30.8.11

Keutamaan Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawal

Mari kita simak keutamaan Berpuasa sunnah pada bulan syawal dari hadis nabi berikut :
Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh.”[1]

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, yang ini termasuk karunia agung dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan kemudahan mendapatkan pahala puasa setahun penuh tanpa adanya kesulitan yang berarti[2].

Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:

Pahala perbuatan baik akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali, karena puasa Ramadhan ditambah puasa enam hari di bulan Syawwal menjadi tiga puluh enam hari, pahalanya dilipatgandakan sepuluh kali menjadi tiga ratus enam puluh hari, yaitu sama dengan satu tahun penuh (tahun Hijriyah)[3].

Keutamaan ini adalah bagi orang yang telah menyempurnakan puasa Ramadhan sebulan penuh dan telah mengqadha/membayar (utang puasa Ramadhan) jika ada, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Barangsiapa yang (telah) berpuasa (di bulan) Ramadhan…”, maka bagi yang mempunyai utang puasa Ramadhan diharuskan menunaikan/membayar utang puasanya dulu, kemudian baru berpuasa Syawwal[4].

Meskipun demikian, barangsiapa yang berpuasa Syawwal sebelum membayar utang puasa Ramadhan, maka puasanya sah, tinggal kewajibannya membayar utang puasa Ramadhan[5].

Lebih utama jika puasa enam hari ini dilakukan berturut-turut, karena termasuk bersegera dalam kebaikan, meskipun dibolehkan tidak berturut-turut.[6]

Lebih utama jika puasa ini dilakukan segera setelah hari raya Idhul Fithri, karena termasuk bersegera dalam kebaikan, menunjukkan kecintaan kepada ibadah puasa serta tidak bosan mengerjakannya, dan supaya nantinya tidak timbul halangan untuk mengerjakannya jika ditunda[7].

Melakukan puasa Syawwal menunjukkan kecintaan seorang muslim kepada ibadah puasa dan bahwa ibadah ini tidak memberatkan dan membosankan, dan ini merupakan pertanda kesempurnaan imannya[8].

Ibadah-ibadah sunnah merupakan penyempurna kekurangan ibadah-ibadah yang wajib, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih[9].

Tanda diterimanya suatu amal ibadah oleh Allah, adalah dengan giat melakukan amal ibadah lain setelahnya[10].



ARTIKEL MENARIK LAINNYA;

Hari Raya Mana Yang Benar??? Perbedaan Penentuan Tanggal 1 Syawal

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia untuk meributkan masalah penentuan kapan hari raya akan dilaksanakan. Ini tidak lepas dari peran dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Muhammadiyah berpatokan menggunakan Hisab, sedangkan NU dengan Rukyat. Setiap tahun tidak ada habisnya perdebatan antar kedua kubu ini. Akhirnya menghasilkan penentuan Hari Raya yang berbeda2. Tidak ada yang mau mengalah. Mengapa hal ini terjadi?

Sebelum beranjak lebih jauh dengan perbedaan kedua kubu, kita sebagai umat muslim harus tau dasar2nya yang mereka pakai. Jangan asal ikut2an, dan jangan asal pula memilih yang paling cepat.

Dasar Hukum

Dasar hukumnya sebenarnya sama, dari Hadis :
  1. Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081
  2. Hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma :
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari.” (HR. Abu Dawud 2327, An-Nasa’I 1/302, At-Tirmidzi 1/133, Al-Hakim 1/425, dan di Shahih kan sanadnya oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)
  3. Hadits dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu :
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Apabila datang bulan Ramadhan, amka berpuasalah 30 hari kecuali sebelum itu kalian melihat hilal.” (HR. At-Thahawi dalam Musykilul Atsar 105, Ahmad 4/377, Ath-Thabrani dalam Ak-Kabir 17/171 dan lain-lain)
  4. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
    “Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yah hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)

Perbedaan Penafsiran

Namun keduanya mempunyai penafsiran yang berbeda. NU berpendapat bahwa kata2 melihat dalam hadis tersebut adalah melihat secara langsung. Namun Muhammadiyah berpendapat bahwa kata liru’yatihi (melihatnya), tidak melulu bermakna melihat dengan mata telanjang. Namun kata ra’a, dapat diartikan berpikir. Oleh karena itu, mereka menyatakan bah bahwa wa riwayat riwayat-riwayat yang mencantumkan lafadz ra’a, bisa diartikan dengan , memikirkan, atau bisa diartikan bolehnya menetapkan awal bulan dengan hisab.



Memang Muhammadiyah berdalih bahwa kata2 ra’a dapat diartikan berpikir. Yaitu dengan menggunakan hisab. Namun, apakah Rasulullah dan para sahabat menafsirkan seperti itu? Tentu tidak. Mari kita simak wasiat terakhir Rasulullah, dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43 – 44), Ahmad, dll :


Sabda Rasulullah SAW : ‘Saya berpesan kepada kamu supaya sentiasa bertaqwa kepada Allah Azza wajalla serta mendengar dan taat sekalipun kepada seorang hamba yang memerintah kamu. Sesungguhnya orang-orang yang masih hidup di antara kamu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang kepada sunnahku dan dan sunnah Khalifah Ar-Rasyiddin Al-Mahdiyyin yang memperoleh petunjuk ( dari Allah ) dan gigitlah ia dengan gigi geraham kamu ( berpegang teguh dengannya dan jangan dilepaskan sunnah-sunnah itu ). Dan jauhilah kamu dari pekara-pekara yang diadakan, karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu menyesatkan.‘


Selain itu pada hadits no.4 juga ada kalimat, “Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari.”. Lafadz ini dengan jelas menunjukkan bahwa ru . ru’yat berarti melihat dengan mata telanjang, bukan hisab. Sejak kapan ada awan yang dapat menghalangi pikiran?
Allahua’lam bishowab.

Mempersatukan Hari dengan Mengikuti Pemerintah

Penjelasan diatas itu baru NU dan Muhammadiyah yang merupakan ormas terbesar di Indonesia. Belum lagi diikuti oleh Persis, Al-Irsyad, Hizbut Tahrir, dll. Setiap ormas memiliki pandangan masing2. Masing-masing ormas seolah merasa punya hak otoritas menetapkan tanggal 1 Ramadhan dan tanggal 1 Syawal. Setidaknya untuk konstituen mereka sendiri. Sesuatu yang tidak pernah terjadi di berbagai negeri Islam lainnya. Di sana, urusan penetapan seperti itu 100% diserahkan pemerintah. Masing-masing ormas tidak pernah merasa berhak untuk menetapkan sendiri. Dan lucunya, bukan hanya ormas yang sering tidak kompak dengan pemerintah, tetapi di dalam satu ormas pun terkadang sering terjadi tidak kompak juga. Misalnya, ketika DPP ormas tertentu mengatakan A, belum tentu DPW atau DPD dan DPC-nya bilang A. Masing-masing sturktur ke bawah kadang-kadang

 

Perintah Menaati Pemimpin

“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ’anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri diantara kalian.” (An-Nisa`: 59)
Al-Imam An-Nawawi berkata: “Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya.”(Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 222)

Perintah untuk mentaati penguasa tersebut adalah terus berlangsung walaupun penguasa tersebut dhalim atau fasik

Banyak sekali orang2 yang tidak menuruti pemerintah, dengan alasan pemerintah Indonesia adalah pemerintahan sekuler. Pernyataan itu tidak berdasar sama sekali. Jangankan sekuler, dhalim dan fasikpun kita tetap harus mengikutinya, selama bukan mengajak kedalam kemungkaran. Berikut ini pendapat beberapa ulama yang mewajibkan kita mentaati pemerintah.
Berkata Imam ash-Shabuni : “Ahlul hadits berpendapat untuk menegakkan shalat Jum’at dan dua hari raya dan lain-lain dari shalat-shalat jama’ah di belakang setiap penguasa muslim yang baik atau pun yang jahat. Dan berpendapat untuk berjihad memerangi orang-orang kafir bersama mereka, walaupun penguasa tersebut dhalim dan jahat”.

Berkata Imam al-Barbahari : “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidak mengurangi kewajiban yang Allah wajibkan melalui lisan nabi-Nya . Kejahatannya untuk diri mereka sendiri, sedangkan ketaatan dan kebaikanmu bersamanya tetap sempurna -Insya Allah. Yakni kebaikan berupa shalat jama’ah, Jum’at dan jihad bersama mereka dan segala sesuatu dari ketaatan yang dikerjakan bersama mereka, maka pahalamu sesuai dengan niatmu”. (Syarhus Sunnah, al-Barbahari, hal. 116)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Dan mereka (ahlus sunnah wal jama’ah) memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar sesuai dengan apa yang diwajibkan oleh syari’at. Mereka berpendapat untuk menegakkan haji, shalat jum’at, dan hari raya bersama para penguasa, apakah mereka orang-orang baik ataukah orang-orang jelek. Dan berpendapat untuk menegakkan shalat jama’ah, jihad dan menegakkan nasehat untuk umat”. (Aqidah Wasithiyah, Ibnu Taimiyah, hal. 257)
Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika menjelaskan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas sebagai berikut: “Mereka (ahlus sunnah wal jama’ah) berpendapat untuk menegakkan haji bersama para penguasa walaupun mereka fasik. Bahkan walaupun mereka meminum khamr ketika haji. Mereka tidak berkata: “Ini adalah imam faajir, kami tidak mau terima kepemimpinannya”. Karena mereka berpendapat bahwa mentaati penguasa adalah wajib walaupun mereka fasik, selama kefasikannya tidak membawa pada kekafiran yang jelas yang di sisi Allah kita punya bukti…”. (Syarh al-Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Utsaimin, juz ke-2, hal. 337)

Beliau berkata pula: “Demikian pula menegakkan hari raya-hari raya bersama para penguasa yang mengimami shalat mereka. Apakah ia orang baik ataukah orang jelek. Dengan jalan yang damai ini, jelaslah bahwa agama Islam ini merupakan jalan tengah di antara orang yang berlebih-lebihan dan orang-orang yang melalaikan”. (Syarh al-Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Utsaimin, juz ke-2, 336)

Fatwa-Fatwa Kewajiban Mengikuti Hari Raya Sesuai Pemerintah

Fatwa MUI butir ke dua, menyatakan bahwa seluruh umat Islam Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal-Ifta`: “…Dan tidak mengapa bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal (bulan tsabit) di tempat tinggalnya pada malam ke-30, untuk mengambil hasil ru`yatul hilal dari tempat lain di negerinya. Jika umat Islam di negeri tersebut berbeda pendapat dalam hal penentuannya, maka yang harus diikuti adalah keputusan penguasa di negeri tersebut bila ia seorang muslim, karena (dengan mengikuti) keputusannya akan sirnalah perbedaan pendapat itu. Dan jika si penguasa bukan seorang muslim, maka hendaknya mengikuti keputusan majelis/departemen pusat yang membidangi urusan umat Islam di negeri tersebut. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersamaan umat Islam dalam menjalankan shaum Ramadhan dan shalat Id di negeri mereka. Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.”

Pemberi fatwa: Asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 117)
Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.”
Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu pernah ditanya: “Jika awal masuknya bulan Ramadhan telah diumumkan di salah satu negeri Islam semisal kerajaan Saudi Arabia, namun di negeri kami belum diumumkan, bagaimanakah hukumnya? Apakah kami bershaum bersama kerajaan Saudi Arabia ataukah bershaum dan berbuka bersama penduduk negeri kami, manakala ada pengumuman? Demikian pula halnya dengan masuknya Iedul Fithri, apa yang harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dengan negeri yang lainnya? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas engkau dengan kebaikan.”

Beliau menjawab: “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam:

“Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.”
Wabillahit taufiq. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 112)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ditanya: “Umat Islam di luar dunia Islam sering berselisih dalam menyikapi berbagai macam permasalahan seperti (penentuan) masuk dan keluarnya bulan Ramadhan, serta saling berebut jabatan di bidang dakwah. Fenomena ini terjadi setiap tahun. Hanya saja tingkat ketajamannya berbeda-beda tiap tahunnya. Penyebab utamanya adalah minimnya ilmu agama, mengikuti hawa nafsu dan terkadang fanatisme madzhab atau partai, tanpa mempedulikan rambu-rambu syariat Islam dan bimbingan para ulama yang kesohor akan ilmu dan wara’-nya. Maka, adakah sebuah nasehat yang kiranya bermanfaat dan dapat mencegah (terjadinya) sekian kejelekan? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq dan penjagaan-Nya kepada engkau.”

Beliau berkata: “Umat Islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah-belah dalam beragama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu, Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu:’ Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya’.” (Asy-Syura: 13)
Dan masih banyak lagi, akan menjadi tidak efisien jika saya tuangkan di sini semuanya. Saya kira fatwa2 diatas dapat mewakilinya.

Sumber : http://rosyidi.com

ARTIKEL MENARIK LAINNYA;

27.8.11

Hati-hati dengan Rayuan cowok & cewek dalam Facebook

Bismillahirrahmanirrahim..

” Ukhti, statusmu itu lho selalu membuatku bersemangat, jantungku berdebar-debar, pokoknya ana bangga mengenal ukhti. Maukah ukhti menjadi orang yang mengajarkan ana tentang ilmu…bla..bla..bla..” akhirnya nafsu berbicara.
***

” Akhi, ana kagum dengan status-status akhi di Facebook, jujur saja sana membutuhkan orang yang mau membimbing ana dunia akhirat…bla..bla..bla..” kucing dikasih ikan, susah ditolak.
=================================

Kali ini saya ingin membahas masalah “Ikhwit” (Ikhwan Genit) dan “Akhwit” (Akhwat Genit), karna masalah ini ternyata masih banyak yang tidak menyadarinya.

Seorang ” Ikhwit” sangat senang membuat status-status ‘islami” , namun dibelakang itu semua masih suka chating dengan wanita yang bukan mahram dengan kata-kata mesra, merayu, bahkan membawa agama demi memperlancar aksinya.

Seorang “Ikhwit” akan dengan gencar memakai sok ‘arab’ meski yang dia tahu hanya kata, akhi dan ukhti, juga kata Ta’aruf. Karna menurutnya itu cukup untuk menggaet seorang akhwat dalam rayuan mautnya, mengenalkan sejurus tipu daya syetan. Lalu mengajak wanita untuk ta’arufan padahal ngajak pacaran.

Seorang “Ikhwit” akan terus terlihat sempurna didepan akhwat, kata-katanya yang dibuat bijak, atau mengambil dalih-dalih, terlihat sepintar mungkin. Ini semua dilakukan untuk menggaet kaum hawa yang memang mudah terjebak dalam rayuan apalagi kalau melihat sang adam sempurna.

Seorang ” Ikhwit” akan senang dengan chating dengan para akhwat, alasannya sih dakwah, tapi yang dibicarakan jauh dari dakwah. Rayuan-rayuan yang dibungkus dengan gaya-gaya islami semisal : ukhti, jangan lupa sholat tahajjud, doakan saya dan tentu ukhti akan selalu saya doakan agar segera..bla..bla..bla.
***

Seorang “Akhwit” akan selalu berdandan secantik mungkin, untuk menarik si ikhwan terutama ikhwan genit. Dengan pesonanya dia mampu menggaet setiap ikhwan yang menatapnya penuh harap.

Seorang “Akhwit” senang sekali membalas rayuan seorang ikhwan tertuama para ikhwit yang memang sama-sama genit. Tak ada hijab, tak ada adab, tak ada rasa malu. Mereka saling merayu dan bergembira dengan syetan.

Seorang “Akhwit” akan senang dengan kata-kata sok islami untuk mengundang para ikhwit. Bahkan dibumbui kata-kata mesra yang dibungkus secara rapi dengan kata islami yang menyejukkan.

Seorang “Akhwit” sangat senang diberi perhatian lebih, digoda, dirayu. Bahkan membalasnya dengan tak kalah mesra, tak kalah mendayu sehingga ikhwit terpana dengan kata-katanya.
Seorang “Akhwit” senang dengan memperlihatkan lekuk-lekuk auratnya walaupun rambut tertutup kerudun tapi badan berlapis pakaian serba ketat. Menjadikan hal yang wajar seolah-olah bahwa islam memperbolehkannya asalkan aurat tertutup meski dengan pakaian serba ketat.
***

Mari kita perbaiki diri dengan sebaik-baiknya perbaikan, bukan hanya memperbaiki diluarnya saja namun dibelakang masih suka dengan hal-hal maksiat. Meski manusia tidak melihatmu berbuat, yakinlah Allah Azza Wa Jalla melihat perbuatanmu.

Azzam kan diri kita untuk baik dihadapan Allah Azza Wa Jalla, bukan hanya karena dilihat manusia kita menjadi baik. Beranikan diri kita untuk menolak kemaksiatan dalam bentuk apapun, dan jauhkan diri kita dari hal-hal yang merusak akhlaq.

Iffah dan Izzah harus selalu dijaga dan dipertahankan, jangan sampai kita termasuk dalam kriteria “ikhwit” atau ” akhwit”, apalagi didunia serba maya yang hanya dirimu dan dirinya yang tahu, ingatlah bukan hanya kita yang tahu segala yang kita perbuat. Tapi Allah selalu memperhatikan setiap detik apa yang kita lakukan.

“ Ilmu itu adalah pemimpin, takut adalah pengemudi, sedangkan nafsu adalah kuda yang mogok diantara keduanya yang menipu dan berpura-pura. Waspadalah dan jagalah dia dengan siasat ilmu dan kemudikan dia dengan ancaman ketakutan, maka engkau akan mendapatkan apa yang engkau harapkan.”( Umar bin Utsman)
Wallahua’lam bish shawwab.

di ambil dari "Bukan Muslimah Biasa"  dengan judul (Say No To ” Ikhwit ” dan ” Akhwit ”)



ARTIKEL MENARIK LAINNYA; 

26.8.11

LAILATUL KADAR "Menurut Syaikhina Maimoen Zubair"

oleh: KH Maemoen Zubair, pengasuh pondok pesantren Al-Anwar, Karangmangu, Sarang, Rembang
LAILATUL KADAR (malam qadr/kemuliaan) adalah malam di mana Allah swt untuk kali pertama menurunkan wahyu Alquran, yakni lima ayat pertama dari Surah Al’alaq, kepada Rasulullah Muhammad saw.

Peristiwa itu direkam dalam Surat ”Alqadr” ([97] : 1): ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan.” Pada dasarnya Surat Alqadr bukan surah yang turun beriringan dengan Surat Al’alaq, surat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
Mayoritas (jumhur) ulama menyatakan bahwa surat itu urutan ke duapuluh lima. Sebagian ulama lain berpendapat surat pertama yang turun saat Rasulullah hijrah ke Madinah.

Namun dalam urutan penyusunan Alquran surat Alqadr diletakkan berurutan dengan Surah Alíalaq. Alíalaq menempati urutan ke 96, dan Alqadr menempati urutan ke 97. Demikian ini untuk memberi kejelasan bahwa pembahasan dalam Surah Alqadr berkenaan dengan malam mulia di mana Alquran untuk pertama kali diturunkan.

Dalam Alquran Lailatulkadar ini diberi penjelasan dengan sejumlah keistimewaan: pertama dia adalah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan QS Alqadr [97]: 0 3;  kedua, dia adalah malam yang diberkati (mubarakah). QS Addukhon [44]: 03; ketiga dia adalah malam diputuskannya segala urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar dari sisi Allah swt. QS Addukhon [44]:04; kelima ia adalah malam di mana para malaikat, dipimpin oleh malaikat Jibril, turun ke bumi atas izin Tuhannya, dengan membawa segala urusan yang besar (pahala-pahala ibadah di malam itu). QS.Alqadr  [97]: 04; keenam ia adalah malam penuh kedamaian hingga terbit fajar. QS. Alqadr  [97]: 05.

Di sini perlu disampaikan bahwa bacaan yang paling pas adalah Lailatulkadar seperti bacaan dalam Surah Alqadr, bukan Lailatul Qadar sebagaimana lazim dalam ucapan kita sehari-hari. ”Qadr”memiliki makna kemuliaan dan kemurahan (syaraf wa fadhl), diambil dari kata fulaan dzuu qadrin adzÓmin, seseorang yang berkedudukan mulia. Sementara ”qadar” adalah putusan, seperti dalam rangkaian kata ”qadh‚`-qadar”. Pemaknaan ini sejalan dengan penjelasan dalam ayat lain dalam Surah Addukhon, QS .[44]: 03: ”sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi”. Namun penggunaan kalimat Lailatul Qadar, yakni malam keputusan, tidak sepenuhnya salah, karena pada malam itu Allah memutuskan segala urusan yang penting di sisi-Nya, sebagaimana dalam QS. Addukh‚n/ [44]: 04.

Dua kalimat ini, qadr dan qadar, mengantarkan kita pada pengertian bahwa ibadah di malam itu sangat penting bukan saja karena kemuliaannya (qadr), namun juga karena malam itu Allah SWT. menitahkan amarnya (qadar) untuk putaran satu tahun ke depan. Dengan beribada di malam itu seseorang berharap mendapatkan rahmat-Nya, agar semua amar keputusan yang ia terima merupakan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi dirinya di dunia dan di akhirat. Titah amar yang tampak secara lahir tidak sesuai dengan keinginannya, akan tetapi karena penyikapan yang baik, yakni dihadapi penuh sabar dan tetap berbaik sangka (husnuzan) kepada Allah swt, Insya Allah justru akan membawa berkah tersendiri untuk kebaikan dirinya.

Kapan Lailatulkadar?
Alquran tidak menjelaskan setara pasti kapan Lailatulkadar, hanya ada penjelasan bahwa Alquran diturunkan pada malam tersebut: QS. Alqadr/ ([97] : 1): ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alqur’an) pada malam kemuliaan.” Dan pada ayat yang lain dijelaskan bahwa Alquran diturunkan pada bulan Ramadan: ”Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” QS. Albaqarah: [02]: 185.

Dari sini lalu disimpulkan bahwa Lailatulkadar berada di bulan Ramadan, tanpa ada penjelasan definitif di hari ke berapa. Ada sejumlah riwayat mengenai penentuan yang definitif, di antaranya ada yang menyampaikan bahwa Lailatulkadar jatuh pada hari ke tujuh belas, lalu ada yang menentukan hari ke dua puluh tiga, dua puluh lima, dan dua puluh tujuh.

Dari berbagai riwayat ini disimpulkan bahwa Lailatulkadar tidak jatuh pada malam yang sama di setiap tahun, namun ia berubah-ubah waktunya. Tahun ini boleh jadi jatuh pada tanggal dua puluh tujuh Ramadan, namun bisa jadi tahun yang akan datang jatuh di tanggal yang berbeda. Demikian ini menurut para ulama disengaja oleh Allah swt agar hambanya tidak hanya rajin beribadah pada satu malam yang telah ditentukan saja.

Namun begitu, ada satu petunjuk dari Rasulullah saw. yang menjelaskan bahwa umumnya Lailatulkadar jatuh pada sepuluh hari terakhir, dimulai malam ke dua puluh satu. Kata Rasulullah: ”Ia (Lailatulkadar) berada di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan”. Riwayat lain menyatakan: ”Carilah dengan sungguh-sungguh Lailatulkadar di sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadan). Dan di antara sepuluh hari ini, ada sebuah riwayat yang menekankan untuk mencarinya pada hari-hari ganjil: ”Carilah ia (Lailatulkadar) di tiap-tiap hari ganjil (dari sepuluh hari terakhir).” Riwayat lain menjelaskan bahwa di antara hari-hari ganjil ini, malam ke dua puluh tujuh paling ditekankan berdasarkan riwayat dari Ubay bin Ka’b: ”Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dirinya, sesungguhnya ia (Lailatulkadar) berada di bulan Ramadan, dan demi Allah saya tahu pada malam apa ia berada, ia berada di malam dimana Rasulullah saw memerintahkan untuk mendirikan ibadah di malam itu, yaitu malam ke dua puluh tujuh.”. 

Ada dua cara seorang hamba bertaqarrub (mendekat) kepada Allah SWT. Pertama melalui in‚bah, yakni kembali kepada Allah SWT. Ia menghadapkan hatinya secara pelan-pelan, dengan niat yang sungguh-sungguh, menuju cinta hakiki kepada Allah swt. Jalan ini tak bisa dipangkas dalam waktu yang singkat, akan tetapi harus ditempuh melalui jalan yang panjang. Cara ini adalah jalan yang lazim diikuti oleh umumnya hamba-hamba Allah. Berkenaan dengan Lailatulkadar, seorang hamba yang ingin menggapainya sudah harus memulai upayanya sejak hari-hari awal bulan Ramadan, bahkan sebaiknya sejak hari-hari menyambut bulan Ramadan.

Cara yang kedua melalui jalan ijtib, yakni melalui pemilihan dari Allah swt yang dalam hal ini sepenuhnya merupakan rahasia-Nya. Jalan ini menggambarkan bahwa bukan seorang hamba yang mendekat kepada Allah secara langsung, akan tetapi justru Allah yang mengenalkan Dirinya kepada seorang hamba tersebut. Jalan ini sengaja dibuka oleh Allah swt agar seorang hamba tidak kehilangan asa berkomunikasi dengan Allah swt. Hamba-hamba Allah yang pada awal-awal Ramadan tidak sepenuhnya, atau bahkan lalai sama sekali, beribadah kepada Allah swt melalui jalan ini masih punya kesempatan untuk merengkuh Lailatulkadar.

Dua jalan ini disebutkan dalam Alquran, Surah Asy-Syu’ara [42]:13: Allah memilih kepada agama itu orang  yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada  (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

Dengan memahami dua jalan ini, bisa dikatakan bahwa mereka yang memiliki kesempatan lebih untuk  mendapatkan Lailatulkadar adalah hamba-hamba Allah yang dari sejak awal Ramadan telah kembali kepada Allah dengan banyak beribadah dan berdzikir, namun begitu ada sejumlah hamba-hamba Allah yang secara khusus dipilih-Nya  untuk mendapatkan anugerah Lailatulkadar walau tidak dari awal kembali kepada-Nya.

Dengan demikian, kita dengan arif mengetahui bahwa seorang hamba tak boleh mengandalkan jalan ijtib‚` untuk merengkuh Lailatulkadar, bahkan untuk itu dia harus memulainya sejak dari awal Ramadan. Karena inilah jalan yang lazim, yang telah menjadi sunnatullah.  

Bulan Ramadan ini sangat istimewa bukan saja karena di dalam bulan ini terdapat Lailatulkadar, di mana beribadah di situ lebih baik dari pada beribadah selama seribu bulan, atau yang setara dengan delapan puluh tiga tahun lebih kira-kira empat bulan. Namun juga karena tanggal 17 Ramadan kali ini jatuh bertepatan dengan 17 Agustus, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini karena siklus pertemuan antara matahari dengan bulan adalah tiga puluh tiga tahun. Setiap tiga puluh tiga tahun sekali, tanggal dan bulan untuk tahun Qamariyah dan Syamsiyah akan kembali terulang. Dan tahun ini adalah siklus yang kedua, yakni enam puluh enam tahun, yang berarti untuk kedua kalinya siklus demikian terulang. Ini seperti sebuah tanda bahwa Negeri kita, Indonesia, adalah negeri yang telah digariskan oleh Allah sebagai negeri yang sangat dekat dengan rahmat-Nya. (34)

Download Mawidhoh KH. Maimoen Zubair Disini

ARTIKEL MENARIK LAINNYA;

25.8.11

Sanad Kitab Tambihul Ghofilin, dan Mauidloh KH. Maimoen Zubair pada saat kataman Kitab Tambihul Ghofilin

Sanad Tambihul ghofilin Dari Syaikhina Maimoen Zubair
Bagi yang ingin Ijazahnya Silakan Sowan Sendiri ke hadrotus Syaih

Download Mauidloh KH Maimoen Zubair Pada Kataman Kitab Tambighul ghofilin 17 Agustus 2011 M, 17 Ramadlan 1432 H  : Klik disini (cari di BOX judulnya Tahtiman Tambih)

TENTANG PENGARANG DAN KITAB TAMBIGHUL GHOFILIN

Pengarang Kitab Tanbihul Ghafilin adalah Abu al-Layts al-Samarqandi (wafat pada tahun 373H atau 983 M). Nama lengkapnya adalah Abu al-Layts Mudar Nasir ibn Muhammad al-Samarqandi, seorang Sufi dan Ahli Hukum mazhab Hanafi yang disegani. Di tanah Jawa, Beliau biasa disebut sebagai Mbah Semorokondo. Sebuah nama yang diambil dari nama kota Samarkand yang terletak di negara Uzbekistan. Samarkand adalah kota tua berusia lebih dari 2750 tahun; kota indah dengan ribuan masjid yang terletak di jalur sutra antara Cina dan Eropa adalah kota tua yng didirikan pada tahun 700 SM.

Kitab Tanbihul Ghafilin, yang secara harfiah berarti "Peringatan Bagi Yang Lupa". Kitab yang ditulis oleh Abu Al-Laits As-Samarqandi (Ulama Tabi'ut Tabi'in, hidup pada awal abad ke-4 Hijriah). Buku ini adalah kombinasi antara penerapan Syariah Islam dan pengungkapan hikmah-hikmah Ilahiah dari Rasulullah Saw., para Nabi dan para ahli hikmah tentang banyak aspek kehidupan di dunia ini melalui sabda-sabda, ujaran-ujaran, dan kisah-kisah mereka yang mencerahkan.

Topik-topik yang sangat beragam dimuat dengann kalimat-kalimat yang menyentuh hati, mudah dipahami dan mengilhami pembaca serta kaya akan nilai-nilai kearifan yang merupakan pondasi dan akar kehidupan.

Ujaran-ujaran dan kisah-kisah berhikmah dalam buku ini membimbing kita agar menjalani kehidupan dunia ini secara lebih berkualitas dengan mengabdikan diri kita kepada Allah Swt., dan berbuat baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain.

Fungsi penting buku ini adalah, sebagai cermin pembanding bagi para pembaca yang budiman tentang sejauhmana kualitas diri yang teraktualisasikan dalam iman, Islam, dan ihsan.

Membaca buku ini, insya Allah, insya Allah akan menyejukkan hati para pembaca; menggugah kesadaran menuju tauhid; membangkitkan semangat untuk lebih banyak beribadah dan melakukan amal-amal saleh; dan sebagai peneguh hati untuk terus beramal saleh, serta menghindari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat.


ARTIKEL MENARIK LAINNYA;

Download Mawidhoh KH. Maimoen Zubair Disini

Cerita dari Abu Laits as-Samarqandi

Abu Laits As-Samarqandi adalah seorang ahli feqah yang mashyur. Antara karyanya yang sangat terkenal hingga kini adalah kitab Tanbihul Ghafilin (Peringatan bagi orang-orang yang lalai).
Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-Nabi yang bukan Rasul ada menerima “petunjuk” dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara. Maka beliau salah seorang yang menerima petunjuk melalui mimpi itu, pada suatu malam beliau bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat.

Engkau dikehendaki berbuat demikian:-
1. Apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah.
2. Engkau sembunyikan.
3. Engkau terimalah.
4. Jangan engkau putuskan harapan.
5. Larilah engkau daripadanya."

Pada keesokan harinya, beliau itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam.

Beliau kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."

Maka beliau itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka beliau pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas beliau itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya.
Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Beliau itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Maka beliau berkata itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari olehnya, mangkuk emas itu keluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Hamba Allah, tolonglah aku." Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri beliau itu sambil berkata, "Wahai Hamba Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."

Maka beliau itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.

Selepas kejadian itu, beliau meneruskan perjalananya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya.

Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah beliau ke rumahnya. Pada malam itu, beliau pun berdoa.
Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawasanya:-
1. Engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.

2. Semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua.

3. Jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya.

4. Jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat.

5. Bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."

Kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."
Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-gata tentang dirimu."

Dengan ini haruslah kita sedar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.

Hukum ANAL SEX

Soal: Apa hukum mendatangi istri di duburnya (belakang) atau mendatanginya dalam keadaan haidh atau nifas?

Jawab: Tidak boleh menggauli istri di duburnya atau dalam keadaan haidh dan nifas. Bahkan yang demikian itu termasuk dari dosa-dosa besar berdasarkan firman Allah Ta’ala (artinya):


وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّكُم مُّلاَقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ


“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah “Haidh itu adalah kotoran.” Maka jauhilah diri kalian dari wanita ketika haidh. Dan janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka sudah suci, maka datangilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri. Isteri-isteri kalian adalah (seperti) ladang (tempat bercocok tanam) bagi kalian. Maka datangilah ladang kalian bagaimanasaja kalian kehendaki.” (Al Baqarah 222-223)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan pada ayat ini wajibnya menjauhkan diri dari wanita ketika dalam keadaan haidh dan melarang untuk mendekati mereka sampai mereka dalam keadaan suci. Yang demikian itu menunjukkan atas pengharaman untuk menggauli mereka ketika dalam keadaan haidh dan seperti itu juga nifas. Dan jika mereka sudah bersuci dengan cara mandi, boleh bagi suami untuk mendatanginya di tempat yang diperintahkan Allah, yaitu mendatanginya dari arah depan (qubul), tempat “bercocok tanam”

Adapun dubur, adalah tempat kotoran dan bukan tempat bercocok tanam. Maka tidak boleh menggauli isteri di duburnya bahkan yang demikian itu termasuk salah satu dosa-dosa besar dan merupakan maksiat yang maklum dari syari’at yang suci ini. Abu Daud dan An Nasa’i telah meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda (artinya):

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِى دُبُرِهَا

“Terlaknatlah siapa saja yang mendatangi perempuan di duburnya”

At Tirmidzy dan An Nasa’i meriyawatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya),

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلاً أَوِ امْرَأَةً فِى الدُّبُرِ

“Allah tidak akan melihat kepada seseorang yang mendatangi laki-laki atau perempuan di duburnya.” Sanad hadits ini shohih.

Mendatangi isteri di duburnya adalah bentuk liwath (sodomi) yang diharamkan kepada laki-laki dan perempuan semuanya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala tentang kaumnya Nabi Luth ‘alaihi assalam (artinya):

وَلُوطاً إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu” (Al Ankabut 28)

Begitu juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya):

“Allah melaknat siapa yang berbuat dengan perbuatannya kaum Luth”. Beliau katakan tiga kali. (Diriwayatkan Al Imam Ahmad dengan sanad shohih).

Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati darinya dan menjauhkan diri dari setiap yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bagi setiap suami hendaklah menjauhi kemungkaran ini. Bagi setiap isteri untuk menjauhkan dari dari yang
demikian dan tidak memberi kesempatan kepada suami untuk melakukan kemungkaran yang besar ini, yaitu menggaulinya dalam keadaan haidh atau nifas atau di dubur.
Kita memohon kepada Allah berupa keselamatan bagi kaum muslimin dari setiap apa yang menyelesihi syari’atNya yang suci. Sesungguhnya Dia sebaik-baiknya tempat meminta.

(Yang Mulia Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah)

Sumber: Lin Nisa’ faqoth (276-278)
Alih Bahasa: Ayub Abu Ayub

SUMBER : http://darussalaf.org

Baca Juga...............

23.8.11

KAMUS AL MUNAWIR VERSI DIGITAL

Bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur’an, bahasa yang di gunakan oleh Rasulullah dan para sahabatnya untuk berdialog dan menyampaikan wahyu dari Allah ta’ala. Kosakata dalam bahasa Arab sangat banyak, sehingga tidak mungkin akan bisa menguasainya dalam waktu yang cepat. Untuk itu kehadiran kamus akan sangat membantu bagi kita untuk mengetahui arti dari tiap kata bahasa arab. Kamus ini telah banyak digunakan oleh para penuntut ilmu untuk mengetahui arti kosakata Arab ke dalam bahasa Indonesia. Kelebihan kamus ini adalah lengkapnya penjelasan kata-kata yang diartikan dalam bahasa Indonesia, sesuai dengan perubahan tiap kata dalam behasa Arab. 

Prog. DjView
Kebetulan kemarin waktu ada yang pesen maktabah samilah ada yang minta kamus bahasa arab versi digital.. telusur main telusur ketemu juga akhirnya yah sekedar hanya ingin ikut berbagi untuk temen-temen Ahadan..

Kamus Al Munawir
Bagi yang ingin download kamus dan program DjView silakan klik gambar Download di samping

Maaf link downloadnya tidak di box.net karena lagi ada gangguan jadi aku upload di 4shared.com

Bagi yang mau beli kamus aslinya silakan kunjungi toko online kami di TOKO AL-ANWAR 2


Cara download di 4shared.com klik link berikut

Baca Juga Artikel Berkut

21.8.11

MEREDAM KEMARAHAN ANAK

Ketika anak sedang marah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah abaikan kemarahan mereka. Usahakan agar tidak melakukan apapun. Dengan kata lain jangan pedulikan kemarahannya. Hal ini akan mengajarkan anak bahwa ledakan amarah bukanlah satu-satunya cara untuk mendapatkan sesuatu ataupun perhatian orang tua.

Jika sudah sangat terlalu hingga dapat merusak sesuatu ataupun membahayakan dirinya dan orang lain, maka orang tua sebaiknya langsung mengasingkan si anak ke dalam kamarnya atau tempat tertutup lainnya jika kejadiannya terjadi di tempat umum. Selama pengasingan, jangan memberikan perhatian padanya untuk beberapa waktu.

Kedua, bersikap tegaslah. Seringkali orang tua akan sulit untuk tegas jika menghadapi situasi seperti ini, dan berusaha secepatnya agar keluar dari situasi dengan cara mengabulkan permintaan si anak apapun bentuknya. Tindakan ini bukanlah solusi yang baik, bahkan sebaliknya. Alih-alih ingin menyelesaikan masalah, malah akan memperburuk keadaan dengan kejadian yang akan terus berulang dan berulang lagi. Si anak akan menggunakan “senjata” marahnya untuk keinginan-keinginan yang lainnya. Kalau sudah begini, orang tua akan pusing “sembilan” keliling.

Oleh karena itu, penting sekali untuk orang tua agar dapat bersikap tegas dan berpegang teguh pada aturan. Dengan begitu anda memiliki kekuatan untuk mengatasi situasi ini. Anak akan belajar bahwa tidak semua keinginannya harus selalu terpenuhi saat itu juga. Ia akan belajar bersikap realistis terhadap perilaku mana yang dapat diterima, mana yang tidak. Di sini orang tua juga akan belajar bagaimana ia seharusnya dapat bersikap konsisten.

Kemudian, tetap tenang dan tidak terpancing emosi adalah sikap yang paling baik bagi orang tua. Katakan pada diri sendiri, bahwa saya dapat mengendalikan anak saya sambil mengajarkan kepadanya cara untuk mengendalikan dirinya sendiri. Tenang merupakan ciri pribadi orang tua yang stabil emosinya dan tidak terpengaruh oleh sikap anak karena sebenarnya ia hanya ingin menguji kesabaran kita sebagai orang tua. Jadi, tetap tenanglah … kemarahan anak bukanlah persoalah yang besar.

Segeralah berikan pujian apabila si anak telah dapat mengendalikan amarahnya, kemudian lakukan kegiatan yang menyenangkan bersama-sama. Anda bisa mengungkapkan betapa anda sangat menyayanginya dan bahagia karena si anak sudah lebih baik sekarang. Katakan juga bahwa anda tidak menyukai jeritan, teriakan dan tangisan anak. Tindakan ini akan membantunya memahami bahwa yang tidak kita pedulikan dan tidak anda sukai adalah kemarahannya, bukan dirinya. Dengan begitu si anak akan tetap merasa disayangi dan dicintai oleh orang tuanya.

Jika suatu saat anak anda bersikap manis dan anda ingin memberikan sesuatu yang pernah diminta anak anda tempo hari (dengan kemarahan), maka beritahukan kepada si anak alasan mengapa sekarang anda ingin memberikan benda tersebut. Hal ini penting, karena jangan sampai terfikir dalam benak si anak bahwa tindakan anda ini disebabkan karena kemarahannya tempo hari, akan tetapi justru karena alasan lain, yaitu perilakunya yang baik saat ini.

Anda juga bisa buat peraturan yang disepakati bersama sebelum melakukan kegiatan atau perjalanan, sehingga dapat terhindar dari situasi yang rumit yang tidak ada dalam kesepakatan sebelumnya.

Ada baiknya anda memberi reward kepada anak apabila ia telah berlaku baik dan telah menjalankan apa yang telah disepakati bersama. Hal ini akan membuatnya merasa bangga dan dihargai.



Artikel terkait :

ANAK MARAH??? Penyebab dan solusi ketika seorang anak marah

PARA ayah dan ibu sesekali pasti pernah merasa kewalahan melihat tingkah si kecil yang ngambek dan uring-uringan tanpa diketahu penyebabnya. Akan merepotkan bila tangis dan rengeknya tak jua berhenti serta marahnya tak terkendali, sementara kemarahan orang tua berbatas.

Dapat dimaklumi bahwa karena anak belum dapat mengenali bentuk emosinya, maka ia cenderung akan marah jika ada yang mengganggu perasaannya.

Adalah tugas kita, orang tua, untuk membimbing tumbuh kembang si kecil. Arahan dan bantuan orang tua maupun lingkungan sekitar akan diperlukan agar anak dapat tumbuh dengan bekal kecerdasan emosi yang kuat. Sebab penelitian menunjukkan 80 % keberhasilan seseorang bergantung pada kecerdasan emosionalnya, sedang 20 % sisanya dari kecerdasan kognitif.

Anak yang berkecerdasan emosi berciri: mampu belajar mengidentifikasi emosinya, mengekspresikan perasaannya, mengelola dan mengendaloikan emosinya, menunda ledakan emosi, membedakan antara perasaan dan tindakan, serta mengurangi tekanan diri akibat emosi.
Untuk membangun kecerdasan emosi pada anak, para orang tua perlu mengajarkan dan mengenalkan pada anak macam perasaan marah.
Psikolog anak, Dr Seto Mulyadi Spi Msi atau yang akrab disapa Kak Seto, dalam bukunya "Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya", menjabarkan enam alasan utama kemarahan pada anak. Berikut ulasannya.


1. Janji yang Tidak Ditepati
Untuk menyenangkan si kecil yang tengah merengek, orang tua sering kali spontan menyetujui akan mengabulkan permintaan anak. Sayangnya, saat janji itu terpaksa tak ditepat, si kecil akan kecewa dan marah. Alhasil, rasa hormat anak dapat berkurang, hingga ia sengaja melanggar peraturan di rumah.
Solusi : Untuk memberi contoh dan mengajarkan rasa tanggung jawab pada anak, orang tua perlu meminta maaf pada anak, terlebih dahulu. Kemudian orang tua dapat memberi penjelasan padanya dengan bahasa yang mudah ia mengerti. Tak lupa, orang tua perlu meminta anak untuk mengutarakan perasaannya. Diskusi terkait konsekuensi yang akan diberikan pada anak, adalah solusi terakhir yang dapat disepakati bersama.


2. Mencari Perhatian
Perlakuan dan kata-kata adalah dua bentuk konkrit kasih sayang yang dimengerti anak. Ketika anak merasa kasih sayang yang ditunjukkan padanya belum cukup, anak akan mencari perhatian orang tua. Marah, mungkin akan ditafsirkan oleh anak sebagai cara yang paling efektif. Jika hal ini masih berlanjut, tanpa pemahaman dan tanggapan yang tepat dari orang tua, anak akan semakin agresif, sukar diatur, dan tidak pedulian.
Solusi: Menghadapi kemarahan sang anak, orang tua perlu bersikap tenang, menggunakan humor untuk mencairkan suasana, menggunakan kalimat yang positif, untuk meyakinkan anak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mendapat perhatian. Kesabaran orang tua adalah kuncinya.


3. Dipaksa Disiplin
Para orang tua tentu akan membimbing putra-putrinya untuk tumbuh dengan menampilkan tingkah laku dan tindakan yang sesuai dan dapat diterima oleh norma-norma yang berlaku. Disiplin dapat dikenalkan pada anak dengan diterapkannya aturan pada setiap keluarga. Dengannya, orang tua berharap anak dapat belajar arti kata tanggung jawab dan konsekuensi dari setiap tindakan. Namun peraturan yang ketat dan tak disukainya, akan mendorong rasa terkekang dan marah pada anak. Akibatnya, disiplen hanya terjadi sesaat saja, anak hanya mengingat sisi negatif dari disiplin. Hakekat disiplin akhirnya menjadi kurang efektif diterapkan.
Solusi : Pendisiplinan pada anak sebaiknya bersifat membangun dan mengarahkan anak agar dapat belajar menentukan pilihannya sendiri secara bijaksana. Pendisiplinan juga harus bersifat konsisten. Namun disiplin bukan berarti perwujudan sikap otoriter orang tua, melainkan sebagai wujud kasih sayang terhadap anak. Peraturan yang ditetapkan juga sebaiknya bersifat rahasia, antara orang tua dan anak.

4. Cemburu pada Saudara
Rasa cemburu antara sang kakak dan adik merupakan hal yang wajar. Rasa cemburu biasanya timbul karena sang anak merasa takut kehilangan kasih sayang orang yang dicintainya. Untuk mengekspresikan rasa khawatirnya itu, sang anak dapat bersikap agresif atau sebaliknya mengasingkan diri. Kecemburuan antar saudara dapat menyebabkan berkurangnya interaksi yang hangat dalam keluarga.
Solusi : Untuk menghindari ketercemburuan antar saudara, orang tua perlu menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing anak. Kemudian agar timbuk rasa kasih sayang antar saudara, sang kakak dan adik perlu didorong untuk bermain dan beraktivitas bersama. Akan baik jika orang tua dapat memperlakukan anak secara indvidual, sesuai sifat dan karakternya. Jika menemukan perselisihan antar keduanya, orang tua sebaiknya segera menyelesaikannya seadil mungkin, dengan tidak berpihak.
5. Terlalu Didikte
Dalam menentukan pendidikan, fasilitas, dan lingkungan yang bail pada anak, terkadang orang tua bersikap memaksakan pilihannya, tanpa memandang keinginan atau perasaan anak. Terhadap segala pilihan orang tua, ada anak dapat menerimanya, namun tak sedikit anak yang mengekspresikan penolakannya dengan marah. Sifat selalu mendikte pun tak baik bagi perkembangan anak. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang selalu tergantung pada orang tua, kurang percaya diri, dan tidak terbisa menyelesaikan masalah sendiri.
Solusi: Agar anak mengetahui bahwa dirinya diterima orang tua, libatkanlah dirinya dalam mengambil keputusan yang terkait dengannya. Hargai pendapat, perasaan, dan keinginannya. Orang tua juga perlu mengarahkan dan memberikan dukungan pada anak saat ia memutuskan ha-hal kecil maupun penting baginya.
6. Tak Mampu Menyesuaikan Diri dengan Perubahan
Setiap orang pasti mengalami perubahan, atau dituntut untuk menyesuaikan diri dengan hal yang baru. Kak Seto menyebutkan ada beberapa macam adapatsi yang mungkin menimbulkan ekspresi marah pada anak, yaitu: kehilangan figur orang tua, pindah rumah, pertama kali masuk sekolah, kehilangan teman, atau kematian hewan perliharaannya.
Solusi : Untuk membantu anak menyikapi perubahan itu, pertama orang tua perlu mendorong anak mengungapkan penyebab kemarahannya. Jika terjadi perpisahan orang tua, alangkah baiknya jika anak diberitahu keadaan sebenarnya, meski ia belum tentu paham arti sebenarnya. Saat anak akan memasuki lingkungan sekolah yang baru, orang tua hendaknya dapat mengajak anak melihat fasilitas, keadaan, dan teman-teman di sekolah baru. Berilah gambaran yang positif tentang dunia sekolah pada si kecil, serta libatkan ia dalam memilih peralatan sekolahnya. Kemudian jika sang anak marah karena hewan perliharaannya mati, orang tua perlu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana pada anak bahwa setiap makhluk hidup akan mati.
Semoga dengan pelatihan yang terus-menerus tentang konsep pengenalan diri, kecerdasan emosional anak akan turut berkembang. Amin..... dan jangan lupa berdo'a agar kita mendapatkan anak-anak yang sholeh sholihah

20.8.11

PUASA RAMADLAN DAN SPIRIT KEMERDEKAAN

Oleh : Den Baguse Wafa

Ada keistimewaan Ramadlan 1432 H kali ini. Yakni bertepatannya Ramadlan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-66, mengingatkan kita dengan kemerdekaan Republik Indonesia yang juga bertepatan dengan bulan Ramadlan. Karenanya edisi kali ini berusaha membahas Korelasi Ramadlan dengan Kemerdekaan Hakiki.

Ramadlan, yang terkenal sebagai bulan suci dan disucikan pada hakekatnya adalah momentum pembebasan. Kehadirannya selalu disambut dengan gegap gempita oleh umat Islam seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Berbagai acara dipersiapkan untuk menyambut datangnya tamu agung ini. Mulai dari masjid-masjid, pesantren-pesantren, sampai acara di TV-TV penuh dengan nuansa religius. Meskipun begitu, sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas acara tersebut, pada hakikatnya, hanya sebatas permainan citra (image) dan tanda (sign) belaka. Sehingga makna puasa sebagai kekuatan pembebas (liberating power) dari berbagai penjajahan kurang begitu bergaung.

Konteks Kemerdekaan Indonesia

Dalam konteks Indonesia, puasa Ramadlan ini mempunyai hubungan historis- semiotis dengan momentum kemerdekaan RI. Karena hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan bulan Ramadlan. Belum lama ini kita telah memperingati hari kemerdekaan itu. Paska momentum kemerdekaan RI yang tak berselang lama tersebut, secara berurutan kini kita disusul dengan puasa Ramadlan. Seolah kita diingatkan oleh sejarah bahwa, dalam konteks Indonesia, antara proklamasi 17 Agustus dengan puasa Ramadlan mempunyai hubungan makna yang signifikan. Apa makna yang menghubungkan kedua momen itu? Jelas: kemerdekaan.

Baik 17 Agustus maupun puasa Ramadlan, dalam konteks Indonesia, adalah dua momentum yang bertemu pada satu titik yakni kemerdekaan. Hanya saja kontek kemerdekaan yang terkandung di dalamnya berbeda. Untuk tujuh belas Agustus, yang merupakan momen terlepasnya bangsa Indonesia dari cengkraman kaum kolonial, adalah cermin dari kemerdekaan fisik. Kemerdekaan dalam konteks ini lebih diorientasikan bagaimana kita tidak lagi ditindas dan dijajah oleh bangsa asing, bagaimana kekayaan alam kita tidak lagi dikuras oleh bangsa penjajah, bagaimana rakyat Indonesia bisa sejahtera, mempunyai papan, sandang dan pangan yang layak dan seterusnya. Semua itu adalah cermin dari kemerdekaan fisik. Meskipun sampai sekarang kemerdekaan itu masih bersifat prosedural dan belum menyentuh pada dimensi substansial.

Sejalan dengan momentum di atas, puasa Ramadlan pada hakekatnya juga mencerminkan spirit kemerdekaan. Namun kemerdekaan yang diusung oleh puasa adalah kemerdekaan jiwa, ruh dan mental-spiritual. Puasa pada hakekatnya adalah kekuatan pembebas (liberating power) dari belenggu penjajahan. Bentuk penjajahan dalam konteks puasa ini adalah hal-hal yang masuk dalam kategori penyakit ruhani, misalnya suka berbohong, berkhianat, suka korupsi, suka maling, arogan, sombong, mau menang sendiri, anarkis, suka bertindak sewenang-wenang dan sebagainya.

Kemerdekaan hakiki juga berarti kita merdeka untuk memperbanyak kebaikan sekaligus merdeka dari anasir-anasir negatif atau kemaksiatan. Hari ini kita mendapatkan fakta bahwa, muslimah yang berjilbab sebagian masih kesulitan bekerja di tempat publik dengan alasan jilbabnya; entah itu rumah sakit atau yang lainnya. Masih ada instansi-instansi yang tidak memberikan kesempatan luas kepada kaum muslimin untuk melaksanakan shalat tetap pada waktunya. Sebaliknya, kita seakan dibanjiri dengan berbagai kemaksiatan yang sebagiannya tidak bisa kita hadang karena masuk dalam wilayah privasi dan menerobos dalam keluarga kita. Media elektronik yang kaya dengan kemaksiatan namun miskin pendidikan, lokalisasi dan perjudian yang dilindungi, serta pergaulan bebas yang bahkan difasilitasi dengan penjualan kondom secara legal benar-benar membuat kemerdekaan tidak mencapai hakikatnya.

Belum lagi ketika hak umat untuk hidup sejahtera harus terampas karena praktik korupsi yang meraja lela. Baru beberapa hari yang lalu, koran-koran nasional memberitakan bahwa korupsi di berbagai daerah demikian parah, hingga masuk kategori menggurita. Lalu yang dirugikan tentu saja adalah umat, rakyat kecil yang senantiasa taat membayar pajak. Tentu banyak hal yang menjadi catatan hingga kita sampai pada kesimpulan bahwa kemerdekaan sejati belum menjadi milik kita, umat Islam Indonesia.

Tujuan puasa tidak lain adalah membebaskan jiwa atau hati (qolb) kita dari penyakit-penyakit ruhani itu. Karena dengan terjajahnya hati dari penyakit-penyakit tersebut bisa menjadikan diri seseorang berjalan tidak tabil dan kacau. Kekacauan diri ini berimplikasi pada kekacauan sistem dalam masyarakat, bangsa dan negara. Karena sebuah masyarakat, bangsa dan negara dibangun oleh indifidu-indifidu di dalamnya. Atas dasar ini kita tahu bahwa karut-marutnya kondisi negara kita dan semrawutnya tatanan politik kita sekarang ini adalah karena sistem yang ada dikendalikan oleh indifidu-indifidu yang kacau. Aturan main dan etika yang ada di dalamnya dipegang oleh para politikus yang berotak kotor, berhati busuk dan bermental comberan.

Selama ini para pejabat negara baik yang ada di level legislatif, eksekutif dan yudikatif, cenderung suka bermewah-mewah, hidup hedonis dan glamor. Meskipun rakyatnya banyak yang kelaparan, tidak kuat sekolah dan hidup di bawah kolong jembatan, mereka justru melakukan korupsi berjamaah, berbagi-bagi uang dan berfoya-foya. Eksisnya penyakit-penyakit hati tersebut merupakan indikasi bahwa hati dan jiwa kita masih terjajah.Puasa disyariatkan tidak lain adalah untuk membabat habis mental dan hati yang rusak tersebut.

Menuju Kemerdekaan Yang Kaffah

Dengan demikian, bisa diambil makna bahwa hadirnya Ramadlan yang bersanding erat dengan momentum 17 Agustus tersebut, merupakan seruan kepada bangsa Indonesia untuk menuju kemerdekaan yang kaffah, kemerdekaan yang sempurna dan holistik. Kemerdekaan fisik yang telah diraih itu harus disempurnakan dengan kemerdekaan ruhani. Kemerdekaan yang kaffah itu kita aktualisasikan dalam bentuk pengendalian diri. Karena pengendalian diri ini merupakan bukti bahwa seseorang mampu menguasai nafsunya dan bukan sebaliknya.

Selama ini kita gagal dalam memaknai kemerdekaan. Kemerdekaan kita artikan sebagai budaya yang serba boleh. Kemerdekaan kita pahami sebagai usaha untuk bebas menerobos tanpa kenal aturan dan norma-norma yang ada. Makna kemerdekaan kita distorsikan sebagai kebebasan yang tanpa batas: bebas korupsi, bebas menilap uang negara, bebas menggarong, bebas beringkar janji, bebas menindas, bebas menyeleweng dan seterusnya. Pada hal semua ini adalah wujud kebobrokan hati dan mental-spiritual.

Puasa sebagai pengendalian diri merupakan kekuatan pembebas (liberating power) dari kebobrokan hati dan mental tersebut. Ia pada hakekatnya adalah upaya untuk menuju kemerdekaan kaffah tersebut, kemerdekaan yang tidak hanya lepas dari penjajahan kaum kolonial, tetapi lebih dari itu juga terbebas dari berbagai jeratan penyakit hati. Kemerdekaan ini merupakan wujud kebebasan yang sejati.

Jadi kebebasan sejati itu sebenarnya adalah berupa pengendalian bukan pelampiasan. Dan norma-norma inilah yang nantinya berfungsi sebagai alat pengendali.Maka ketika seseorang bisa memenej dirinya dengan norma-norma itu sejatinya bukan berada dalam pengekangan tetapi justru berada dalam ruang kemerdekaan yang sebenarnya, karena dengan norma dan batasan-batasan itu dia bisa menguasai dirinya dan bukan sebaliknya. Karena bisa menguasai diri, maka menjadikan dia leluasa dalam membawa diri.

Lalu apa yang bisa kita perbuat untuk meraih kemerdekaan hakiki? QS. An-Nisa ayat 97 memberikan ibrah kepada kita mengenai orang yang berdiam diri dalam keterjajahan.
"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali"

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan asbabun nuzul ayat ini. Bahwa ada sebagian orang makkah yang berislam secara sembunyi-sembunyi. Namun mereka tidak ikut hijrah ke Madinah. Maka saat perang Badar, mereka dipaksa oleh kafir Quraisy untuk ikut berperang di pihak mereka. Saat melihat orang dari kelompok ini terbunuh, sebagian sahabat yang tahu hendak mendoakan mereka, namun Allah SWT menurunkan ayat ini.

Artinya apa? Kita tidak boleh berdiam diri dalam kelemahan. Kita tidak boleh menyerah dalam kondisi yang tidak ideal. Maka bulan Ramadlan merupakan momentum yang sangat tepat bagi kita untuk bangkit. Bangkit dalam aqidah Islam yang benar,meninggalkan dan melawan segala bentuk paham sesat,liberalisme,pluralisme,sekulerisme,radikalisme, dan isme-isme lainnya, bangkit untuk menjalankan Islam. Bangkit untuk menunjukkan semua potensi kita. Bahwa kita bisa. Bahwa kita, dengan identitas keislaman kita, siap mencapai kemerdekaan hakiki. Mencapai hidup yang mulia dan mendapatkan ridha dan surga-Nya.

Maka dalam konteks Indonesia, puasa Ramadlan kali ini harus kita fungsikan untuk menuju kemerdekaan atau kebebasan sejati yakni kemerdekaan atau kebebasan yang didasari dengan pengendalian diri.
Semoga bermanfaat,…

 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan