5.11.11

Audio Ngaji Bidayatul Hidayah Oleh KH Maimoen Zubair

Pengajian Kitab Bidayatul hidayah ini dikaji setiap hari selain hari kamis sore dan senin sore dan sudah katam pada bulan April 2011. Kali ini share saya untuk Audio Pengajian Kitab Bidayatulhidayah bisa bermanfaat bagi kita semua dan semoga kami mendapat Ridlo dari beliau dengan tujuan agar teman-teman kita yang sedang belajar dan tidak bisa kepesantren Al-Anwar tercinta ini bisa ikut merasakan mendalami kitab Bidayatul Hidayah yang dikaji oleh seorang ulama' besar di negeri ini.

Tentang pengarang
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).

Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”

Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193-194).

Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.

Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).

Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).

Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).

Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi


Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”

Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.”Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201)


Tentang kitab
Kitab ini membahas proses awal seorang hamba mendapatkan hidayah dari Allah Ta'ala, dimana sang hamba sangat membutuhkan pertolongan dan bimbingan dari-Nya. Juga menjelaskan seputar halangan (pasif) maupun rintangan (aktif) yang tersebar di sekitarnya, yaitu ketika sang hamba berusaha untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, melalui tata cara dan adab yang benar.


Kitab ini secara garis besar berisi tiga bagian. Yakni bagian tentang ada-adab ketaatan, bagian tentang meninggalkan maksiat, dan bagian tentang bergaul dengan manusia. Sang Maha Pencipta dan dengan sesama makhluk. Menurut al-Ghazali, jika hati kita condong dan ingin mengamalkan apa-apa yang ada di buku ini, maka berarti kita termasuk seorang hamba yang disinari oleh Allah dengan cahaya iman di dalam hati.

Versi BOX



Karena Kalau Browsing di HP tidak bisa Download lewat BOX jadi kami sertakan Versi Link Biasa Juga disini Selamat Mendownload Aja Deh

1. Muqoddimah H.2 - Amma Ba'du H.3.wma
10. Wa Ijtanib Fi Wudluika17 - Adaabul Ghusli H.19 (2).wma
10. Wa Ijtanib Fi Wudluika17 - Adaabul Ghusli H.19.wma
11. Adaabul Ghusli H.19 - Wa Ihdzar An Tamassa Dzakaraka H.20 (2).wma
11. Adaabul Ghusli H.19 - Wa Ihdzar An Tamassa Dzakaraka H.20.wma
12. Faidzaa Farogho Minal Wudlu' H.20 - Adaabut Tayammum H.21 (2).wma
12. Faidzaa Farogho Minal Wudlu' H.20 - Adaabut Tayammum H.21 .wma
13. Adabit Tayammum H. 21 - Adabul Khuruj ilal masjid H.22 (2).wma
13. Adabit Tayammum H. 21 - Adabul Khuruj ilal masjid H.22 .wma
14. Adabul Khuruj Ilal Masjid H.22 - Allahumma Inni As-aluka Imanan Shodiqon H.24 (2).wma
14. Adabul Khuruj Ilal Masjid H.22 - Allahumma Inni As-aluka Imanan Shodiqon H.24.wma
15. Allahumma Ikki As-aluka Imanan Shodiqon H.24 - Faidza Faroghta Minaddu'a' H.26 (2).wma
15. Allahumma Ikki As-aluka Imanan Shodiqon H.24 - Faidza Faroghta Minaddu'a' H.26 .wma
16. Faidza Faroghta minaddu'a' H.26 - Tsumma qul Ma Qolahu 'Isa H.28 (2).wma
16. Faidza Faroghta minaddu'a' H.26 - Tsumma qul Ma Qolahu 'Isa H.28.wma
17. Tsumma qul Ma Qolahu 'Isa H.28 - al Robi'ah subhaanallaah H.30 (2).wma
17. Tsumma qul Ma Qolahu 'Isa H.28 - al Robi'ah subhaanallaah H.30.wma
18. al Robi'ah subhaanallaah H.30 - wattakhodzu al ilma H.32 (2).wma
18. al Robi'ah subhaanallaah H.30 - wattakhodzu al ilma H.32.wma
19. wattakhodzu al ilma H.32 - Al haalah altsaaniyah H.34 (2).wma
19. wattakhodzu al ilma H.32 - Al haalah altsaaniyah H.34.wma
2. Amma Ba'du H.3 - Wa'lam Anna Annas H.6.wma
20. Al haalah altsaaniyah H.34 - fa in 'ajazta H.36 (2).wma
20. Al haalah altsaaniyah H.34 - fa in 'ajazta H.36.wma
21. fa in 'ajazta H.36 - Fa idza Fata fala 'Auda H.38 (2).wma
21. fa in 'ajazta H.36 - Fa idza Fata fala 'Auda H.38.wma
22. Fa idza Fata fala 'Auda H.38 - Adabun Naumi H.41 (2).wma
22. Fa idza Fata fala 'Auda H.38 - Adabun Naumi H.41.wma
23. Adabun Naumi H.41- Fa idza Istaiqodzta H.43 (2).wma
23. Adabun Naumi H.41- Fa idza Istaiqodzta H.43.wma
24. Fa idza Istaiqodzta H.43 - Adabus Sholah H.44 (2).wma
24. Fa idza Istaiqodzta H.43 - Adabus Sholah H.44.wma
25. Adabus Sholah H.44 - Tsumma Innaki Ta'lamina H.46 (2).wma
25. Adabus Sholah H.44 - Tsumma Innaki Ta'lamina H.46.wma
26. Tsumma Innaki Ta'lamina H.46 - Walmar-atu Laa Taf'alu Dzalika H.48 (2).wma
26. Tsumma Innaki Ta'lamina H.46 - Walmar-atu Laa Taf'alu Dzalika H.48.wma
27. Walmar-atu Laa Taf'alu Dzalika H.48 - Adaabul Imamati Wal Qudwati H.51.wma
28. Adaabul Imamati Wal Qudwati H.51 - Adaabul Jum'ati H.53.wma
29. Adaabul Jum'ati H.53 - Wamahma Khoroja Al-Imamu H.56.wma
30. Wamahma Khoroja Al-Imamu H.56 - Wa Aktsir Ad-Du'aa H.57.wma
31. Wa Aktsir Ad-Du'aa H.57 - Aadaabu As-Shiyaam H.58.wma
32. Aadaabu As-Shiyaam H.58 - Walaa Tadhunna Idza Shumta H.59.wma
33. Walaa Tadhunna Idza Shumta H.59 - Al-Qismu Ats-Tsani Fijtinabil Ma'ashi H.61 .wma
34. Al-Qismu Ats-Tsani Fijtinabil Ma'ashi H.61 - Ammal 'Ainu H.62 .wma
35. Ammal 'Ainu H.62 - Waruwiya Annahu Qutila Syahidun H.64 .wma
36. Waruwiya Annahu Qutila Syahidun H.64 - Ats-Tsalitsu Al-Ghibatu H.66.wma
37. Ats-Tsalitsu Al-Ghibatu H.66 - Ar-Robi'u Al-Mirou Wa Al-Jidalu H.67.wma
38. Ar-Robi'u Al-Mirou Wa Al-Jidalu H.67 - As-Sadisu Al-La'nu H.69 .wma
57. Wa Iyyaka An Tubadzdzila H. 96 - Fa Idza Akhthou Fi Masalatin H.96 .wma
58. Fa Idza Akhthou Fi Masalatin H.96 - Wa Ihdzar Minhum H.97 .wma
59. Wa Ihdzar Minhum H.97 - Wakadzalika Qola Ibnu Tamam H.98 .wma
60. Wakadzalika Qola Ibnu Tamam H.98 - Wa Kun Aidlon Kama Qola Ba'dlul Ulama' H.99 .wma
61. Wa Kun Aidlon Kama Qola Ba'dlul Ulama' H.99 - Wa Tusyajji' Ahadan H.99 .wma
62. Wa Tusyajji' Ahadan H.99 - Fahadzal Qodru H.100 .wma
63. Fahadzal Qodru H.100 - Wa In Roaita Nafsaka H.101 .wma
64. Khataman Bidayah 2011-Apr-16.wma
8. tsumma khudz gurfatan liwajhika H.15 - tsumma imsah udzunaik H.16.wma
9. Tsumma Imsah Udzunaik H.16 - Wa Ijtanib Fi Wudluika H.17.wma

Semoga Bermanfaat Amiiin...

11 komentar:

Ahmad Maslakhudin said...

Assalamualaikum
minta ijin untuk download
Tsukron Katsiron

Ahadan Blog said...

solakan semoga bermanfaat

Anonymous said...

Assalamu'alaikum...
Smoga Al Anwar, Mbah Yai Maimun wa Alih
slalu jadi "Obor" re Ilmu... Amin...
Maaf... Bidayah no 3 - 7 dan 39 - 56 kok gaib yah.. klo ada bisa di unggah juga ngihhh.... maturnuwun...

SD ISLAM AL FIRDAUS said...

Nderek donlot, Mas .. Matur nuwun (Faiz)

Arif As 66 BTG said...

Silahkan semoga bermanfaat buat kita semua

sakhy said...

askum, sy sdh donlod bbrp file, swun lho gus, tp Maaf... Bidayah no 3 - 7 dan 39 - 56 kok blum ada...... klo ada bisa di unggah juga nggihhh.... maturnuwun tsumma waskum

Anonymous said...

banyak yang ilang urutan filenya kayaknya

Anonymous said...

Assalamu'alaikum mugi mugi katah manfaat lan barokah

Anonymous said...

Assalamu'alaikum kang, nderek download nggeh.. maturnuwun.

Anonymous said...

Assalamu alaikum....
Kang q melu download ya...

1500.com said...

matur nuwun kakak...

Post a Comment

 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan