31.3.12

Kematian Mendidik Kehidupan

Ngaji Ihya’
“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Cukuplah kematian itu sebagai nasehat bagi orang yang hidup, karena kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tidak menyimpang. Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan oleh kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Dengan begitu mengingat kematian dapat mendorong meraih sukses dalam kehidupan.

Namun, ironisnya, kebanyakan manusia justru lebih suka melupakan kematian. Hidup dan kematian, bagi mereka, seolah dua lembah yang saling berpisah. Satu sama lain seperti tak berhubungan. Mereka mengatakan, bersenang-senanglah di lembah yang satu. Dan, jangan pedulikan lembah lainnya.

Mereka kurang menyadari bahwa, kematian adalah garis pemisah antara panggung kepura-puraan dengan kehidupan sebenarnya. Garis yang memisahkan aneka lakon dan peran dengan sosok asli seorang manusia. Garis yang akhirnya menyatakan kesudahan segala peran dan dikembalikannya segala alat permainan.

Sayang sekali, tak sedikit manusia yang lebih cinta dengan dunia kepura-puraan. Mereka pun berkhayal, andai kepura-puraan bisa berlangsung selamanya. Bisa berpuas diri dengan aneka lakon dan peran. Tanpa disadari, kecintaan itu pun berujung pada kebencian. Benci pada kematian.

Allah swt menggambarkan orang-orang yang enggan dan lari dari kematian. Seperti dalam firmanNya di surah Al-Jumu’ah ayat 8, Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."

Ketakutan adalah alasan yang paling lumrah buat mereka yang tidak suka mengingat kematian, bahkan berusaha lari dari kematian. Banyak alasan kenapa harus takut. Salah satunya, mereka takut berpisah dengan kehidupan. Bagi mereka, perpisahan ini berarti usai sudah pesta kenikmatan. Karena kehidupan sudah terlanjur mereka terjemahkan sebagai kenikmatan.

Selain itu, ada ungkapan batin yang tidak mereka sadari. Bahwa, mereka enggan berjumpa dengan Allah, sebagaimana mereka selalu menghindar dari perjumpaan dengan Allah dalam ibadah yang mereka lakukan. Keengganan itu sebenarnya bukan cuma milik mereka. Karena Allah pun enggan bertemu mereka, manakala mereka juga enggan bertemu dengan-Nya. "Diceritakan oleh Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa menyukai bertemu Allah, maka Allah juga senang berjumpa dengannya. Sebaliknya, siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun enggan berjumpa dengannya." (HR. Ahmad)

Keengganan itu sangat bertolak belakang dengan kerinduan yang diungkapkan seorang sahabat Rasul, Hudzaifah. Ketika tak lama lagi ajal kematian menyambang, beliau r.a. berujar, “….Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan itu lebih baik bagiku daripada kekayaan, sakit itu lebih baik daripada kesehatan, dan mati itu lebih membuatku bahagia daripada hidup, maka permudahkanlah kematian itu untukku. Sehingga aku dapat bertemu dengan-Mu.”

Atau boleh jadi ketakutan terhadap kematian lebih karena ketidaktahuan. Persis seperti anak kecil yang lari ketika diminta mandi. Karena yang diketahui si anak tentang mandi tak lebih dari dingin, dipaksa ibu, dan berhenti dari permainan. Begitu pun tentang kematian. Kematian bagi mereka tak lebih dari rasa sakit, berpisah dengan keluarga, harta dan jabatan; serta rasa kehinaan ketika jasad terkubur dalam tanah.

Di situlah perbedaan mendasar antara hamba Allah yang baik dengan yang buruk. Abdullah bin Umar pernah mendapat pelajaran tentang kematian dari Rasulullah saw.

“Aku bersama Nabi saw, kemudian, ada seorang dari kaum Anshar bertanya, ‘Siapakah di antara orang-orang mukmin yang paling mulia, wahai Rasul?’ Beliau saw menjawab, ‘Yaitu, orang yang paling bagus budi pekertinya'. Sahabat itu bertanya lagi, 'Siapa di antara orang-orang mukmin yang paling pandai?' Rasul menjawab, 'Yaitu orang yang terbanyak ingatnya kepada kematian, dan yang paling siap menghadapi kematian. Itulah orang-orang yang pandai.” (HR. Ibnu Majah)

Bagi hamba Allah, tak ada kemuliaan apa pun kecuali dari tetap menjaga ingatannya dengan kematian. Bahkan, seorang yang berada pada puncak kekuasaan sekalipun. Setidaknya, itulah yang hendak diungkapkan seorang Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Hampir sepanjang usia kekuasaannya, tak pernah ia lewatkan satu malam pun untuk mengingat kematian. Caranya begitu manis. Ia panggil para pakar fikih, lalu satu sama lain saling mengingatkan tentang kematian, hari kiamat, dan kehidupan akhirat. Kemudian, semuanya pun menangis. Seakan-akan, di samping mereka ada jenazah yang sedang ditangisi.

Itulah mungkin, kenapa Khalifah yang punya kekuasaan luas ini menjadi sosok yang terpuji. Semasa kekuasaannya, hampir tak satu pun rakyatnya yang mengeluh. Mereka hidup sejahtera. Dan inilah sebuah bukti, betapa hidup Umar bin Abdul Aziz begitu berarti ketika kematian menjadi pengingat sejati.

Jadi sebenarnya, kematian itu sungguh berarti bagi sebuah kehidupan. Kematian dapat selalu memberi peringatan, agar kehidupan tetap menjadi sesuatu yang berarti. Sebaliknya, kehidupan juga mengingatkan kematian, sehingga menjadi sesuatu yang dinanti. Kematian mendidik kehidupan, dan kehidupan merindukan kematian. (Shm)








Management syahwat

Artiket ini mungkin akan mengusik ketenangan "pemahaman" anda selama ini tentang hidup dan kehidupan, barangkali. Boleh jadi gelombang radiasi dari obyek bacaan yang sedang anda hadapi ini akan mengejutkan anda, lalu mengrenyitkan kening. Bahkan sengatan elektro maknetik radiasi dari obyek asing bagi anda ini akan membuat anda kaget dan sedikit tersadar. Setelah itu, harapan saya, anda tetap terjaga dalam intensitas pemikiran di sela-sela kesibukan. Bukan kembali lagi dengan bunga-bunga mimpi tidur. Semoga.

Setiap individu, tidak perduli apakah itu gugusan bintang-bintang yang tersebar dalam hamparan luas di cakrawala yang disebut great wall (tembok raksasa) dengan perkiraan luas mencapai 500 juta tahun cahaya, atau se-zaroh partikel etementer cahaya (foton) yang keberadaannya tidak dibisa diidentifikasi dalam satu waktu dengan berbagai mekanika fisika yang ada, yang memenuhi sistem hampa udara, ditakdirkan oleh Tuhan untuk dapat menjadi diri sendiri dan memperkaya kandungan jati dirinya yang tersimpan (innersial).

Ini bukan sesuatu yang diasumsikan dan tidak pula hasil deduksi dari jenis manusia. Tetapi suatu kemutlakan titah Tuhan; menurut asumsi absolut Tuhan sendiri (peringatan! Kalau anda tidak faham, anggap saja kita sama-sama baru memahami), manusia atau individu di jagad raya tidak punya pilihan, walau dimungkinkan fenomena protes dan pembangkangan. Lucunya, arena dan wacana pembangkangan itu tidak bisa keluar dari dimensi "ruang-waktu". Pembangkangan dalam lingkup ruang terkait dengan garis bujur, terpola di dalam medan tempat, dan arena yang tetap terkena hukum gravitasi. Pasti. Inilah pembangkangan horizontal secara spesifik terkait dengan maalim-maalim (identitas) syariat; ngutil, nyopet, maling. merampok, garong, sogok dan nyogok, madat, madon dan lain-lain yang mencerminkan kerendahan naluri hewaniah dan nabati.

Sedang pembangkangan dalam sekup waktu terseret oleh garis lintang. Naik bersinergi dengan kecepatan cahaya, berpetualang pada ruas jagad yang -katanya- menjebol hegemoni daya tarik bumi. Inilah pembangkangan vertikal terkait dengan struktur otak dan pengembaraan spiritual; komunisme, kapitalisme, sosialisme, dan seambrek gerakan spiritual yang terobsesi oleh penyegaran dimensi ruh.

Kalau hanya sampai disitu maksimalitas individu dalam mengadakan pembangkangan, maka menurut asumsi mutlak Tuhan pembangkangan ini masih terjadi dalam wilayah kerajaan-Nya yang otomatis atas sepengetahuan dan izin Tuhan walau tidak diridoi. Bisa jadi pemberontakan itu melepaskan diri dari hukum Tuhan, kekuasaannya?

Manusia sedang dan untuk berikutnya senantiasa mencari diri mereka sendiri. Spektrum pencarian terasa menyebar (istilah kita manusia banyak keinginannya). Tuhan memperingatkan dan peringatan ini adalah haq dari titah Baginda Rosulullah SAW. bahwa segala intentitas selain Allah ta'ala adalah kosong (batil), segala gerak dan aktifitas yang melenceng dari orientasi yang ditetapkan-Nya akan mengembara dan tersesat serta tidak akan kembali (artinya segala upaya dan usaha muspro ora keno ditilik no akherate). kasihan pencarian hanya berakhir sebagai bentuk bunuh diri terselubung.

Dunia dan seisinya, termasuk kita sebagai individu diciptakan dalam kuantitas dan kualitas haq, tidak untuk permainan dan gendoyaan. Itu asumsi titah Tuhan yang ditujukan khusus makluk-maklukffya agar terserap dalam keyakinan mereka dan termanifestasikan pada keseriusan mengembang amanat dan tugas. Jadi hak untuk dunia dan seisinya. Tetapi bagi sifat-sifat wahdaniyat dan mukholafatullil khawadist-Nya, dunia dan seisinya adalah banyolan atau permainan belaka, yang bermain dan bergerak adalah Dia, Sang maha raja seru sekalian alam.

Membaca kalimat terakhir ini mungkin anda memotong, "..... Jangan memasang persepsi pada Tuhan yang konyol seperti itu, masak Tuhan bermain dan mempermainkan hidup serta kehidupan makhtuk," tukas anda. Kalau anda memotong kalimat semacam itu saya juga menjawab, "Memangnya Tuhan itu mendapat tugas dari siapa sehingga mengharuskan Dia harus bersusah payah untuk serius dan bersungguh-sungguh segala. Bukankah mendapatkan sehelai sayap nyamuk itu sama mudahnya bagi Tuhan dengan mendapatkan jagad raya dan seisinya."

Bukti nyata lagi untuk mendukung sementara pilihan saya bahwa dunia ini serba permainan adalah kita sering kecele dengan apa yang kita anggap tepat, benar, logis, dan pasti yaitu maraknya universitas dan perguruan tinggi, ramainya permodalan dan investasi, hiruk pikuknya promosi dan ikian, jubel dan sesaknya jalan trotoar oleh gambar dan reklame. Belum lagi aneka ragam dan bentuk kursus dan pelatihan. Dari mana dan apa motivasinya tidak jarang out put yang dirasakan (bahkan oleh pelaku sendiri) adalah nol sekian persen, kalau tidak disebut nol besar.

Energi tidak bisa Dimusnahkan
Sebagian teman mungkin akan dapat menebak ke arah mana artikel ini diharapkan. Tetapi saya tidak yakin, walaupun arah cahaya dapat dibelokkan sebagaimana disaksikan oleh para ahli fisika pada tahun 1919 saat terjadi gerhana matahari di daerah bagian Amerika Serikat, tetapi radiasi yang muncul dari manusia adalah misterius. Sulit ditebak dan lebih tergantung pada kepentingan tertentu. Makanya manusia dapat dikategorikan zone politicon (binatang cerdik); lebih dari sekedar kancil dalam dongeng masa kecil kita yang kecerdikannya terbatas pada areal sawah yang berisi buah mentimun. Sedangkan kejelekan manusia? Mohon jawab sendiri. Itulah fisika diambil dari physic, yang artinya watak (tabiat). Sepanjang manusia senantiasa mengikuti alur dan ritme dorongan nafsunya, tekanan tabiat dasarnya, maka manusia didominasi oleh karakter incertainly (tiada kepastian) tergantung ruang dan medan yang dikenai.

Itulah salah satu "kandungan" di antara kandungan-kandungan yang terselip pada tumpukan jerami materi tubuhnya. Saya menyebut energi. Anda bisa menyebut daya sebagian lagi mengatakan gaya. Dan dalam kultur kitab kuning sering menyebut hillah (rekodoyo). Tetapi diantara yang paling pas dengan onggokan tubuh wadak, struktur materi yang terjaring dalam sistem anatomi makhluk mulia ini adalah istilah syahwat. Salah seorang karib sekaligus kerabat saya, salah seorang insinyur pertanian dari sebuah Universitas yang dikelola oleh para mantan perwira Angkatan Darat, yang daripadanya saya belajar tentang wacana intercainly manusia: wong insinyur pertanian ternyata yang ditangani, dikelola, dan dari situ potensi bawaanya membawa hasil untuk pencaharian keluarga adalah hal-hal yang berbau kertas dan lem serta dunia industri kecil yang menghasilkan produk dan bergerak pada ruang kelas dan kantor. la kaget tentang pengertian syahwat yang saya sodorkan. Dalam pemahaman konvensional selama ini dan -katanya meyakinkan- semua orang juga mengatakan begitu bahwa syahwat itu spesifik untuk dorongan nafsu yang terfokus pada energi kelamin. Maka tidak salah bila timbul istilah-istilah nafsu syahwat, lemah syahwat, syahwat kecil atau syahwat luar biasa. Benar-benar jantan dan perkasa, bahkan sebagian produksi jamu melahirkan promosinya "dan bikin kuat seperti Kuku Bima," dan yang terakhir kita masih ingat sebuah iklan di televisi yang dimainkan oleh seniwati Diah Pitaloka dengan atraksi suaranya yang "meooooong." Coba bayangkan, dunia telah mendistorsi sebuah makna yang luas menjadi sempit. Sebuah makna yang hampir bisa dikenakan untuk kehendak naluri lantas hanya dijadikan sebuah bungkus, seperangkat lebel yang semuanya menjurus pada kebutuhan biologis pada level top screet (aurot), yaitu kebutuhan kelamin. Saya yakin sebagimana juga anda menyadari, tidak ada sesuatu yang tiba-tiba membuat seorang begitu hidup dan bersemangat dibanding dengan urusan ini. Itu bukan urusan asumsi tapi kesimpulan, bahkan firman mutlak Tuhan. Soal perempuan, di dalam Al-Quran, menempati rengking pertama dari keunggulan dan keperkasaan gravitasi yang ditimbulkannya. Setelah itu secara urut anak-anak, mas, perak, kendaraan, dan tanah pertanian.

Tetapi syahwat dalam esensi proporsional adalah keseluruhan dari kandungan dalam diri manusia. Dari situ ia dihidupkan dan dengan itu pula manusia menjalin kehidupan. Tetapi bukan satu-satunya dalam ekspresi dan manifestasinya. Sebab syahwat, energi bawaan, kandungan asal, kalau boleh -semoga tidak dimarahi oleh penemu bom atom nuklir, pencetus teori relativitas mbah albert Einsten- disebut masa (innersial). Asal peletakan makna syahwat adalah menjadi perhiasan dunia. Namun ia bisa baik sepanjang tertata, ia potensial untuk menjadikan dan mengembangkan kepribadian manusia dalam bentuk kemanusiaannya, kalau dikendalikan.

Syahwat duniawiyah adalah syahwat yang menyebar, melorot turun disebabkan oleh masa yang berada pada pengaruh medan gravitasi yang kita lihat. Saat anda melihat wanita tidak jarang konsentrasi kita menyebar. Melihat anak, rasa kasih kita pun segara turun. Melihat harta benda dan keberhasilan semanaat kita juga turun.

Anda Perlu Bukti?
Sampai di sini barangkali anda kaget ke mana arah tulisan ini, saya jawab ke arah suatu tujuan yang menjebol diterminisme otak; pengotak-kotakan otak yang sempit baik kiri atau kanan menuju pada aktualitas kejiwaan yang penuh vitalitas energik dan berorientasi pada keluruhan dan kemuliaan hidup. Yang ini berarti kita bermain dengan kecepatan cahaya (Nur Ilahiyah). Dimanakah dan bagaimanakah cahaya itu dapat kita dapatkan ? Gampang saja.

Pertama: atur pernapasan sesering mungkin. Sadari keberadaan signifikansinya pada tubuh dan proses berpikir anda. Perlu anda ingat dalam kamus tulisan ini kesadaran yang sejati adalah kesadaran yang meningkat, Dan itu tidak bisa terjadi kecuali nur ilahiyah menyertainya. Itulah kesadaran untuk bersyukur. Bersyukur bahwa nafas (ruh ) itu anugrah Tuhan yang nilai jualnya tidak bisa ditaksir dengan materi. Hanya orang-orang yang gila secara medis sajalah yang mau dicekik supaya tidak bernafas. Melatih pernafasan, kalau hanya dibatasi demi kesehatan itu kembalinya pada nilai syahwat tingkat rendah pula. Tidak! kurang professional dari sudut kualitas kemukminan anda. Bukan berarti tidak baik, siapa bilang? Tanpa latihan yoga, meditasi, senam pernafasan dan lain-lain nama yang menjamur dewasa ini toh anda tetap sehat, fit, berenergi dan aktif sepanjang hari. Bagamana yang professional itu? Yang professional adalah bemafas dengan berzikir.
Bernafas dengan berzikir dalam teknik adalah bukan bernafas saat berdzikir. Semua orang mukmin bisa saja setiap waktu memasukkan dzikir dalam nafasnya. Tetapi teknik berzikir yang mampu mengeksploitasi nafas itu baru namanya melatih pemafasan dengan kesadaran, yang diharapkan darinya adanya kekuatan faidh (radiasi) nur ilahiah dari lafadz yang digunakan berzikir tersebut ke dalam sel-sel otak dan ke dalam struktur qalbu.

Berbicara qalbu saya teringat akan istilah Managemen Qolbu dari Bandung. sebuah nama Yayasan barangkali yang dikomandani oleh dai kondang yang dibesarkan oleh media elektronik, KH. Abdullah Gymnastiar (AA Gym). Saya usulkan agar istitah management qalbu diganti dengan management syahwat saja. Ini usul Iho. Kok dari prespektif tasawuf murni lebih pas dan mengena. Sebab struktur kolbu itu kalau diperas tenaga intinya dan dikemas dalam bingkai-bingkai retorika pidato dan ceramah akan kehilangan sifat lembabnya. la menjadi kering, sebab setiap kalimat apapun itu, sepanjang tidak lafald dzikir akan membawa serapan nur ilahiah yang ada dalam hati. Semakin banyak kalam, banyak bicara semakin terkuras isi hatinya. Untuk mengisinya tidaklah semudah kita mengisi air ke sebuah tong. Kalau hati sudah tidak berisi nur ilahiah, maka yang menguasai adalah gambar-gambar, grafik-grafik hasil proyeksi syahwat, maka yang tepat adalah management syahwat.

Alasan saya ini benar-benar mengadopsi dari fatwa raksasa sufi intelektuil, seorang rektor Al-Azhar Mesir pada abad 10 H. yaitu Syeh Abu Mawahib As-Sya'roni yang menyarikan dan merekomendasikan fatwa tersebut dari perintis-perintis tasawuf sebelum beliau. Pengalaman pribadi temyata bekerja dengan sistem qolbu. Masya Allah beratnya; peka dan sangat sensitif dengan segala gelombang-gelombang radiasi yang dipancarkan oleh medan-medan gravitasi. Ingat medan-medan gravitasi itu adalah perempuan, anak-anak, harta benda, kendaraan, hewan atau mekanis, pertanian dan perkebunan. Saya berani bertaruh dengan saya sendiri di hadapan anda bahwa saya bisa dalam beberapa menit saja mampu mengelurkan air mata anda dengan cara bermain teater dan peran melalui sentuhan doa-doa yang dikemas dalam suasana sedih dan melankolis. Itu kan permainan saja. Lihat saja sinetron.

Bekerja dengan Cahaya
Bernafas dengan berdzikir dalam teknik berarti:

A. Mempersatukan segenap karsa dan rasa dalam satu nuktoh (focus) "ALLAH", membayangkan lafalz Allah masuk dalam hati dan mensirkulasikan kesadaran di level otak atau pikiran dengan spektrum tunggal "Ketenangan dan keheningan" seraya menolak segala bentuk impus dan elektromaknetik radiasi materi dunia, apapun itu. mutlak. Sekali anda membiarkan getaran radiasi "hitam" ini menjalar dalam pikiran, maka konsekwensi logis yang anda rasakan adalah pembiasan konsentrasi dan melorot ke medan gravitasi materi tersebut sehingga mencapai kawasan melar atau menyebar, dan itu berarti rona-rona gambar duniawiyah akan mendepak lafaldz Allah yang baru saja anda tanam di jantung kolbu anda.

B. Kekuatan tanpa I'dath (pertolongan) dari aspirasi Allah SWT. Adalah kekuatan terasing, tersendiri, tanpa bantuan dan mudah patah diterjang oleh berbagai intervensi impus syahwat nafsu yang datang secara bergelombang dengan kecepatn cahaya ssttt.... .sssttttt..........ssssttttttt.......hatipun bubrah dan konsentrasi pun buyar. Karenanya para raksasa intelekktual sufi merekomendasikan bagi para pemula (murid toriqoh atau salik) untuk membayangkan saksiyah sang guru dan menyerap aspirasinya (himmahnya) persis di antara titik kelenjar pituari yaitu daerah pertengahan ujung kedua mata saat sang pemula itu mulai berzikir. Sebab sang Guru sejati itulah yang menjadi medium dari aspirasi Allah SWT. Teknik ini sekaligus memiliki tujuan praktis untuk menandingi munculnya bayangan-bayangan materi non ilahiah. Baru setelah frekuensi meningkat, radiasi dari kalimat dzikir telah menguasai medan jiwa dan merasuki segenap sel pori-pori dan keratan karsanya maka secara dloruri bayangan saksiyah guru tersebut sudah tidak diperlukan. Hal itu dikarenakan kontak langsung dengan aspirasi Allah SWT melalui kalimat dzikir telah bisa diatasi dan sangat menyenangkan (dhoup).

C. Namun agen-agen subversif iblis guna mensabotase jalannya dzikir sang hamba tersebar di setiap tarikan nafas. Hati-hati. dzikir yang cepat, mantap dan penuh energik adalah teknik lain yang direkomendasikan untuk melawan tembakan isu-isu murahan dari makluk pendengki ini. Itu semacam pemetaan pertahanan luar. Sedang yang ke dalam, suara yang keras secara hukum fisika akan memberi daya tekan serta penegangan pada suatu laju kecepatan. Itu berarti frekuensi dzikir semakin meningkat dan gelombang radiasinya akan memanjang yang pada berikutnya akan melingkari dan melilit matra kolbu.

D. Berhenti sesaat, guna menambah volume oksigen dalam kantong paru-paru melalui system pemafasan harus dimaknai sebagai menghirup ulang partikel-partikel cahaya dzikir yang tersebar dan berenang di sekitar ruang tempat dzikir. Dan secara bersamaan menyebarkan efek radiasi dzikir yang ditimbulkan di dalam tubuh ke segenap rasa dan karsa.

E. Bertahan berberapa saat atau berdiam diri dalam penikmatan syahwat llahiah, yang digambarkan bagai seekor kucing yang hendak menangkap buruannya, adalah lah satu rekomendasi hujjatui Islam Imam AI-Ghozali. Itulah makna pemampatan dan kerapatan unsur-unsur radiasi ketuhanan di dalam tubuh dan yang mengelilingi setiap utas urat saraf otak.
Kedengarannya sederhana. Memang. Tetapi sulit untuk memulainya. Disitulah persolaannya. Hanya sebuah tekad yang tinggi, kuat dan membaja sajalah yang dapat mengatasi garis start dan akhirnya mampu menjadi dan memperkaya diri dengan sumber asal kejadiannya, yakni Allah SWT. Ini soal pengincip atau rasa moralitas kerohanian. Bagaimana kualitas pencapaiannya itu sangat tergantung pada "setoran waktu" dzikir yang dipersembahkan; semakin lama, intensif dan konsisten semakin melimpah ruah cahaya yang didapati.

Bertaubat gara-gara Melihat Wanita Mandi

Berbuat dosa adalah suatu kemestian bagi seorang manusia biasa. Bahkan Rasulullah Shollallahu alihi wasallam sampaikan, bahwa seandainya manusia tidak berbuat dosa, niscaya Allah Subhanahu wata'ala akan memusnahkan mereka dan mengganti dengan hambaNya yang lain yang melakukan dosa dan minta ampun kepadaNya, sehingga Allah Subhanahu wata'ala mengampuninya, hal ini untuk menunjukkan ke maha pengampunan Dia.

Yang menarik untuk diperhatikan dari cerita berikut ini adalah bagaimana sikap seorang setelah melakukan dosa. Sejauh mana penyesalan dan taubatnya. Kejadian ini adalah satu dari ribuan peristiwa serupa di masa khairul qurun (masa terbaik) yang bisa menjadi cermin bagi kita. Seorang pemuda belia dari kalangan penduduk Madinah datang kepada Rasulullah SAW, masuk Islam. Dia adalah salah satu dari orang-orang yang ingin selalu dekat dengan Rasulullah SAW. dengan cara menjadi khadim beliau. Dan keinginannya dikabulkan oleh Rasul. Maka sahabat yang bernama Tsa'labah bin Abdurrahman Al Anshari RA. itu pun melalui hari-harinya melayani keperluan Rasulullah SAW.

Awal Bencana
Suatu hari, ia diutus oleh Rasulullah SAW untuk satu keperluan. Ia pun bergegas pergi. Dalam perjalanan, tanpa sengaja ia menoleh ke sebuah pintu rumah yang lupa tidak ditutup oleh pemiliknya. Begitu melihat ke dalam, nampak seorang wanita sedang mandi. Wajahnya mendadak pucat, tubuhnya gemetar ketakutan. Pikirannya sibuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa menimpa dirinya. Sampai terbayang bahwa mungkin saja Allah SAW. akan menurunkan wahyu pada Rasulullah SAW. menceritakan kejadian dirinya. Dicekam ketakutan yang luar biasa, ia melarikan diri saat itu juga. Dengan peluh bercucuran, napas tersengal, ia tinggalkan tempat itu. Lorong demi lorong ia lalui. Gang-gang ia lewati. Perkampungan itu pun telah tertinggal jauh di belakangnya, hingga ia keluar dari batas kota Madinah. Ia terus berlari dan berlari sampai pada akhirnya ia menyelinap di daerah sepi pegunungan antara Mekah dan Madinah sebagai tempat persembunyiannya.

Nyepi Empat Puluh Hari
Sementara di Madinah, Rasulullah SAW. menunggu khadimnya yang pergi tak kunjung kembali. Sehari penuh berlalu, tidak ada kabar pun tentang dirinya. Dengan sabar beliau tunggu kepulangan shahabat itu. Tanpa terasa, empat puluh hari berlalu tanpa kehadiran Tsa'labah RA. Setelah empat puluh hari berlalu, turunlah malaikat Jibril AS. membawa wahyu, "Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabbmu mengirimkan salam untukmu. Dia berfirman untukmu, 'Sesungguhnya seorang dari umatmu di antara pegunungan ini meminta perlindungan padaKu.'" Tanpa membuang waktu lagi, beliau bersabda, "Hai Umar, wahai Salman, berangkatlah kalian berdua dan bawalah Tsa'labah bin Abdurrahman kepadaku."

Lari dari Jahannam
Mereka berdua segera menuju pegunungan yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW. Seorang pengembala kambing mereka temui di sana. Umar RA. bertanya padanya, "Tahukah kamu tentang seorang pemuda bernama Tsa'labah di antara pegunungan ini?" "Mungkinkah orang yang kau maksud adalah orang yang melarikan diri dari jahannam? Setiap tengah malam ia keluar dari antara pegunungan ini sambil meletakkan tangannya di atas kepalanya memanggil-manggil, 'Wahai alangkah baiknya seandainya Kau tahan ruhku bersama para arwah dan tubuhku bersama tubuh-tubuh, dan Kau tidak membiarkanku untuk menerima keputusan.'" "Ya, orang itu yang kami cari."

Kedua orang ini pun segera diantarkan penggembala tersebut. Sampai di sana, mereka menunggu hingga tengah malam. Tiba-tiba muncul satu sosok tubuh manusia dari tengah pegunungan sambil meletakkan tangan di atas kepalanya, ia memangil-manggil, "'Wahai alangkah baiknya seandainya Kau tahan ruhku bersama para arwah dan tubuhku bersama tubuh-tubuh, dan Kau tidak membiarkanku untuk menerima keputusan." Pagi harinya, Umar RA menemuinya. Langsung dipeluknya Tsa'labah RA. Dengan nada penuh kekhawatiran ia bertanya, "Wahai Umar, tahukah Rasulullah SAW akan dosaku." "Aku tidak tahu permasalahan itu. Yang jelas, kemarin Rasulullah SAW. menyebut-nyebutmu dan menugaskan aku bersama Salman untuk mencarimu." "Wahai Umar, satu permohonanku padamu. Jangan kau bawa aku menghadap Rasulullah SAW, kecuali ketika beliau sedang sholat." Umar pun mengabulkan permintaannya.

Pingsan
Sampai di masjid Nabawi, Umar RA. dan Salaman RA. langsung masuk dalam barisan sholat. Sedangkan Tsa'labah, begitu mendengar bacaan Rasulullah SAW, pingsan seketika. Seusai sholat, begitu melihat Umar RA dan Salman RA. Rasulullah bertanya, "Hai Umar dan Salman, bagaimana dengan Tsa'labah?" Keduanya menjawab, "Ini dia ada di sini, ya Rasul." Beliau pun berdiri mendekati Tsa'labah RA. yang tergeletak pingsan. Beliau gerak-gerakan tubuhnya. Tsa'labah RA. siuman. Beliau langsung bertanya, "Apa yang membuatmu menghilang dariku?"
"Dosaku, wahai Rasulullah." Jawabnya singkat.
"Maukah kutunjukkan padamu sebuah ayat yang menghapuskan dosa dan kesalahan?"
"Tentu, wahai Rasulullah."
"Bacalah, 'Rabbana aatina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina 'adzabannar."
"Dosaku, wahai Rasulullah, lebih besar lagi."
"Bukan, bahkan firman Allahlah yang lebih agung." Kemudian beliau perintahkan supaya Tsa'labah RA. segera kembali ke rumahnya.

Taubat yang Diterima
Beberapa hari berlalu, sudah delapan hari Tsa'labah RA. terbaring sakit. Melihat kejadian ini, Salman RA. menemui Rasulullah SAW. dan mengatakan, "Wahai Rasul, tidak tahukah engkau berita Tsa'labah. Ia sakit parah hampir mendekati kematian." "Marilah kita bersama-sama ke sana," ajak Rasulullah SAW. Mereka masuk menemui Tsa'labah RA yang terbaring lemah. Rasulullah SAW. mendekatinya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan beliau. "Apa yang kau rasakan?" Rasulullah bertanya. "Seolah semut merayap di antara tulangku, dagingku dan kulitku," jawab Tsa'labah RA. "Apakah yang kau inginkan?" Tanya beliau lagi. "Ampunan Rabbku." Tidak lama berselang, Jibril AS. menyampaikan wahyu, "Wahai Muhammad, Rabbmu mengirimkan salam untukmu. Dia berfirman padamu, 'Seandainya hambaKu ini datang padaKu dengan kesalahan yang memenuhi bumi, tentulah Aku akan menemuinya dengan ampunan sebanyak itu pula." Rasulullah SAW. lalu memberitahu kepada Tsa'labah RA. tentang wahyu yang baru saja beliau terima itu. Tsa'labah berteriak kerak dan meninggal seketika.

Takwa dan Sikap Sederhana

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri


Takwa, seperti galibnya istilah popular yang lain, sudah dianggap maklum; karenanya jarang orang yang merasa perlu membicarakannya lebih jauh. Secara sederhana, takwa dapat diartikan sebagai sikap waspada dan hati-hati. Hati-hati menjaga agar tidak ada perintah Allah yang kita abaikan. Hati-hati menjaga agar tidak ada larangan-Nya yang kita langgar. Hati-hati menjaga agar dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya tidak justru menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah Ia gariskan.
Dan tidak kalah penting dari itu semua adalah kehati-hatian menjaga keikhlasan kita. Kita perlu waspada dan hati-hati menjaga agar pelaksanaan perintah Allah maupun penghindaran dari larangan-Nya, semata-mata karena Allah. Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah demi dan karena Allah; bukan demi nafsu dan keinginan diri kita atau karena dorongan pamrih-pamrih yang lain.

Kita hidup untuk beribadah, dan kita beribadah semata mengharap ridha Allah dan bukan mencari ridha dan kepuasan diri sendiri. Dalam ibadah mahdhah atau yang bersifat ritual, seperti sembahyang, berpuasa, dan sebagainya, ketulusan mencari ridha Allah ini mungkin relatif lebih mudah dibanding dengan ibadah yang bersifat sosial, seperti berbuat baik kepada sesama misalnya. Oleh karenanya, sudah sewajarnyalah apabila kita lebih berhati-hati dan terus mewaspadai ketulusan batin kita dalam hal melakukan ibadah-ibadah yang bersifat sosial itu.

Misalnya dalam melaksanakan ibadah sosial ingin memperbaiki keadaan dan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Tanah Air, untuk menciptakan Indonesia baru yang lebih baik, kita perlu pula terus mewaspadai niat batin kita. Kita perlu selalu bertanya kepada diri-diri kita sendiri, untuk apa sebenarnya kita berjuang. Kita berjuang untuk Tanah Air demi mendapatkan ridha Allah, ataukah sekedar untuk memuaskan nafsu dan kepentingan kita atau kelompok kita sendiri?

Getir rasanya dan sekaligus geli kita mendengar banyak orang yang meneriakkan slogan-slogan mulia, seperti akhlakul karimah; ukhuwwah islamiyah; membangun masyarakat yang beradab, dan lain sebagainya, namun dalam pada itu mereka sekaligus bersikap dan berperilaku yang tidak berakhlak, menebarkan permusuhan di antara sesama saudara.

Alangkah tertipunya mereka yang merasa diri dan bahkan mengaku-aku berjuang demi hal-hal yang mulia, seperti demi agama dan demi negara, tapi tindak-tanduknya justru menodai kemulian itu sendiri. Bahkan ada yang-na’udzubillah-meneriakkan asma Allah sambil memperlihatkan keganasannya kepada sesama hamba Allah.

Mereka itu umumnya tertipu oleh semangat mereka sendiri. Setan paling suka dan paling lihai menunggangi semangat orang yang bodoh atau kurang pikir, untuk dibelokkan dari tujuan mulia semula. Mereka yang katanya berjuang ingin menegakkan demokrasi, misalnya, karena terlalu bersemangat, tiba-tiba justru menjadi orang-orang yang sangat tidak demokratis; tidak menghormati perbedaan dan bahkan menganggap musuh setiap pihak yang berbeda. Demikian pula, mereka yang katanya ingin berjuang untuk agama, menegakkan syariat Tuhan, karena terlalu bersemangat, sering kali justru dibelokkan oleh setan dan tanpa sadar melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh orang yang ber-Tuhan dan beragama, seperti sudah dicontohkan di muka.

Lebih konyol lagi, apabila yang tergoda melakukan hal-hal bodoh semacam itu adalah mereka yang sudah terlanjur dijadikan atau dianggap imam dan panutan. Karena, para pengikut biasanya akan bertindak lebih bodoh lagi. Seorang panutan cukup memaki untuk membuat para pengikutnya membenci, seperti halnya guru cukup kencing berdiri untuk membuat murid-muridnya kencing berlari.

Biasanya, kekonyolan terjadi lantaran sikap yang berlebihan. Sikap berlebihan tidak hanya dapat membuat orang sulit berlaku adil dan istiqamah, tapi sering kali dapat menjerumuskan orang kepada tindakan yang bodoh. Berlebihan dalam menyintai atau sebaliknya membenci, acap kali membuat orang bersikap konyol. Bahkan, orang yang berlebihan dalam mencintai diri sendiri, dapat kehilangan penalaran warasnya, sebagaimana terjadi pada mereka yang mengangkat diri sebagai imam, nabi, bahkan titisan malaikat Jibril. Mereka yang berlebihan menyintai imamnya pun pada gilirannya juga kehilangan penalaran sehatnya.

Rasanya kita perlu membiasakan kembali sikap hidup sederhana, sebagaimana diajarkan dan dicontohkan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Maka, kita dapat dengan lebih mudah berlaku adil dan istiqamah, dapat memandang sesuatu tanpa kehilangan penalaran sehat.

28.3.12

Bambang Sujanto ketua yayasan HM Cheng Hoo : mencari surga baginya tidak mudah

''Kamsia ya Ming. Kamu pasti dapat barokah setelah mengantar saya sholat Jumat,'' tutur Bambang Suyanto (Lioe Ming Yen) kepada sejawatnya yang mengantarkannya dengan Mercedez Benz dari kantor ke mushola di belakang hotel Simpang.

Mantan ketua PITI Jatim yang menjadi Pimpinan Kita Grup ini tidak risih duduk berempat dengan 3 penumpang lainnya di jok belakang. ''Ayolah, nggak apa-apa biar pepet-petetan, daripada terlambat Jumatan. Kita cari masjid yang terdekat saja,'' katanya kepada wartawan Surabaya post, Hadi Suyitno yang menyertainya. Ia memang sengaja tidak membawa mobil Mercedes Benz karena jalanan sering macet. Lagipula pelataran parkir kantor Bambang di Ruko Jl TAIS Nasution Surabaya terbilang sering padat.

Malah lebih enak, naik taksi saja karena sudah tak perlu pusing-pusing mikiri parkir. "Sak iki wayahe aku golek surgo, Rek," ujarnya. maksudnya, sekarang waktu baginya mencari surga.

Lho, kok begitu? Menurut Bambang, ternyata mencari surga baginya tidak mudah. Tantangannya berat walaupun sudah memeluk Islam sejak 17 tahun lamanya. Masih ada yang menyindirnya begini: 'Bambang masuk Islam untuk mengejar fasilitas.' Malahan ada yang lebih vokal lagi: 'Bambang seorang pengkhianat suku Tionghoa.' Suatu anggapan yang diyakinkan Bambang 110% keliru. Dan, Bambang tidak pernah menggubrisnya.

Tapi ia juga melihat realitas, ada kesan orang Tionghoa yang memeluk Islam tidak disukai. "Sudah banyak contohnya, setelah memeluk Islam bisnisnya kocar-kacir karena tidak mendapat dukungan dari..... Akh, Anda tahu sendiri, kan,'' cetusnya.

Kaset
Ada cerita menarik dari Bambang. Ia mengakui, tantangan yang mesti dihadapi teman-temannya setelah memeluk Islam sungguh dirasakan bukan main beratnya. Ada pengalaman temannya yang baru memeluk Islam bahkan sudah haji.

Ceritanya, sepulang dari Tanah Suci ia dihadapkan pada berbagai larangan: tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Padahal teman itu mempunyai bisnis persewaan kaset (yang maaf, dilengkapi film biru). Teman itu mengeluh pada Bambang, "Kok begini jadinya setelah memeluk Islam."

Sebagai teman, Bambang mencoba menasehati: Sudahlah, ibaratnya kita menjual pisau. Pisau itu sangat bermanfaat bagi manusia karena bisa dipergunakan untuk berbagai keperluan. Tetapi sebaliknya, pisau itu juga dapat digunakan menusuk orang. Bisnis kasetpun begitu, tergantung pada siapa yang menyewa saja.

''Islam itu menurut saya agama yang penuh toleransi, hanya orang yang fanatik saja yang membuat ajaran itu jadi begitu ketatnya sehingga orang mau berbisnis saja jadi susah,'' tuturnya.

Agama itu mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan. Bambang merasa sebagai umat biasa, dan bukan seorang ustadz. Kalau usaha bisnis itu oleh Tuhan dipandang baik, maka usaha itu akan dilimpahi rejeki yang besar.

Direktur Kita Grup yang membawahi 7 perusahaan ini menolak anggapan masuknya ia ke agama Islam karena ingin mencari fasilitas. Bambang yang diislamkan oleh almarhum KH Muttaqin di masjid Al Falah tahun 1980 itu,
mengaku semuanya itu karena panggilan dan petunjuk Tuhan. Sebagai orang yang mengaku mantan play boy kelas kakap, kini ia merasa takut dan ingin dekat dengan Allah. Kini ia memimpin para muallaf, orang yang baru masuk Islam.

Mama
''Mama saya almarhum Nyonya Hartini, telah merestui masuknya saya ke Islam, karena Islam itu agama yang baik. Pesan Mama saya, bila sudah Islam nanti agar membantu menjembatani komunikasi dan menghilangkan
miskomunikasi orang dari suku Tionghoa dengan suku lain di Indonesia,'' kenangnya.

Malahan setelah Bambang diislamkan, Nyonya Hartini memberinya uang 10.000 dolar untuk dibagikan kepada orang yang tidak mampu. Nyonya Hartini dalam pandangan Bambang adalah sosok yang keras tetapi penuh kearifan. Pesan-pesan orang tuanya tampaknya sangat mempengaruhi sikap hidup Bambang Sujanto. Sepuluh tahun lamanya, Bambang tidak aktif menjalankan roda bisnisnya karena sibuk dengan kegiatan sosial. Tetapi
harus diputuskan untuk membagi waktu antara bisnis, sosial, keluarga dan berdoa.

Repotnya lagi, untuk membagi waktu itu sulitnya bukan main, bahkan untuk mencari waktu berolahraga saja tidak bisa. Gara-gara kurangnya berolahraga itu Bambang sempat terkena kencing manis. Untungnya kini sudah sembuh walaupun belum normal. Beberapa hobinya seperti pingpong, renan, jadi kurang terurus karena kesibukan kantornya dan banyaknya tamu, banyak di antaranya para kiai.

Akhirnya ia mengambil keputusan, Jumat adalah hari bebas dari ikatan-ikatan kerja yang formal dan nonformal. Tapi ternyata kemudian tidak mudah baginya untuk lepask dari ikatan kesibukan itu. Ini karena pada hari Jumat itupun banyak tamu berdatangan.

''Masak saya mau tolak kalau kedatangan kiai. Bisa dosa besar saya, he..he..he...,'' katanya. Akhirnya hari Jumat yang sudah ditetapkan untuk bebas, menjadi sama saja dengan hari-hari lainnya. Bahkan, katanya, kadang-kadang ada tamu kiai yang datang tengah malam. Tentu saja ia merasa harus melayaninya dengan penuh hormat.

Ujian
Pendek kata hari-harinya ia usahakan agamis. Bambang sangat bersyukur karena sudah bisa mengislamkan istrinya, Tin Indrawati. Dan, suatu saat Tuhan menguji keimanannya. Anak sulungnya, Rahmat Widodo meninggal dunia dalam suatu kecelakaan di Boston, 16-2-1992. Kejadiannya persis 5 hari setelah Rahmat masuk Islam.

Ini benar-benar sebuah ujian berat. Apalagi kemudian ada yang menyebut meninggalnya Rahmat akibat memeluk Islam. "Tiga anak saya jadi takut memeluk Islam walaupun kedua orang tuanya sudah Islam. Saya menyerahkan keputusan itu kepada anak-anak, tidak bisa memaksa. Saya betul-betul sedang dicoba Allah,'' tutur Bambang.

Toh di balik itu semua, Bambang melihat sebuah rahmat. Meninggalnya Rahmat Widodo memberikan kesan mendalam. Kepergian putranya meninggalkan beberapa keanehan. Saat sholat jenazah di Boston sebelum dibawa ke Indonesia, banyak rekan kuliah Rahmat yang ikut sholat jenazah padahal mereka non-muslim. Ucapan bela sungkawa dari umat non muslim di Surabaya juga luar biasa. Almarhum yang meninggal dalam keadaan Islam itu dikubur di dekat pemakaman keluarga di Sukorejo, Lawang. Bambang bermarga Lioe, marga satu-satunya di Indonesia. Papanya bernama Lior Kim Tjiauw (Noto Suhardjo Wibisono) yang dilahirkan di Hok Cia, RRC. Ia mempunyai prinsip hidup: jangan menyalahkan orang lain.

Filosofinya, di dunia selalu ada 2 sisi. Tentang susah: naik surga susah, tetapi minta tolong orang lebih susah lagi. Pahit: jamu temu ireng pahit, tapi miskin lebih pahit. Bahaya: Kalangan kangow (dunia persilatan) berbahaya, tetapi hati orang lebih berbahaya. Tipis: Kertas tipis, tetapi persahabatan lebih tipis.

Tentang yang terakhir ini Bambang mengurai. "Bila seseorang masih dalam kejayaaan atau punya jabatan penting, akan banyak yang mau bersahabat. Tetapi kalau seseorang itu sudah miskin dan tidak punya jabatan, maka persahatan itu akan lepas."

MASKOTS
Lalu filosofi apa yang ia terapkan dalam memimpin karyawannya yang bernaung di bawah payung Kita Grup? MASKOTS. Artinya: Mandiri, Aktif, Selektif, Kreatif/komunikatif, Obyektif, Terampil, Sukses/sejahtera.

''Alhamdulillah, pabrik panci di PT Kedawung Setia Industrial Ltd mempunyai kesejahteraan yang paling baik di Indonesia,'' katanya. Dengan rendah hati diakuinya, sukses yang diraihnya dalam menangani perusahaannya tidak lepas dari sentuhan tangan Probosutedjo dan Agus S yang pernah menangani Kedawung Subur. Saat itu Agus mengatakan, kalau Bambang mampu berdiri sendiri, maka Bambang Sujanto boleh menangani sendiri.
Maka pada tahun 1979 akhirnya Bambang berdiri sendiri. Tujuh perusahaan di bawah Kita Grup adalah PT Kedawung Setia Industrial, PT Kedawung Setia Corrugated box, PT Kasih Sejahtera (Hotel Regent's, Malang), PT Windu Utama-Banjarmasin, PT Anglomas Internasional bank (bank Amin), PT BPR Anglomas Indah, PT Kita Makmur Metal Industrial. ( Surabaya Post )

(Hadi Suyitno)


Kisah-Kisah Beriku Sangat Menyentuh Hati

Hidayah di Ujung Pencarian : Ita Luthfia (d/h Margarita Librariana)

"Nama Luthfia dipilihkan untuk saya karena berarti lembut dan penuh kasih. Allah begitu "indah" membimbingku hingga menemukan Islam. Nama itu juga menjadi pengingat ketika saya lalai." (Ita tentang pemilihan nama "Luthfia")

Pencerahan itu muncul di usianya yang ke-23 tahun, saat Ita Luthfia berburu dengan waktu menyelesaikan skripsinya di Fakultas Komunikasi Universitas Padjajaran. Diktat-diktat yang diterima salah seorang dosen senior – seorang non-Muslim juga seperti dirinya saat itu -- di universitasnya, menggelitiknya untuk turut membaca. Isinya mengenai doktrin ketuhanan agamanya. Sampai di diktat ketiga, sang dosen menyatakan berhenti membaca. “Iman saya bisa terpengaruh,” ujar Ita menirukan sang dosen. Namun Ita yang mempunyai nama asli Margarita Librariana ini justru semakin penasaran. Ia seperti diajak mengenali kembali agama yang dianutnya.

Diktat itu menghidupkan logika saya yang puluhan tahun mati. Saya seperti dibukakan mata dan hati. Sampai akhirnya di satu titik, saya menyatakan diri atheis,” ujar praktisi hubungan masyarakat ini kepada Republika yang menemuinya di rumah mungilnya yang ditata seperti sebuah apartemen itu. Setahun Ita tak beragama.

Dalam masa setahun itu, mantan manajer public relation sebuah perusahaan elektronik papan atas asal Korea Selatan ini mulai mencari agama. Setiap kali ke kampus mencari buku-buku untuk keperluan skripsi, ia seperti dituntun untuk menuju koleksi buku-buku agama. Tangannya juga seperti digerakkan untuk mendapatkan buku-buku yang menenuhi rasa ingin tahunya dan mengobati dahaga rohaninya.

Ternyata Islam adalah jawaban dari pencarian saya,” ujar Ita kemudian. Konsep ketuhanan dalam Islam, kata dia, paling masuk akal. Tuhan itu ada satu, dan tidak beranak atau diperanakkan. Ide-ide dalam ajaran Islam juga klop dengan dirinya. Ia merasa hidayah Allah telah mencerahkan hati dan pikirannya.

Namun untuk menyatakan keislamannya, ia belum berani. Apalagi keluarganya sangat agamis. “Apa kata mama kalau anaknya menjadi Muslim,” kata Ita, tentang pertentangan batinnya saat itu. Ia memang sangat dekat dengan sang mama dan sangat menghormatinya.

Ia menyimpan semuanya sendiri. Bahkan, ia mengunci rapat-rapat niatnya itu dari para sahabatnya.

Hingga suatu hari, ia mempunyai keberanian untuk mengikuti pengajian ibu-ibu di rumah seorang temannya. Pematerinya adalah ulama Bandung bernama Bahrul Hidayat. Di sanalah, tanpa direncana, tercetus keinginannya untuk masuk Islam. Bertempat di masjid agung Kota Bandung, ia bersyahadat dan mengubah namanya menjadi Ita Luthfia.

Malam itu juga, ia menceritakan para orang tuanya telah menjadi seorang Muslim. Awalnya mereka kaget. Namun lama kelamaan bisa menerima. “Saya mengingat betul pesan pak Bahrul, jangan sedikit pun berkata keras pada orang tua, tetap menjaga hubungan baik dan menyayanginya. Pendek kata, jangan ada sedikit pun yang berubah,” kata dia.

Ita beruntung mempunyai keluarga yang toleran. Pluralitas bukan hal aneh bagi keluarga ini. “Mama bisa menerima saya, kendati saya berkerudung sekarang,” Ita mengucapkan dengan senyum tersungging di bibirnya.

(Di tengah wawancara, Mutiara Anisa, buah cinta Ita dengan La Tofi, meminta telur goreng kesukaannya. Ita bergegas ke dapur dan dengan cekatan menyiapkan menu kesukaan anaknya itu, tak sampai 10 menit. Senyum mengambang di bibir Nisa begitu sang mama membawa piring makan siangnya. Kedua tangannya terangkat ke dada, dan dia membaca doa makan dengan fasih. Setelah membasuhkan kedua tangan ke mukanya, Nisa mulai menyuap sendiri makanannya, hal yang tidak biasa untuk anak berusia kurang dari tiga tahun)

Dia (Nisa, red) mengajarkan saya arti bersabar, tawakal, dan akhlakul karimah,” ujar Ita. Karena pernah keguguran, ia menjaga kehamilan Nisa dengan lebih hati-hati. Selama hamil, ia juga menjaga perilakunya. “Nisa harus menjadi anak yang berakhlak mulia dan mempunyai kepedulian yang tinggi pada sesamanya.

Ita memegang teguh teori berbagi dalam Islam, bahwa dalam harta yang kita miliki terdapat hal orang lain. “Kebanggan bagi saya bila bisa berbagi dan memberi,” kata wanita kelahiran bandung, 12 Oktober 1969 ini. Ia mengacu kebiasaan Fatimah (putri Rasulullah SAW) yang hanya menyisakan sedikit untuk dirinya dan menyerahkan sebagian lainnya untuk kemaslahatan orang yang membutuhkan.

Niat untuk mendidik Nisa dengan baik pula yang membuat wanita yang belasan tahun malang melintang di dunia kehumasan ini berhenti dari segala aktivitasnya. Sesekali ia keluar rumah untuk mengerjakan sebuah proyek, namun selebihnya ia lebih banyak di rumah. Apalagi kantor La Tofi Enterprise yang dibesarkannya bersama suami juga berada di kompleks yang sama dengan tempat tinggalnya, di Rusun Harum, Tebet, Jakarta Selatan. “Semoga selalu berkah dan dilancarkan oleh Allah,” ujarnya, tentang usaha publishing, konsultan PR, dan audiovisual work ini.



Yahya Yopie dan Keluarganya, Mantan Pendeta Yang Memeluk Islam

Warga di kota Tolitoli di penghujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Bahkan media internet pun sudah mengakses kabar ini. Bagaimana aktivitas eks pendeta itu setelah memeluk Islam. Berikut kisahnya:
PAGI menjelang siang hari itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap seperti biasa.

Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari warga berjalan seperti biasa. Kecuali di salah satu rumah kost di jalan itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya tinggal sementara.

“Pak Yahya bersama istrinya baru saja keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang. Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak sulit ketemu beliau,” jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada Radar Sulteng.

Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006.

Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga, Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.

Hari pertama Yahya pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran, gorden dan kursi. Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga barang yang bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.

Tidak lama menunggu di rumah Ibu Ani, datang dua orang ibu-ibu yang berpakaian dinas pegawai negeri sipil. Keduanya juga mampir di rumah Ibu Ani. Salah satu dari mereka adalah Hj Nurdiana, pegawai di Balitbang Diklat, Pemkab Tolitoli. Ibu berjilbab ini ternyata guru mengaji. Dia adalah guru mengaji yang khusus membimbing istri Yahya.

“Saya baru tiga kali pertemuan dengan ibu Yahya. Supaya ibu Yahya mudah memahami huruf hijjaiyah, saya menggunakan metode albarqy. Alhamdulillah sekarang sedikit sudah bisa,” kata Nurdiana.

Menurutnya, dia tidak kesulitan mengajari ibu Yahya. Malah, katanya, ibu Yahya cepat sekali memahami huruf-huruf hijaiyah yang diajarkan. Karena itu dia memperkirakan kemungkinan dalam waktu tidak lama ibu Yahya sudah bisa lancar mengaji.

Hanya sekitar 20 menit menunggu di rumah ibu Ani, bunyi kendaraan sepeda motor butut milik Yahya terdengar memasuki halaman rumah kontrakannya. Radar Sulteng diterima dengan senang hati, lalu dipersilakan duduk di sofa. Sementara Yahya memilih duduk di lantai alas karpet. Badannya disandarkan ke kursi sofa. “Kita lebih senang duduk di bawah sini,” tuturnya dengan logat kental Manado.

Cara duduk Yahya, tampak tidak tenang. Sesekali ia membuka kedua selangkangnya. Ternyata karena baru beberapa hari selesai disunat. “Setelah tiga hari saya masuk Islam, saya langsung minta disunat di rumah ini,” cerita Yahya, sesekali disertai canda.

Penataan interior rumah kost Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak terpampang kaligrafi ayat kursi yang dibingkai dengan warna keemasan. Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran. “Rumah ini saya kontrak sementara. Saya sudah bayar Rp2,5 juta,” rinci Yahya.

Di tengah asiknya bercerita, istri Yahya, Mutmainnah menyuguhkan beberapa cangkir teh panas. “Silakan diminum air panasnya,” kata ibu tiga anak ini yang saat itu mengenakan jilbab cokelat.

Tidak lama kemudian, dia masuk di salah satu kamar dan mengajak guru mengajinya Hj Nurdiana bersama rekannya. Dari balik kamar itulah terdengar suara Mutmainnah yang sedang mengeja satu per satu huruf hijaiyah. Terdengar memang masih kaku, tetapi berulang-ulang satu per satu huruf-huruf Alquran itu dilafalkannya.

Lain halnya dengan suaminya, Yahya. Pria kelahiran Manado ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh Komarudin Sofa. Selain Komarudin, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani. “Hanya lima menit saya diajarkan. Saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal,” ujar Yahya.

Selain belajar mengaji dan menerima tamu, aktivitas Yahya juga kerap menghadiri undangan di beberapa masjid. Tidak hanya dalam kota, tetapi sampai ke desa-desa di Kabupaten Tolitoli. “Saya ditemani beberapa orang. Ada juga dari Departemen Agama,” katanya.

Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. “Hari itu saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun Pak Komarudin,” cerita Yahya. Apa yang melatari sampai Yahya dan keluarganya memeluk Islam.


PAK Yahya, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal. “Saya tidak perlu cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,” tukasnya.

Lantaran kenakalannya itulah mungkin, sehingga beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya. “Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.

Postur tubuhnya memang tampak mendukung. Tinggi dan tegap. Meski ia pernah nakal, tetapi pendidikan formalnya sampai ke tingkat doktor. Ia menyandang gelar doktor teologi jurusan filsafat. Saat ditemui, Yahya memperlihatkan ijazah asli yang dikeluarkan Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado tertanggal 10 Januari 2004. Sehingga titel yang didapatnya pun akhirnya lengkap menjadi Dr Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH.

Sebelum menyatakan dirinya masuk Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.

“Kepada saya si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali dengan saya,” cerita Yahya.

Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam.

Pertemuan ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah. “Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya,” cerita Yahya, yang ditemui di rumah kontrakannya.

Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.

Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red), tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. “Malah saya dianggap sudah gila,” katanya.

Tidak lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar,” ujar Yahya mengisahkan.

Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

“Setelah saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” cerita Yahya.

Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar, dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya, Mutmainnah.

“Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis. Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk saya,” tutur Yahya.

Ternyata tangisan istri Yahya itu mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan Mutmainnah. “Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah akhirnya istri saya yang mengajak,” tandasnya.

Masuknya Yahya ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya. “Tapi cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain,” pungkasnya.***

dari http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=40935

Mungkin cerita berikut membuat anda tambah iman


Agama dan Kesehatan


David B Larson, Pakar Kesehatan Amerika telah mengadakan penelitian terhadap orang yang taat beragama dan tidak. Hasilnya sangat mengejutkan. Sebagai contoh, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, dan tekanan darah tinggi jauh lebih sedikit.
(Patrick Glynn, 80-81).

Jurnal ilmiah penting di dunia kedokteran dengan nama International Journal of Psychiatry in Medicine melaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak beragama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.

Tidak hanya itu, para pakar psikolog sekuler juga cenderung merujuk kesimpulan yang sama sebagai “dampak kejiwaan”. Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa.

Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard yang menghasilkan kesimpulan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagai-mana keimanan kepada Allah. (Herbert Benson, and Mark Stark, 203)

Agar kualitas jiwa manusia selalu searah dengan iman kepada Allah, maka perlu banyak usaha yang dilakukan. Usaha ini tidak hanya lahir saja, namun juga pasa aspek batin yang abstrak. Disebutkan dalam buku “Madrasah Pendidikan Jiwa” para tabi’in mengadakan enam usaha peningkatan jiwa sebagai berikut:
 
1. Takut kepada Allah
Hawa nafsu yang ganas cenderung menutupi fungsi akal dan mengendalikannya. Dibutuh-kan kekuatan yang besar untuk menghancurkannya. Kekuatan ini berpusat takut kepada Allah, terbukanya segala kesalahan di hari kiamat, dan takut kesengsara-an di akhirat. Allah swt. berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (an-Naazi’aat: 40-41).

Imam Qurthubi menuturkan perkataan Mujahid untuk mengomentari firman Allah pada ayat ini, “Yaitu takutnya di dunia kepada Allah azza wajalla ketika berada di lembah-lembah dosa dan ia terperosok di dalamnya. ‘Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu’, yaitu menahan dari perbuatan maksiat dan hal-hal yang diharamkan.”

2. Berjiwa Sabar
Jiwa asalnya cenderung menyuruh kepada kejahatan, enggan menetap, terikat, dan senang berpindah-pindah, serta lepas dari kendali. Jiwa juga tidak suka diperintah seseorang terhadap yang dibencinya, atau membatasi gerakannya. Oleh karenanya, ia memberi kecintaan pada pemiliknya untuk santai dan berleha-leha. Allah swt. berfirman, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.”(al-Kahfi: 28)

3. Mengendalikan Nafsu
Surga seolah menjadi tertutup dengan hijab, dan hijab ini bukan dari kulit, sutera, atau jenis-jenis kain penutup lainnya, tetapi terhijab dari hal-hal yang dibenci. Oleh karena itu, penutupnya tidak hanya satu tetapi banyak. Dan hijab yang beragam dengan corak-corak yang beragam, serta warna-warni yang berbeda, karena pada setiap musibah ada warna tersendiri, pada setiap ujian ada corak tersendiri. Maka, tidak mungkin seorang mukmin sampai ke surga, kecuali dengan menyingkap hijab-hijab ini seluruhnya.

Penyingkapan hijab-hijab itu terkadang membutuhkan waktu yang lama. Sulitnya menyingkap hijab dari hal-hal yang dibenci ini, acap kali mendorong pemiliknya untuk bermalas-malasan dan santai. Ridha terhadap aib yang ada pada jiwa mereka dan apa yang dikerjakan, tanpa adanya tambahan amal. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw., “Surga ditutupi (dihijab) dengan hal-hal yang dibenci, dan neraka ditutupi dengan syahwat-syahwat.” (HR Bukhari)

4. Tawakal
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna tawakkal. Namun, pendapat mereka semua bermakna menyerahkan segala sesuatu kepada Allah ta’ala dan dengan keyakinan atas kekuasaan-Nya dapat memenuhi segala kebutuhannya.

Dari Muhammad bin Abi Imran berkata, “Aku mendengar Hatim yang tidak dapat mendengar ditanya seseorang, ‘Dengan apa engkau membangun perkaramu dalam bertawakal kepada Allah?’ Ia berkata, ‘Pada hal-hal berikut: aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan oleh selainku, maka tenanglah jiwaku; Aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh selainku, maka aku sibuk dengannya; Aku tahu kematian pasti mendatangiku kapan saja, maka aku berisap-siap untuk itu; Aku tahu, aku tidak pernah lepas dari pandangan Allah di mana pun aku berada, maka aku malu kepada-Nya jika terlihat sedang melakukan maksiat.’” Demikianlah Empat hal dasar budi pekerti yang dibangun ulama dalam hal tawakal.

5. Introspeksi Diri
Introspeksi ini tidak mungkin dimulai tanpa perhatian dan siaga terhadap gerak-gerik jiwa ini. Menghinakan sebelum dihinakan orang lain dan tidak mencari aib-aib mereka. Jika pengoreksian diri tidak kita lakukan, niscaya kita hanya melihat kesalahan-kesalahan orang lain dan buta dengan kesalahan diri.

Termasuk dari instropeksi adalah melihat kejahatan diri sendiri ketika melihat ‘keabadian’ dunia dengan segala gemerlapnya. Kita sering terbujuk dengan hiasan dan permak dunia. Inilah peperangan seorang mukmin dengan jiwanya yang menyuruh berlaku jahat dan melupakan nikmat-nikmat surga. Padahal kita semua yakin bahwa dunia hanyalah sesaat dan tiada manusia itu hidup di duia kecuali hanya “mampir ngombe”.

Introspeksi tidak hanya terbatas pada introspeksi terhadap maksiat dan peremehan terhadap bahaya maksiat. Namun, meliputi berbagai hal, sampai pada ketaatan, menjauhi bangga diri, meremehkan orang lain dari kebenaran, dan lain sebagainya. Inilah jenis introspeksi== yang diungkapkan kepada kita dari Ibrahim bin al-Asy‘ats dari ‘Abidil Haramain (Imam Malik) dalam khalwat (menyendiri) bersama jiwa.
 
 



Keselamatan Dunia Akhirat


oleh : KH. Abdullah Faqih 
 
Siapa pun orangnya pasti menginginkan kehidupannya di dunia maupun di akhirat penuh kebahagiaan dan keselamatan. Tidak ada seorang pun yang menginginkan sebaliknya. Tetapi kebahagiaan dan keselamatan itu tidak akan bisa dicapai kecuali dengan perjuangan yang tidak ringan, salah satunya adalah dengan melalui berbagai ujian dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Musibah yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala di dunia ini adakalanya ditimpakan kepada orang-orang sholeh, sebagai ujian agar derajat mereka semakin tinggi dan mulia di hadapan-Nya. Ada pula musibah itu dijatuhkan kepada orang-orang yang telah banyak berbuat dosa, sebagai peringatan agar mereka segera tersadar dan kembali ke jalan yang diridlai-Nya.

Namun, ada juga orang-orang yang telah banyak bikin kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah, tapi mereka sama sekali tidak ditimpa musibah. Mereka inilah orang-orang yang memperoleh istijroj dari Allah. Allah ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al A’raf: 182).
Jika terdapat orang berbuat kedhaliman, tapi secara lahiriyah ternyata dia masih tetap merasakan hidup tenang dan tenteram, itu bukan berarti kedhaliman orang ini telah diampuni Allah. Rasulullah menjelaskan status orang tipe ini:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ رواه البخاري
“Sesungguhnya Allah subhanahu Wata’ala akan menangguhkan (hukuman) untuk orang yang berbuat aniaya (kedhaliman). Sampai ketika Allah menghukumnya, maka Dia tidak akan melepaskannya.” (HR. Imam Bukhari).

Untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat, Syekh Imam Abu Hasan Asy Syadzili (dalam kitab Al Mafakhir) mengajarkan kepada kita agar melanggengkan bacaan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَأَسْتَـغْفِرُ اللهَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِاللهِ
“Segala puji bagi Allah. Kami memohon ampunan Allah. Tiada daya untuk meninggalkan kemaksiatan dan tiada kekuatan untuk menjalankan ibadah kecuali atas pertolongan Allah.”

Bacaan dzikir di atas akan mendorong pembacanya untuk senantiasa mengakui dan bersyukur terhadap berbagai macam kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah, terutama nikmat Islam dan Iman. Sebagai seorang mukmin kita sama sekali tidak boleh mempunyai perasaan aman dari tergelincirnya keimanan (su’ul khatimah). Kita harus senantiasa waspada dan hati-hati. Berusahalah mengambil pelajaran apa yang telah menimpa Bal’am. Seorang yang pada awalnya pernah mencapai maqom waliyullah, tapi kemudian keimanannya tergelincir di akhir hayatnya (su’ul khatimah). Mensyukuri atas kenikmatan yang diberikan Allah berupa keimanan secara tidak langsung berarti berupaya mempertahankan keimanan itu agar tidak lepas dari jiwa kita.

الشُكْرُ قَيْدٌ لِلْمَوْجُوْدِ وَصَيْدٌ لِلْمَفْقُوْدِ

“Syukur itu mengikat sesuatu yang diperoleh dan memburu sesuatu yang hilang.”

Dzikir di atas juga mendorong pembacanya untuk selalu menyesali diri dari segala perbuatan dosa. Sebagai seorang manusia kita tentu akan selalu tergoda melakukan perbuatan dosa. Oleh karena itu, dosa-dosa itu hendaknya dihapus dengan meminta ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Jika seseorang meminta ampunan kepada Allah, maka Dia tidak akan meng-adzabnya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Anfal: 33).

Jadi dengan demikian, membaca dzikir di atas berarti sama dengan berupaya mencari keselamatan di akhirat (dengan membaca Alhamdulillah), dan keselamatan di dunia (dengan membaca Astaghfirullah). Dan keselamatan di dunia dan akhirat itu tidak akan tercapai tanpa pertolongan dari Allah (dengan membaca La haula wala quwwata illa billah).
 
 



Mengapa harus terjadi PERCERAIAN INI

Niat dan tujuan yang paling esensial dari menikah adalah beribadah untuk mencari ridlo Allah dengan jalan mengikuti perintah-Nya dan perintah rosul-Nya, atau niat untuk menjaga kehormatan diri dan agama (khifdzu nafs waddin). Karena dengan menikah, naluri biologis seseorang (ghorizah nau’) dapat tersalurkan dengan semestinya, sehingga bisa terhindar dari berbuat fakhisah (zina), dengan demikian agama dan dirinya menjadi terjaga. Dan masih banyak niat-niat lain yang dapat ditanamkan dalam hati seorang yang hendak menikah, seperti niat menjaga kelangsungan keturunannya (hifdzun nasl).

Perkawinan dapat menumbuhkan manfaat-manfaat seperti terwujudnyanya ketenangan hati (sakinah), rasa kasih sayang (mawaddah wa rohmah), terarahnya ritme kehidupan, peningkatan semangat beribadah dan lain-lain. Manfaat-manfaat seperti ini sulit didapat kecuali dengan menikah, dan hanya bisa diperoleh dari orang yang menjadi pasangan hidupnya, dan tidak mungkin tergantikan oleh orang lain, kendati itu orang tuanya sendiri.

Seorang duda atau janda walaupun mereka bergelimang harta, dalam jiwanya hampir pasti ada perasaan hampa, ada sesuatu yang hilang dalam dirinya, kekosongan, hidup terasa kering dan seakan tanpa makna. Karena tidak ada orang yang memberi support, motifasi, perhatian dan kasih sayang sesuai keinginannya. Dalam Al Quran surat Ar Rum ayat 21 Allah menjelaskan, ”Dan di antara tanda tanda kekuasaan-Nya adalah Ia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu tertarik dan tentram dengannya dan Ia jadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berfikir."

Dari ayat di atas nampak jelas manfaat sebuah perkawinan, yakni sakinah, mawaddah wa rohmah. Oleh sebab itu bila dalam sebuah mahligai perkawinan sudah benar-benar sudah tidak ada rasa cinta kasih dan saling menyayangi, maka lebih baik bercerai (Lihat tafsir showi juz III hal. 302).

Hal ini bisa terjadi karena salah satu manfaat dari perkawinan sudah tidak ada lagi. Dikhawatirkan masing-masing pasangan akan mencari orang lain sebagai pelampiasan ketidakpuasannya. Pendapat ini didukung oleh sebagaian ulama berdasar surat An Nisa ayat 19. Ulama yang menganjurkan bercerai, merujukkan dhomir fiihi pada ayat diatas pada lafadz al firoq (lihat tafsir Ar Rozi juz 5 hal:14), hukum yang demikian ini bila suami benar-benar tidak sanggup menahan kesabaran terhadap kelakuan istrinya. Tetapi bila seorang suami masih sanggup menahan kesabarannya maka yang lebih baik baginya meneruskan perkawinan tersebut, karena yang demikian ini mengandung banyak kebaikan (kaoiron katsiron), berupa pahala yang besar di akhirat kelak atau berupa anak yang bisa menghibur dirinya dari kejelekan akhlak istrinya (lihat tafsir Ar Rozi juz 5 hal. 14, tafsir As Showi juz I hal. 280 dan Rowai’ul Bayan juz I hal 370).

Hukum-hukum Bercerai:
1. Wajib, seperti perceraiannya orang yang sumpah iila’ (bersumpah untuk tidak menggauli istrinya).
2. Sunat, seperti perceraiannya suami yang tidak mampu bersabar terhadap kejelekan akhlak istrinya atau karena istrinya tidak mampu menjaga kehormatan agama dan dirinya (ghoiru ‘afifah), atau suami yang tidak sanggup memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami (Al ‘Ajz Anil Qiyaami bi Huquqiha).
3. Haram, seperti talak yang dijatuhkan pada saat suci oleh seorang suami pada istrinya yang telah dijima’ pada waktu suci tersebut. (lihat Tarsiihul Mustafidin ala hasyiyati fathil mu’in hal:334).

Sebab-sebab Perceraian
Perceraian suami istri itu adakalanya disebabkan oleh masalah intern namun ada pula disebabkan oleh faktor dari luar, ekstern. Perceraian yang disebabkan masalah internal suami-istri itu bisa terjadi, karena beberapa hal, antara lain, pertama, ketidaksetiaan (suami atau istri selingkuh). Kedua, problem ekonomi, karena suami tidak sanggup memenuhi tuntutan istrinya yang di luar batas kemampuannya. Ketiga, istri tidak lagi patuh dan taat pada suami. Keempat, istri tidak lagi memperhatikan urusan rumah tangganya, ia terlalu sibuk dengan kegiatannya di luar rumah sehingga suami dan anak-anaknya terlantar. Kelima, kecemburuan. Sebenarnya ia bisa menjadi bumbu cinta, selama tidak berlebih-lebihan. Sebaliknya bila dilakukan secara berlebih-lebihan akan berakibat mafsadah (kerusakan). Keenam, tidak adanya rasa cinta kasih antara keduanya, sehingga perceraian menjadi sangat sulit untuk dibendung kecuali bagi suami istri yang segera menyadari kesalahan dan segera merubah tindakannya.

Adapun faktor-faktor eksternal itu seperti campur tangan orang tua atau keluarga dalam menentukan kebijakan-kebijakan keluarga yang kadang-kadang bisa mendorong terjadinya perceraian. Namun ancaman perceraian yang disebabkan oleh faktor ini lebih mudah untuk diatasi, karena antara suami istri masih ada kecocokan, selama pihak luar tidak ikut campur tangan yang terlalu dalam terhadap kemelut yang terjadi dan tidak mem-pressure (memberi tekanan) pada pihak-pihak yang bertikai.

Tidak salah bila ada orang yang mengatakan bahwa perkawinan itu ibarat lautan. Bila diamati dari pantai, ia akan nampak indah dan menyenangkan, tapi di tengah laut yang luas, kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan setiap saat siap saja membuyarkan lamunan indah. Ombak, badai, hujan dan serangan hewan laut bisa saja meluluh lantakkan harapan yang kadung terhamparkan. Tapi itu semua itu baru sebuah kemungkinan yang belum tentu menjadi sebuah kenyataan, sehingga tidak perlu takut yang berlebihan. Apalagi sampai menjadi momok dan hantu yang menyeramkan, membuat kita menjadi ketakutan untuk menjalani pernikahan.

Jadi nampaknya benar apa yang dikatakan orang bijak, bahwa bila sudah mempunyai niat untuk menikah, maka jangan hanya melihat gampange (enaknya) saja, tapi lihat juga gampenge. (jurang yang terjal di pinggir gunung), sebab di sana tidak hanya ada seneng (senang) saja, tapi juga ada senepnya (susahnya). Perlu berpikir matang untuk menjalaninya dan perlu kesiapan mental untuk melakoninya. Harus mempertimbangkan untung rugi dan positif negatifnya, sehingga bila sudah dijalani dan ternyata harus berpisah karena beberapa sebab, hendaklah perpisahan itu merupakan pilihan terakhir dan terbaik, yang merupakan hasil dari istikhoroh dan perenungan yang dalam. Sebab, apapun alasannya, perceraian adalah menyakitkan dan sangatlah menyakitkan. Menimbulkan luka yang sangat dalam bagi pelakunya, dan butuh waktu yang panjang untuk menyembuhkan luka dan menghapus traumanya.


 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan