7.4.15

Biografi Sayyidah Ṣofiyah : Istri Nabi Muhammad dari bangsa Yahudi



       I.            A. Biografi Sayyidah Ṣofiyah
Sayyidah  Ṣofiyah adalah putri dari Huyai bin Ahkṭab bin Sa'ayah bin Taghlab bin ‘Amir bin ‘Ubaid bin Ka'ab bin Khazraj bin Habib bin Nadhir bin Yanhum. Ayah beliau adalah pemimpin bani Nadlir dari bangsa yahudi dalam perang Khaibar yang berasal dari kabilah Lawai bin Ya'qub ‘Alaihis-Salam, dari keturunan nabi Harun bin Imran, saudara Nabi Musa.[1] Ibunya adalah Barrah bin Samwal, saudara Rifa'ah bin Samwal Al-Qorodhi.  Sayyidah Ṣofiyah adalah satu-satunysa istri Rasulullah saw yang tidak berasal dari ‘Arab, akan tetapi ia berasal dari Bani Israel, yaitu dari Bani Naḍir. Ia termasuk wanita tercantik di dunia. Dahulunya ia adalah seorang tawanan (budak) Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  kemudian Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  memerdekakannya dan menjadikan pembebasannya sebagai maharnya.[2]
B. Kepribadian sayyidah Ṣofiyah
Sayyidah Sofiah adalah wanita cerdas, mulia, ‘arif, bijaksana, sangat penyabar, sangat dermawan, ahli ‘ibadah yang bertaqwa, sangat mencintai putri-putri Rasulullah saw.
Di antara bukti-bukti dari kepribadian sayyidah Ṣofiyah r.a., adalah sebagai berikut:
  1.  Dalam hal kecerdasan, ia adalah wanita yang berpengetahuan luas, hafal kitab suci al-Qur’an, dan banyak meriwayatkan hadith-hadith Rasulullah saw. Semua riwayat beliau termaktub atau terkumpul dalam kutub al-Sittah.
  2. Dalam hal kemuliaan, ia adalah keturunan nabi yaitu kakeknya adalah Harun ‘Alaihis-Salam, pamannya dari jalur ayah adalah nabi, yaitu nabi Musa ‘Alaihis-Salam, karena sayyidah Ṣofiyah selalu menjaga hubungan baik dengan kaum yahudi, berkat beliau Allah memberikan hidayah kepada kaum yahudi untuk masuk Islam setelah terjadi perang Khaibar.
  3. Dalam hal kearifan dan kebijaksanaan, dalam ketaqwaan dan keṭaatan pada agama sekaligus menunjukkan kecerdasannya adalah suatu ketika di masa khalifah Umar bin Khaṭṭab, budak perempuannya melaporkan kepada Umar, bahwa Ṣofiyah masih senang pada hari sabtu (hari raya Yahudi) serta masih suka berhubungan dengan orang Yahudi. Khalifah Umar bin Khaṭṭab mengirim utusan untuk bertanya kepadanya. Berkatalah Ṣofiyah: “Adapun mengenai hari sabtu, aku tidak senang lagi setelah Allah swt menggantiku dengan hari jum’at”. Aku masih berhubungan dengan orang Yahudi, karena aku masih mempunyai hubungan kerabat dengan mereka, aku sambung tali kekerabatan itu. Lalu ia bertanya kepada budaknya: “ Wahai jariyah, apa yang membuatmu melakukan hal ini?”, budaknya menjawab: “Shaiṭanlah yang menjadikan aku melakukan ini. Setelah itu, sayyidah Ṣofiyah berkata: “Pergilah, sesungguhnya engkau merdeka”.
  4. Dalam hal dermawan, rumah yang ia miliki, ia sedekahkan karena untuk mencari keriḍaan Allah swt dan Rasul-Nya, sayyidah Fatimah r.a. pernah diberinya hadiah perhiasan dan emas yang ia pakai, sebagaimana sebagian perhiasannya juga  ia hadiahkan kepada istri-istri Rasulullah SAW yang lain. Ia juga dermawan kepada siapapun.
  5. Bukti bahwa Ummul Mukminin Ṣofiyah sangat penyabar adalah suatu kali ia mendengar sayyidah Ḥafṣah menyebutnya “Putri Yahudi”, Ia hanya menangis. Ketika Rasulullah saw masuk ketempat Ṣofiyah dan mendapatinya sedang menangis, bertanyalah Rasulullah saw: “Apakah gerangan yang menjadikan engkau menangis wahai Ṣofiyah ?, Ṣofiyah berkata, ‘Ḥafṣah berkata kepadaku bahwa aku putri orang yahudi. ‘Lalu Rasulullah saw bersabda dengan tujuan menghibur, ‘Bukankah engkau keturunan nabi, yaitu kakekmu adalah Harun ‘Alaihis-Salam, pamanmu dari jalur ayah adalah nabi, dan engkau menjadi istri nabi. Apa alasan Ḥafṣah berbangga diri atas engkau ?, ‘Rasulullah saw bersabda lagi, ‘Bertaqwalah kepada Allah, engkau wahai Ḥafṣah’ 
C. Pernikahan Rasulullah saw dengan sayyidah Ṣafiyah r.a.
Sebelum sayyidah Ṣofiyah dinikahi oleh Rasulullah, sayyidah Ṣofiyah sudah pernah menikah dua kali, yaitu menikah dengan Salam bin Mishkam kemudian cerai, lalu menikah dengan Kinanah bin ar-Rabi’ bin al-Huqaiq an-Naḍri (seoarang penyair). Kinanah dibunuh dengan meninggalkan Ṣofiyah di perang Khaibar pada bulan Muḥarram tahun 7 H. Sayyidah Ṣofiyah tidak melahirkan anak dari hasil pernikahannya dengan kedua orang tersebut. Ketika ia dinikahi Rasulullah, umurnya belum mencapai Sembilan belas tahun.[3]
Sebelum Rasulullah menikahi Ṣofiyah, Rasulullah SAW memberi dua pilihan, antara memerdekakannya kemudian kembali kepada keluarganya di Khaibar, atau masuk Islam. Berkatalah Ṣofiyah : "Aku memilih Allah dan Rasulnya". Lalu Rasulullah SAW memerdekakannya dan menjadikannya istri, serta menjadikan  kemerdekaannya sebagai mahar.
Ṣofiyah berkata: ‘Wahai Rasulullah saw, aku telah mempercayaimu dan senang kepada Islam sebelum engkau mengajakku masuk agama ini, tidak terlintas sedikitpun di hatiku untuk kembali ke agama Yahudi, lagi pula aku tidak mempunyai sanak saudara lagi. Ayah dan saudaraku gugur dalam peperangan. Jika engkau memerdekakan aku, tidak mungkin lagi aku kembali ke kaumku.
Pernikahan Rasulullah saw dengan sayyidah Ṣofiyah ini telah dijelaskan dalam beberapa Hadith, diantaranya adalah sebagai berikut:
‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib dan lain-lain dari Anas bin Malik r.a. Mereka berkata, ‘Ketika Rasulullah saw mengumpulkan para tawanan perang Khaibar, datanglah Dihyah al-Kalabi. Ia berkata, ‘Berilah aku salah seorang budak wanita dari para tawanan ini. ‘Rasulullah saw bersabda, ‘Pergilah dan ambilah Ṣofiyah.’ Dihyah al-Kalabi pun mengambil Ṣofiyah…
Al-Bukhari, Muslim, Imam Aḥmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Ḥibban, dan Abu Ya’la meriwayatkan hadith dari Anas bin Malik yang berkata,
“Ketika Rasulullah saw menakhlukkan Khaibar dan Allah Ta’ala menakhlukkan bentengnya untuk beliau, Ṣofiyah binti Huyai menjadi jatah Dihyah al-Kalabi. Ketika itu Ṣofiyah masih menjadi pengantin baru dan suaminya terbunuh. Orang-orang pun memuji Ṣofiyah di samping Rasulullah saw. Mereka berkata, ‘Kita belum pernah melihat tawanan wanita secantik dia (Ṣofiyah).’
Rasulullah saw pergi kepada Dihyah al-Kalabi kemudian membeli Ṣofiyah seharga tujuh kepala (maksudnya tujuh kambing). Setelah itu, beliau menyerahkan Ṣofiyah kepada Ummu Sulaim untuk dirias dan menjalani masa ‘iddah.
Setelah itu, Rasulullah saw berangkat bersama Ṣofiyah atau menempatkan Ṣofiyah di belakang beliau. Ketika beliau berhenti, beliau memasang hijab untuknya kemudian menikahinya dan menjadikan pemerdekaannya oleh beliau sebagai maharnya. Rasulullah saw berhenti selama tiga hari hingga beliau bisa menyelenggarakan resepsi pernikahan dengannya yang ketika itu telah diberi hijab.
Diriwayatkan dari Ṣofiyah r.a. yang berkata, “Rasulullah saw memerdekakanku dan menjadikan pemerdekaanku sebagai maharku.”

D.    Wafatnya sayyidah Ṣofiyah r.a
Kurang lebih empat puluh tahun, sayyidah Ṣofiyah melalui hari-harinya sepeninggal Rasulullah. Ia memenuhinya dengan ibadah dan amal-amal kebajikan. Ia menyaksikan masa Khulafaur Rashidin dan Futuhat Islamiah (kemenangan-kemenangan Islam). Pada tahun lima puluh Hijriah, sayyidah Ṣofiyah menghadap Allah swt. Meninggalkan dunia untuk mendapatkan kenikmatan abadi. Hari-hari yang ia lewati menjadi saksi akan kebajikan yang ia lakukan. Beliau di makamkan di Baqi’, disamping istri-istri Rasulullah saw yang lain. Dalam hal ini, Ibnu Abu Khaithamah berkata:
“ Aku mendapat kabar bahwa, Ṣofiyah r.a. wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah dengan meninggalkan setatus ribu dirham senilai tanah dan perabotan. Ia mewaṣiatkan sepertiga kekayaannya kepada anak saudara perempuannya yang beragama Yahudi”.


E.     Kelebihan-kelebihan sayyidah Ṣafiyah r.a. lainnya.

1.       Kesaksian Rasulullah saw tentang kejujuran Ṣofiyah ketika ia menebus Beliau dengan dirinya.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, yang berkata: “Nabi Muhammad saw menderita sakit yang mambawa kepada wafatnya beliau. Istri-istri beliau berkumpul di tempat beliau. Pada saat itu Ṣofiyah binti Ḥuyai berkata, ‘Demi Allah, wahai nabi Allah, aku ingin sekiranya aku saja yang mengalami apa yang engkau alami.’ Para istri Rasulullah yang lain memicingkan mata kepada Ṣofiyah dan hal tersebut dilihat oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda, ‘Bersihkan kalian.’ Para istri beliau berkata, ‘Dari apa, wahai Rasulullah ?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Dari picingan mata kalian terhadap teman wanita kalian (Ṣofiyah). Sungguh Ia berkata benar.”

2.       Pembelaan ofiyah r.a. terhadap Uthman bin ‘Affan dan pengiriman makanan dan air oleh Ṣofiyah kepada Uthman bin ‘Affan.

Ibnu Sa’ad dengan sanad hasan meriwayatkan dari Kinanah, mantan budak Ṣofiyah r.a., yang berkata: “ Aku menuntun Ṣofiyah untuk membela Uthman. Ṣofiyah bertemu al-Ashtar (Malik bin al-Ḥarith an-Nakha’i) yakni pemimpin orang-orang Kufah yang membuat fitnah pada masa kekhalifahan Uthman bin ‘Affan yang kemudian memukul wajah bighal (peranakan kuda dengan keledai) milik Ṣofiyah, hingga Ṣofiyah goyah. Ṣofiyah berkata. ‘Kembalikan aku dan janganlah orang ini menjelek-jelekkanku.’ Al-Hasan berkata di hadithnya, ‘Kemudian Ṣofiyah membuat kayu antara rumahnya dengan rumah Uthman bin ‘Affan . Ia mengirim air dan makanan kepada Uthman bin ‘Affan melalui kayu tersebut.

3.       Rasulullah mendiamkan Zainab r.a. gara-gara Ṣofiyah r.a.

Imam Aḥmad, Abu Daud, dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari ‘Aishah r.a. yang berkata, “ Rasulullah saw berada dalam sebuah perjalanan, kemudian unta milik Ṣofiyah sakit,  sedang di unta Zainab terdapat kelebihan. Rasulullah saw bersabda kapada Zaiab, ‘Sesungguhnya unta milik Ṣofiyah, bagainmana kalau engkau memberinya salah satu dari untamu?’ Zainab berkata, ‘Aku harus memberi wanita Yahudi tersebut ?. kemudian Rasulullah saw  meninggalkan (mendiamkan) Zainab selama dua bulan, yakni bulan Dhul Hijjah dan Muharram atau tiga bulan tidak mendatanginya. Zainab berkata, ‘Hingga aku putus asa dari Rasulullah dan aku membalik kasurku. Pada suatu hari di pertengahan siang, aku melihat bayangan Rasulullah saw datang. Beliau masuk dan aku pun mengembalikan kasur’.



[1]  At-alabat al-Marhalah as-Sadisah bil-Ma’had al-Din al-Anwar, Shakhiyah haul al-Rasul, (Sarang, foto copy al-Anwar 2, 1430 H), hlm 53.
[2]  Amad Khalil Jam’ah, shaikh Muammad bin Yusuf ad-Dimashqi, Istri-istri para nabi, terj. Fali Bari, (Bekasi: Darul Falah, 2001), hlm 470.

[3]  Ibnu S’ad, at-abaqat, juz 8, hlm 129.




KH. MAIMOEN ZUBAIR : KEIMANAN UMAT NABI MUHAMMAD YANG PALING MENAKJUBKAN

Agama Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW di kota Mekkah. Beliau diangkat menjadi Nabi pada tahun 611 M, dan pada tahun 623 M beliau melakukan hijrah ke kota Madinah. Kemudian pada tahun 633 M beliau wafat.

Permulaan tahun 700 sampai 750 M merupakan masa-masa perkembangan agama Islam yang disebarkan oleh para sahabat Nabi. Bisa ditengarai, bahwa setiap Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam pasti ketika Islam masuk di sana itu masih pada era sahabat Nabi, seperti Mesir, Bukhara, Turkistan, Turkmenistan, Burjistan dll.

Sedangkan agama Islam masuk ke tanah Jawa sekitar tahun 1400 M, jauh dari masa-masa perkembangan agama Islam yang disebarkan oleh para sahabat Nabi. Pada waktu itu belum ada satupun bangunan Masjid di tanah Jawa. Baru kemudian di tahun 1440 M muncullah sunan-sunan atau Wali Songo, dan pada tahun 1480 M masjid Bintoro di kota Demak diresmikan oleh sunan Kalijaga.

Ketika Islam masuk ke Jawa, jagad Islam di timur tengah sudah mulai layu, jauh dari masa sahabat Nabi, sudah bukan lagi zaman ijtihad, tidak zamanya Imam an-Naqsyabandi maupun Imam Abil Hasan asy-Syadzili. Pada waktu itu pula Baghdad sudah runtuh dan takluk dibawah kaki Hulaghu Khan dan keluarga Jenghis Khan, dan masa keemasan Islam pun mulai pudar.

Akan tetapi, datangnya Islam di tanah Jawa tumbuh subur karena para wali-wali berdakwah menggunakan metode yang khas sehingga mereka tidak bergesekan dengan penduduk Jawa yang masih kental dengan budaya keagamaan Hindu budhanya. Padahal, sebelum ke Jawa Islam sebenarnya sudah menaungi samudra Pasai dan Nangroe Aceh, tetapi untuk melebarkan ajaran Islam ke tanah Jawa ditemukan banyak kendala dan kesulitan karena adanya ilmu hitam dan kerajaan-kerajaan Hindu budha yang menghalangi.

Tanah Jawa, yang ketika itu perkembangan Islam sudah mulai runtuh justru ia menjadi pusar dari bangsa Indonesia, menjadi pokok pangkal dari bangsa Indonesia. Ibarat kata, Jika Jawa itu baik maka seluruh bangsa Indonesia juga akan menjadi baik, jika Jawa itu muslim maka Indonesia juga akan menjadi muslim.

Maha guru Syaikh Abdullah bin Nuh (guru syaikhina Maimoen) pernah menerangkan bahwa agama Islam yang paling dikagumi itu adalah Islamnya bangsa Indonesia, lebih-lebih yang berada di tanah Jawa. Beliau menafsirkan sebuah hadist yang ada di dalam kitabnya Ibnu Katsir, Nabi Muhammad bersabda :

أعجب إيمان أمّتي أواخر أمّتي لا يدركون بي ولا يدركون أصحابي

Artinya : “Keimanan umatku yang paling menakjubkan adalah keimanan umatku yang akhir-akhir, mereka tidak pernah bertemu denganku dan para sahabatku”.




21.1.15

Sufi Road

Sufi Road


Habib Ali Al-jufri berkisah tentang Detik-detik Wafatnya Rasulullah SAW

Posted: 20 Jan 2015 05:16 PM PST

Wafatnya Adalah Kehidupan Sejatinya

Wahai,bagaimana hati kita tidak tergetar dan semakin merasakan kerinduan kepada Rasulullah SAW? Bagaimana hati kita tidak terkesan dengan beliau ? Bagaimana kita tidak dapat melupakan perintah untuk mencintai beliau? Bagaimana hati kita tidak terikat untuk senantiasa merindukan beliau? Bagaimana hati kita tidak tesentuh kala pribadi beliau diperdengarkan? Dalam haji wada'nya (haji perpisahan), Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan sekitar 120.000 orang, "Wahai manusia,dengar dan perhatikanlah,sesungguhnya aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian selepas tahun ini."

Semuanya terdiam, sambil terus mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Rasulullah SAW. Beliau menasehati dan berwasiat kapada mereka tentang keterikatan mereka dengan Tuhan dan agama mereka.Ketika itu Allah menurunkan ayat."Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian,Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian,dan Aku ridha Islam menjadi agama kalian."

Allah menghidupkan makna kehidupan yang dahsyat di tengah-tengah mereka,dalam suasana perpisahan dengan Rasulullah SAW.Saat itu, perpisahan dengan beliau adalah sebuah sisi kehidupan bagi umatnya setelah itu.Kemudian Rasulullah SAW pun pulang ke kota Madinah.

Bulan Rabi'ul Awwal tiba.

Di awal bulan itu,tubuh Rasulullah SAW terasa lemah.Beliau terserang sakit demam.Tubuhnya pun disirami air sejuk.Beliau bersabda, "Siramilah aku denagn air supaya aku dapat keluar untuk mengucapkan salam perpisahan dengan para sahabatku." Baginda pun disirami air itu, yang membuat tubuhnya terasa lebih segar. "Sahabat Teragung"

Kemudian beliau keluar rumah,melangkahkan kakinya dengan diiringi kedua sepupunya,Ali bin Abu Thalib dan Fadhl bin Abbas,radhiyallahu'anhuma.

Beliau menemui para sahabat.

Saat melihat hadirnya Rasulullah SAW di tengah-tengah mereka,tampak betapa kegembiraan menyemburat dari wajah para sahabat.Kemudian Rasulullah SAW duduk di atas mimbarnya.

Para sahabat terdiam,bersiap untuk mendengarkan segala apa yang akan diucapkan Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pun berkhutbah,khutbah perpisahan.Beliau bersabda,"Seseorang telah diberi pilihan,antara kehidupan di dunia atau menjumpai Ar-Rafiqul A'la ("Sahabat Teragung",Allah SWT)."

Rasulullah SAW pun kemudian mengulang-ulang kata itu, "Ar-Rafiqul A'la,Ar-Rafiqul A'la,Ar-Rafiqul A'la…" Wahai orang yang berakal,adakah kehidupan Allah akan berakhir? Adakah hubungan dengan Allah akan menemui titik penghabisan? Hubungan dengan Ar-Rafiqul A'la itu sesungguhnya merupakan kehidupan itu sendiri. Ucapan Rasulullah SAW itu menandakan bahwa ia memilih kehidupan yang sejati.

Hati sahabat Abubakar RA tersentuh.Ia pun berkata kepada Rasulullah SAW,"Ya Rasulullah,demi ayah dan ibuku,biarlah ruh-ruh kami, anak-anak kami,dan sanak keluarga kami,serta harta-harta kami,sebagai tebusan bagimu." Melihat Abubakar RA mengatakan itu,sahabat Abu Sa'id Al-Khudri RA berkata, "Ada apa dengan orang tua ini? Apakah ia (Abubakar) sudah pikun?"

Rasulullah SAW telah menceritakan ihwal lelaki ini (Abubakar RA), yaitu seorang yang telah meyakini penuh bahwa diri beliau sebagai utusan Allah SWT (saat yang lain banyak yang mengingkarinya).Kelak Abu Sa'id mengatakan, "selepas wafatnya Rasulullah SAW, Aku baru tahu,perkataan Abubakar itu perkataan yang tepat."

Rasulullah SAW memandang Abubakar RA. Pandangan yang penuh makna.Kemudian beliau berkata, "Biarkanlah sahabatku berkata kepadaku, Orang yang paling percaya kepadaku adalah Abubakar. Sekiranya aku memilih kawan dekat,niscaya aku akan memilih Abubakar. Tutuplah pintu rumah kalian yang menuju masjidku,kecuali pintu rumah Abubakar."

Wasiat-wasiat Rasulullah SAW

"Ya Rasulullah, berwasiatlah kepada kami,"ujar para sahabat.
Kala itu, di antara yang diwasiatkan Rasulullah SAW, "Berwasiatlah kalian terhadap para wanita dengan kebaikan.'
Wasiat ini menyinpan makna yang luar biasa yang beliau katakan di saat beliau hendak mengucapkan salam perpisahan kepada sekalian umatnya. Maknanya agar kita mewujudkan hubungan yang baik sesama kita sepeninggal beliau, yang dengannya kehidupan akan berjalan harmonis. Beliau mewasiatkan ini agar kita dapat menggapai kehidupan yang sebenarnya, yaitu tatkala kita menjalani kehidupan ini penuh dengan kebaikan.

Beliau juga berwasiat, " Dan berwasiatlah kalian dengan baik terhadap keluargaku." Beliau ingin kita dapat terus hidup berkesinambungan dengan beliau.

Kenapa beliau mengatakan " keluarga" yang dinisbahkan sebagai keluaga beliau, "keluargaku". Hal itu disebabkan beliau ingin mengajarkan kepada kita bahwasanya perpindahan beliau dari alam dunia tidak dimaksudkan sebagai terputusnya hubungan umat dengan beliau. Seakan beliau mengatakan,"Hubungan kalian denganku tak akan terputus sekali kalian berhubungan dengan keluargaku." Wasiat beliau lainnya,"Janganlah kalian menjadi kafir selepas kepergianku dan janganlah kalian berperang satu sama lain." Beliaupun terus berwasiat kepada para sahabat dengan wasiat-wasiat lain yang beliau berikan kepada mereka. Sebagian diantara mereka mengatakan," Ya Rasullullah,jika engkau wafat,siapakah yang akan memandikanmu?" Beliau menjawab, "Seseorang di antara ahlul baytku."

Hati merka amat tersentuh dengan perpisahan yang akan mereka lalui,perpisahan antara mereka dengan Rasulullah SAW. Kemudian mereka berkata lagi, "Dengan apa engkau kami kafankan?"

Saat melihat rasa gundah melanda hati para sahabatnya,air mata Rasulullah SAW pun berlinang.Beliau menjawab," (Bahan) dalam pakaianku ini,atau kain dari Yaman, atau jubah dari Syam,atau kapas dari Mesir." Abubakar Mengimami Shalat

Mereka terus bertanya kepada Rasulullah SAW dengan pertanyaan lainnya.Setelah benyaknya pertanyaan sebagai persiapan bagi para sahabat bila sewaktu-waktu Rasulullah SAW wafat dan meninggalkan mereka,Rasulullah SAW pun menangis. Lalu beliau bersabda,"Berlaku lembutlah kepada nabi kalian."Kemudian beliau berdiri, melangkah pulang, dan memasuki rumah beliau.Beliau pun merebahkan diri di pembaringan.

Di saat yang sama, rasa bimbang semakin menggelayuti hati para sahabat. Kemudian mereka meninggalkan pekerjaan dan urusan mereka dan berkeliling di sekitar rumah Rasulullah SAW dan masjid beliau. Mereka ingin mengetahui perkembangan berita tentang Rasulullah SAW. Sampai tiba pada waktu shalat,sedangkan imam mereka (Rasulullah SAW) tidak kunjung keluar untuk shalat bersama mereka. Para sahabatpun semakin bertambah bimbang.

Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Aisyah RA, "Perintahkan Abubakar untuk mengimami shalat." Aisyah RA (putri Abubakar RA) berkata kepada beliau, "Ayahku seorang yang kurus dan aku khawatir ia akan menangis dan tak sanggup berdiri. Mintalah dari umar, ya Rasulullah."

Rasulullah SAW menjawab, "Kalian seperti sahabat Nabi Yusuf AS. Perintahkanlah Abubakar untuk mengimami shalat." Abubakar RA pun bangkit mengimami jama'ah shalat fardhu yang pertama dan shalat-shalat berjama'ah berikutnya.

Salam Perpisahan
Senin waktu shalat Subuh,12 Rabi'ul Awwal. Rasulullah SAW menyingkap tabir kain dari pintu rumah beliau. Pandangannya mengarah kepada para sahabat. Tampak mereka tengah shalat dengan khusyu' dan tunduk di hadapan Allah SWT, di bawah pimpinan Abubakar RA. Segala puji bagi Allah, saat Rasulullah SAW memperhatikan para sahabatnya itu, masjid pun bercahaya dengan kemunculan beliau. Sampai sebagian sahabat mengatakan, " Hampir saja kami terlalaikan dari shalat kami ketika Rasulullah muncul." Abubakar RA hampir saja mundur dari pengimaman, sementara para sahabat yang lainnya hampir saja memalingkan pandangannya kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menunjuk dengan tangan beliau,"Tetaplah di tempat kalian." Kemudian beliau menutup kembali tirai di pintu masuk rumah beliau itu.

Para sahabat mengatakan, "Itulah saat terakhir Rasulullah SAW memandangi para sahabatnya." Abdullah bin Mas'ud RA, pembantu Rasulullah SAW, mengatakan,ketika Rasulullah SAW melihat mereka, beliau mengatakan, "Allah memelihara kalian,Allah memberkati kalian,Allah menguatkan kalian,Allah menolong kalian,Allah membantu kalian." Inilah salam perpisahan dari seorang yang merindukan para sahabatnya.Para sahabatpun memberi salam kepada Rasulullah SAW dan keluar dari masjid.

Dikatakan,para sahabat bergembira saat mendapati Rasulullah SAW memperhatikan mereka dari pintu rumah beliau. Mereka menyangka kondisi kesehatan Rasulullah SAW telah berangsur pulih.Karenanya, sebagian dari mereka kemudian beraktivitas lagi seperti sedia kala,dan mereka menyangka bahwa itu adalah rahmat Allah SWT terhadap mereka. Berita Kematian yang Menggembirakan

Aisyah RA berkata, "Rasulullah SAW meminta izin dari sekalian istri beliau untuk dirawat di rumahku,lalu mereka mengizinkan. Saat hari Senin itu,hari wafatnya Rasulullah SAW,tiba,ruh beliau diambil di rumahku sedangkan beliau ada dalam dekapanku." Ia berkisah, "Ketika kami semua sedang duduk,datanglah Fathimah sambil menangis. Caara berjalannya mirip cara berjalan ayahandanya, Rasulullah SAW. Kemudian beliau mendekap dan mengacupnya. Lalu beliau SAW membisikkan sesuatu di telinganya. Sesaat kemudian Fathimah mengangkat kepalanya . Ia menangis

Kemudian Rasulullah SAW memberi isyarat kepadanya, beliau ingin membisikkan lagi sesuatu kepada Fathimah. Fathimah mendekati ayahnya dan kemudian Rasulullahberbisik kepadanya. Sesaat setelah itu Fathimah kembali mengangkat kepalanya dengan penuh rasa gembira yang merona di wajahnya. Aku tidak pernah melihat tangisan yang kemudian disusul dengan tertawa seperti itu.: Aisyah RA pun bertanya kepada Fathimah RA, "Apa yang dibisikkan ayahandamu kepadamu?" Fathimah RA menjawab, "Jangan engkau hiraukan hal itu,karena aku tak mau membuka rahasia ini selagi beliau masih hidup."

Kelak setelah Rasulullah SAW wafat, Aisyah bertanya lagi tentang hal itu. Fathimah mengatakan, "Ya, ketika aku mendekati ayahku, beliau berbisik kepadaku, 'Wahai Fathimah,sekali dalam setahun Jibril mendatangiku untuk membacakan Al-Qur'an kepadaku dan pada tahun ini ia telah mendatangiku dua kali. Dan Allah telah memberikan pilihan kepada ayahmu, antara dunia dan Ar-Rafiqul A'la.'Ayahku memilih Ar-Rafiqul A'la. Dan aku diberi tahu bahwa nyawanya akan dicabut pada hari itu. Lalu aku pun menangis. Kemudian beliau memanggilku lagi dan membisikan kepadaku, 'Apakah engkau suka bahwa engkau menjadi penghulu wanita sekalian alam dan menjadi orang yang pertama kali akan menyusulku?' Aku pun bergembira dengan berita dari ayahku itu."

Kematian adalah sesuatu yang menyedihkan. Bagaimana dengan kabar kematianmu ini, wahai Zahra? Fathimah mengatakan, "Berita kematianku ini mempercepat pertemuanku dengan orang yang aku kasihi, dan inilah kehidupan yang sesungguhnya bagiku."

Dialog dengan Malaikat Maut
Aisyah melanjutkan kisahnya, "Sebelum itu kami mendengar ada sesuatu yang bergerak di balik pintu. Dan itu adalah Jibril. Jibril meminta izin Rasulullah untuk masuk. Beliau mengizinkannya.

Kemudian aku mendengar Rasulullah berkata kepadanya, 'Wahai Jibril, Ar-Rafiqul A'la…, Ar-Rafiqul A'la… Kami tahu bahwa sangkaan kami adalah tepat.'

Kemudian aku bertanya kepada Rasulullah SAW, Apa yang telah terjadi, wahai Rasulullah?' Rasulullah menjawab, ' Itulah Jibril yang datang dan berkata: Malaikat maut telah berada di depan pintu dan meminta izin. Dan tidaklah malaikat maut meminta izin kepada seorang pun baik sebelum dan sesudahmu.

Dan ia (jibril) mengatakan: Allah menyampaikan salam kepadamu dan Dia telah merindukanmu," Maka, wahai orang-orang yang berakal,apakah perpindahan kepada Tuhan yang merindukannya merupakan suatu kematian? Bukan. Kehidupan yang sebenarnya adalah perpindahan kepada Allah, Yang Mahahidup.

Kemudian malaikat maut mengatakan kepada Rasulullah SAW, "Jikalau engkau berkenan, aku akan mencabut ruhmu untuk menemui Ar-Rafiqul A'la. Namun jika engkau tak berkenan, aku akan biarkan mengikuti berlalunya masa sampai tempo waktu yang engkau inginkan."

Rasulullah memilih Allah Ta'ala. Ya, beliau memilih Sahabat Yang Teragung. Kemudian malaikat maut pun masuk dan mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW. Ia berkata lagi, "Wahai Rasulullah, apakah kau mengizinkanku?" Rasulullah SAW menjawab, "Terserah apa yang akan kau lakukan, Wahai malaikat maut. Dan berlaku lembutlah sewaktu mencabut ruhku." "Hhhhhhhhhh………." (Desis suara Rasulullah SAW menahan rasa sakit).

Rasulullah SAW kembali mengatakan kepada malaikat maut, "Berlaku lembutlah kepadaku, wahai malaikat maut." Perhatikanlah (meski dicabut dengan selembut-lembutnya pencabutan ruh yang pernah dilakukan malaikat maut), Rasulullah SAW pun merasakan sakitnya sakaratul maut. Maka bagaimana (yang akan dirasakan) oleh orang yang lalai dengan kematian dalam kehidupan mereka? Mereka tidak merenungi saat-saat ketika nyawa dicabut pada saat sakaratul maut. "Beratkan bagiku,Ringankan bagi umatku"

Maka menanjak naiklah ruh mulia Baginda Rasulullah SAW, yang ditandai dengan sentakan kedua kaki beliau. Peluh pun bercucuran dari dahi Baginda.Peluh yang bagaikan butiran permata berbau kesturi. Rasulullah SAW menyapu peluhnya itu dengan tangannya dan kemudian meletakkan tangannya pada sebuah wadah di tepinya untuk menyejukan tubuhnya.

Kembali suara berdesis dari lisan suci beliau."Hhhhhhhh……" Lantaran rasa sakit yang ia alami pada saat sakaratul maut. Beliau pun mengatakan, "Sesungguhnya maut itu amatlah berat, YA Allah,ringankan beratnya maut terhadapku" Maka para malaikat dari langit pun turun kepada beliau. Mereka berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah menyampaikan salam atasmu dan Dia menyatakan bahwa sesungguhnya perihnya sakaratul maut 20 kali lipat (dalam riwayat lain 70 kali lipat) dari rasa sakit akibat padang yang menusuk tubuh."

Rasulullah SAW pun menangis dengan tangisan yang tiada tangisan lain yang lebih menyedihkan bagi kalian semua. Beliau berdoa, "Ya Allah, beratkanlah (sakaratul maut) ini atasku, tapi ringankanlah atas umatku."

Wahai,bagaimana hati kita tidak tergetar dan semakin merasakan kerinduan kepada Rasulullah SAW? Bagaimana hati kita tidak terkesan dengan Rasulullah SAW? Bagaiman kita dapat melupakan perintah untuk mencintai beliau? Bagaimana hati kita tidak terikat untuk senantiasa merindukan beliau? Bagimana hati kita tidak tersentuh kala pribadi beliau diperdengarkan?

Pesan Terakhir
Aisyah RA berkata, "Saudaraku,Abdurrahman bin Abubakar, masuk dan ia sedang membawa sebatang kayu siwak yang ujungnya belum dilembutkan. Aku lihat Rasulullah memandang kearahnya dan adalah Rasulullah SAW menyukai siwak."

Maka, apakah kalian menyukai apa yang beliau suka dari sunnah-sunnah beliau? Adalah Rasulullah SAW menyukai siwak. Aisyah menyatakan,"Aku bertanya kepada Rasulullah,'Ya Rasulullah, apakah engkau menginginkannya (siwak)?' Rasulullah, di saat beliau sudah tak dapat lagi berkata-kata dan kami pun tak dapat mendengar sesuatu pun darinya, memberi isyarat dengan menganggukkan kepala beliau, pertanda beliau menginginkan untuk bersiwak. Dan perkara yang terakhir beliau katakana adalah, 'Ash-shalah….ash-shalah….ash-shalah…'-'Shalat…. Shalat…. Shalat…..'

Maka,apakah yang kalian lakukan terhadap wasiat Nabi kalian di saat-saat akhir dari kehidupannya di dunia ini? Shalat adalah hubungan kalian dengan Tuhan, agar terjalin hubungan yang hakiki dengan-Nya.

Wahai orang yang mendahulukan perkerjaan dunianya dan hawa nafsunya sebelum shalat,yang mendahulukan keterlenaannya disbanding shalatnya,ingatlah, wasiat yang terakhir dituturkan oleh kekasih kalian di akhir usianya adalah,'Ash-shalah…. Ash-shalah… ash-shalah….', di samping 'Berwasiatlah dengan kebaikan terhadap para wanita', dan juga,'Aku berwasiat kepadamu dengan kebaikan terhadap keluargaku.'

Sesaat kemudian,lidah Rasulullah SAW tampak kaku. Tapi, ruh beliau belum tercabut. Beliau masih berkata-kata." Dan majelis ini, kata Habib Ali, adalah salah satu kenyataan yang menggambarkan keadaan ruh Rasulullah SAW. Kalaulah tidak karena kehidupan Rasulullah SAW yang wujud dalam diri kita,niscaya kita tidak tersentak saat disebut perihal kisah wafatnya Rasulullah SAW. Bergetarnya hati kalian saat disebutkan perihal kejadian-kejadian pada saat wafatnya Rasulullah SAW adalah sebagiam dari petunjuk yang nyata bahwa kematian beliau adalah sebuah kehidupan.Adakah kematian yang dapat menggerakkan banyak hati?

Sejahteralah Jasad Beliau
Kemudian, Aisyah melanjutkan, "Rasulullah SAW memberikam isyarat lewat anggukan kepalanya, sebagai pertanda keinginannya. Maka aku berikan kepada beliau kayu siwak yang belum dilembutkan itu. Tapi kemudian aku mengambilnya dari tangan beliau ketika kulihat itu tak dapat beliau gunakan karena keras,belum dilembutkan. Lalu aku melembutkannya dengan mulutku. Aku bangga,karena,di kalangan para sahabat, benda terakhir yang masuk ke mulut beliau adalah air liurku. Lalu aku meletakkannya dalam mulut beliau. Beliau pun memegangnya dengan tangan beliau sendiri,"

Sakaratul maut yang dialami Rasulullah semakin mendalam. Cahaya memancar dari wajah beliau, dan cahaya itu meliputi keluarganya. Waktu terus berjalan.

Ruh mulia Rasulullah SAW telah sampai pada kerongkongannya. Beliau membuka kedua kelopak bola matanya. Kemudian beliau menunjukkan isyarat dengan jari telunjuknya sebagai kesaksian atas keesaan Sang Pencipta, yaitu isyarat ketauhidannya. Tak lama kemudian, beliau pun mengembuskan napas terakhir.
Sejahterakanlah jasad beliau yang agung setelah melalui hari-hari yang melelahkan, lantaran segala hal ia baktikan demi keselamtan kita.
Sejahterakanlah jasad beliau setelah perutnya kerap kali diikat dan diganjal batu karena kelaparan, demi pengorbanannya kepada kita.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang pernah dilempari batu hingga melukai beliau,demi dakwahnya kepada kita.
Sejahterakanlah jasad beliau,yang gerahamnya pernah dipatahkan, lantaran kesungguhan beliau dalam membela agama yang akan menyelamatkan kita.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang dahinya pernah dilukai sampai mengalir darah dari dahinya yang mulia itu, lalu beliau menahannya dengan tangan beliau agar darah suci beliau tak sampai jatuh ke tanah, sebagai rahmat bagi mereka, kaum yang memerangi beliau, dan bagi kita, dari kemurkaan Allah SWT.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang mata panah pernah menembus daging pipinya,demi kita.
Sejahterakanlah jasad beliau,yang kakinya sampai bengkak disebabkan pengabdian beliau kepada Allah SWT dan demi dakwah kepada kita.
Sejahterakanlah jasad yang telah memikul kesukaran,keletihan, kesakitan,dan,kelaparan karena kita.

Terhubung tak Berujung.
Ketika para penghuni rumah itu menyaksikan kepergian Rasulullah SAW, yaitu setelah ruh beliau meninggalkan jasad beliau, tangis pun meledak menyelubungi seisi rumah.
"wahai Nabi Allah….! Wahai Rasulullah…! Wahai kekasih Allah….!"
Sesaat kesedihan menyelubungi rumah itu, seketika, suasana penuh haru menyemburat di wajah para sahabat yang ada di dalam masjid. Tak lama kemudian,berita wafatnya Rasulullah pun kemudian menyebar begitu cepat ke segenap penjuru kota Madinah. Musibah Terberat

Kembali lagi sejenak pada apa yang dialami Sayyidina Ali bin Abu Thalib KW pada detik-detik yang sangat bersejarah itu. Saat itu, ia tengah duduk di sisi tubuh mulia Rasulullh SAW.
Ketika ia melihat guncangan ruh beliau, ia melihat Sayyidatuna Aisyah RA menangis. Maka kemudian ia mengangkat tubuh Rasulullah SAW dan meletakkannya di kamar beliau. Setelah meletakkan tubuh nan suci itu, di saat ruh Rasulullah SAW hampir terlepas dari jasadnya, Sayyidina Ali pun terjatuh dan kemudian tak kuasa untuk berdiri.
Maka kemudian,tatkala suara tangisan memenuhi ruangan rumah itu,terdengarlah suara yang tidak terlihat siapa yang menyatakannya. Mereka mendenga suara yang mengatakan,"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un. Ya Ahlal Bait, a'zhamallahu ajrakum. Ishbiru wahtasibu mushibatakum. Fa inna Rasulallah farathukum fil jannah."-Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Wahai penghuni rumah,semoga Allah membesarkan ganjaran pahala kalian. Bersabarlah dan bermuhasabahlah dengan musibah yang kalian alami ini. Maka sesungguhnya Rasulullah mendahuluimu sekalian di surga."

Ketika suara itu terdengar, merekapun terdiam dan menjadi tenang. Setelah suara itu berhenti,mereka pun menangis lagi. Demi Allah, Dzat Yang Disembah,kalian tidak pernah diberi musibah seperti musibah yang mereka rasakan. Tiada satu rumah pun yang pernah merasakan kehilangan seperti yang mereka rasakan.
Kabar itu tersiar cepat di kota Madinah. Para sahabat merasa kebingungan. Ketika dikatakan kepada mereka "Wahai para sahabat, tidakkah kalian tahu, Rasulullah SAW adalah manusia, dan sebagai manusia beliau pun pasti mengalami kematian?", mereka mengatakan,"Ya, tapi kehidupan beliau kekal dalam diri kami dan telah menjadi cambuk dahsyat pada jiwa kami." Hati para sahabat terus bergetar.
Kala itu, Sayyidina Umar bin Khathab menghunuskan pedangnya sambil mengibas-ngibaskannya di jalan. Karena rasa sedih yang begitu mendalam, ia berteriak,"Sekelompok dari golongan munafik berkata bahwa Rasulullah telah mati. Rasulullah SAW tidak wafat. Akan tetapi beliau menjumpai Tuhannya sebagaimana perginya Musa AS. Dan beliau kembali kepada kita. Siapa yang menyatakan Rasulullah telah mati akan kutebas dengan pedangku ini." Setelah sampai kabar kepada Abdullah bin Zaid RA, ia menangis,kemudian menengadahkan tangannya dan berdoa, "Ya Allah, ambillah penglihatanku ini,sehingga aku tak dapat melihat seorang pun lagi selepas kepergian Rasulullah SAW." Maka,ia pun kehilangan penglihatan pada saat itu juga.

Sahabat yang lain, ketika mendengar berita tentang Abdullah bin Zaid RA,berteriak, "Ya Allah,ambillah ruhku, dan tiada lagi kehidupan setelah wafatnya Rasulullh SAW." Tiba-tiba ia terjatuh.Allah mengambil nyawanya seketika itu juga. Sementara itu Sayyidina Ustman RA membisu. Ia tidak dapat berkata apa-apa.

Hidup dan Mati dalam Kebaikan
Ketika pikiran mereka terganggu,mereka kebingungan, maka telah sampai berita kepada Sayyidina Abubakar Ash Shidiq RA, dan ia pun berada dalam keadaan yang menyedihkan itu. Dari arah rumahnya, ia menuju ke Masjid Nabawi dan memasukinya. Ia mendapati Sayyidina Umar dan para sahabat yang lain tengah dalam kebingungan.
Kemudian ia melintasi masjid itu dan sampai di rumah Rasulullah. Ia meminta izin dari penghuni rumah untuk dapat masuk ke rumah dna ia diizinkzn untuk masuk. Periwayat kisah ini mengatakan,Sayyidina Abubakar RA masuk dalam keadaan dadanya berdebaran dan tampak ia penuh keluh kesah, seakan-akan nyawanya pun akan dicabut pada saat itu. Ia menangis. Kemudian terdengar darinya suara bagaikan bergolaknya air yang tengah mendidih. Ia memalingkan wajahnya, sementara air matanya terus bercucuran. Saat itu,jasad mulia Rasulullah SAW diselimuti kain. Lalu ia membuka kain selimut yang menutupi jasad mulia Rasulullah SAW,demi menatap wajah paling mulia itu. Ia memandang wajah Rasulullah SAW dna mendekatkan wajahnya. Dikecupnya kening dan pipi Rasulullah SAW. Lalu, sambil menangis ia mengatakan,"Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, betapa mulianya kehidupan dan wafatmu. Allah SWT tidak akan menimpakan dua kali wafat untukmu. Jikalau tangisan itu bermanfaat bagimu, niscaya kami akan biarkan air mata ini terus berlinang. Tetapi, tiada tempat mengadu selain Allah SWT.

Susungguhnya kita ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya lah kita akan kembali. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau, ya Muhammad, adalah utusan Allah. (Aku bersaksi bahwa) engkau telah menunaikan risalah dan menyampaikan amanah. Dan engkau meninggalkan kami di atas yang bersih."
Sayyidina Abubakar tenggelam dalam kesedihan. Napasnya pun tersengal-sengal. Ia pandangi kembali wajah Rasulullah SAW seraya berkata," Ingatlah kami di sisi Tuhanmu, wahai Muhammad."
Wahai para sahabat yang mendapat didikan langsung dari RAsulullah SAW. (Dan untuk Sayyidina Abubakar) wahai sahabat Rasulullah ketika di Gua Tsur. Jadi engkau memahami bahwa perpindahan Rasulullah SAW itu adalah suatu kehidupan baru Rasulullah SAW. Sehingga, kalian mengatakan, "Ingatlah kami di sisi Tuhanmu, wahai Muhammad."

Makna "siapa Menyembah Muhammad…"
Sayyidina Abubakar mengusap air mata dari kedua matanya yang mulia itu dengan tangannya. Lalu ia kembali menyelimuti kain penutup wajah mulia Rasulullah SAW. Ia pun kemudian beranjak kepada keluarga Rasulullah SAW dan berusaha untuk menenangkan mereka. Pada saat ia menangis dan mengatakan kepada Rasulullah SAW bahwa beliau hidup dan wafat dalam kebaikan, saat itu para wanita seisi rumah itu pun menangis. Abubakar RA kemudian keluar dan ia melihat kembali betapa seisi masjid berada dalam kepiluan. Kemudian ia menaiki mimbar kekasihnya, tuannya, dan pemimpinnya, Rasulullah SAW. Langkah kakinya telah membawanya ke mimbar itu. Maka, setelah memuji Allah SWT, bersalawat atas Nabi, ia pun mengutip firman Allah SWT,"Setiap jiwa akan mendapatkan kematian." Ia juga membacakan ayat,"Dan tidaklah Muhammad itu kecuali sebagai rasul dan telah berlalu para rasul sebelumnya." Dan ayat,"Sesungguhnya engkau mati dan mereka juga mati."

Ia berkata lagi,"Siapa yang menyembah Muhammad, Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah,Allah itu hidup dan tidak mati." Kalimat ini mengandung pemahaman yang dalam. Pemahamannya bukanlah seperti pemahaman mereka yang jahil pada saat ini, yang memahami kata-kata "Siapa yang menyembah Muhammad, Muhammad telah wafat" sebagai putusnya hubungan dengan Nabi SAW. Demi Allah, Tuhan Yang Disembah, makna kalimat itu adalah siapa yang mengaitkan dirinya dengan kehidupan Rasulullah SAW di dunia saja, kehidupan Rasulullah SAW telah berakhir. Rasulullah telah wafat. Namun siapa yang menjadikan hubungannya dengan Rasulullah SAW sebagai hubungannya dengan Allah SWT, Allah itu Mahahidup dan tidak mati.

Jadi, dengan pengertian bahwa hubungan kalian dengan Rasulullah SAW tidak akan pernah berakhir. Karena, hubungan dengan Rasulullah SAW memiliki kaitan erat dengan hubungan kepada Allah SWT, Yang Mahahidup. Kaitan ini adalah kaitan yang hidup dan tidak pernah mati.
Kemudian Sayyidina Abubakar berpaling kepada Sayyidina Umar, menghiburnya dari kebimbangan yang ia rasakan.

Aroma Kesturi
Di rumah Rasulullah SAW, Sayyidina Ali pun telah bangun setelah terjatuh lantaran kesedihan. Ia bersama Sayyidina Abbas mengurus jenazah Rasulullah SAW. Kemudian, turut pula bersama itu kedua putra Sayyidina Abbas, yaitu Abdullah dan fadhl. Dibantu oleh mereka, Sayyidina Ali KW memandikan jasad mulia Rasulullah SAW dengan pakaian yang masih beliau kenakan tanpa membuka aurat beliau sedikit pun. Sayyidina Ali mengatakan, "Kami memandikan beliau dan beliau masih mengenakan pakaiannya. Saat kami hendak memiringkan beliau ke kanan, beliau menghadap kekanan dengan sendirinya. Ketika kami hendak memiringkan beliau ke kiri, beliau menghadap ke kiri dengan sendirinya. Kami tidak mendapati seorang pun yang membantu kami untuk memandikan beliau, kecuali jasad beliau sendiri yang berubah kedudukannya."
Katanya lagi, "Ketika kami memandikan beliau,angin yang sejuk dan nyaman bertiupan kearah kami seakan-akan kami merasakan para malaikat masuk dan bersama dengan kami pada saat itu, ikut memandikan jasad mulia Rasulullah SAW. Tidaklah ada air yang jatuh dari jasad mulia baginda Rasulullah, melainkan ia lebih wangi dari aroma kesturi. Kemudian, kami kafankan jasad beliau."

Salah Satu Taman Surga
Di tempat lain, para sahabat saling bertanya,"Di manakah akan kita makamkan jasad Rasulullah SAW?" Sebagian dari mereka ada yang mengatakan agar jasad Rasulullah SAW dimakamkan di Baqi'. Imam Muslim dalam kitab Ash-Shahih nya menyatakan, sebagian sahabat mengatakan agar beliau dimakamkan di sisi mimbarnya, yaitu di dalam Masjid Nabawi. Hal ini menjelaskan bahwa, ketika Allah melaknat Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat sujud mereka, laknat tersebut bukanlah karena sujud di suatu masjid yang ada kuburnya di dalamnya. Sebab, bila cara pandang seperti itu benar, niscaya para sahabatlah yang terlebih dahulu memahami akan hal tersebut, sebagai buah dari kehidupan mereka bersama Rasulullah SAW.
Sampai kemudian Sayyidina Abubakar RA mengatakan kepada para sahabat yang lainnya, "Sesungguhnya para nabi dikuburkan di tempat mereka mengembuskan napasnya yang terakhir, sebagaimana yang aku dengar dari sabda Rasulullah SAW." Maka digalilah lubang di dalam kamar Rasulullah SAW sebagai tempat untuk menyemayamkan jasad suci beliau. Kemudian turunlah Sayyidina Ali KW ke dalam lubang kubur Rasulullah SAW, yang, demi Allah, tak lain merupakan salah satu taman dari taman-taman surga. Selain Sayyidina Ali, ikut turun pula pembantu Rasulullah SAW yang bernama Syaqran. Syaqran berkata, "Aku melihat ke atas, tempat yang pernah diduduki Rasulullah SAW. Hatiku pilu. Kini kami harus meletakkan jasad Rasulullah SAW dalam kuburnya. Aku melihat ke atas tempat duduk Rasulullah SAW. Aku mengambilnya. Aku pun berkata, "Ya Rasulullah, tiada satu pun yang boleh duduk di atas tempat duduk ini selepasmu, wahai Rasulullah!." Sayyidina Ali pun memakamkan Rasulullah SAW dalam kubur beliau, bersama para sahabat yang terlibat saat pemakaman itu. Sang Putri Menyusul
Ketika mereka telah bubar usai pemakaman, datanglah Sayyidatina Fathimah Az-Zahra. Dialah yang tidak ada kesedihan yang lebih mendalam melanda seseorang setelah kepergian Rasulullah SAW selain yang dialami oleh putri Rasulullah SAW ini. Dalam keadaan menangis, Sayyidatina Fathimah melihat Anas bin Malik RA, pembantu ayahandanya, yang besar dibawah asuhan Rasulullah SAW dan mendapat didikan Rasulullah SAW, di rumah beliau itu. Kemudian ia berkata kepada Anas, "Ya Anas, engkau sanggup meletakkan tanah di atas tubuh Rasulullah?" Anas pun menangis, sambil mengatakan, "Celakalah kami, celakalah kami, celakalah kami, wahai Fathimah. Sesungguhnya kami tidak menyadari dengan apa yang kami lakukan. Kalaulah kami telah mendengarkan terlebih dulu apa yang engkau katakan sekarang ini, niscaya kami tidak akan sanggup mengebumikannya."
Sayyidatina Fathimah pun berlalu, seakan ia tak mengenali siapa pun yang ada disitu. Hatinya amat sedih karena musibah yang menimpanya. Ia kemudian berdiri di sisi kubur ayahandanya dan mengambil segumpal tanah, lalu menciumnya. Dalam tangisannya, ia berkata, "Apa yang dapat dirasakan si pencium tanah kubur Nabi Muhammad ini…. Tidak dapat dirasakan pada selainnya sepanjang masa. Aku ditimpa musibah dengan musibah yang jika musibah selainnya menimpaku setiap hari pun niscaya tidak mengapa."
Tidak sampai lima bulan setelah wafatnya Rasulullah SAW, Sayyidatina Fathimah pun wafat. Fathimah adalah seorang yang di gelari Ummu Abiha, Ibu dari Ayahnya (Karena sejak meninggalnya Sayyidatina Khadijah, istri Rasulullah SAW, Sayyidatina Fathimah-lah yang banyak mengurus keseharian hidup Rasulullah SAW). " Wahai Rasulullah…."
Sekarang, bagaimanakah keadaan kalian semua, wahai para sahabat, selepas wafatnya Rasulullah SAW? Adakah kalian memahaminya sebagai akhir dari kehidupan Rasulullah SAW? Demi Allah, tidak demikian. Dugaan seperti itu benar-benar meleset. Seperti yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari jilid kedua pada kitab Memohon Pertolongan, sebagaimana juga ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Al-Hakim, dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang shahih, Bilal ibn Harits Al-Muzuni, salah seorang sahabat Nabi, datang berziarah ke makam Rasulullah SAW. Saat itu musim paceklik tengah melanda,yaitu pada masa pemerintahan Sayyidina Umar RA. Ia pun berdiri di sisi makam mulia Rasulullah SAW dan berkata, "Ya Rasulullah…." Perhatikanlah baik-baik, sahabat Nabi ini mengatakan "Ya Rasulullah…." (Yaitu memanggil Rasulullah SAW secara langsung, atau sebagai orang kedua).
"Ya Rasulullah. Banyak yang telah binasa, mohonkanlah air kepada Allah untuk umatmu." Karena mereka memahami bahwa Rasulullah SAW hidup di dalam kuburnya. Beliau mendengarkan shalawat yang diucapkan atas beliau, dan menjawab salam yang diucapkan kepada beliau. Beliaulah yang telah bersabda,"Sesungguhnya para nabi itu hidup dalam kubur mereka." Selesai.

Wallahu a'lam Semoga bermanfaat.

Sumber : Majalah Alkisah edisi 05/2011

11.1.15

Video Mauidloh KH. Ahmad Wafi di Kalisafi Sayung Demak


Video Mauidloh
KH. Ahmad Wafi MZ
di Desa Kalisari Kec. Sayung Kab. Demak
Dalam Acara : Haflah Akhirussanah MD Assalafiyah


 PART 1

 PART 2
PART 3
PART 4



4.1.15

DALIL - DALIL PAHALA TIDAK SAMPAI PADA MAYIT ( HADIAH PAHALA UNTUK MAYIT Bag. 3)



DALIL-DALIL KELOMPOK LAIN, DAN SANGGAHANNYA
OLEH : GUS ROUF
            Kelompok yang berpendapat bahwa mayit tidak bisa mendapatkan manfaat dari amal orang lain mengemukakan beberapa dalil. Diantaranya adalah
1.    Firman Alloh Subhanahu wa ta’ala :
وأن ليس للإنسان إلا ما سعى
“Dan bahwasanya manusia tidak akan mendapat (pahala) melainkan dari usaha yang telah dia kerjakan” (QS. Annajm: 39).
           
SANGGAHAN.
Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat tersebut menurut Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma telah dihapus hukumnya (mansukh) oleh ayat:
والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان  ألحقنا بهم ذريتهم
“Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka” (QS. Atthur: 21)
            Menurut pendapat yang lain, ayat tersebut khusus untuk kaum Nabi Musa dan Nabi Ibrohim 'alaihimassalam, karena secara lengkap bunyi ayat tersebut adalah:
أم لم ينبأ بما في صحف موسى. وإبراهيم الذي وفى. ألا تزر وازرة وزر أخرى. وأن ليس للإنسان إلا ما سعى.
“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa. Dan lembaran-lembaran Ibrohim yang selalu menyempurnakan janji. (Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. Annajm: 36-39)
            Dalam “Aqidah Atthohawiyyah” (hal. 925) Syekh Ibnu Abil’izz menjelaskan bahwa Alqur’an (dalam ayat diatas) tidaklah menafikan seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal orang lain. Yang dinafikan adalah seseorang bisa memiliki amal orang lain.
Diantara dua hal ini terdapat perbedaan yang jelas. Alloh ta’ala mengambarkan bahwa seseorang tidak bisa memiliki kecuali apa yang telah dia kerjakan. Adapun amal orang lain, maka milik orang tersebut. Apabila dia mau, maka dia bisa memberikannya kepada orang lain, dan apabila dia mau maka dia bisa membiarkannya untuk dirinya sendiri.
Adapun firman Alloh ta’ala: “(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”, kedua ayat tersebut adalah muhkam (tidak mansukh), dan menunjukkan keadilan Tuhan yang Maha Mulia.
Ayat yang pertama menunjukkan bahwa Dia tidak menghukum seseorang sebab dosa orang lain, sebagaimana yang sering dilakukan oleh raja-raja di dunia.
Ayat kedua menunjukkan bahwa seseorang tidak akan berbahagia di akherat kecuali dengan amalnya sendiri, agar dia tidak tamak dan mengharapkan keselamatan dari amal orang tua atau gurunya, sebagaimana kebiasaan orang yang tamak. Alloh ta’ala tidak berfirman bahwa seseorang tidak bisa mendapatkan manfaat kecuali dari apa yang telah dia usahakan. 

2.    Dalil lain yang mereka paparkan adalah hadits:
إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له
“Apabila seorang manusia telah meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya” (HR. Muslim)

SANGGAHAN
Dalam beberapa hadits lain dijelaskan amal-amal lain yang pahalanya juga tidak terputus oleh kematian, seperti membuat sumur, mewakafkan Alqur’an, membuat sungai, membangun masjid, menanam pohon dan lain-lain.
Oleh karena itu, hadits diatas tidak bisa dijadikan dalil bahwa selain tiga hal diatas maka pahalanya terputus oleh kematian. Karena mafhum dari suatu hitungan tidaklah bisa dijadikan hujjah, atau karena Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam diberitahu oleh Alloh ta’ala mengenai tiga hal diatas, lalu Alloh ta’ala memberitahu beliau hal-hal yang lain.
            Syekh Ibnu Abil’izz dalam “syarh Aqidah Atthohawiyyah” menjelaskan bahwa menjadikan hadits “Apabila anak Adam telah meninggal maka putus amalnya…“ sebagai dalil adalah tindakan yang salah, karena Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam tidak bersabda “putus dari mendapatkan manfaat”, sabda Beliau adalah “putus amalnya”. Adapun amal orang lain maka menjadi milik orang itu. Apabila orang itu memberikan pahala amalnya bagi mayit maka pahala amal orang itu sampai kepada mayit, bukan pahala amalnya mayit. Seperti seseorang yang mempunyai hutang, lalu hutangnya dilunasi orang lain, maka dia menjadi bebas dari hutangnya, tapi dia tidak memiliki uang yang dipakai untuk melunasi hutangnya.  

PENDAPAT SYEKH IBNU TAIMIYYAH
            Syekh Taqiyyuddin Ahmad bin Taimiyyah berkata : Barangsiapa berkeyakinan bahwa seseorang tidak bisa mendapatkan manfaat kecuali dari amalnya sendiri maka sungguh dia telah melanggar ijma’ dan keyakinan tersebut hal yang bathil karena berbagai hal:

  1. Sesungguhnya manusia mendapat manfaat dari doa orang lain, dan hal ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  2. Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam memberi syafaat bagi orang-orang di padang mahsyar untuk dihisab, lalu memberi syafaat bagi penduduk surga untuk masuk surga, lalu memberi syafaat bagi orang-orang yang melakukan dosa besar untuk keluar dari neraka, dan hal-hal tersebut adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  3. Setiap Nabi dan orang sholeh bisa memberi syafaat, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain
  4. Para malaikat mendoakan dan memintakan ampunan untuk penduduk bumi, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  5. Alloh ta’ala mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali dari neraka, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari selain amal mereka
  6. Anak-anak orang mukmin masuk surga sebab amal orang tua mereka, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari selain amal mereka secara murni.
  7.  Alloh ta’ala berfirman dalam kisah dua anak yatim: “Dan orang tua mereka berdua adalah orang sholeh”, maka kedua anak yatim tersebut mendapatkan manfaat dari kesholehan orang tua mereka, dan hal tersebut bukan merupakan usaha mereka.
  8. Sesungguhnya mayit mendapatkan manfaaat dari shodaqoh yang dihadiahkan kepadanya dan dari memerdekakan budak seperti diterangkan dalam hadits dan ijma’, dan itu adalah amal orang lain
  9. Haji fardhu bisa gugur dari mayit dengan cara dihajikan walinya seperti diterangkan dalam hadits, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  10. Nadzar haji atau nadzar puasa bisa gugur dari mayit apabila dikerjakan orang lain, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  11. Orang yang berhutang yang mana Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam tidak berkenan menyolatinya sehingga hutangnya dilunasi Abu Qotadah radhiyallahu 'anhu, dan dalam kejadian lain dilunasi Ali bin Abu Tholib karromallohu wajhah, lalu dia mendapatkan manfaat dari sholatnya Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam dan hutangnya menjadi lunas. Hal tersebut adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  12. Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam bersabda terhadap orang yang sholat sendirian: “Agar seseorang bershodaqoh kepada orang ini, yaitu sholat bersamanya”, maka orang tersebut mendapat keutamaan sholat jamaah sebab perbuatan orang lain
  13. Seseorang bisa bebas dari tanggungan hutang-hutangnya apabila ada orang lain yang melunasinya, dan itu adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  14. Seseorang yang menanggung berbagai tanggungan dan perbuatan dholim bisa gugur tanggungannya apabila telah dimaafkan oleh mereka yang bersangkutan, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  15. Tetangga yang sholeh bisa memberi manfaat ketika hidupnya dan setelah wafatnya sebagaimana dijelaskan dalam hadits, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  16. Orang yang duduk bersama orang-orang yang berdzikir maka dia ikut mendapatkan rohmat meskipun dia tidak termasuk golongan mereka dan tidak duduk untuk berdzikir, dia duduk bersama mereka karena suatu keperluan. Maka orang itu mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  17. Mayit mendapatkan manfaat dari sholat jenazah dan dari doa untuknya yang dibaca dalam sholat jenazah, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  18. Sholat Jum’at dan sholat berjamaah terjadi dengan berkumpulnya orang banyak. Hal itu berarti sebagian orang mendapatkan manfaat dari sebagian yang lain.
  19. Alloh ta’ala berfirman: “Dan Alloh sekali-kali tidak akan mengadzab mereka sedang kamu berada diantara mereka”(QS. Al Anfal:33), “Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain pasti rusaklah bumi ini”(QS. Albaqoroh: 251). Maka Alloh ta’ala menolak suatu adzab dari suatu golongan karena adanya golongan yang lain, dan itu adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  20. Zakat fitrah wajib atas anak kecil dan lain-lain, dan anak kecil telah lunas zakat fitrahnya apabila telah ditunaikan oleh walinya, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain
  21. Zakat hukumnya wajib atas harta anak kecil dan orang gila dan mereka mendapatkan pahala meskipun bukan mereka yang menunaikannya. Dan barangsiapa mau meneliti maka dia akan menemukan hal-hal yang hampir tidak bisa dihitung (karena terlalu banyak) yang menunjukkan bahwa seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal orang lain (lihat: Ghoyatulmaqshud karya Syekh Abdulloh bin Humaid hal. 101)
(Sumber: Tahqiiqul aamaal fiimaa yanfa’ulmayyita minal a’maal dan Manhajussalaf fii fahminnushuush, keduanya karya Abuya Sayyid Muhammad Alawi Almaliki Alhasani rohimahulloh rohmatan wasi’ah)




 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan