11.4.14

[Tulisan baru] KH. Muhammad Najih Maimoen – Islam Liberal Proyek Imperialisme Barat

Ribath Darusshohihain menulis:"Semoga bermanfaat... Part 1 Part 2 Part 3 Part 4 Part 5 "

10.4.14

[Tulisan baru] KH. Muhammad Najih Maimoen – Karakteristik Tarbiyah Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki

Ribath Darusshohihain menulis:"Simposium Hai'ah Ash Shofwah oleh KH. Muhammad Najih Maimoen dengan tema Karakteristik Tarbiyah Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki, semoga bermanfaat"

5.2.14

Pertahankan NKRI; Habib Lutfi & SBY

“NKRI sudah bentuk akhir yang tidak bisa ditawar. Kita siap menghadapi mereka itu karena di belakang kita ada TNI dan POLRI sebagai pendukung penuh tegaknya NKRI,” kata Habib Luthfi dalam ceramahnya pada acara Silaturahmi Nasional antara Ulama, TNI, dan POLRI se-Indonesia di Dupan Square Pekalongan, Selasa (4/2).

Di hadapan sedikitnya 2000 tamu undangan silaturahmi, Habib Luthfi menegaskan kembali sikap umat Islam Indonesia sebagai pembela NKRI hingga mati.

"Saya harus menegaskan ulang sikap kita itu di hadapan seluruh tamu yang hadir mumpung ada ulama, TNI, POLRI, Panglima TNI Jendral Moeldoko, dan KAPOLRI Jenderal Sutarman,” tutur Habib Luthfi.

Ia mengharapkan kerja sama lebih erat unsur ulama, TNI, dan Kepolisian dalam mengawal keutuhan NKRI. Koordinasi tiga komponen ini, lanjut Habib Luthfi, menjadi jaminan keselamatan NKRI.

Sementara Ketua PC LDNU Pekalongan Hasyim Basyaeban yang turut menghadiri silaturahmi mengatakan, acara tingkat nasional yang digagas Habib Luthfi menjadi bukti kedekatan dan jaringannya yang cukup luas untuk menjaga tetap utuhnya NKRI.

“LDNU Pekalongan dalam hal ini akan berupaya sekuat tenaga mewujudkan NKRI melalui program dakwah Islam yang ramah bukan dengan cara Islam yang marah,” tandas Hasyim kepada NU Online
Habib Luthfi bin Yahya menyatakan kesiapan umat Islam Indonesia menghadapi kelompok manapun yang mengubah bentuk negara Indonesia dengan bentuk lainnya. Bahkan kita bersedia berhadapan dengan mereka yang berupaya mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

SBY : SAYA BERTERIMASIH PADA HABIB LUTFI
Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara pribadi dan mewakili bangsa Indonesia menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada Habib Muhammad Luthfy bin Yahya atas prakarsa dan upaya yang telah dan akan dilakukan untuk menjaga keutuhan NKRI.

“Dengan gerakan yang dipelopori beliau Habib Luthfy, melalui Majelis Maulidurrasul seperti yang kita saksikan bersama ini, yakni menjaga persatuan dan kesatuan dan menegakkan NKRI,” katanya.

SBY menambahkan, kalau bangsa Indonesia memiliki tekad, semangat dan upaya seperti yang dicontohkan Rais Aam Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) selama ini, kita bersatu dan bekerja keras bersama membangun negeri, maka atas izin Allah SWT, Indonesia makin ke depan akan semakin maju, makin aman dan rakyatnya makin sejahtera.

Demikian dikatakan Presiden RI ke-6 saat memberikan sambutan pengarahan di hadapan puluhan ribu umat Islam yang menghadiri Majelis Maulidurrasul SAW 1435 H yang berlangsung di Gedung Kanzus Sholawat Pekalongan Rabu (5/2).

"Saya secara pribadi mengucapkan terima kasih atas komitmen dan kebulatan tekad yang dipimpin Habib Luthfy untuk seti menjaga keutuhan NKRI," ujar Presiden SBY.

Dikatakan, kalau bangsa Indonesia bisa bersatu dalam keberbedaan, baik berbeda dalam beragama, suku, etnis, bahasa, akan tetapi tetap bersatu dan berikhtiyar bersama, maka tidak ada persoalan seberat apapun yang tidak bisa kita hadapi.

Kehadiran Presiden SBY di Majelis Maulidurrasul yang diprakarsai Habib Luthfy merupakan yang keduakalinya setelah yang pertama pada bulan April 2008 yang lalu, sedangkan kali ini merupakan kunjungan yang kedua dari rangkaian kunjungan kenegaraan di beberapa daerah di jalur Pantura.

Dalam kesempatan kehadiran di Kota Batik Pekalongan, Presiden dan rombongan yang menggunakan kereta api luar biasa juga menyempatkan melihat kerusakan jalan di jalur Pantura dan beberapa sentra batik di Pekalongan bersama ibu negara Ani Yudhoyono.

Sementara itu, Khodimul Maulid Habib Luthfy bin Yahya mengatakan, kekuatan cinta tanah air sesungguhnya ada di pundak TNI dan Polri dan dirinya beserta seluruh jamaah siap mendukung sepenuhnya.

Di hadapan Presiden SBY, Habib Luthfy mengajak kepada seluruh jamaah yang hadir untuk berjanji untuk tetap setia mempertahankan NKRI dan akan melawan sekaligus menghadapi segala kekuatan yang akan menggoyahkan NKRI.

Tampak hadir beberapa menteri kabinet Indonesia Bersatu jilid 2, yakni Mensesneg Sudi Silalahi, Mendikbud HM. Nuh, Menteri Agama H. Surya Dharma Ali, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Sosial Saleh Al Jufri, Menteri Pertanian Suswono dan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faisal Zaini. Kemudian Kapolri Jendral Polisi Sutarman, Panglima TNI Jendral TNI Moeldoko, ribuan ulama, kiai, habaib dari berbagai pelosok tanah air.

Kegiatan maulid di Kanzus Sholawat dimulai sejak pagi diisi dengan pembacaan qasidah maulid Simtud Duror, Dalailul Khoirot, jamaah Shalat Dhuhur dan puncak acara maulid dan diakhiri dengan sambutan shohibul bait, sambutan Gubernur Jawa Tengah dan sambutan pengarahan Presiden.

BACA JUGA :

.


4.2.14

Kebebasan Menentukan Harga Dalam Perdagangan

PEkerjaan-DAGANG Setiap orang berhak menjual atau tidak menjual apa yang dimilikinya. Demikian pula setiap orang berhak membeli atau tidak membeli apa yang diinginkannya. Hal ini ditegaskan dalam Quran:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”. (an-Nisa’:29). Hal ini juga ditegaskan dalam Hadis: “sesungguhnya jual beli hanya bisa dilakukan atas dasar suka sama suka”. (Ibnu Majah:2176). Rasulullah juga melarang jual beli yang dilakukan dalam keadaan terpaksa seperti diceritakan Ali bin Abi Thalib. (Abu Daud:2935).

 

Lebih dari itu, Rasulullah sebagai pribadi maupun pemimpin memperlihatkan bagaimana beliau tidak memaksa orang lain untuk menjual barangnya. Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, Rasulullah bermaksud mendirikan masjid di atas tanah yang dimiliki Bani Najjar. Lalu Rasulullah meminta kepada Bani Najjar agar menawarkan tanahnya. Tetapi Bani Najjar tidak bermaksud menjualnya dan hanya bersedia mewafakafkannya. (Bukhori:410). Versi lain menyebutkan bahwa Rasulullah membayarnya dengan 10 dinar. (Thabaqat Ibnu sa’ad). Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah menghormati hak milik orang lain dan tidak mencabutnya dari pemiliknya, meskipun itu untuk kepentingan umum.

Rasulullah bahkan tidak memiliki privilege yang mengharuskan orang lain menjual barangnya kepada beliau. Aisyah bercerita bahwa Rasulullah bermaksud membeli kain dari seorang Yahudi dengan pembayaran tempo, tetapi orang Yahudi tersebut menolaknya. (Tirmidzi:1134). Demikian pula Anas bin Malik menceritakan kisah yang sama, tetapi penjualnya adalah seorang Nasrani. (Ahmad:13070).

Kebebasan yang dimiliki para pelaku pasar mencakup kebebasan menentukan harga tanpa campur tangan penguasa.  Anas Bin malik bercerita bahwa pernah terjadi harga-harga membumbung pada masa Rasulullah. Lalu orang-orang berkata kepada beliau, “Tetapkanlah harga untuk kami”. Rasulullah menjawab, “Allah yang menetapkan harga, menyempitkan, melapangkan dan memberikan rizqi. Dan sesungguhnya aku berharap menghadap Allah dalam kondisi tiada seorangpun dari kalian menuntutku atas kedzaliman jiwa ataupun harta”. (Tirmidzi:1235).

Rasulullah menolak menetapkan harga, bahkan mengkaitkannya dengan kedzaliman. Menjelaskan Hadis tersebut, Muhammad bin Abdul Hadi dalam Hasiyatus Sindy ala Ibni Majah menuturkan bahwa menetapkan harga sama dengan mengelola milik orang lain tanpa seijin pemiliknya. Dan itu termasuk kedzaliman.

  Mungkin anda ingin baca yang ini :

Asy-Syaukani dalam Nailul Author menyimpulkan bahwa menetapkan harga adalah kedzaliman. Menurutnya, setiap orang berkuasa atas hartanya dan menetapkan harga sama dengan pengekangan kepada pemilik hak. Disamping itu seorang penguasa berkewajiban melindungi kepentingan umat. Dan melindungi kepentingan konsumen dengan memurahkan harga tidaklah lebih utama ketimbang melindungi kepentingan produsen dalam mencapai harga yang diinginakannya. Ketika kepentingan kedua kelompok bernilai sama, maka penguasa harus membuka ruang bagi kedua kelompok untuk berusaha mencapai kepentingan masing-masing. Dan memaksa produsen menjual dengan harga yang tidak diinginkannya bertentangan dengan ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”. (an-Nisa’:29).

Sedangkan Ibnu Taimiah dalam al-Ahisbah memberikan catatan bahwa jika pedagang tidak melakukan kedzaliman dan harga naik karena kelangkaan barang atau karena meningkatnya jumlah konsumen, maka memaksa pedagang menjual dengan harga yang ditetapkan adalah pemaksaan ilegal.

Kebebasan dimaksud di atas juga mengimplikasikan bahwa seseorang boleh menjual barang di bawah harga pasar. Kisah Umar bin Khattab sebagai amirul mu’minin dan Hatib bin Abi Balta’aah sebagai pedagang membenarkan implikasi tersebut. Suatu kali Umar bertemu Hatib di pasar sedang membawa dua kantong anggur. Umar menanyakan harga anggur tersebut. Hatib menjawab bahwa anggurnya dijual dengan harga 1 dirham per dua mud. Lalu Umar berkata kepada Hatib, “aku mendapat kabar, akan datang kafilah dagang dari Thaif membawa anggur. Dan mereka memperhitungkan hargamu. Karena itu naikkan hargamu atau bawa pulang anggurmu dan juallah (di rumahmu) sesukamu”. Sesampainya di rumah, Umar melakukan instropeksi, kemudian mendatangi Hatib di rumahnya. Umar berkata kepada Hatib,”apa yang aku katakan tadi bukanlah ma’rifah atupun keputusan, melainkan kebaikan yang aku inginkan untuk penduduk desa. Karena itu juallah di manapun dan bagaimanapun kamu mau”. Peristiwa itu menggambarkan bahwa semula Umar memang melarang dumping. Tetapi setelah dipikirkan kembali Umar memperbolehkannya. (Baihaqi)

Apakah kebebasan menentukan harga juga berimplikasi kepada kebebasan penjual dalam menentukan keuntungan yang diperolehnya tanpa ada batas maksimal berdasarkan prosentase ataupun nominal? Setidaknya terdapat dua hadis yang dapat digunakan untuk menelusuri hal tersebut. Pertama, Urwah al-Bariqy bercerita bahwa Rasulullah memberikan satu dinar kepadanya untuk membelikan Rasulullah seekor kambing. Dengan satu dinar Urwah membeli dua ekor kambing. Kemudian yang seekor dijual lagi dengan harga satu dinar. Lalu Urwah kembali dengan membawa seekor kambing dan satu dinar. Dan Rasulullah pun mendoakan berkah kepadanya. (Bukhori:3370). Dengan demikian Urwah telah menjual seekor kambing dengan keuntungan 100 persen. Dan apa yang dilakukan Urwah mendapat restu dari Rasulullah.

Kedua, Abdullah ibnu Zubair bercerita bahwa ketika meninggal, ayahnya memiliki hutang 1.200.000 dan meninggalkan warisan beberapa tanah dan rumah. Salah satu tanah yang diwariskan adalah tanah di ghobah yang dibeli Zubair ibnu Awwam seharga 170.000. Kemudian Abdullah mengkapling tanah tersebut menjadi beberapa kapling dan setiap kapling dijual seharga 100.000. Beberapa kapling diantaranya dijual kepada Abdullah ibnu Ja’far, Amr ibnu Utsman, Mundzir ibnu Zubair, Abdullah Ibnu Zam’ah dan Muawiyah. Dari penjualan seluruh kapling diperoleh uang 1.600.000. (Bukhori:2897). Berarti laba yang diperoleh dari penjualan tanah tersebut adalah 941 persen. Dari kedua Hadis tersebut, tampaknya sulit disimpulkan bahwa laba perdagangan memiliki batas maksimal yang ditentukan.

Seluruh informasi di atas menngambarkan bahwa para pelaku pasar memiliki kebebasan dalam menentukan harga, dan bahwa pihak pembeli/konsumen tidaklah lebih diutamakan di atas pihak penjual/produsen. Konsekwensinya adalah bahwa pemerintah tidak seharusnya melakukan intervensi baik untuk kepentingan pembeli maupun penjual. Dalam keadaan demikian maka mekanisme pembentukan harga akan sangat ditentukan oleh preferensi para pelaku pasar. Dan pada gilirannya pembentukan harga akan ditentukan oleh faktor permintaan dan penawaran. Bahkan secara eksplisit Ibnu Taimiyah (al-hisbah) menyebutkan bahwa terbentuknya harga karena permintaan dan penawaran adalah sesuatu yang dapat diterima.

Moh Najib Buchori dalam Gagasan

 

Tambahan :

Syaikhina pernah mewasiati pada slah satu santri dalam urusan berdagang, “Nek Njukuk Bati Ojo Sampek Luwih Ko 50% yo Marai ga’ Barokah”

Kira2 Seperti itu kurang lebihnya.

Mari kita tela’ah lebih lanjut kenapa keuntungan diatas 50% ini tidak membawa Berkah, ada apa disitu??? yang jelas dalam bidang perdagangan pastinya yang diutamakan adalah keridloan sang penjual dan pembeli, tapi apa yang terjadi kalau si pembeli ini tahu kalau ternyata sang penjual ini menjual barangnya terlalu mahal, pasti akan menimbulkan kekecewaan pada sang pembeli dari sinilah pendapatan melimpah tidak akan menjadi berkah.

Monggo sami2 ngedol barang sing murah2 ojo njukuk bati akeh2

NU MENGAYOMI DAN MENENTRAMKAN HATI UMAT SELAMA 88 TAHUN

NU Online

Tanggal 31 Januari 2014 kemarin, NU-ku sudah genap berusia 88 tahun. Angka tersebut bukanlah sekedar angka. 88 bermakna 88 tahun pengabdian NU kepada Indonesia, tanah kelahiran ulama dan nahdliyyin. NU memiliki makna yang berbeda-beda di setiap hati nahdliyyin di seluruh Indonesia.
Bagi saya, mahasiswi yang telah dibesarkan NU selama 21 tahun, NU bermakna sebagai rumah yang senantiasa mengayomi dan menenteramkan hati. Di tengah-tengah merebaknya isu gesekan antara golongan keras Islam dan golongan agama Islam lainnya yang saling mengkafirkan satu sama lain, NU menjadi rumah yang menenangkan. Disaat golongan-golongan keras tersebut begitu mudah menyalahkan yang berbeda dengannya, NU dengan prinsip tasamuh dan tawasuthnya selalu menjadi air yang menyejukkan. Di saat golongan-golongan lain terlalu mudah marah dan tersinggung atas perbedaan, NU selalu sabar dan memaafkan perbedaan.
Saya selalu senang mendengarkan ulama NU berbicara di depan publik. Pembawaannya yang santai namun berwibawa membuat pendengarnya menikmati setiap ucapannya. Ketika saya sedang tidak berada di daerah Jawa Timur (karena memang di JawaTimur banyak nahdliyyin) dan mendengar seseorang berbicara, saya bisa merasakan kalau dia juga nahdliyyin tanpa harus diberitahu.
Posting Terkait :
logo-nu-copy Hal sederhana itu membuat saya tersenyum dalam hati. Mengapa? Karena saya tidak perlu mikir dua kali atau bahkan suudzon tentang apa yang diucapkan. Bukannya saya selalu suudzon sama orang, tapi kalau yang diucapkan itu cenderung menuju ke pemikiran-pemikiran keras, saya otomatis mikir dulu bahkan menolak ucapannya. Itu berarti kemoderatan NU telah mengakar di otak saya.
Saya mengagumi Kiai Said Aqil, karena suatu ketika pernah mendengar beliau berbicara. Pidato beliau yang sangat berisi dengan cara penyampaianya yang enak membuat saya bangga memiliki ulama yang fatwanya selalu menjadi patokan. Fatwa-fatwa yang merupakan ijtihad ulama yang menekankan kontekstualisasi terhadap sumber referensi utama, al-Quran dan Hadits, membuat nyaman warga nahdliyyin dalam menjalankan tugasnya sebagai Hamba Allah, baik fatwa dalam lingkup fiqh, hal-hal ubudiyah, uluhiyah dan lainnya. Hal sederhana tersebut hanyalah secuil dari makna istimewa NU bagi saya.
Di lihat dari sejarahnya, NU merupakan salah satu pendiri bangsa ini. Ulama NU turut berjuang melawan kolonialisme dan akhirnya berhasil meraih kemerdekaan. Kini, 88 tahun NU tetap berjuang, mengabdi dan mengawal bangsa ini bersama kelompok lainnya, saudara sesama. 21 tahun dididik oleh Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah secara mengakar membuat saya mencintai tradisi-tradisi NU diantaranya dibaan atau sholawatan. Berada diantara nahdliyyin yang cinta sholawat begitu berkesan dalam hati, terasa tenteram.
Saat ini, suatu hal yang begitu membanggakan mengetahui terciptanya sebuah republik sholawat, wadah bagi mereka pecinta sholawat dengan tali silaturahmi yang erat satu sama lain. Pemuda-pemudi Nahdliyyin luar biasa  yang begitu aktif membangun bangsa melalui organisasi seperti PMII, IPPNU dan IPNU membuat saya bangga memiliki teman seperjuangan yang sangat potensial menjadi pemimpin bangsa masa depan.
Tidak hanya pandai dalam berorganisasi, namun juga hebat dalam mengkaji kitab. Pemikiran-pemikiran mereka yang nyeleneh tapi asyik ini mewarnai perjalanan saya dalam usaha perwujudan impian untuk mampu menjadi generasi muda NU yang kompetitif dan membawa nama harum NU ke kancah internasional. Beberapa hari yang lalu NU kehilangan satu nyawanya, Mbah KH Sahal Mahfudh. Kesedihan mendalam kehilangan ulama ahli fiqih sosial dirasakan oleh seluruh warga nahdliyyin. Semoga segera akan muncul fuqaha penerus beliau. Mungkin beberapa dari kita? Siapa tahu. Aamiin.
Selamat Harlah NU ke 88, semoga tetap istiqomah mengawal umat di tengah hiruk pikuk kekacauan yang diderita bangsa ini. Tetaplah pada khittahmu, tetaplah menyejukkan kemarahan, menuju Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Kami, nahdliyyin, akan setia menjadi bansermu. (*)

Jangan Biarkan Stok Kiai Menipis

Grobogan, NU Online
Zaman sekarang banyak pencari ilmu lebih memilih tempat pendidikan yang berbasis formal dibanding pendidikan pesantren. Pasalnya, hasilnya yang diharapkan ialah ijazah dan pekerjaan. Jika fenomena ini terus berlanjut, maka stok kiai ke depan akan minim dan tinggal menunggu kehancuran.
Demikian di antara isi ceramah Ketua Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) Jateng KH Dzikron Abdullah dari Semarang di halaman pesantren Tarbiyatus Salikin pada acara Tsulus Sanah Idaroh Syu’biyyah JATMAN di desa Selo, Tawangharjo kabupaten Grobogan, Ahad (2/2).
  Berita Terkait
Ia menuturkan, sekarang yang mondok itu anak-anak kecil. Dahulu orang yang berjenggot masih tetap setia mencari ilmu dan mengabdi di pesantren.
“Tak hanya isapan jempol, apabila pesantren yang memproduksi kiai, tidak lagi mencetak kader kiai berkualitas. Sistem pendidikan formal yang banyak diminati khalayak bisa saja menurunkan jumlah kader kiai di masa mendatang,” terang Kiai Dzikron.
Sekarang, insya Allah masih banyak stok kiai yang berkredibiltas ilmu lagi mumpuni. “Coba renungkan, bila fenomena ini berkelanjutan hingga 2020 misalnya, apa nggak kekurangan stok kiai yang hebat? La wong pabriknya tidak lagi memproduksi kualitas kiai seperti zaman dahulu,” pungkasnya.
Dalam acara JATMAN tersebut, dihadiri semua pemimpin tarekat se-kabupaten Grobogan dan jajaran pengurus NU mulai dari tingkat cabang hingga ranting. (Asnawi Lathif/Alhafiz K)

Upaya Pembaharuan Nalar Fikih Indonesia KH Sahal Mahfudz Pati

KH Sahal dan SBY "Karena produk ijtihad maka keputusan fikih bukan barang sakral yang tidalk boleh diubah meskipun situasi sosial budayanya sudah melaju kencang. Pemahaman yang mengsyakralkanfikih jelas keliru… Rumusan Fikih yang dikonstruksikan ratusan tahun lalu jelas tidak memadai untuk menjawab semua persoalan yang terjadi saat ini.Situasi sosial, politik dan kebudayaanya sudah berbeda." (KH. Sahal Mahfudh)

Kiai Sahal, ulama dan intektual Islam langka yang karismatik, bersahaja, dan tawadu’. Intelektualitasnya bukan hanya diakui di Indonesia saja, namun juga di Timur Tengah. Buku-bukunya bukan hanya dikaji di Indonesia saja, namun juga di Timur Tengah.

Kiai Sahal telah mendahului kita, namun selayaknya ulama besar Islam lainnya, beliau akan selalu hidup, diingat, dikenang bahkan dipikirkan dan disebutkan berulang melalui pemikiran-pemikirannya, karya-karyanya yang akan terus dikaji-kembangkan oleh para penerus beliau. Catatan sederhana ini adalah diantara upaya untuk sedikit mengkaji pemikiran beliau yang luas itu, khususnya dalam bidang nalar hukum Islam (fikih) Indonesia.

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Achmad Sahal bin Mahfudz. Lahir di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, pada 17 Desember 1937. Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda ini adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari tahun 2000 hingga beliau meninggal. Dalam Muktamar NU di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (27/3/2010), untuk ketiga kalinya beliau kembali didaulat menjadi Rais Am PBNU masa bakti 2010-2015.

Kiai yang juga santri dari Syekh Yasin Al Fadani ini tergolong produktif. Banyak karya tulis beliau yang sampai saat ini masih terus dikaji, baik dalam Dunia Pesantren maupun Akademis. Menurut beberapa sumber juga dikaji di Timur Tengah, seperti di Universitas Qur’anul Karim, Sudan. Karya-karya beliau diantaranya adalah:

1. Tharîqah al Hushûl ‘ala Ghâyah al Wushûl (Surabaya: Diantama, 2000); 2. Al Bayân al-Mulamma’‘an Alfaz al Luma’ (Semarang: Thoha Putra, 1999); 3. Telaah Fikih Sosial, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh (Semarang: Suara Merdeka, 1997); 4. Nuansa Fikih Sosial (Yogyakarta: LkiS, 1994) ; 5. Pesantren Mencari Makna (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999); 6. Ensiklopedi Ijma’ (terjemah bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab Mausû'ah al-Ijmâ’(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987); 7. Faidhu al-Hijâ ‘ala Nail al-Rajâ (1962); 8.Al Tsamarah al Hajainiyah, (Nurussalam, 1966); 9.Intifâkh al-Wadajain ‘inda Munâdhârâh Ulamâ al-Hajain (1959); 10.Luma’ al-Hikmah ila Musalsalat al-Muhimmât (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati); 11. Al-Faraid al-Ajibah, (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati, 1959) ;12. Penulis kolom “Dialog dengan Kiai Sahal” di harian Duta Masyarakat; 13. Dan masih banyak karya-karya beliau yang lain, baik risalah ataupun makalah, yang sekiranya tak perlu penulis sebutkan di sini semuanya.

Nalar Fikih Kiai Sahal

Secara sederhana, jika mengacu tipologisasi bahwa dalam pemikiran hukum Islam (fikih) ada dua kecenderungan besar: “adaptabilitas hukum Islam” dan “normativitas hukum Islam” maka, pemikiran fikih Kiai Sahal termasuk tipe pertama, “adaptabiltas hukum Islam”.Yakni, kecenderungan yang berpandangan bahwa fikih harus dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan perubahan tempat, fikih harus senantiasa berubah manakala situasi dan kondisinya berubah. Sementara kecenderungan kedua adalah sebaliknya.

Mengacu tipologisasi lain yang lebih rinci, diantaranya tipologi yang dibangun Al-Qaradhawi dalam bukunya Dirâsah fî Fikih Maqâshid Syari’ah, bahwa dalam pemikiran fikih kontemporer ini ada tiga madrasah pemikiran: pertama, literalis-tekstualis (al-harfiyyûn) yang memahami teks-teks keagamaan secara literal-tekstual, tanpa mempertimbangkan makna atau tujuan dibalik teks. Madrasah ini disebut oleh Al-Qaradhawi sebagai al-Dhâhiriyyah al-Judud (neo-literalis) yang mewarisi Dhâhiriyah klasik dalam kejumudan dan pemahaman literal-tekstual terhadap teks, bukan dalam keluasan ilmuanya.

Kedua, adalah kebalikan dari madrasah pertama.Ketika madrasah pertama cenderung literalistik-tekstualistik maka, madrasah kedua ini justru terlalu kontekstual, mengesampingkan teks, mendewakan makna di balik teks, berpandangan bahwa agama adalah substansinya, bukan bentuk lahirnya, tak segan meninggalkan teks-teks yang bersifat qsth’iy (definitif). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa madrasah kedua ini adalah madrasah yang cenderung abai terhadap teks dan mendewakan makna dibalik teks.

Ketiga, adalah madrasah wasathiyyah (moderat) yang menengah-nengahi dua madrasah di atas. Madrasah ini tak memahami teks secara literal-tekstual namun juga tidak mendewakan makna di balik teks sehingga mengesampingkan teks.Akan tetapi, berusaha memberikan kepada keduanya porsinya masing-masing secara seimbang. Nah, kedalam madrasah ketiga inilah pemikiran fikih Kiai Sahal dapat dikelompokkan.

Pemikiran fikih Kiai Sahal termasuk katagori kecenderungan pertama: “adaptabilitas hukum Islam”—dalam tipologisasi pertama—atau termasuk madrasah ketiga (wasathiyah/moderat)—tipologisasi kedua—nampak jelas dari beberapa pandangan beliau, dianataranya beliau mengatakan, "Rumusan fikih yang dikonstruksikan ratusan tahun lalu jelas tidak memadai untuk menjawab semua persoalan yang terjadi saat ini. Situasi sosial, politik dan kebudayaanya sudah berbeda.Dan hukum sendiri harus berputar sesuai ruang dan waktu…" dan "Karena produk ijtihad maka keputusan fikih bukan barang sakral yang tidalk boleh diubah meskipun situasi sosial budayanya sudah melaju kencang.Pemahaman yang mengsyakralkan fikih jelas keliru."

Selain itu, juga bisa dilihat melalui beberapa karya beliau. Khususnya “Nuansa Fqih Sosial” yang cukup monumental, dimana buku ini dalam tipologi Mahsun Fuad melalui bukunya yang berjudul Hukum Islam Indonesia, termasuk berkecenderungan “kontekstualisasi-mazhabi responsi-kritis emansipatoris.” Kemudian, melihat dari temanya (fikih sosial) nampak bahwa beliau, bersama para ulama dan intelektual Islam dunia lainnya, sedang berjalan di atas kecenderungan besar kajian fikih kontemporer, yakni kajian dengan metode tematik (maudhû’iy).

Kecenderungan pemikiran beliau yang seperti di atas ini sebenarnya wajar jika melihat bahwa beliau adalah ulama NU-tradisionalis (bahkan Rais Am PBNU sampai wafatnya) yang memang—menurut penulis—“benar-benar” berpegang teguh dengan kaidah dasar NU, yakni: al-muhâfadhah alâ al-qadîm al-shâlih wa al-akhdzu bil jadîd al-ashlah. Penulis katakan “yang benar-benar berpegang teguh” karena di selain tangan belaiu kaidah tersebut cenderung hanya digembor-gemborkan sebagai slogan belaka, tanpa diamalkan dengan sesungguhnya dalam realitas nyata kekinian.

***

Masuk lebih dalam ke pemikiran fikih Kiai Sahal, mengembangkan tipologi yang telah dibangun Mahsun Fuad dalam bukunya di atas, bahwa dilihat dari sisi metodologi penemuan dan pengembangan hukum yang digunanan maka, pemikiran fikih Kiai Sahal adalah dengan metode“kontekstualisasi-mazhabi”. Yakni, sebuah upaya membangun “fikih baru” dan mengembangkannya melaui: mengkontekstualkan tradisi fikih klasik (mazhab). Baik dicapai dengan mengkontekstualkan pendapat-pendapat verbal ulama klasik (qauliy) yang masih dianggap relevan, mau pun dengan mengaplikasikan metodologi yang dirumuskan ulama aklasik seperti: ushul fikih dan qawa’id fikihiyah (manhajiy).   

Melalui metode “kontekstualisasi-mazhabi qauliy-manhajiy” ini Kiai Sahal ingin memperbaharui (tajdîd) fikih dan mengemasnya menjadi paket “fikih baru” yang sesuai denagn tuntutan ruang dan waktu sehingga layak dikonsumsi. Kecenderungan “kontekstualisasi-mazhabi qauliy-manhajiy” ini bisa dilihat semisal melalui peryataan belau; “Di sinilah perlunya "fikih baru" yang mengakomodir permasalahan-permasalahan baru yang muncul dalam masyarakat. Dan untuk itu kita harus kembali ke manhaj, yakni mengambil metodologi yang dipakai ulama dulu dan ushul fikih serta qawa'id (kaidah-kaidah fikih).”

Berbeda dengan metode “kontekstualisasi-mazhabi qauliy-manhajiy” dimana pengembangan fikih cenderung masih banyak berkutat dalam ruang-lingkup khazanah tradisi fikih klasik—dengan metode qauliy dan ­manhajiy-nya--, sebagaimana disebutkan oleh Mahsud Fuad, adalah metode “rekonstruksi-interpretatif” yang dikembangkan oleh Masdar F. Mas’udi (dalam Agama Keadilan), Munawir Sjadzali (dalam Reaktualisasi Ajaran Islam) dan Hazairin (dalam FikihMazhab Nasional). Yakni sebuah metode yang mengupayakan pembangunan “fikih baru” dan mengembangkannya, dimana sudah mulai mengaplikasikan metode-metode alternatif modern, seperti antropologi dll. (Mahsun Fuad: 2005 : 241)

Corak pemikiran fikih Kiai Sahal, selain bisa dilihat dari sisi metodologi penemuan dan pengembangan hukum yang digunakan, juga bisa dilihat dari sisi responsifnya--baik responnya terhadap sosial kemasyarakatan maupun sosial-politik—dan dari sisi implementasinya. Dari kedua sisi responsif dan implementasinya ini, menurut penulis, kecenderungan pemikiran fikih Kiai Sahal sebenarnya tak jauh beda dengan kecenderungan umum pemikiran fikih dalam tubuh Nahdhatul Ulama (NU)--hanya progres dalam berfikirnya yang sedikit membedakan dari yang lain. Kecenderungan tersebut adalah, dari sisi responsifnya, fikih lebih dimaksudkan sebagai medium kritik atas fenomena sosial-kemasyarakatan dan politik. Dari sisi implementasinya, fikih lebih sebagai medium kontrol sosial, bukan untuk diformalkan menjadi hukum positif negara.Yang demikian ini tak lepas dari watak dasar NU yang merupakan organisasi sosial-kemasyarakatan-keagamaan, bukan organisasi politik.

Dari kedua sisi inilah—responsi-kritis dan implementasinya—Mahsud Fuan membahasakan kecenderungan pemikiran fikih Kiai Sahal dengan “responsi-kritis emansipatoris.” Sampai disini, dapat dirumuskan secara sederhana bahwa pemikiran fikih Kiai Sahal, dari sisi metodologi penemuan dan pengembangan hukum yang digunakan, dari sisi respon-kritisnya, dan dari sisi implementasi-emansipatorisnya maka, dapat katakana bahwa pemikiran fikih Kiai Sahal adalah berkecenderungan“kontekstualisasi-mazhabi qauliy-manhajiy, responsi-kritis-emansipatoris.” Kecenderungan ini tak berubah—dalam pengamatan pendek penulis—sampai belaiu meninggal.

***

Selanjutnya, berikut penulis kutipkan pandangan-pandangan beliau terkait nalar fikih yang menurut penulis cukup progresif, moderat, bijaksanana dan menunjukkan kedalaman ilmu beliau. Pandangan-pandangan beliau di bawah nanti akan semakin mendukung tesis-tesis penulis di atas, yang secara umum bisa dikatakan bahwa Kiai Sahal sedang berupaya memperbaharui (tajdîd) pemikiran fikih (Indonesia). Berikut penulis ketipkan:

"Bagaimana pun rumusan fikih yang dikonstruksikan ratusan tahun lalu jelas tidak memadai untuk menjawab semua persoalan yang terjadi saat ini. Situasi sosial, politik dan kebudayaannya sudah berbeda. Dan hukum sendiri harus berputar sesuai ruang dan waktu. Jika hanya melulu berlandaskan pada rumusan teks (klasik), bagaimana jika ada masalah hukum yang tidak ditemukan dalam rumusan tekstual fikih?Apakah harus mauquf (tak terjawab)?Padahal memauqufkan hukum, hukumnya tidak boleh bagi ulama (fuqaha). Di sinilah perlunya "fikih baru" yang mengakomodir permasalahan-permasalahan baru yang muncul dalam masyarakat.Dan untuk itu kita harus kembali ke manhaj, yakni mengambil metodologi yang dipakai ulama dulu dan ushul fikih serta qawa'id (kaidah-kaidah fikih).Pemikiran tentang perlunya "fikih baru" ini…karena adanya keterbatasan kitab-kitab fikih klasik dalam menjawab persoalan kontemporer disamping muncul ide kontekstualisasi kitab kuning.” (Sahal Mahfudh dalam Kritik Nalar Fikih NU, 2002 :xiv-xv)

Pada halaman yang lain beliau mengatakan, "Rumusan ‘fikih baru’ ini kemudian dibahas secara intensif pada Muktamar ke-28 di Krapyak, Yogyakarta yang kemudian dikukuhkan dalam Munas Alim Ulama di Lampung,1992. Di dalam hasil Munas tersebut di antaranya disebutkan perlunya bermazhab secara manhajiy (metodologis) serta merekomendasikan para Kiai NU yang sudah mempunyai kemampuan intelektual cukup untuk beristinbath langsung dari teks dasar.Jika tidak mampu maka diadakan ijtihad jama'i (ijtihad kolektif).Bentuknya bisa istinbath (menggali dari teks asal/dasar) maupun ilhâq (qiyas). Pengertian istinbath al-Ahkâm di kalangan NU bukan mengambil hukum secara langsung dari aslinya, yaitu al-Qur'an dan Sunnah akan tetapi—sesuai dengan sikap dasar bermazhab—mentadbiqkan (memberlakukan) secara dinamis nash-nash fuqaha dalam konteks permasalahan yang dicari hukumnya." (Sahal Mahfudh dalam Kritik Nalar Fikih NU, 2002 : xv-xvi).

Melalui pernyataannya diatas, beliu ingin menyadarkan “kita” bahwa banyak persoalan baru yang hukumnya belum dibahas oleh ulama klasik. Ini sangat logis, sebab kehidupan terus berjalan, sehingga persoalanbaru pun terus bermunculan. Semisal saja hukum handpone (HP) yang di dalamnya terdapat mushhaf al-Qur'an. Penulis masih teringat ketika dalam suatu Bahstul Masail yang penulis ikuti--yang menjadikan permasalahan ini sebagai deskripsi masalahnya—tak ada peserta yang mempu menyodorkan dalil verbal ulama klasik (ibârah, dalam bahas pesantren) yang sharîh (jelas) dari kitab-kitab klasik. Akhirnya, pembahasan pun di-mauquf-kan (diberhentikan).Ini wajar, sebab, pada masa klasik, fenomena al-Qur’an dalam HP belum ada. Dan, persoalan semacam ini sebenarnya hanya bisa diselesaikan secara motodologis.

Oleh sebab itu, menurut beliau, disamping kita bermazhab secara qauliy (tekstual) juga harus bermazab secara manhajiy (metodologis).Namun agaknya, seruan Kiai Sahal  agar—NU khususnya—bermazhab metodologis ini belum mendapatkan respon serius. Ini dibuktikan dengan masih minimnya perhatian terhadap kajian-kajian metodologis, khususnya ushul fikih di kalangan NU.Minin sekali kita jumpai forum Bahtsul Masail yang orientasinya adalahmanhajiy.

Dalam halaman yang lain beliu menyatakan, “fikih itu merupakan prodok ijtihad. Karena produk ijtihad maka keputusan fikih bukan barang sakral yang tidak boleh diubah meskipun situasi sosial budayanya sudah melaju kencang.Pemahaman yang mengsyakralkan fikih jelas keliru.Dimana-mana yang namanya fikih adalah "al-Ilmu bi al-ahkâm al-syar'iyyah al-amaliyyah al-muktasab min adillatihâ al-tafshiliyyah". Definisi fikih sebagai al-muktasab (yang digali) menunjukan pada sebuah pemahaman bahwa fikih lahir melalui serangkaian proses penalaran dan kerja intelektual yang panjang sebelum pada akhirnya dinyatakan sebagai hukum praktis ... Semua itu menunjukan bahwa fikih "produk ijtihadiy". Sebagai produk ijtihad, maka sudah sewajarnya fikih terus berkembang lantaran pertimbangan-pertimbangan sosio-politik dan sosio-budaya serta pola pikir yang melatar belakangi hasil penggalian hukum sangat mungkin mengalami perubahan.Para peletak dasar fikih, yakni imam mazhab (mujtahidîn) dalam melakukan formasi hukum Islam meskipun digali langsung dari teks asal (al-Qur'an dan Hadits) namun selalu tidak lepas dari pertimbangan "konteks likungan keduanya baik asbab al-nuzûl maupun asbab al-wurûd.Namun konteks lingkungan ini kurang berkembang dikalangan NU. (Sahal Mahfudh dalam Kritik Nalar Fikih NU, 2002 :  xx).

Dari pernyataan beliau bahwa “keputusan fikih bukan barang sakral yang tidalk boleh diubah meskipun situasi sosial budayanya sudah melaju kencang.Pemahaman yang mengsyakralkan fikih jelas keliru” nampaknya beliau ingin mendesakralisasi fikih.Sebab, disamping ‘sakralisme’terhadap fikih berpotensi melahirkan taklid buta dan fanatisme bermazhab yangakan berdapmpak terkikisnya kepekaan kita terhadap perkembangan zaman, juga menjadi salah satu penyebab keengganankita untuk lebih memperhatikan ushul fikih yang notabene lebih penting daripada fikih itu sendiri.

Ketika kita telah terbelenggu keyakinanbahwa produk fikih (klasik) adalah kebenaran mutlak yang telah menyentuh segala persoalan klasik dan modern maka, entah disadari atau tidak, akan mengurangi perhatian kita terhadap usul fikih. Lalu, karena kurang perhatian inilah kemudian ushul fikih bisa stagnan. Dan, jika ushul fikh stagnasi maka, bisa dipastikan fikih tak akan pernah berkembang dan tak akan pernah ditemukan "fikih baru" seperti yang Kiai Sahal harapkan. Sebab, ushul fikih adalah pabrik pemroduksi fikih. Jika pabriknya mandek, tak lagi beroprasi, maka dipastikan disana tidak akan pernah ada produksi. Sehingga yang akan terjadi adalah ‘krisis hukum fikih’. Sementara produk lama telah usang.

Selanjutnya kritik Kiai Sahal atas sempitnya kriteria kitab-kitabmu’tabarah. Beliau mengatakan,"Dalam konteks ini pula maka kriteria mu'tabar yang sudah direduksi menjadi hanya melulu kitab-kitab mazhab empat sebetulnya tidak senafas dengan semangat fikih sebagai produk ijtihad.Mengapa demikian? Sebab kriteria mu'tabar dan ghairu mu'tabar berarti di situ ada pandangan yang mengunggulkan pendapat imam tertentu dan merendahkan pendapat imam lain. Ini sudah menyalahi kaidah "al-ijtihâd yâ yunqadhu bi al-ijtihâd" di atas….Alasan saya, disamping untuk menghindari fanatisme bermazhab, juga kitab-kitab yang ditolak itu tidak semuanya bertentangan dengan sunni. Hanya mungkin pada bagian tertentu saja yang kebetulan berbeda. Hanya gara-gara dalam bab tawasul kitab ini mengecamnya, mengkritik para wali, lantas semua kitab tulisan mereka tidak boleh dipakai. Prinsipnya mana yang "reasonable" dan "applicable" bisa digunakan.” (Sahal Mahfudh dalam Kritik Nalar Fikih NU, 2002 : xx-xxi)

Dari semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa beliau melalaui pemikiran-pemikiran progresifnya tentang “fikih baru” sedang mengupayakan pembaharuan nalar fikih Indonesia, khususnya dikalangan internal NU dan pesantren-pesantrennya.

Itulah sekilas ulasan dari luasnya pemikiran Kiai Sahal yang sebenarnya tak memadahi dikaji dalam 3-4 halaman saja. Sehingga, pereduksian yang tak disengaja sangat mungkin bisa terjadi dalam kajian singkat ini.Membutuhkan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus halaman hanya untuk mengkaji lebih dalam, komprehensif serta objektif pemikiran beliau .Oleh sebab itu, tulisan ini pun dimaksudkan sebatas untuk memberikan sedikit gambaran umum pemikiran beliau dalam bidang fikih saja, meski pun, mungkin, belum mampu memberikan sedikit gambaran umum itu. Pada akhirnya, segala kekurangan dan kekeliruan dalam catatan ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Teruntuk guru kita bersama, Kiai Muhammad Achmad Sahal Mahfudh. Lahul fâtihah

Sumber bacaan:Hukum Islam Indonesia: Dari Nalar Partisipatoris Hingga Emansipatoris (Mahsun Fuad), Kritik Nalar Fikih ; Kritik Nalar Fiqih NU: Transformasi Paradigma Bahtsul Masail (Lakpesdam NU) ; Dirâsah fî Fikih Maqâshid al-Syarî’ah (Yusuf Al-Qaradhawi); Nuansa Fiqih Sosial (KH. Sahal Mahfudh), Situs Resmi MUI dan beberapa sumber media online lainnya.

Muhammad Amrullah, koordinator umum Lembaga Bahtsul Masail dan anggota Lakpesdam NU Mesir

Sumber : NU.co.id

 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan