23.4.11

Amal itu bermacam-macam sesuai keadaan manusia

HIKMAH IBNU ATHO’ILLAH KE-9
oleh : KH. M. Wafi MZ. LC

تنوعت أجناس الأعمال بتنوع واردات الأحوال
"Amal itu bermacam-macam sesuai keadaan manusia"
Uraian
Manusia memiliki kondisi (keadaan) yang berbeda-beda. Keadaan seorang manusia belum tentu sama dengan keadaan manusia yang lain. Secara spesifik, keadaan tersebut terbagi menjadi dua macam. Pertama; keadaan hati (al-Ahwal an-Nafsiyyah), kedua : keadaan sosial ( al-Ahwal al-Ijtima'iyyah).

a.     Ahwal Nafsiyyah
Yang dimaksud dengan keadaan hati di sini adalah suatu ibarat dari perasaan yang masuk (lewat) dalam diri manusia dan tidak menetap. Perasaan tersebut datang dari hasil berfikir dan berangan-angan terhadap sifat dan nama-nama Allah yang baik (Al-Asma' Al-Husna). Sifat-sifat itulah yang mempengaruhi dan mendorong untuk melakukan amal-amal yang sesuai dengan dirinya. Perasaan tersebut juga bisa ditimbulkan oleh keadaan masa lalu seseorang yang gelap dan bergelimang dalam maksiat. Perasaan salah ini akan menambah rasa takut manusia akan siksa Allah dan rasa sakit ketika ingat masa lalunya di sisi Allah SWT.
Sebagian orang shalih misalnya, ada yang selalu bersikap ramah, dermawan, berbuat baik, dan selalu memaafkan. Semua sikap tersebut bersumber dari selalu mengingat sifat-sifat jamal (keindahan) dari Al-Asma' Al-Husna. Oleh karena itu, dia selalu melakukan amal shalih yang berlandaskan atas prasangka baik terhadap Allah (husnudzan billah). Sehingga ketika dia mengingatkan manusia kepada Allah SWT mereka selalu mengingatkan akan besarnya anugerah, pemberian nikmat dan ampunan-Nya.
Sebagian mereka juga ada yang selalu dihinggapi perasaan takut karena yang selalu dia pikir adalah sifat-sifat jalalullah (keagungan Allah) seperti al-Qahhar, al-Muntaqim. Maka mereka akan beramal menurut perasaan takut ini, khususnya bagi mereka yang mempunyai masa lalu kelam.
Perbedaan-perbedaan inilah yang dimaksud dengan kondisi manusia (ahwal). Kondisi tersebut datang kepada manusia, kemudian menetap (bisa lama dan bisa sebentar).
Di sini perlu kita jelaskan perbedaan para auliyaillah yang menunjukkan bahwa mereka berbeda-beda dalam amalnya karena keadaan hati mereka yang berbeda-beda. Di antara mereka misalnya :
a.     Fudlail Ibnu Iyadh
Diceritakan bahwa suatu ketika dia wukuf di Arafah bersama orang-orang yang haji. Namun dia tidak berdo'a dan berdzikir sebagai-mana yang dilakukan jamaah haji lain. Dia hanya ingat terhadap masa lalunya yang gelap, sehingga lupa untuk berdo'a dan berdzikir. Dia tak pernah terdengar berdo'a. Imam Fudlail hanya menaruh tangan kanannya, ditempelkan ke pipinya dan menundukkan kepala seraya menangis. Hal ini yang dilakukan-nya sepanjang hari Arafah, dan ketika sudah sore (sudah waktunya berangkat) dia berdoa serasa me-ngangkat tangan "Oh..alangkah jeleknya diriku walaupun Tuan telah mengampuniku."
b.     Ma'ruf Al-Khurkhi
Suatu ketika Imam Ma'ruf Al-Kharkhi berpuasa, lalu dia mendengar orang yang memberi sadaqah minuman berkata : "Semoga Allah memberi rahmat orang yang mau minum dariku". Kemudian dia mendatangi orang tersebut dan minum darinya. Ketika ditanya "Bukankah engkau berpuasa?", dia menjawab : "Ya, tetapi saya mengharap do'a orang tersebut".
Apa yang dilakukan dua wali tersebut bisa jadi mendapat kritik dari orang yang tidak paham nasehat Ibnu Atha'illah di atas.
Memang amal yang sesuai dengan keadaan Fudlai Ibnu Iyadh ketika wukuf di Arafah adalah menundukkan kepala dan merasa malu kepada Allah SWT, karena dia teringat kedaan masa lalunya yang selalu jauh dari Allah SWT. Jadi tidak perlu dipungkiri lagi bahwa pahala Imam Fudlail sama dengan pahala orang yang berdo'a dan dzikirnya wukuf di Arafah.
Imam Ma'ruf Al-Kurkhi juga demikian. Ketika dia mendengar orang yang memberi minum berkata: "Semoga Allah memberi rahmat orang orang yang mau minum dariku". Lalu dia minum air darinya dan membatalkan puasanya. Hal tersebut tidak lain karena Al-Kurkhi berharap semoga Allah memasukkannya termasuk orang yang mendapat rahmat-Nya. Jadi tidak boleh dikatakan bahwa yang dilakukan Imam Ma'ruf itu tidak sesuai dengan pendapat sebagian ulama' fiqih, bahwa amal sunnah itu jika sudah dikerjakan, maka wajib untuk diteruskan dan tidak boleh dipotong. Karena konteks di sini adalah masalah hukum ijtihadi. Sebagaimana ulama' fiqih boleh berijtihad maka begitu juga Imam Ma'ruf berhak untuk berpendapat bahwa yang baik baginya adalah membatalkan puasa.
Jika kita telah mengetahui apa yang dimaksud hikmah Ibnu 'Atha'illah dengan berbagai contoh di atas, maka kita pasti tidak akan berani untuk menyalahkan dan menghina para Auliya’, Ulama’ dan  As-Shalihin. Terkadang kita melihat apa yang dikerjakan mereka dari segi dhahirnya itu menyalahi syari'at, namun dari segi batinnya apa yang mereka kerjakan adalah benar karena memang itu yang cocok dengan keadaan perasaan hati mereka dan jika diteliti sebenarnya tidak bertentangan dengan syariat, hanya saja cara memahami dan metodologinya yang berbeda.

b.     Ahwal Ijtima'iyyah
Di sini kami kemukakan beberapa contoh yang memudahkan kita untuk memahami perbedaan amal karena beda-bedanya keadaan status sosial masyarakat.
1.   Orang yang belum menikah tidak memiliki tanggung jawab kecuali pada dirinya sendiri. Oleh karena itu amal yang sesuai dengan dirinya adalah amal-amal yang bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah. Setelah mengerjakan amal wajib, maka yang perlu dilakukan adalah mengosong-kan waktu untuk menambah ibadah-ibadahnya.
2.   Orang yang telah menikah, maka dia memiliki tanggung jawab yang lebih, yaitu pada dirinya sendiri dan keluarganya. Dia harus bisa adil dan seimbang antara mengurusi keluarga dan beribadah kepada Allah. Dia harus mengetahui bahwa usahanya dalam mencukupi kebutuhan keluarga merupakan amal ibadah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, termasuk di antaranya adalah duduk dan berkumpul bersama keluarga, supaya tercipta suasana kasih sayang dan harmonis. Selain bertanggung jawab kepada keluarga, dia juga tidak boleh melupakan kewajibannya sendiri, yaitu beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana yang dia kerjakan sebelum menikah. Hal ini bukan berarti ‘menduakan’ Allah, karena pada dasarnya bertanggung jawab kepada keluarga juga perintah Allah swt.
3.   Seseorang yang bekerja di suatu pabrik atau kantor, amal yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah (setelah amal wajib) adalah tekun bekerja sebagaimana yang telah ditugaskan dan diamanatkan dari perusahaan dan atasannya. Artinya seluruh jam kerja yang telah ditetapkan harus digunakan untuk bekerja, kecuali hanya beberapa menit untuk melaksanakan shalat fardlu. Oleh karena itu, dia tidak boleh menggunakan waktu satu menit pun untuk melaksanakan amal sunnah seperti membaca Al-Qur'an dan mempelajari ilmu syari'at yang bukan kewajibannya. Sekarang ini ada sebagian pekerja yang sengaja mengulur-ulur waktu dengan memperlama wudlu dan shalatnya. Mereka berasumsi bahwa pekerjaan tersebut bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sungguh sangat keliru alasan tersebut, karena mereka telah menggunakan waktu yang bukan miliknya. Waktu yang dia gunakan adalah milik pabrik. Dia harus mengetahui bahwa pahala yang disiapkan Allah sebagai imbalannya dalam menjalankan tugas tersebut tidak akan kurang dari pahala ibadah dan amal yang dilakukan orang-orang yang berdzikir dan membaca Al-Qur'an.
4.   Orang yang memiliki kekua-saan, maka yang harus dia kerjakan adalah melayani masyarakat, menjaga hak-hak dan menjaga keamanan rakyatnya. Kita tidak boleh beranggapan bahwa apa yang menjadi tugasnya itu bukan amal ibadah. Apa yang dikerjakan tersebut dapat menjadi amal ibadah jika memang didasari ridla kepada Allah dan yang perlu diperhatikan, pejabat tersebut juga tidak boleh meninggalkan kewajiban-kewajiban serta rukun-rukun Islam.

Kesimpulan
Allah telah memberikan kekuatan yang berbeda-beda untuk melaksanakan ibadah dan amal yang juga berbeda-beda. Konsekuensinya, setiap individu harus melakukan amal yang sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya.
Kadang ada orang yang tidak memiliki kemampuan sedikitpun, namun dia sangat giat dan senang untuk menolong masyarakat dan memenuhi kebutuhan mereka, maka pekerjaanya itu adalah amal ibadah yang menjadi kewajibannya dan telah dibebankan oleh Allah kepadanya.
Dengan demikian maka amal setiap manusia tidak harus melakukan amal yang sama dengan manusia yang lain. Allah telah menentukan amal apa yang sesuai dengan masing-masing individu, sehingga jelaslah apa yang dimaksud dengan hikmah Ibnu 'Atha'illah di atas. Wallahua’lam.

22.4.11

TAFSIR JALALAIN KH. MAIMOEN ZUBAIR DI PP AL ANWAR SARANG (AHADAN MBAH MUN)

Assalamu'alikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Pengajian Tafsir Jalalain oleh KH. Maimoen Zubair ini merupakan pengajian rutin setiap hari Ahad bertempat di Musholla PP Al-Anwar Karangmangu Sarang Rembang.

Pengajian Tafsir ini sangat akrab disebut sebagai Ahadan Mbah Moen, pengajian yang diikuti oleh ribuan orang dari berbagai kalangan dan berbagai kabupaten serta para santri putra dan santri putri ini masih berlangsung dan belum pernah Katam (belum pernah terselesaikan sampai sekarang) kami cuma mampu berdo'a semoga beliau (KH. Maimoez Zubair) bisa menghatamkan pengajian Tafsir Jalalain tersebut.

Dalam pengajian tafsir jalalain ini lebih banyak keterangan dan penjelasan-penjelasan dalam memahami al-qur'anul karim, dengan hanya membaca tafsir 1 halaman beliau mampu menjelaskan 1 sampai 2 jam, penjelasan-penjelasan isi kandungan al-qur'an yang sangat khas dan berbeda dengan para ulama'-ulama' pada umumnya.
 
Semoga KH. Maimoen Zubair diberi umur panjang, sehingga kita bisa menimba ilmu dari beliau amin....

Semoga apa yang kami upload ini menjadi media untuk berbagi, mencari ilmu, mendalami ajaran-ajaran agama islam melalui tafsir jalalain, memperdalam iman kita dan tidak merugikan suatu pihak manapun, tidak mendapat dampak negatif, dan tidak membuat orang lain tidak nyaman karena ini.

Wassalamu'alikum Warohmatullahi Wabarokatuh


Karena internet di tempat kami lemot, lelet oleh karena itu kami upload file berupa file WMA untuk tidak mengurangi kualitas audio. 5 MB file WMA hampir sama dengan 95 MB file MP3 125 Bit jadi untuk hasil maksimal setelah download kalian ubah file WMA itu menjadi file MP3 125 Bit terlebih dahulu untuk  Programnya silakan kalian downloud disini (WMA2MP3) atau baca trik convert yang lainnya, lihat di posting kami senbelumnya (Audio Alfiah atau Mauidloh Mbah Mun).

Proses Upload yang lelet membuat kami kesulitan untuk upload file secara serentak alias bersamaan jadi kami putuskan untuk upload sedikit2 atau secara bertahap, file yang sudah kami upload langsung masuk di Box di bawah ini.


Tips Dari Kami
  1. selalu Reload page untuk melihat apakah sudah ada file baru yang kami upload,
  2. selalu buka blog kami untuk melihat update file Ahadan terbaru.

Luangkan waktu sejenak untuk memberi komentar di bawah atau disamping melalui komentar singkat dan apabila ada yang tidak berkenan silakan beri komentar insya allah kami akan mempetimbangkannya.


Semoga semua ini bermanfaat bagi temen-temen semua amiiieeennn...........

LOADING BOX.NET




Karena Upload di box.net sering gagal akhirnya kami pindah di 4 shared silakan kalau mau download di box di bawah ini



atau klik Link berikut


Download Mawidhoh KH. Maimoen Zubair Disini

20.4.11

PROFESIONALISME DALAM ISLAM



وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyyat: 56).

Ayat di atas menegaskan bahwa manusia adalah makhluk berketuhanan sekaligus makhluk sosial (zoon politicon).

Ajaran Islam sebagai agama universal sangat kaya akan pesan-pesan yang mendidik bagi muslim untuk menjadi umat terbaik, menjadi khalifa, sebagai pendorong kepada setiap muslim untuk berbuat dan bekerja secara profesional, yakni bekerja dengan benar, optimal, jujur, disiplin dan tekun.

Akhlak Islami yang di ajarkan oleh Nabiyullah Muhammad SAW, memiliki sifat-sifat yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan profesionalisme. Ini dapat dilihat pada sifat-sifat akhlak Nabi sebagai berikut:

1. Sifat Kejujuran (Shiddiq)
Kejujuran menjadi salah satu dasar yang paling penting untuk membangun profesionalisme. Hampir semua bentuk usaha yang dikerjakan bersama menjadi hancur, karena hilangnya kejujuran. Oleh karena itu kejujuran menjadi sifat wajib bagi Rasulullah SAW. Dan sifat ini pula yang selalu di ajarkan oleh Islam melalui Al-Qur’an dan sunah Nabi.

2. Sifat Tanggung Jawab (Amanah)
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
Artinya: “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telahdiperbuatnya” 

Perbuatan individu itu merupakan suatu gerakan yang dilakukan seorang pada waktu, tempat dan kondisi-kondisi tertentu yang mungkin bisa meninggalkan bekas atau pengaruh pada orang lain. Oleh sebab itu apakah tanggung jawab seseorang terbatas pada amalannya saja ataukah bisa melewati batas waktu yang tak terbatas bila akibat dan pengaruh amalannya itu masih terus berlangsung mungkin sampai setelah dia meninggal ?
Seorang yang cerdas selayaknya merenungi hal ini sehingga tidak meremehkan perbuatan baik sekecil apapun dan tidak gegabah berbuat dosa walau sekecil biji sawi. Mengapa demikian ? Boleh jadi perbuatan baik atau jahat itu mula-mula amat kecil ketika dilakukan, akan tetapi bila pengaruh dan akibatnya terus berlangsung lama, bisa jadi akan amat besar pahala atau dosanya.

Jadi Sikap bertanggung jawab juga merupakan sifat akhlak yang sangat diperlukan untuk membangun profesionalisme, sekecil apapun amal perbuatan kita harus benar-benar kita perhatikan.

3. Sifat Komunikatif (Tabligh)
Salah satu ciri profesional adalah sikap komunikatif dan transparan. Dengan sifat komunikatif, seorang penanggung jawab suatu pekerjaan akan dapat menjalin kerjasama dengan orang lain lebih lancar. Sementara dengan sifat transparan, kepemimpinan di akses semua pihak, tidak ada kecurigaan, sehingga semua masyarakat anggotanya dan rekan kerjasamanya akan memberikan apresiasi yang tinggi kepada kepemimpinannya.

4. Sifat Cerdas (Fathonah)
Dengan kecerdasannya seorang profesional akan dapat melihat peluang dan menangkap peluang dengan cepat dan tepat. Dalam sebuah organisasi, kepemimpinan yang cerdas akan cepat dan tepat dalam memahami problematika yang ada di lembaganya.

Disamping itu, masih terdapat pula nilai-nilai Islam yang dapat mendasari pengembangan profesionalisme, yaitu:

1. Bersikap Positif dan Berfikir Positif (Husnudhon)
Berpikir positif akan mendorong setiap orang melaksanakan tugas-tugasnya lebih baik. Hal ini disebabkan dengan bersikap dan berfikir positif mendorong seseorang untuk berfikir jernih dalam menghadapi setiap masalah. Husnudhon tersebut, tidak saja ditujukan kepada sesama kawan dalam bekerja, tetapi yang paling utama adalah bersikap dan berfikir positif kepada Allah SWT.

2. Memperbanyak Shilaturahhim
Dalam Islam kebiasaan shilaturrahim merupakan bagian dari tanda-tanda keimanan. Namun dalam dunia profesi, shilaturahhim sering dijumpai dalam bentuk tradisi lobi. Dalam tradisi ini akan terjadi saling belajar.

3. Disiplin Waktu dan Menepati Janji
Begitu pentingnya disiplin waktu, Al-Qur’an menegaskan makna waktu bagi kehidupan manusia dalam surat Al-Ashr, yang diawali dengan sumpah ”Demi Waktu”. Begitu juga menepati janji, Al-Qur’an menegaskan hal tersebut dalam ayat pertama Al-Maidah,


يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَوْفُوا بِالْعُقُوْدِ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu ... (Al-Maaidah: 01).

Yang dimaksud “aqad-aqad” adalah “janji-janji” sesama manusia.

4. Bertindak Efektif dan Efisien
Bertindak efektif artinya merencanakan, mengerjakan dan mengevaluasi sebuah kegitan dengan tepat sasaran. Sedangkan efisien adalah penggunaan fasilitas kerja dengan cukup, tidak boros, dan memenuhi sasaran, juga melakukan sesuatu yang memang diperlukan dan berguna. Islam sangat menganjurkan sikap efektif dan efesien.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang menekankan arti penting amal dan kerja. Islam mengajarkan bahwa kerja kerja harus dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Bahwa pekerjaan itu harus dilakukan berdasarkan kesadaran dan pengetahuan yang memadai. Sebagaimana firman Allah SWT:


وَلاَ تَقْفُ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُلاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36).

2. Pekerjaan harus dilakukan berdasarkan keahlian. Seperti sabda Nabi :

إِذَا وُسِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran.” (Hadist Bukhari).

3. Berorientasi kepada mutu dan hasil yang baik.
Dalam Islam, amal, dan kerja harus dilakukan dalam bentuk yang shalih. Sehingga makna amal shalih dapat dipahami sebagai kerja sesuai standar mutu, baik mutu dihadapan Allah maupun dihadapan manusia rekanan kerjanya.

4. Pekerjaan itu senantiasa diawasi oleh Allah, Rasulullah, dan masyarakatnya, oleh karena itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggunga jawab.

5. Pekerjaan dilakukan dengan semangat dan profesionalisme yang tinggi


Makalah Selapanan Rutin, 4  R.Tsani 1432 H/09 Maret 2011

15.4.11

MP3 Humor Curanmor (Jawa) VS Cangehgar (Sunda)

Suasana hati yang lagi suntuk rasanya ingin marah terus membuat aku terinspirasi untuk mendengarkan lelucon-lelucon biar bisa tertawa gitu......
Yach gimana lagi mau baca Al-Qur'an juga lagi males tapi alangkah baiknya kalau lagi suntuk membaca al-qur'an biar hatinya damai, tentram n tenang..
tapi tak ada salahnya kalau kita sekali-kali denger mp3 humor ya kan.... silakan deh kalau mau ikut dengerin juga...!!!! download aja linknya ada pada box di bawah ini

Curanmor
Curahan Perasaan dan Humor orang-orang Cilacap


Untuk curanmor ini filenya berupa WMA jadi untuk hasil audio yang maksimal silakan baca cara convertnya di posting saya Audio Alfiah atau di Mauidloh Mbah Mun

Cangehgar
Humornya anak-anak Sunda




Kalau masih kurang juga coba download di http://curanmor.blogspot.com

14.4.11

Tutorial Adobe PhotoShope

Punya foto jelek tentunya sangat membosankan dan pastinya ingin selalu membuangnya alias del aja kan???? Stop jangan di buang dulu..... alangkah baiknya kalau foto itu kita kasih sedikit sentuhan biar terkesan bagus mari kita edit foto tersebut hitung-hitung belajar edit foto.

Buka dulu program photoshope kalau tidak punya silakan beli programnya di toko terdekat atau lewat website-nya di http://www.photoshop.com kalau ingin gratis download aja di http://www.indowebster.com atau di http://www.4shared.com atau tempat download lainnya.... eh lupa biasanya kalau orang-orang itu ingin enaknya aja ya.... oce deh kalau begitu,.... ni aku kasih link downloadnya udah ada SN & crk-nya Photoshope CS4 Portable Photoshope CS5 tinggal pilih aja deh pada box di bawah ini selain photoshope ada juga program lainnya kalau Mau cari yang lain tanya aja ma Mbah Google atau Yahoo ada banyak kok yang menyediakan link downloadnya jangan lupa cari yang udah ada SN-nya tapi alangkah baiknya kalau beli yang original



Sekarang programnya sudah dapet trus cara-caranya bagaimana nich?????
tenang-tenang aku juga punya koleksi untuk belajar photoshop tinggal klik tutorial yang kalain inginkan di box Selanjutnya... di jamin kalau belajar dengan tekun hasilnya pasti maksimal deh....

Review isi tutorial
Efek Bayangan
Cara Mudah Membuat Efek Bayangan seperti logo atau tulisan
Teknik Profesional Photoshop CS3
Ini yang paling lengkap mulai dari awal (dasar2) sampai pada tehnik-tehnik proifesional
Adri-seleksi
Mengajarkan kita bagaimana kita bisa menyeleksi suatu foto atau text pada photoshope
Ebook Photoshop
Tutorial kali ini bisa dibilang juga agak komplit
yang lainnya kalain download aja deh... baca dan pelajari untuk mengolah foto milik kalian dan bagaimana foto tadi apa udah bisa kita edit dan menjadi foto yang baik atau belum???? eemmmm
Net belajar aja... moga sukses aja...............

9.4.11

Ingatkah ...!!!

Cerpen By Mawar

Kicauan burung yang bersahut-sahutan mengiringi langkahku pagi ini. Tak lupa rasa syukur pada ilahi selalu terucap mengawali hari yang cerah. Ku pandangi sahabat-sahabatku thalibul ilmi yang tampak ceria, cerah dan penuh semangat menghiasi wajah mereka Tepat pukul 06.15 aku tiba di sekolah yang selalu manjadi kebanggaan kota kudus, MA Banat, Nama besarnya telah melahirkan insan berilmu tiap tahunnya. Kutuju ruang XI IPA I. Memang aku sengaja datang lebih awal ke sekolah karena hari ini adalah piketku bersama lima teman lainnya. Tapi ternyata kelas telah bersih, meja dan kursi tertata rapi. Padahal belum ada satu taspun yang terlihat disana. Tapi tiba-tiba terlihat sosok gadis sedang menyiram bunga di depan kelas. Dalam hati bertanya-tanya siapa dia?

“Gadis misterius,” gumamku dalam hati.
“Ah, jangan berifkir macam-macam dulu, Fit,” ku coba tenangkan diri.

Meong ….. meong, suara kucing membuyarkan prasangkaku. Ku lihat baru saja kucing meloncat dari jendela. Ternyata tanpa sepengetahuanku gadis itu telah pergi meninggalkan bunga-bunga segar yang telah disiramnya. Ku coba mencarinya dengan menulusuri ruang kelas. Di kelas tidak ada, di kamar mandi tidak ada, di mana pun tidak ada. Pencarian yang tidak membuahkan hasil itupun membuatku lelah. Dengan nafas terengah-engah kududuk di atas lantai mencoba hilangkan rasa lelah yang melanda. Siswa-siswi yang berlalu-lalang melewatiku, sekalipun tak ku hiraukan.

Jam menunjukkan pukul 06.55, pertanda proses KBM akan segara dimulai. Aku segara bangkit dari istirahat singkatku, tiba di kelas teman-teman telah menempati tempat duduk masing-masing. Akupun melakukan hal yang sama seperti mereka

“Dari mana saja fit, kok baru kelihatan ?” tegur Rohmah teman sebangkuku. Dengan wajah yang masih terlihat capek aku menjawab, dari kelas sebelah,” tadi aku dipanggil Rida.
“Oh,” sahut Rohmah.
Tampak tak percaya menghinggapi wajah Rohmah. Entah mengapa wajah ini ingin menengok kearah jendela yang ternyata di baliknya berdiri gadis misterius itu. Saat aku beranjak dari tempat duduk untuk menghampirinya, bel panjang berbunyi dan segera kuurungkan niatku. Dibalik jendela itu dia masih berdiri tegak sambil membawa buku dan membawa sebuah pena.
“Mau apa gadis itu ?” rasa penasaran itu muncul lagi.

Selang beberapa lama, Pak Edi, guru mapel Bahasa Indonesia memasuki kelas. Dengan nada yang tinggi dan suaranya yang lantang, beliau mengucapkan salam untuk mengawali pelajarannya.
“Assalamu’alaikum Wr. Wb”
“Wa’alaikum salam Wr. Wb” jawab teman-teman serentak.
Dimulailah pelajaran Bahasa Indonesia seperti biasa. Teman-teman begitu antusias dan memperhatikan pelajaran . Namun, berbeda denganku, perhatianku justru tertuju pada gadis di luar jendela kelas itu. Setelah kuperhatkan dan kuamati, gadis itu juga ikut memperhatikan dan mendengarkan jalannya pelajaran. Pikiran-pikiran aneh terus menghantuiku.

8.4.11

Makna & Medan Adaptasi

Makna Adaptasi
Dalam psikologis, adaptasi disebut sebagai proses dinamika yang berkesinambungan yang dituju oleh seseorang untuk mengubah tingkah lakunya, supaya muncul hubungan yang selaras antara dirinya dengan lingkungannya. Yang dimaksud dengan lingkungan disini mencakup segala sesuatu yang dapat mempengaruhi seluruh kemampuan dan kekuatan-kekuatan yang ada di sekeliling seseorang. Semua inilah yang sangat berperan mendukung jerih payahnya sehingga berhasil mencapai kehidupan rohani dan jasmani yang mantap. Lingkungan ini dibagi menjadi tiga, yaitu, lingkungan alam, lingkungan masyarakat, dan lingkungan seseorang itu sendiri.

Lingkungan alam, ialah yang lazim disebut sebagai lingkungan ekternal dan segala sesuatu yang berada di sekeliling seseorang berupa hal-hal alami yang sangat penting sekali bagi kehidupan. Contohnya seperti pakaian. Tempat tinggal, makanan dan seterusnya.

Lingkungan social dan budaya, ialah yang lazim disebut masyarakat dimana seseorang hidup di dalamnya berikut dengan individu-individu yang lain, tradisi-tradisinya, dan aturan-aturan yang mengatur hubungan antar sesama mereka.

Dan lingkungan ketiga, ialah lingkungan yang terkait dengan diri seseorang yang bersangkutan. Lingkungan ini menuntut seseorang mampu bergaul dengan diri sendiri dan belajar bagaimana cara menguasai serta mematangkan dirinya.
Dengan demikian ia, akan sanggup mengendalikan keinginan dan tuntutan-tuntutan yang naif dan tidak logis.

Medan Adaptasi

Medan untuk adaptasi ada dua; yakni yang bersifat kepribadian dan yang bersifat kemasyarakatan atau sosial. Itulah yang perlu saya jelaskan sebagai berikut:

a. Adaptasi Kepribadian
Adaptasi kepribadian, ialah kalau seseorang merasa puas atas dirinya sendiri, atau tidak memaksakannya. atau tidak membencinya, atau tidak memarahinya, atau percaya sepenuhnya. Seseorang yang mampu melakukan adaptasi dengan pribadinya, kehidupan jiwanya akan lepas dari berbagai macam konflik batin yang dibarengi dengan perasaan bersalah, gelisah, duka, minder dan lain sebagainya.

Salah satu faktor penting yang dapat mewujudkan medan adaptasi ini, ialah kalau seseorang dapat memenuhi dorongan-dorongan dari berbagai kebutuhan yang bisa menyenangkan dirinya dan masyarakat sekaligus, atau setidaknya yang tidak sampai membahayakan orang lain dan tidak bertentangan dengan ukuran-ukuran nilai masyarakat. Kalau tadi disinggung tentang dorongan-dorongan, maka kita jangan lupa bahwa yang dimaksudkan ialah pengaruh internal yang mengontrol dan mengarahkan kita dan sekaligus yang dapat menunjukkan aib kita dan memberikan sanksi hukuman atas hal itu kepada kita.

Sebaliknya orang yang tidak bisa beradaptasi dengan dirinya sendiri, ia akan mengalami sebuah pergumulan batin yang akan menyita segenap kemampuannya untuk menghadapi berbagai kehidupan yang keras. Akibatnya, ia kelihatan menjadi orang yang lemah vitalitasnya, lekas capai, tidak sabaran, tidak tabah, dan tidak mau bersusah payah atau pemalas. Segenap konflik yang ada di batinnya telah merampas semua energinya. sehingga ia terlihat sangat labil ketika harus menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Pikirannya sangat mudah kacau dan jiwanya gampang tergoncang jika sedang dilanda suatu masalah.

b. Adaptasi Kemasyarakatan
Adaptasi kemasyarakatan ialah kalau seseorang sanggup menjalin relasi-relasi sosial yang menyenangkan bersama orang-orang yang bergaul dengannya atau yang bekerja bersamanya. Hubungan seperti itu jelas menjauhkannya dari rasa tertindas, atau dari hasrat yang kuat untuk menguasai atau memusuhi orang-orang yang berada di dekatnya. Atau dari rasa ketergantungan kepada mereka.

Seseorang yang bisa beradaptasi dengan masyarakat, ia akan sanggup menguasai nafsunya pada situasi dimana emosinya harus meledak. Sehingga ia tidak mudah marah atau tersinggung oleh sebab-sebab yang sepele atau yang bersifat kekanak-kanakan. Atau pun kalau ia harus marah kemarahannya tidak ia ungkapkan dengan cara kekanak-kanakan. Selain itu, ia juga sanggup bergaul dengan orang lain secara realistis tanpa terpengaruh oleh pikiran dan prasangka-prasangka negatif terhadap mereka. Karena itu, orang yang bisa beradaptasi dengan masyarakat disebut sebagai orang yang matang emosinya.

Tariqah Ijtiba' dan Tariqah Hidayah "Hikmah 8"

KH. M. Wafi MZ
 OLEH : KH. M. WAFI. MZ. LC. MSI
 
اذا فتح لك وجهة من التعرف فلا تبال أن قل عملك فانه مافتحها لك الا وهو يريد أن يتعرف اليك. الم تعلم أن التعرف هو مورده عليك والأعمال أنت مهديها اليه وأين ما تهديه اليه مما هو مورده عليك

"Ketika Allah membuka pintu ma’rifat untukmu, maka janganlah heran atas sedikitnya amalmu. karena sesungguhnya Allah tidak membuka pintu ma’rifat untukmu kecuali Allah berkehendak untuk mengenalmu"

1. Penjelasan
Seseorang ketika telah berada dalam dunia kegelapan dan kesesatan, maka dengan kehendak Allah SWT bisa berpindah menuju dunia yang terang dan mengetahui Allah SWT (ma’rifat).
Adapun untuk sampai pada derajat ma’rifat (mengetahui Allah SWT), ada dua thoriqoh :

a. Thariqah Al Hidayah.
Pada jalan ini seseorang harus menghadap Allah SWT dan memulai dengan menancapkan iman dan rukun-rukunnya di dalam hati, kemudian mengarahkan hatinya untuk mencintai Allah SWT serta takut akan adzab-adzab-Nya. Lalu menjalankan perintah-perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dia juga harus memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an. Adapun hasil yang dicapai dari thariqah ini adalah timbulnya kemerosotan sifat duniawi dari diri seseorang secara bertahap dan mengagungkan urusan ukhrowi sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya perhatian dalam masalah akhirat lebih banyak dari pada masalah duniawi. Thariqah ini juga disebut dengan thariqah inabah.

b. Thariqah Ijtiba’.
Pada thariqah ini Allah memilih hamba-Nya untuk mendapat hidayah karena suatu sebab yang tidak diketahui kecuali oleh Allah SWT.
Dari kedua thariqah ini, untuk thariqah hidayah permulaannya adalah dari seorang hamba, sedangkan pada thariqah ijtiba' adalah dari Allah SWT.
Sebelum sampai pada thariqah ijtiba', kebanyakan adalah orang-orang yang pernah melakukan kemaksiatan dan jauh dari Allah SWT serta menuruti hawa nafsu mereka. Namun dalam waktu yang sangat singkat ternyata Allah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada mereka karena suatu sebab yang tidak diketahui oleh seorang pun kecuali Allah SWT.

2. Dalil
Kedua thariqah di atas telah diterangkan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Syura : 13 :

الله يجتبي اليه من يشاء ويهدي اليه من ينيب

Artinya :
"Allah memilih padanya orang yang dikehendaki dan Dia menunjukkan padaNya orang yang kembali"

Jadi ijtiba' merupakan pilihan Allah SWT terhadap hamba-Nya yang dia kehendaki. Sedangkan hidayah adalah suatu usaha seorang hamba dalam waktu yang panjang dengan melakukan ibadah dan taat kepada Allah SWT. Selain itu, di dalam thariqah ijtiba' terdapat bukti bahwa seseorang tidak memiliki ikhtiar dalam memperoleh jalan ini. Lain halnya dengan thariqah hidayah yang mana Allah SWT menggantungkan hidayah-Nya dengan melakukan ibadah-ibadah yang berat, sehingga hidayah merupakan hasil dari usaha-usaha ini.

Adapun thariqah ma’rifat yang dibahas di dalam hikmah ini adalah thariqah ijtiba'. Yakni ketika Allah telah memberi ijtiba’ kepada seseorang sehingga dia mengetahui Allah SWT dalam waktu yang singkat. Maka janganlah heran atas sedikitnya amal ibadah yang dilakukan seseorang. Karena jalan ijtiba' yang diberikan Allah kepada hamba-Nya itu tidak sama dengan usaha-usaha seseorang untuk memperoleh hidayah.

3. Aplikasi
a. Contoh
Dalam sejarah islam banyak sekali kita jumpai para auliya’ yang telah dipilih Allah SWT lewat thariqah ijtiba'. Dalam waktu sekejap mereka bisa berpindah dari kegelapan dan kesesatan menuju cahaya yang terang benderang. Mereka berpindah dari cinta kepada dunia menuju cinta kepada Allah SWT.

Pada zaman Rasulullah SAW banyak orang-orang desa pedalaman yang datang ke kota Madinah. Sampai di sana mereka menuju majlis Rasulullah SAW, kedua matanya selalu memandang Rasulullah SAW dan kedua telinganya tidak henti-hentinya mendengarkan nasihat-nasihat dan perkataan Rasulullah SAW. Dalam waktu sekejap watak kasar dan sifat keras hatinya menghilang. Mereka keluar dari majlis tadi dengan hati penuh rasa cinta kepada Allah SWT dan bosan terhadap dunia. Masih banyak lagi orang-orang yang dipilih Allah dan bisa berubah dalam waktu yang singkat. Diantara mereka adalah Fudlail bin 'Iyad. Dulu kala dia adalah seorang begal yang mengganggu manusia di jalan. Namun dalam waktu sekejap di tengah malam yang gelap gulita dia mendapat hidayah dari Allah SWT, sehingga berubah menjadi orang yang tekun beribadah dan mengosongkan hatinya dari semua hal kecuali cinta kepada Allah SWT.

Salah satu contoh lagi adalah Abdullah bin Mubarak. Sebelum memperoleh hidayah dari Allah SWT, dia adalah seorang pemusik yang tidak pernah menjalankan perintah-perintah-Nya, tetapi atas izin dari Allah SWT di dalam waktu yang sangat singkat dia berubah menjadi ahli ibadah dan rela mengorbankan dunianya demi memperoleh ridla dari Allah SWT.

Demikian pula Malik bin Dinar. Mulanya dia adalah polisi yang mengumbar hawa nafsunya dan suka mabuk-mabukan. Namun setelah memperoleh hidayah dari Allah SWT, dalam waktu yang sangat cepat dia berubah menjadi salah satu pembesar ulama rabbani.

b. Kesimpulan

Dari semua kisah-kisah di atas dapat diketahui bahwa perpindahan yang mereka alami dari kegelapan menuju kebenaran pada hakikatnya bermula dari Allah SWT. Allah memberikan hidayah kepada mereka sehingga akhirnya mereka cinta kepada Allah SWT.
Di dalam Al-Qur’an surat Al- Maidah : 4, Allah berfirman :


فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين
Artinya :
"Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang kafir"

Adapun sumber dan sebab para Auliya’ tesebut mendapat maqam yang tinggi adalah anugrah dari Allah SWT yang diberikan kepada hamba-Nya yang dia kehendaki. Sifat atau sebab tersebut tidak diketahui oleh seorang pun kecuali hanya Allah SWT.

Para auliya' yang dipilih Allah SWT lewat thariqah al-ijtiba' tidak disyaratkan harus melakukan ibadah-ibadah atau dzikir terlebih dahulu seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang ada pada maqam thariqah al-hidayah. Allah membawa mereka ke derajat yang tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Setelah itu mereka baru menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya dengan sungguh-sungguh.

Jadi yang dimaksud sedikitnya amal dalam hikmah yang dikemukakan oleh Ibnu "Athaillah Al-Askandari adalah amal mereka sebelum sampai pada derajat ijtiba'. Adapun setelah mereka sampai pada derajat ijtiba', maka mereka akan banyak melakukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebagian orang memaksakan diri menjadi ahli dakwah dan menyangka bahwa para Auliya' yang telah dipilih Allah SWT di dalam thariqah al- ijtiba itu memiliki ibadah atau amalan khusus sehingga mereka tidak perlu memperbanyak ibadah serta menghindar dari larangan-larangan-Nya. Itu adalah tipu daya (waswasah) dari syetan kepada para kekasihnya. Hal ini dikarenakan para Auliya' yang telah dipilih Allah SWT adalah orang-orang yang banyak melakukan taat dan ibadah kepada Allah SWT dan paling menjauhi larangan-larangan-Nya.

Seandainya perasaan itu benar, maka semestinya orang yang paling utama memperoleh maqam itu adalah Rasulullah SAW, karena dia adalah makhluk Allah yang paling utama. Akan tetapi realitanya beliau adalah manusia yang paling banyak melakukan taat, paling sabar melakukan hal-hal yang sunnah dan paling menjauhi shubhat. Apakah kita tidak melihat kedua kaki beliau melepuh karena banyak melakukan shalat? bukankah beliau adalah orang yang paling zuhud dalam masalah duniawi?. Demikian pula para Auliya' yang dipilih Allah SWT, mereka adalah orang-orang yang paling banyak melakukan taat dan ibadah setelah sampai pada derajat ijtiba'.

Mungkin dalam hati kita timbul sebuah pertanyaan, apakah mereka memiliki kekhususan atau sifat istimewa sehingga memperoleh derajat ini dalam waktu sangat-singkat sekali?
Thariqah ijtiba' adalah murni dari anugrah Allah SWT karena adanya suatu sebab yang tidak bisa dijangkau dan dibatasi oleh akal manusia. Hanya saja kalau kita amati dan kita cermati, orang-orang yang tersesat dan jauh dari Allah serta memiliki kesombongan dan menentang kebenaran adalah mereka yang terhalang untuk memperoleh hidayah dari Allah SWT.

Di dalam surat Al-A’raf : 40 Allah SWT, berfirman :
ان الذين كفروا بأياتنا واستكبروا عنها لا تفتح لهم أبواب السماء ولا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط وكذلك نجزي المجرمين

Artinya :

"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadap-Nya, sekali-kali tidak akan di bukakan bagi mereka pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta ada unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan"

Dari ayat di atas, bisa diambil pemahaman balik ( mafhum mukholafah ) bahwa orang yang merasa hina dan rendah diri di sisi Allah SWT karena maksiat-maksiat yang dilakukan serta menganggap bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya lebih baik darinya, maka ia akan sangat mungkin memperoleh hidayah dari Allah SWT.

7.4.11

Mengenal Tafsir Sunni Oleh Dr. KH. Abdul Ghofur MZ

Tak dapat dipungkiri posisi sentral Al-Quran bagi seluruh aliran-aliran yang lahir dalam rahim Islam. Semua larut menikmati hidangan Al-Quran. Ada dua sifat yang menjadikan Al-Quran selalu menjadi rujukan. Pertama Al-Quran sebagai hudan, petunjuk bagi umat manusia, dan kedua Al-Quran sebagai furqan, pembeda antara yang benar dan yang batil. Selain itu, Al-Quran adalah satu-satunya teks Islam yang terjaga otentisitasnya. Al-Quran di hadapan kita sekarang tak berbeda sedikitpun dari al-Quran yang pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Maka bisa dimengerti, bahwa aliran yang mampu mengidentifikasi diri sebagai aliran yang sejalan-harmonis dengan teks-teks al-Quran dengan mudah memanen kepercayaan dari umat, sementara yang tampak kontras-berlawanan dengannya akan terseret arus peminggiran.
Ironisnya hampir semua (untuk tidak mengatakan seluruhnya) aliran tak mampu menikmati hidangan al-Quran dengan renyah. Dalam banyak kasus mereka justeru tersedak saat berupaya menikmatinya. Hal ini karena Al-Quran tak menghidangkan satu menu dan untuk sekelompok tertentu. Al-Quran adalah mutiara yang bisa dinikmati oleh berbagai lapisan umatnya, masing-masing dengan tingkat intelektualnya. Ditambah lagi satu kenyataan bahwa al-Quran tidak turun sekali tempo dalam bentuk yang utuh, akan tetapi turun dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun, dan dalam berbagai munasabah. Dengan demikian, tak pelak al-Quran menghidangkan makna-makna yang beragam, dan bahkan seringkali ambigu yang tak semuanya bisa dinikmati oleh aliran tertentu dengan renyah. Ada diantaranya yang renyah karena menunjuk pada makna yang serasi-setujuan dengan setruktur pemikiran anggitannya, dan ada pula diantaranya yang perlu “diolah” agar “terasa” renyah.

Atas dasar ini, tak ada aliran dalam Islam yang mampu menghindarkan diri dari mekanisme ta’wil dalam arti yang luas, termasuk aliran yang mengaku paling murni sekalipun. Maksud ta’wil dalam arti yang luas adalah seperangkat mekanisme di lingkungan tafsir yang dipergunakan untuk mengatasi teks-teks yang tampak tak sejalan-harmonis. Mekanisme ini bisa berbentuk majâz, ta’wîl, sistematika tarjîh, isyârî, dan lain sebagainya. Tafsîr bil ma`tsur, seperti tafsirnya ibnu Katsîr, yang acap disangka tak membutuhkan mekanisme ta’wil tersebut pada hakikatnya penuh dengannya. Untuk meletakkan hadîts dan atsar pada ayat-ayat tertentu misalnya, dibutuhkan seperangkat metode yang dapat diukur, dan itu tak lain adalah mekanisme ta’wil itu tadi. Juga kesadaran linguistik, alwa’yu allughawî,  untuk tidak menerima majâz sebagai bagian dari ta’wil sejatinya adalah bagian dari ta’wil itu sendiri, mirip dengan ungkapan ‘adamul idrâki huwa idrâkun.

Perdebatan-perdebatan akademik antar aliaran-aliran dalam Islam seputar seperangkat ta’wil di muka telah melahirkan khazanah ilmu-ilmu al-Qur`an dan tafsir yang amat kaya. Dan pada kesempata ini, akan kita bicarakan sekelumit dari bagian khazanah tersebut, yakni tradisi tafsir-tafsir sunni. Untuk keperluan ini, kita ajukan dulu satu pertanyaan: Apa itu Sunni? Atau: mencakup siapa saja aliran Sunni itu? 

Ini adalah salah satu pertanyaan amat sulit, yang untuk menjawabnya dibutuhkan kerja keras dan melelahkan. Demi menghindari itu, kita menerima begitu adanya sebuah “rumah besar” yang sering diasumsikan menaungi keluarga besar Sunni, tanpa melihat kamar-kamar yang ada di dalamnya, yang boleh jadi tersekat antara satu dengan lainnya, hingga pada posisi diametral. Rumah besar ini lazimnya dihadapkan pada rumah lain yang berseberangan, yang ditinggali oleh Syî’ah, Mu’tazilah, Khawârij, dan lain sebagainya. Dengan demikian, Sunni yang dimaksud di sini adalah kelompok besar yang mencakup salafî, kalâmî asy’arî-mâturidî, dan shûfî-sunnî (untuk membedakannya dari shûfî-falsafî seperti Ibn ‘Arabî). Perselisihan faham teologis diantara shûfî-sunnî dan salafî, yang biasanya berujung pada klaim paling berhak menyandang gelar sunni misalnya, tak perlu diangkat.

Tafsir Ibnu Katsir
Dengan memasukkan unsur tafsir pada pemetaan ini, bisa kita kemukakan, bahwa dalam tradisi Sunni terdapat tiga aliran tafsir: ittijâh salafî, ittijâh kalâmî, dan ittijâh shûfî. Termasuk aliran yang pertama adalah tafsir Ibn Katsîr, dan termasuk aliran yang kedua adalah Attafsir al-Kabîr-nya Fakhrur Râzî, sementara diantara tafsir yang ketiga adalah Lathâiful Isyârât-nya Imam Al-Qusyairî. Menilik posisi aliran-aliran ini yang berada di rumah besar Sunni, sudah barang tentu mereka memiliki garis besar metode yang sama, misalnya tafsîrul Qur`ân bil Qur`ân, bil hadîts, bi aqwâlish shahâbah, bi aqwâlittâbi’îin, dan billughah yang mencakup misalnya: makna lafadz yang ditafisiri harus sesuai dengan bahasa Arab; al-Qur’an harus ditafsirkan dengan yang umum dalam bahasa; dalam menentukan makna harus sesuai dengan konteks (assiyâq); dalam menafsirkan harus memperhatikan situasi sabab nuzûl dan alur cerita (qishshah); mendahulukan ma’na syar’î ketimbang ma’na ‘urfî; dan lain sebagainya.

Imam Ar-Razi
Ini berbeda misalnya dari tafsir-tafsir di luar tradisi Sunni yang tak menerima semua konsep-konsep tafsir di muka secara sempurna. Syiah misalnya, tak menerima hadits-hadits yang ditransmisikan melalui sanad Sunni, walau konsep dasarnya mengenai tafsîr bil ma`tsûr sama. Contoh lain adalah Mu’tazilah yang terlalu mudah membuang hadits, apalagi atsar sahabat dan tabi’în, jika tampak bertentangan dengan arra`yu, sehingga mengurangi keutuhan konsep tafsîr bil ma`tsûr. Begitu juga dengan tafsîr falsafî yang berani “melampaui” makna nash ayat dengan konsep dialektika khithâbî-burhânî-nya, atau tafsîr shûfî nadzarî yang merambah ke wilayah bâthin teks dan meninggalkan dzâhir-nya. Ayat 17 QS Al-Hâqqah[1] misalnya, tafsirnya dibiarkan apa adanya sesuai dengan pemahaman “masyarakat awam”, akan tetapi bagi para filsuf, ‘arsy diartikan sebagai planet ke sembilan yang merupakan mahaplanet, sementara delapan malaikat yang menyangganya adalah delapan planet yang bermarkas di bawahnya. Dan ayat 6-7 QS Al-Baqarah[2], oleh Ibn ‘Arabî, melalui konsep dzâhir-bâthin-nya ditafsirkan, bahwa orang-orang kafir itu menutupi kecintaan mereka atas Allah, sehingga peringatan-peringatan Nabi Muhammad SAW. tak akan mereka imani, karena telah sibuk hanya dengan Allah SWT.

Di luar kesamaan-kesamaan metode di atas, aliran-aliran Sunni juga memiliki sejumlah perbedaan, terutama menyangkut tafsîr birra’yi. Misalnya pendekatan aliran kalâmî terhadap ayat-ayat shifâtiyah, yang ditolak keras oleh aliran salâfî. Imam Fakhrur Râzî yang dianggap sebagai mufassir yang berhasil menyuguhkan teks-teks al-Quran sebagai hidangan teologis Asy’ariyah menjadi sorotan tajam aliran Salafî. Ibn Taimiyah, pentolan aliran ini, bahkan menyampaikan grundelannya terhadap attafsîr al-kabîr anggitannya: “fîhi kullu syai’in illâ attafsîr”, tafsir tersebut memuat segala hal kecuali tafsir itu sendiri. Contoh lain adalah pendekatan isyârî yang dikenalkan oleh aliran shûfî-sunnî, yang bukan saja ditolak oleh aliran salafî, tapi juga oleh sejumlah kalangan dari aliran kalâmî
.
Tafsir isyârî adalah tafsir yang menta’wili ayat-ayat al-Quran tidak sesuai dengan apa yang dzahir, melalui petunjuk dari isyarat-isyarat esotoris yang hanya diberikan kepada mereka yang telah sempurna dalam meniti jalan menuju Allah SWT. Model penafsiran ini murni mengandalkan ilham dari Allah SWT. tanpa terikat secara ketat dengan logika bahasa,  keselarasan konteks, dan dukungan premis-premis ilmiah. Dalam  hal ini, seorang mufassir diwajibkan untuk selalu mengisi hatinya hanya dengan dzikir Allah SWT, sehingga saat ia  membaca Al-Quran Allah membuka hatinya untuk menerima pencerahan-pencerahan baru yang terkandung di dalam isyarat-isyaratnya. “Wa’allamnâhu milladunnâ ‘ilmâ”. QS. Al-Kahfi : 65. Sahl Attustarî (200-283 H.) , seorang sufi kenamaan, saat membaca ayat 22 QS Al-Baqarah[3], seperti mendapat ilham dari ‘âlamul malakût, bahwa andâd terbesar adalah hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejelekan, menyimpang dari tafsir dzharinya yang adalah berhala-berhala sesembahan orang-orang kafir. Dengan menafsiri andâd dengan nafs ammârah, Attustarî tidak bermaksud menafikan makna dzharinya tersebut, akan tetapi itu hanya sebagai “tafsir lain” yang ditimpakan ke dalama hatinya melalui penghampiran total kepada Allah SWT.

Tafsir isyârî atau faidhî yang lahir dalam tradisi tasawwuf sunnî demikian ini sangat problematis. Di satu sisi ia terpancarkan dari hati bening para peniti jalan kesucian, akan tetapi pada sisi lain ia seperti melahirkan logika bahasa baru yang mustahil tersentuh oleh pengalaman normal. Imam An-Nasafî, penganut tradisi tafsîr kalâmî, mengecam model penafsiran tersebut, karena telah menarik lafadz-lafadz al-Quran dari habitat dzahirnya. Menurut dia, menggeser lafadz al-Quran dari konteks dzahirnya adalah bentuk ilhâd.

Selain pemetaan salafî-kalâmî-shûfî, tradisi tafsir sunni juga terkelompokkan dalam sejumlah corak atau warna tafsir. Sebut saja misalnya, tafsîr fiqhî, tafsîr lughowî, tafsîr adabî, tafsir ijtimâ’î-hudâ`î, dan tafsîr ‘ilmî. Tafsîr fiqhî adalah salah satu tafsir yang paling mulus dan tak banyak dipersoalkan. Jika ta’wil hanya berarti mencari tahu hukum Allah (ta’wîl fiqhî) pada semua kasus yang terjadi di muka bumi, maka hampir pasti semua aliran sunni tak akan mempermasalahkan legalitasnya. Dalam khazanah sunni, tak ada satu aliran pun yang berani menarik diri dari keterkaitan dengan hukum syar’î, sehingga ta’wîl fiqhî dengan demikian mutlak diperlukan. Dan untuk memenuhi kebutuhan ini, sejumlah tafsîr fiqhî telah lahir, seperti Ahkâmul Qur`ân karya Ibn al-‘Arabî dan Ahkâmul Qur`ân karya al-Jashshâs.
Tafsîr lughawî lahir dari satu kenyataan bahwa al-Quran diturunkan melalui media bahasa Arab yang jelas. dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” QS. Asy-Syu’arâ`:193-195. Sehingga untuk memahaminya diperlukan penguasaan yang sangat baik terhadap tatabahas dan kosakata Arab. Ini adalah syarat mutlak bagi mufassir. Di sinilah kemudian lahir buku-buku tafsir yang banyak atau bahkan khusus membahas sintaksis dan morfologi Arab. Sebut misalnya Ma’ânil Qur`ân, karya Imam Al-Farrâ’, Ma’ânil Qur`ân karya Az-Zajjâj, Addurrul Mashûn karya Assamîn al-Halabî, dan lain sebagainya.

Al-Manar
Tafsîr adabî adalah bentuk pertanggungjawaban ulama-ulama Islam untuk menjelaskan nilai sastra al-Quran yang diyakini mengandung i’jâz. Corak tafsir ini banyak dielaborasi oleh kalangan Mu’tazilah seperti Al-Jahidz (163-255 H.), ar-Rummânî (296-384 H.) dan al-Marzabânî (297-394 H.), yang pada generasi belakangan lahirlah al-Kasysyâf-nya Imam az-Zamakhsyarî (467-538 H.). Belakangan, generasi Sunni juga merambah wilayah ini, seperti Imam al-Bâqilânî (328-402 H.), Abdul Qâhir al-Jurjânî (w. 471 H.), dan kemudian generasi Imam Baidlowî (w. 685 H.) yang mengintisarikan kandungan sastra tafsîr al-Kasysyâf dengan membuang teologi i’tizîli-nya. Dan di era modern, corak adabî ini dielaborasi lebih mendalam oleh Amîn al-Khoulî (1895-1966 M.) dengan asumsinya bahwa al-Quran adalah karya sastra, sebelum merupakan yang lainnya. Kata dia, “Al-Qur`ân huwa kitâbul ‘arabiyah al-akbar”, al-Quran adalah karya sastra adi agung. Ia adalah milik umum bangsa Arah, sebelum merupakan petunjuk bagi umat Islam. Dengan ini, al-Quran mutlak harus didekati dengan teori-teori sastra dan linguistik. Sebagai pengampu matakuliah sastra Arab di Cairo University, pengaruhnya sangat besar di Mesir yang saat itu merupakan kiblat akademik di Arab. Bola ilmiah yang ia gulirkan terus menggelinding, lalu ditangkap oleh dua arus: arus klasik, dan arus modern-sekuler. Yang pertama diwakili oleh istrinya, Binti asy-Syâthi’ (1912-1998 M.) yang menelurkan terori tafsîr bayânî, dan yang kedua diwakili oleh muridnya, Muhammad Ahmad Khalafullâh (1904-1983 M.) yang menelurkan tinjauan sastra terhadap kisah-kisah al-Qur’an, al-Fann al-Qashashî fil-Qur`ân al-Karîm. Yang keterakhir ini kemudian semakin berkembang hingga menarik al-Quran pada wilayah linguistik modern seperti semiotika, semantika, dan hermeneutika yang oleh banyak pakar Sunni dianggap telah keluar dari “rumah besar Sunni”.

Tafsîr ijtimâ’i-hudâ`î yang dipelopori oleh Muhammad Abduh (1849-1905 M.) ini muncul dari keresahan melihat tafsir-tafsir yang berkembang hingga saat itu, di mana pesan-pesan al-Quran sebagai petunjuk (hudan) seperti tenggelam dalam lautan pembahasan tatabahasa, balaghah, ilmu kalam, dan falsafat yang melingkupi teks-teks al-Quran. Setelah mendalami al-Kasysyâf misalnya, pembaca keluar dari itu dengan membawa ilmu balaghah. Atau menyeami at-Tafsîr al-Kabîr-nya Fakhr Râzî, pembaca akan semakin mengetahui teologi-teologi Asy’ariyah. Begitu juga ketika membaca al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur`ân-nya al-Qurthubî, pembaca akan disuguhi hidangan fiqih. Di semua itu, al-Quran sebagai petunjuk yang menerangi jalan hidup insan Muslim seperti absen, dan hanya sesekali saja muncul dalam gemuruh pembahasan-pembahasan pendamping. Dari keresahan ini, Abduh memperkenalkan model penafsiran yang concern utamanya adalah menggalipetunjuk-petunjuk al-Quran untuk membaca umat Islam dari keterbelakangan. Corak tafsir yang dikenalkan oleh Abduh ini kemudian menjadi populer, dan memiliki pengaruh yang luas, terutama setelah dikenalkan oleh muridnya, Rasyîd Ridlâ (1865-1935 M), lalu oleh Syaikhul Azhar, al-Marâghî (1881-1945 M.).

Tafsîr ‘ilmî, atau tafsir saintifik, dibangun diatas keyakinan bahwa agama yang benar dan ilmu pengetahuan adalah dua saudara yang saling membantu menuju yang haqq. Agama yang benar termanifestasikan dalam bentuk âyat-âyat Qur’âniyah, sementara ilmu pengetahuan termanifestasikan dalam bentuk âyat-âyat kawniyah. Keduanya tak mungkin saling bertentangan, karena sama-sama diciptakan oleh Allah SWT. yang Maha Mengetahui. Barangkali orang pertama yang mengenalkan corak tafsir seperti ini adalah Imam al-Ghazâlî (w. 520 H.) dalam bukunya, Jawâhirul Qur`ân. Namun tampaknya lemparan al-Ghazâlî ini kurang mendapatkan tempat di hati para pakar saat itu. Bahkan Imam asy-Syâthibî (w. 790 M.) dalam bukunya, al-Muwâfaqât sangat menentang upaya-upaya tersebut, dengan dalih al-Quran diturunkan kepada masyarakat yang ummî, yang tak mengenal ilmu pengetahuan sejauh itu. Menurut dia, al-Quran harus dipahami seperti saat pertama diturunkan. Di era modern, saat hampir seluruh dunia Islam tunduk dalam kolonialisme Barat, umat Islam terpuruk bukan saja peradabannya, akan tetapi juga mentalnya. Agar mereka bangkit, kepala mereka harus ditegakkan terlebih dahulu. Di antaranya dengan menumbuhkan percaya diri terhadap peradaban yang pernah mereka bangun. Dan itu salah satunya ditemukan dalam kitab suci mereka, yaitu al-Quran. Bahwa kemajuan-kemajuan Barat di bidang teknologi, ilmu alam, dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya sejatinya telah disampaikan oleh al-Quran secara gamblang atau dalam bentuk isyarat-isyarat. Di sinilah nama Thanthâwî Jauharî (1870-1940 M.) menjadi sangat terkenal. Ia dengan piawai menunjukkan dalam tafsirnya, al-Jawâhir fî Tafsîr al-Qur`ân al-Karîm, bahwa sekian banyak teori-teori alam yang ditemukan di era modern sebetulnya telah disampaikan oleh al-Quran.


2.4.11

Download kitab klasik

Koleksi kitab klasik ini berasal dari kitabklasik.co.cc dan koleksi kitab milik kami, ditambah pengajian hikam oleh KH. M. Wafi MZ Lc. MSI dan insya Allah masih banyak lagi koleksi-koleksi kitab maupun pengajian yang akan kami upload disini.
Semoga bermanfaat bagi temen-temen dan selamat mendownload aja deh... 

Kami mohon pada temen-temen yang mempunyai koleksi kitab klasik tapi belum ada dalam blog ini bisa kok memberikan alamat downloadnya disini melalui komentar atau melalui email (arja.anisafitri@gmail.com) nanti insya allah kami masukan ke posting ini terima kasih dan do'a dari temen-temen yang selalu kami harapkan.

Box.net - All Languages
Folders classified by topic and language
(Klik saja untuk mendownload files)


Loading...



Klasifikasi Jenis-Jenis Kitab



English Books



Indonesian Books




Video - Audio






PENGAJIAN HIKAM IBNU 'ATHOILLAH
OLEH KH. M. WAFI MZ. Lc. MSI




Download Mawidhoh KH. Maimoen Zubair Disini

 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan