Download MP3 Alfiah
Ilmu Nahwu (Arabic Grammer-Red) dan berbagai ilmu agama lainnya berkembang satu demi satu. ilmu nahwu muncul bermula setelah bahasa Arab menyebar dan dipraktekkan oleh sebagian besar umat islam pada zaman keemasan islam, baik oleh bangsa Arab asli maupun yang bukan asli, seperti bangsa iraq, bangsa Mesir (egypt)
MAULIDIYAH 2011
Kamis Sore dan Jum'at malam (11/02) merupakan hari dan malam yang meriah bagi keluarga besar PP. Al-Anwar. Pada sore itu diselerenggarakan Acara temu alumni dan malamnya peringatan Harlah PP. Al-Anwar ke-44 sekaligus Maulidiyyah, yang merupakan puncak dari serangkaian acara yang digelar beberapa hari sebelumnya, yaitu lomba, Nadwah Fiqhiyyah, dan khitanan masal.
AUDIO ALFIAH LANGITAN
Kalau kalian suka dengan lagu-lagu islami asal langitan pasti kalian semua tau prediksi kiranya seperti apa Audio Nadhom alfiah ini, Audio muhafadhoh Nadzom Alfiah Ibnu malik ini iringan musiknya sangat berbeda dengan Nadzom alfiah milik anak didik dari Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah (MGS) terlebih dengan nadhom afiah yang dilantunkan oleh rekan-rekan kita di Pondok Pesantren Al-Anwar tahun 80-an
31.3.12
Kematian Mendidik Kehidupan
Management syahwat
Posted in: WANITABertaubat gara-gara Melihat Wanita Mandi
Posted in: E-Book IslamiTakwa dan Sikap Sederhana
Posted in: WALIYULLAH-SUFI-TASAWWUF28.3.12
Bambang Sujanto ketua yayasan HM Cheng Hoo : mencari surga baginya tidak mudah
Mantan ketua PITI Jatim yang menjadi Pimpinan Kita Grup ini tidak risih duduk berempat dengan 3 penumpang lainnya di jok belakang. ''Ayolah, nggak apa-apa biar pepet-petetan, daripada terlambat Jumatan. Kita cari masjid yang terdekat saja,'' katanya kepada wartawan Surabaya post, Hadi Suyitno yang menyertainya. Ia memang sengaja tidak membawa mobil Mercedes Benz karena jalanan sering macet. Lagipula pelataran parkir kantor Bambang di Ruko Jl TAIS Nasution Surabaya terbilang sering padat.
Malah lebih enak, naik taksi saja karena sudah tak perlu pusing-pusing mikiri parkir. "Sak iki wayahe aku golek surgo, Rek," ujarnya. maksudnya, sekarang waktu baginya mencari surga.
Lho, kok begitu? Menurut Bambang, ternyata mencari surga baginya tidak mudah. Tantangannya berat walaupun sudah memeluk Islam sejak 17 tahun lamanya. Masih ada yang menyindirnya begini: 'Bambang masuk Islam untuk mengejar fasilitas.' Malahan ada yang lebih vokal lagi: 'Bambang seorang pengkhianat suku Tionghoa.' Suatu anggapan yang diyakinkan Bambang 110% keliru. Dan, Bambang tidak pernah menggubrisnya.
Tapi ia juga melihat realitas, ada kesan orang Tionghoa yang memeluk Islam tidak disukai. "Sudah banyak contohnya, setelah memeluk Islam bisnisnya kocar-kacir karena tidak mendapat dukungan dari..... Akh, Anda tahu sendiri, kan,'' cetusnya.
Kaset
Ada cerita menarik dari Bambang. Ia mengakui, tantangan yang mesti dihadapi teman-temannya setelah memeluk Islam sungguh dirasakan bukan main beratnya. Ada pengalaman temannya yang baru memeluk Islam bahkan sudah haji.
Ceritanya, sepulang dari Tanah Suci ia dihadapkan pada berbagai larangan: tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Padahal teman itu mempunyai bisnis persewaan kaset (yang maaf, dilengkapi film biru). Teman itu mengeluh pada Bambang, "Kok begini jadinya setelah memeluk Islam."
Sebagai teman, Bambang mencoba menasehati: Sudahlah, ibaratnya kita menjual pisau. Pisau itu sangat bermanfaat bagi manusia karena bisa dipergunakan untuk berbagai keperluan. Tetapi sebaliknya, pisau itu juga dapat digunakan menusuk orang. Bisnis kasetpun begitu, tergantung pada siapa yang menyewa saja.
''Islam itu menurut saya agama yang penuh toleransi, hanya orang yang fanatik saja yang membuat ajaran itu jadi begitu ketatnya sehingga orang mau berbisnis saja jadi susah,'' tuturnya.
Agama itu mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan. Bambang merasa sebagai umat biasa, dan bukan seorang ustadz. Kalau usaha bisnis itu oleh Tuhan dipandang baik, maka usaha itu akan dilimpahi rejeki yang besar.
Direktur Kita Grup yang membawahi 7 perusahaan ini menolak anggapan masuknya ia ke agama Islam karena ingin mencari fasilitas. Bambang yang diislamkan oleh almarhum KH Muttaqin di masjid Al Falah tahun 1980 itu,
mengaku semuanya itu karena panggilan dan petunjuk Tuhan. Sebagai orang yang mengaku mantan play boy kelas kakap, kini ia merasa takut dan ingin dekat dengan Allah. Kini ia memimpin para muallaf, orang yang baru masuk Islam.
Mama
''Mama saya almarhum Nyonya Hartini, telah merestui masuknya saya ke Islam, karena Islam itu agama yang baik. Pesan Mama saya, bila sudah Islam nanti agar membantu menjembatani komunikasi dan menghilangkan
miskomunikasi orang dari suku Tionghoa dengan suku lain di Indonesia,'' kenangnya.
Malahan setelah Bambang diislamkan, Nyonya Hartini memberinya uang 10.000 dolar untuk dibagikan kepada orang yang tidak mampu. Nyonya Hartini dalam pandangan Bambang adalah sosok yang keras tetapi penuh kearifan. Pesan-pesan orang tuanya tampaknya sangat mempengaruhi sikap hidup Bambang Sujanto. Sepuluh tahun lamanya, Bambang tidak aktif menjalankan roda bisnisnya karena sibuk dengan kegiatan sosial. Tetapi
harus diputuskan untuk membagi waktu antara bisnis, sosial, keluarga dan berdoa.
Repotnya lagi, untuk membagi waktu itu sulitnya bukan main, bahkan untuk mencari waktu berolahraga saja tidak bisa. Gara-gara kurangnya berolahraga itu Bambang sempat terkena kencing manis. Untungnya kini sudah sembuh walaupun belum normal. Beberapa hobinya seperti pingpong, renan, jadi kurang terurus karena kesibukan kantornya dan banyaknya tamu, banyak di antaranya para kiai.
Akhirnya ia mengambil keputusan, Jumat adalah hari bebas dari ikatan-ikatan kerja yang formal dan nonformal. Tapi ternyata kemudian tidak mudah baginya untuk lepask dari ikatan kesibukan itu. Ini karena pada hari Jumat itupun banyak tamu berdatangan.
''Masak saya mau tolak kalau kedatangan kiai. Bisa dosa besar saya, he..he..he...,'' katanya. Akhirnya hari Jumat yang sudah ditetapkan untuk bebas, menjadi sama saja dengan hari-hari lainnya. Bahkan, katanya, kadang-kadang ada tamu kiai yang datang tengah malam. Tentu saja ia merasa harus melayaninya dengan penuh hormat.
Ujian
Pendek kata hari-harinya ia usahakan agamis. Bambang sangat bersyukur karena sudah bisa mengislamkan istrinya, Tin Indrawati. Dan, suatu saat Tuhan menguji keimanannya. Anak sulungnya, Rahmat Widodo meninggal dunia dalam suatu kecelakaan di Boston, 16-2-1992. Kejadiannya persis 5 hari setelah Rahmat masuk Islam.
Ini benar-benar sebuah ujian berat. Apalagi kemudian ada yang menyebut meninggalnya Rahmat akibat memeluk Islam. "Tiga anak saya jadi takut memeluk Islam walaupun kedua orang tuanya sudah Islam. Saya menyerahkan keputusan itu kepada anak-anak, tidak bisa memaksa. Saya betul-betul sedang dicoba Allah,'' tutur Bambang.
Toh di balik itu semua, Bambang melihat sebuah rahmat. Meninggalnya Rahmat Widodo memberikan kesan mendalam. Kepergian putranya meninggalkan beberapa keanehan. Saat sholat jenazah di Boston sebelum dibawa ke Indonesia, banyak rekan kuliah Rahmat yang ikut sholat jenazah padahal mereka non-muslim. Ucapan bela sungkawa dari umat non muslim di Surabaya juga luar biasa. Almarhum yang meninggal dalam keadaan Islam itu dikubur di dekat pemakaman keluarga di Sukorejo, Lawang. Bambang bermarga Lioe, marga satu-satunya di Indonesia. Papanya bernama Lior Kim Tjiauw (Noto Suhardjo Wibisono) yang dilahirkan di Hok Cia, RRC. Ia mempunyai prinsip hidup: jangan menyalahkan orang lain.
Filosofinya, di dunia selalu ada 2 sisi. Tentang susah: naik surga susah, tetapi minta tolong orang lebih susah lagi. Pahit: jamu temu ireng pahit, tapi miskin lebih pahit. Bahaya: Kalangan kangow (dunia persilatan) berbahaya, tetapi hati orang lebih berbahaya. Tipis: Kertas tipis, tetapi persahabatan lebih tipis.
Tentang yang terakhir ini Bambang mengurai. "Bila seseorang masih dalam kejayaaan atau punya jabatan penting, akan banyak yang mau bersahabat. Tetapi kalau seseorang itu sudah miskin dan tidak punya jabatan, maka persahatan itu akan lepas."
MASKOTS
Lalu filosofi apa yang ia terapkan dalam memimpin karyawannya yang bernaung di bawah payung Kita Grup? MASKOTS. Artinya: Mandiri, Aktif, Selektif, Kreatif/komunikatif, Obyektif, Terampil, Sukses/sejahtera.
''Alhamdulillah, pabrik panci di PT Kedawung Setia Industrial Ltd mempunyai kesejahteraan yang paling baik di Indonesia,'' katanya. Dengan rendah hati diakuinya, sukses yang diraihnya dalam menangani perusahaannya tidak lepas dari sentuhan tangan Probosutedjo dan Agus S yang pernah menangani Kedawung Subur. Saat itu Agus mengatakan, kalau Bambang mampu berdiri sendiri, maka Bambang Sujanto boleh menangani sendiri.
Maka pada tahun 1979 akhirnya Bambang berdiri sendiri. Tujuh perusahaan di bawah Kita Grup adalah PT Kedawung Setia Industrial, PT Kedawung Setia Corrugated box, PT Kasih Sejahtera (Hotel Regent's, Malang), PT Windu Utama-Banjarmasin, PT Anglomas Internasional bank (bank Amin), PT BPR Anglomas Indah, PT Kita Makmur Metal Industrial. ( Surabaya Post )
(Hadi Suyitno)
Posted in: Masuk Islam YukHidayah di Ujung Pencarian : Ita Luthfia (d/h Margarita Librariana)
Pencerahan itu muncul di usianya yang ke-23 tahun, saat Ita Luthfia berburu dengan waktu menyelesaikan skripsinya di Fakultas Komunikasi Universitas Padjajaran. Diktat-diktat yang diterima salah seorang dosen senior – seorang non-Muslim juga seperti dirinya saat itu -- di universitasnya, menggelitiknya untuk turut membaca. Isinya mengenai doktrin ketuhanan agamanya. Sampai di diktat ketiga, sang dosen menyatakan berhenti membaca. “Iman saya bisa terpengaruh,” ujar Ita menirukan sang dosen. Namun Ita yang mempunyai nama asli Margarita Librariana ini justru semakin penasaran. Ia seperti diajak mengenali kembali agama yang dianutnya.
Diktat itu menghidupkan logika saya yang puluhan tahun mati. Saya seperti dibukakan mata dan hati. Sampai akhirnya di satu titik, saya menyatakan diri atheis,” ujar praktisi hubungan masyarakat ini kepada Republika yang menemuinya di rumah mungilnya yang ditata seperti sebuah apartemen itu. Setahun Ita tak beragama.
Dalam masa setahun itu, mantan manajer public relation sebuah perusahaan elektronik papan atas asal Korea Selatan ini mulai mencari agama. Setiap kali ke kampus mencari buku-buku untuk keperluan skripsi, ia seperti dituntun untuk menuju koleksi buku-buku agama. Tangannya juga seperti digerakkan untuk mendapatkan buku-buku yang menenuhi rasa ingin tahunya dan mengobati dahaga rohaninya.
Ternyata Islam adalah jawaban dari pencarian saya,” ujar Ita kemudian. Konsep ketuhanan dalam Islam, kata dia, paling masuk akal. Tuhan itu ada satu, dan tidak beranak atau diperanakkan. Ide-ide dalam ajaran Islam juga klop dengan dirinya. Ia merasa hidayah Allah telah mencerahkan hati dan pikirannya.
Namun untuk menyatakan keislamannya, ia belum berani. Apalagi keluarganya sangat agamis. “Apa kata mama kalau anaknya menjadi Muslim,” kata Ita, tentang pertentangan batinnya saat itu. Ia memang sangat dekat dengan sang mama dan sangat menghormatinya.
Ia menyimpan semuanya sendiri. Bahkan, ia mengunci rapat-rapat niatnya itu dari para sahabatnya.
Hingga suatu hari, ia mempunyai keberanian untuk mengikuti pengajian ibu-ibu di rumah seorang temannya. Pematerinya adalah ulama Bandung bernama Bahrul Hidayat. Di sanalah, tanpa direncana, tercetus keinginannya untuk masuk Islam. Bertempat di masjid agung Kota Bandung, ia bersyahadat dan mengubah namanya menjadi Ita Luthfia.
Malam itu juga, ia menceritakan para orang tuanya telah menjadi seorang Muslim. Awalnya mereka kaget. Namun lama kelamaan bisa menerima. “Saya mengingat betul pesan pak Bahrul, jangan sedikit pun berkata keras pada orang tua, tetap menjaga hubungan baik dan menyayanginya. Pendek kata, jangan ada sedikit pun yang berubah,” kata dia.
Ita beruntung mempunyai keluarga yang toleran. Pluralitas bukan hal aneh bagi keluarga ini. “Mama bisa menerima saya, kendati saya berkerudung sekarang,” Ita mengucapkan dengan senyum tersungging di bibirnya.
(Di tengah wawancara, Mutiara Anisa, buah cinta Ita dengan La Tofi, meminta telur goreng kesukaannya. Ita bergegas ke dapur dan dengan cekatan menyiapkan menu kesukaan anaknya itu, tak sampai 10 menit. Senyum mengambang di bibir Nisa begitu sang mama membawa piring makan siangnya. Kedua tangannya terangkat ke dada, dan dia membaca doa makan dengan fasih. Setelah membasuhkan kedua tangan ke mukanya, Nisa mulai menyuap sendiri makanannya, hal yang tidak biasa untuk anak berusia kurang dari tiga tahun)
Dia (Nisa, red) mengajarkan saya arti bersabar, tawakal, dan akhlakul karimah,” ujar Ita. Karena pernah keguguran, ia menjaga kehamilan Nisa dengan lebih hati-hati. Selama hamil, ia juga menjaga perilakunya. “Nisa harus menjadi anak yang berakhlak mulia dan mempunyai kepedulian yang tinggi pada sesamanya.
Ita memegang teguh teori berbagi dalam Islam, bahwa dalam harta yang kita miliki terdapat hal orang lain. “Kebanggan bagi saya bila bisa berbagi dan memberi,” kata wanita kelahiran bandung, 12 Oktober 1969 ini. Ia mengacu kebiasaan Fatimah (putri Rasulullah SAW) yang hanya menyisakan sedikit untuk dirinya dan menyerahkan sebagian lainnya untuk kemaslahatan orang yang membutuhkan.
Niat untuk mendidik Nisa dengan baik pula yang membuat wanita yang belasan tahun malang melintang di dunia kehumasan ini berhenti dari segala aktivitasnya. Sesekali ia keluar rumah untuk mengerjakan sebuah proyek, namun selebihnya ia lebih banyak di rumah. Apalagi kantor La Tofi Enterprise yang dibesarkannya bersama suami juga berada di kompleks yang sama dengan tempat tinggalnya, di Rusun Harum, Tebet, Jakarta Selatan. “Semoga selalu berkah dan dilancarkan oleh Allah,” ujarnya, tentang usaha publishing, konsultan PR, dan audiovisual work ini.
Posted in: Masuk Islam YukYahya Yopie dan Keluarganya, Mantan Pendeta Yang Memeluk Islam
Masuknya Yahya ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya. “Tapi cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain,” pungkasnya.***
dari http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=40935
Posted in: Masuk Islam YukAgama dan Kesehatan
(Patrick Glynn, 80-81).
Jurnal ilmiah penting di dunia kedokteran dengan nama International Journal of Psychiatry in Medicine melaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak beragama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.
Tidak hanya itu, para pakar psikolog sekuler juga cenderung merujuk kesimpulan yang sama sebagai “dampak kejiwaan”. Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa.
Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard yang menghasilkan kesimpulan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagai-mana keimanan kepada Allah. (Herbert Benson, and Mark Stark, 203)
Agar kualitas jiwa manusia selalu searah dengan iman kepada Allah, maka perlu banyak usaha yang dilakukan. Usaha ini tidak hanya lahir saja, namun juga pasa aspek batin yang abstrak. Disebutkan dalam buku “Madrasah Pendidikan Jiwa” para tabi’in mengadakan enam usaha peningkatan jiwa sebagai berikut:
Hawa nafsu yang ganas cenderung menutupi fungsi akal dan mengendalikannya. Dibutuh-kan kekuatan yang besar untuk menghancurkannya. Kekuatan ini berpusat takut kepada Allah, terbukanya segala kesalahan di hari kiamat, dan takut kesengsara-an di akhirat. Allah swt. berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (an-Naazi’aat: 40-41).
Imam Qurthubi menuturkan perkataan Mujahid untuk mengomentari firman Allah pada ayat ini, “Yaitu takutnya di dunia kepada Allah azza wajalla ketika berada di lembah-lembah dosa dan ia terperosok di dalamnya. ‘Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu’, yaitu menahan dari perbuatan maksiat dan hal-hal yang diharamkan.”
2. Berjiwa Sabar
Jiwa asalnya cenderung menyuruh kepada kejahatan, enggan menetap, terikat, dan senang berpindah-pindah, serta lepas dari kendali. Jiwa juga tidak suka diperintah seseorang terhadap yang dibencinya, atau membatasi gerakannya. Oleh karenanya, ia memberi kecintaan pada pemiliknya untuk santai dan berleha-leha. Allah swt. berfirman, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.”(al-Kahfi: 28)
3. Mengendalikan Nafsu
Surga seolah menjadi tertutup dengan hijab, dan hijab ini bukan dari kulit, sutera, atau jenis-jenis kain penutup lainnya, tetapi terhijab dari hal-hal yang dibenci. Oleh karena itu, penutupnya tidak hanya satu tetapi banyak. Dan hijab yang beragam dengan corak-corak yang beragam, serta warna-warni yang berbeda, karena pada setiap musibah ada warna tersendiri, pada setiap ujian ada corak tersendiri. Maka, tidak mungkin seorang mukmin sampai ke surga, kecuali dengan menyingkap hijab-hijab ini seluruhnya.
Penyingkapan hijab-hijab itu terkadang membutuhkan waktu yang lama. Sulitnya menyingkap hijab dari hal-hal yang dibenci ini, acap kali mendorong pemiliknya untuk bermalas-malasan dan santai. Ridha terhadap aib yang ada pada jiwa mereka dan apa yang dikerjakan, tanpa adanya tambahan amal. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw., “Surga ditutupi (dihijab) dengan hal-hal yang dibenci, dan neraka ditutupi dengan syahwat-syahwat.” (HR Bukhari)
4. Tawakal
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna tawakkal. Namun, pendapat mereka semua bermakna menyerahkan segala sesuatu kepada Allah ta’ala dan dengan keyakinan atas kekuasaan-Nya dapat memenuhi segala kebutuhannya.
Dari Muhammad bin Abi Imran berkata, “Aku mendengar Hatim yang tidak dapat mendengar ditanya seseorang, ‘Dengan apa engkau membangun perkaramu dalam bertawakal kepada Allah?’ Ia berkata, ‘Pada hal-hal berikut: aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan oleh selainku, maka tenanglah jiwaku; Aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh selainku, maka aku sibuk dengannya; Aku tahu kematian pasti mendatangiku kapan saja, maka aku berisap-siap untuk itu; Aku tahu, aku tidak pernah lepas dari pandangan Allah di mana pun aku berada, maka aku malu kepada-Nya jika terlihat sedang melakukan maksiat.’” Demikianlah Empat hal dasar budi pekerti yang dibangun ulama dalam hal tawakal.
5. Introspeksi Diri
Introspeksi ini tidak mungkin dimulai tanpa perhatian dan siaga terhadap gerak-gerik jiwa ini. Menghinakan sebelum dihinakan orang lain dan tidak mencari aib-aib mereka. Jika pengoreksian diri tidak kita lakukan, niscaya kita hanya melihat kesalahan-kesalahan orang lain dan buta dengan kesalahan diri.
Termasuk dari instropeksi adalah melihat kejahatan diri sendiri ketika melihat ‘keabadian’ dunia dengan segala gemerlapnya. Kita sering terbujuk dengan hiasan dan permak dunia. Inilah peperangan seorang mukmin dengan jiwanya yang menyuruh berlaku jahat dan melupakan nikmat-nikmat surga. Padahal kita semua yakin bahwa dunia hanyalah sesaat dan tiada manusia itu hidup di duia kecuali hanya “mampir ngombe”.
Introspeksi tidak hanya terbatas pada introspeksi terhadap maksiat dan peremehan terhadap bahaya maksiat. Namun, meliputi berbagai hal, sampai pada ketaatan, menjauhi bangga diri, meremehkan orang lain dari kebenaran, dan lain sebagainya. Inilah jenis introspeksi== yang diungkapkan kepada kita dari Ibrahim bin al-Asy‘ats dari ‘Abidil Haramain (Imam Malik) dalam khalwat (menyendiri) bersama jiwa.
Keselamatan Dunia Akhirat
Musibah yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala di dunia ini adakalanya ditimpakan kepada orang-orang sholeh, sebagai ujian agar derajat mereka semakin tinggi dan mulia di hadapan-Nya. Ada pula musibah itu dijatuhkan kepada orang-orang yang telah banyak berbuat dosa, sebagai peringatan agar mereka segera tersadar dan kembali ke jalan yang diridlai-Nya.
Namun, ada juga orang-orang yang telah banyak bikin kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah, tapi mereka sama sekali tidak ditimpa musibah. Mereka inilah orang-orang yang memperoleh istijroj dari Allah. Allah ta’ala berfirman:
Jika terdapat orang berbuat kedhaliman, tapi secara lahiriyah ternyata dia masih tetap merasakan hidup tenang dan tenteram, itu bukan berarti kedhaliman orang ini telah diampuni Allah. Rasulullah menjelaskan status orang tipe ini:
Untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat, Syekh Imam Abu Hasan Asy Syadzili (dalam kitab Al Mafakhir) mengajarkan kepada kita agar melanggengkan bacaan:
Bacaan dzikir di atas akan mendorong pembacanya untuk senantiasa mengakui dan bersyukur terhadap berbagai macam kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah, terutama nikmat Islam dan Iman. Sebagai seorang mukmin kita sama sekali tidak boleh mempunyai perasaan aman dari tergelincirnya keimanan (su’ul khatimah). Kita harus senantiasa waspada dan hati-hati. Berusahalah mengambil pelajaran apa yang telah menimpa Bal’am. Seorang yang pada awalnya pernah mencapai maqom waliyullah, tapi kemudian keimanannya tergelincir di akhir hayatnya (su’ul khatimah). Mensyukuri atas kenikmatan yang diberikan Allah berupa keimanan secara tidak langsung berarti berupaya mempertahankan keimanan itu agar tidak lepas dari jiwa kita.
“Syukur itu mengikat sesuatu yang diperoleh dan memburu sesuatu yang hilang.”
Dzikir di atas juga mendorong pembacanya untuk selalu menyesali diri dari segala perbuatan dosa. Sebagai seorang manusia kita tentu akan selalu tergoda melakukan perbuatan dosa. Oleh karena itu, dosa-dosa itu hendaknya dihapus dengan meminta ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Jika seseorang meminta ampunan kepada Allah, maka Dia tidak akan meng-adzabnya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
Jadi dengan demikian, membaca dzikir di atas berarti sama dengan berupaya mencari keselamatan di akhirat (dengan membaca Alhamdulillah), dan keselamatan di dunia (dengan membaca Astaghfirullah). Dan keselamatan di dunia dan akhirat itu tidak akan tercapai tanpa pertolongan dari Allah (dengan membaca La haula wala quwwata illa billah).
Posted in: WALIYULLAH-SUFI-TASAWWUFMengapa harus terjadi PERCERAIAN INI
Perkawinan dapat menumbuhkan manfaat-manfaat seperti terwujudnyanya ketenangan hati (sakinah), rasa kasih sayang (mawaddah wa rohmah), terarahnya ritme kehidupan, peningkatan semangat beribadah dan lain-lain. Manfaat-manfaat seperti ini sulit didapat kecuali dengan menikah, dan hanya bisa diperoleh dari orang yang menjadi pasangan hidupnya, dan tidak mungkin tergantikan oleh orang lain, kendati itu orang tuanya sendiri.
Seorang duda atau janda walaupun mereka bergelimang harta, dalam jiwanya hampir pasti ada perasaan hampa, ada sesuatu yang hilang dalam dirinya, kekosongan, hidup terasa kering dan seakan tanpa makna. Karena tidak ada orang yang memberi support, motifasi, perhatian dan kasih sayang sesuai keinginannya. Dalam Al Quran surat Ar Rum ayat 21 Allah menjelaskan, ”Dan di antara tanda tanda kekuasaan-Nya adalah Ia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu tertarik dan tentram dengannya dan Ia jadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berfikir."
Dari ayat di atas nampak jelas manfaat sebuah perkawinan, yakni sakinah, mawaddah wa rohmah. Oleh sebab itu bila dalam sebuah mahligai perkawinan sudah benar-benar sudah tidak ada rasa cinta kasih dan saling menyayangi, maka lebih baik bercerai (Lihat tafsir showi juz III hal. 302).
Hal ini bisa terjadi karena salah satu manfaat dari perkawinan sudah tidak ada lagi. Dikhawatirkan masing-masing pasangan akan mencari orang lain sebagai pelampiasan ketidakpuasannya. Pendapat ini didukung oleh sebagaian ulama berdasar surat An Nisa ayat 19. Ulama yang menganjurkan bercerai, merujukkan dhomir fiihi pada ayat diatas pada lafadz al firoq (lihat tafsir Ar Rozi juz 5 hal:14), hukum yang demikian ini bila suami benar-benar tidak sanggup menahan kesabaran terhadap kelakuan istrinya. Tetapi bila seorang suami masih sanggup menahan kesabarannya maka yang lebih baik baginya meneruskan perkawinan tersebut, karena yang demikian ini mengandung banyak kebaikan (kaoiron katsiron), berupa pahala yang besar di akhirat kelak atau berupa anak yang bisa menghibur dirinya dari kejelekan akhlak istrinya (lihat tafsir Ar Rozi juz 5 hal. 14, tafsir As Showi juz I hal. 280 dan Rowai’ul Bayan juz I hal 370).
Hukum-hukum Bercerai:
1. Wajib, seperti perceraiannya orang yang sumpah iila’ (bersumpah untuk tidak menggauli istrinya).
2. Sunat, seperti perceraiannya suami yang tidak mampu bersabar terhadap kejelekan akhlak istrinya atau karena istrinya tidak mampu menjaga kehormatan agama dan dirinya (ghoiru ‘afifah), atau suami yang tidak sanggup memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami (Al ‘Ajz Anil Qiyaami bi Huquqiha).
3. Haram, seperti talak yang dijatuhkan pada saat suci oleh seorang suami pada istrinya yang telah dijima’ pada waktu suci tersebut. (lihat Tarsiihul Mustafidin ala hasyiyati fathil mu’in hal:334).
Sebab-sebab Perceraian
Perceraian suami istri itu adakalanya disebabkan oleh masalah intern namun ada pula disebabkan oleh faktor dari luar, ekstern. Perceraian yang disebabkan masalah internal suami-istri itu bisa terjadi, karena beberapa hal, antara lain, pertama, ketidaksetiaan (suami atau istri selingkuh). Kedua, problem ekonomi, karena suami tidak sanggup memenuhi tuntutan istrinya yang di luar batas kemampuannya. Ketiga, istri tidak lagi patuh dan taat pada suami. Keempat, istri tidak lagi memperhatikan urusan rumah tangganya, ia terlalu sibuk dengan kegiatannya di luar rumah sehingga suami dan anak-anaknya terlantar. Kelima, kecemburuan. Sebenarnya ia bisa menjadi bumbu cinta, selama tidak berlebih-lebihan. Sebaliknya bila dilakukan secara berlebih-lebihan akan berakibat mafsadah (kerusakan). Keenam, tidak adanya rasa cinta kasih antara keduanya, sehingga perceraian menjadi sangat sulit untuk dibendung kecuali bagi suami istri yang segera menyadari kesalahan dan segera merubah tindakannya.
Adapun faktor-faktor eksternal itu seperti campur tangan orang tua atau keluarga dalam menentukan kebijakan-kebijakan keluarga yang kadang-kadang bisa mendorong terjadinya perceraian. Namun ancaman perceraian yang disebabkan oleh faktor ini lebih mudah untuk diatasi, karena antara suami istri masih ada kecocokan, selama pihak luar tidak ikut campur tangan yang terlalu dalam terhadap kemelut yang terjadi dan tidak mem-pressure (memberi tekanan) pada pihak-pihak yang bertikai.
Tidak salah bila ada orang yang mengatakan bahwa perkawinan itu ibarat lautan. Bila diamati dari pantai, ia akan nampak indah dan menyenangkan, tapi di tengah laut yang luas, kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan setiap saat siap saja membuyarkan lamunan indah. Ombak, badai, hujan dan serangan hewan laut bisa saja meluluh lantakkan harapan yang kadung terhamparkan. Tapi itu semua itu baru sebuah kemungkinan yang belum tentu menjadi sebuah kenyataan, sehingga tidak perlu takut yang berlebihan. Apalagi sampai menjadi momok dan hantu yang menyeramkan, membuat kita menjadi ketakutan untuk menjalani pernikahan.
Jadi nampaknya benar apa yang dikatakan orang bijak, bahwa bila sudah mempunyai niat untuk menikah, maka jangan hanya melihat gampange (enaknya) saja, tapi lihat juga gampenge. (jurang yang terjal di pinggir gunung), sebab di sana tidak hanya ada seneng (senang) saja, tapi juga ada senepnya (susahnya). Perlu berpikir matang untuk menjalaninya dan perlu kesiapan mental untuk melakoninya. Harus mempertimbangkan untung rugi dan positif negatifnya, sehingga bila sudah dijalani dan ternyata harus berpisah karena beberapa sebab, hendaklah perpisahan itu merupakan pilihan terakhir dan terbaik, yang merupakan hasil dari istikhoroh dan perenungan yang dalam. Sebab, apapun alasannya, perceraian adalah menyakitkan dan sangatlah menyakitkan. Menimbulkan luka yang sangat dalam bagi pelakunya, dan butuh waktu yang panjang untuk menyembuhkan luka dan menghapus traumanya.
Posted in: WANITA


ibnu arif

