadap semua perintah-perintah Allah SWT. Dan termasuk dari perintah Allah SWT adalah agar manusia membangun dan memberdayakan bumi dan segala isinya sesuai dengan amanat yang telah Allah bebankan kepada kita sebagai Kholifah.
 Coba saja perhatikan sebegitu banyak makam para sahabat yang tersebar dimana-mana, kira-kira apa yang mendorong mereka untuk melakukan perjalanan begitu jauh bahkan sampai bermil-mil dalam rangka Jihad Fi Sabilillah dan menyebarkan agama Islam? padahal waktu itu belum ada pesawat terbang, kereta api, mobil dan alat tranportasi yang lain. Tidak lain semua itu adalah karena kuatnya iman dalam hati mereka yang membuahkan ketundukan total seorang hamba dihadapan Rabb-nya. Andai yang mereka jadikan pijakan adalah kekuatan mereka sendiri, tentu islam tidak akan tersebar sebegitu luasnya, karena logika manusia tidak akan bisa mencerna dan menerima. Bayangkan saja, tiga ribu pasukan perang umat islam melawan seratus lima puluh ribu pasukan romawi, tapi apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Rowahah selaku panglima perang ” wahai kaumku, sebenarnya sesuatu yang kalian benci adalah sesuatu yang kalian keluar perang karenanya pula. Kalian keluar karena mencari syahadah, jadi kita tidak berperang dengan kekuatan penuh ataupun dengan peralatan yang banyak dan lengkap, akan tetapi kita dengan agama yang Allah telah memuliakan kita dengan agama tersebut, yakni Islam. Sungguh yang kita cari adalah salah satu dari dua kebaikan; kemenangan atau mati syahid ”.
Iman sebuah bangsa terhadap qadla dan qadar akan mengangkat mereka dari jurang kehinaan, keimanan tersebut mendidik mereka menjadi orang yang mulia, kuat dan percaya diri karena selalu menyandarkan semua langkahnya hanya pada Allah SWT semata, tidak yang lain. Disinilah akan benar-benar terealisasi sabda baginda Nabi Muhammad SAW:” orang mu’min yang kuat itu lebih baik dan dicintai allah dari pada yang lemah, akan tetapi keduanya baik semuanya[7].
Walhasil, Jika kita ingin maju dan menjadi pemimpin dunia, maka marilah kita berkaca dan meneladani As-Salaf As-Sholih, bagaimana mereka bisa mencapai kemuliaan tersebut, bukankah begitu?


[1] Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali (tt), Al-Munqidz Min Al-Dholal, h.h.69-71. Tuban: Mathba’ah Al-Balagh.
[2] Abu Muhammad Rohimuddin Nawawi Al-Bantani (2003), Madkhol Ila Al-Tashowwuf Al-Shohih Al-Islami, h.73. Kairo: Dar El-Fikr.
[3] Ibid.
[4] Penggalan Hadis diatas adalah sebagai berikut:  أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك . Abu Al-Husain Muslim Bin Al-Hajjaj Bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi (2000), Shohih Muslim, h.31, No Hadis:1. Beirut: Dar El-Fikr.

[5] Muhammad Bin Muhammad Al-Ghozali (tt), Ihya’ Ulumiddin, . h. 33. Semarang: Toha Putra
[6] Muslim Bin Al-Hajjaj Bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi. Op.Cit.
[7] Ibid h. 1311, No Hadis: 6669.

Ngaji Hikam dengan KH. Muhammad Wafi MZ. Lc. MSi.
Hikmah 1 
Hikmah 2
Hikmah 3

 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan