21.1.15

Sufi Road

Sufi Road


Habib Ali Al-jufri berkisah tentang Detik-detik Wafatnya Rasulullah SAW

Posted: 20 Jan 2015 05:16 PM PST

Wafatnya Adalah Kehidupan Sejatinya

Wahai,bagaimana hati kita tidak tergetar dan semakin merasakan kerinduan kepada Rasulullah SAW? Bagaimana hati kita tidak terkesan dengan beliau ? Bagaimana kita tidak dapat melupakan perintah untuk mencintai beliau? Bagaimana hati kita tidak terikat untuk senantiasa merindukan beliau? Bagaimana hati kita tidak tesentuh kala pribadi beliau diperdengarkan? Dalam haji wada'nya (haji perpisahan), Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan sekitar 120.000 orang, "Wahai manusia,dengar dan perhatikanlah,sesungguhnya aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian selepas tahun ini."

Semuanya terdiam, sambil terus mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Rasulullah SAW. Beliau menasehati dan berwasiat kapada mereka tentang keterikatan mereka dengan Tuhan dan agama mereka.Ketika itu Allah menurunkan ayat."Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian,Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian,dan Aku ridha Islam menjadi agama kalian."

Allah menghidupkan makna kehidupan yang dahsyat di tengah-tengah mereka,dalam suasana perpisahan dengan Rasulullah SAW.Saat itu, perpisahan dengan beliau adalah sebuah sisi kehidupan bagi umatnya setelah itu.Kemudian Rasulullah SAW pun pulang ke kota Madinah.

Bulan Rabi'ul Awwal tiba.

Di awal bulan itu,tubuh Rasulullah SAW terasa lemah.Beliau terserang sakit demam.Tubuhnya pun disirami air sejuk.Beliau bersabda, "Siramilah aku denagn air supaya aku dapat keluar untuk mengucapkan salam perpisahan dengan para sahabatku." Baginda pun disirami air itu, yang membuat tubuhnya terasa lebih segar. "Sahabat Teragung"

Kemudian beliau keluar rumah,melangkahkan kakinya dengan diiringi kedua sepupunya,Ali bin Abu Thalib dan Fadhl bin Abbas,radhiyallahu'anhuma.

Beliau menemui para sahabat.

Saat melihat hadirnya Rasulullah SAW di tengah-tengah mereka,tampak betapa kegembiraan menyemburat dari wajah para sahabat.Kemudian Rasulullah SAW duduk di atas mimbarnya.

Para sahabat terdiam,bersiap untuk mendengarkan segala apa yang akan diucapkan Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pun berkhutbah,khutbah perpisahan.Beliau bersabda,"Seseorang telah diberi pilihan,antara kehidupan di dunia atau menjumpai Ar-Rafiqul A'la ("Sahabat Teragung",Allah SWT)."

Rasulullah SAW pun kemudian mengulang-ulang kata itu, "Ar-Rafiqul A'la,Ar-Rafiqul A'la,Ar-Rafiqul A'la…" Wahai orang yang berakal,adakah kehidupan Allah akan berakhir? Adakah hubungan dengan Allah akan menemui titik penghabisan? Hubungan dengan Ar-Rafiqul A'la itu sesungguhnya merupakan kehidupan itu sendiri. Ucapan Rasulullah SAW itu menandakan bahwa ia memilih kehidupan yang sejati.

Hati sahabat Abubakar RA tersentuh.Ia pun berkata kepada Rasulullah SAW,"Ya Rasulullah,demi ayah dan ibuku,biarlah ruh-ruh kami, anak-anak kami,dan sanak keluarga kami,serta harta-harta kami,sebagai tebusan bagimu." Melihat Abubakar RA mengatakan itu,sahabat Abu Sa'id Al-Khudri RA berkata, "Ada apa dengan orang tua ini? Apakah ia (Abubakar) sudah pikun?"

Rasulullah SAW telah menceritakan ihwal lelaki ini (Abubakar RA), yaitu seorang yang telah meyakini penuh bahwa diri beliau sebagai utusan Allah SWT (saat yang lain banyak yang mengingkarinya).Kelak Abu Sa'id mengatakan, "selepas wafatnya Rasulullah SAW, Aku baru tahu,perkataan Abubakar itu perkataan yang tepat."

Rasulullah SAW memandang Abubakar RA. Pandangan yang penuh makna.Kemudian beliau berkata, "Biarkanlah sahabatku berkata kepadaku, Orang yang paling percaya kepadaku adalah Abubakar. Sekiranya aku memilih kawan dekat,niscaya aku akan memilih Abubakar. Tutuplah pintu rumah kalian yang menuju masjidku,kecuali pintu rumah Abubakar."

Wasiat-wasiat Rasulullah SAW

"Ya Rasulullah, berwasiatlah kepada kami,"ujar para sahabat.
Kala itu, di antara yang diwasiatkan Rasulullah SAW, "Berwasiatlah kalian terhadap para wanita dengan kebaikan.'
Wasiat ini menyinpan makna yang luar biasa yang beliau katakan di saat beliau hendak mengucapkan salam perpisahan kepada sekalian umatnya. Maknanya agar kita mewujudkan hubungan yang baik sesama kita sepeninggal beliau, yang dengannya kehidupan akan berjalan harmonis. Beliau mewasiatkan ini agar kita dapat menggapai kehidupan yang sebenarnya, yaitu tatkala kita menjalani kehidupan ini penuh dengan kebaikan.

Beliau juga berwasiat, " Dan berwasiatlah kalian dengan baik terhadap keluargaku." Beliau ingin kita dapat terus hidup berkesinambungan dengan beliau.

Kenapa beliau mengatakan " keluarga" yang dinisbahkan sebagai keluaga beliau, "keluargaku". Hal itu disebabkan beliau ingin mengajarkan kepada kita bahwasanya perpindahan beliau dari alam dunia tidak dimaksudkan sebagai terputusnya hubungan umat dengan beliau. Seakan beliau mengatakan,"Hubungan kalian denganku tak akan terputus sekali kalian berhubungan dengan keluargaku." Wasiat beliau lainnya,"Janganlah kalian menjadi kafir selepas kepergianku dan janganlah kalian berperang satu sama lain." Beliaupun terus berwasiat kepada para sahabat dengan wasiat-wasiat lain yang beliau berikan kepada mereka. Sebagian diantara mereka mengatakan," Ya Rasullullah,jika engkau wafat,siapakah yang akan memandikanmu?" Beliau menjawab, "Seseorang di antara ahlul baytku."

Hati merka amat tersentuh dengan perpisahan yang akan mereka lalui,perpisahan antara mereka dengan Rasulullah SAW. Kemudian mereka berkata lagi, "Dengan apa engkau kami kafankan?"

Saat melihat rasa gundah melanda hati para sahabatnya,air mata Rasulullah SAW pun berlinang.Beliau menjawab," (Bahan) dalam pakaianku ini,atau kain dari Yaman, atau jubah dari Syam,atau kapas dari Mesir." Abubakar Mengimami Shalat

Mereka terus bertanya kepada Rasulullah SAW dengan pertanyaan lainnya.Setelah benyaknya pertanyaan sebagai persiapan bagi para sahabat bila sewaktu-waktu Rasulullah SAW wafat dan meninggalkan mereka,Rasulullah SAW pun menangis. Lalu beliau bersabda,"Berlaku lembutlah kepada nabi kalian."Kemudian beliau berdiri, melangkah pulang, dan memasuki rumah beliau.Beliau pun merebahkan diri di pembaringan.

Di saat yang sama, rasa bimbang semakin menggelayuti hati para sahabat. Kemudian mereka meninggalkan pekerjaan dan urusan mereka dan berkeliling di sekitar rumah Rasulullah SAW dan masjid beliau. Mereka ingin mengetahui perkembangan berita tentang Rasulullah SAW. Sampai tiba pada waktu shalat,sedangkan imam mereka (Rasulullah SAW) tidak kunjung keluar untuk shalat bersama mereka. Para sahabatpun semakin bertambah bimbang.

Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Aisyah RA, "Perintahkan Abubakar untuk mengimami shalat." Aisyah RA (putri Abubakar RA) berkata kepada beliau, "Ayahku seorang yang kurus dan aku khawatir ia akan menangis dan tak sanggup berdiri. Mintalah dari umar, ya Rasulullah."

Rasulullah SAW menjawab, "Kalian seperti sahabat Nabi Yusuf AS. Perintahkanlah Abubakar untuk mengimami shalat." Abubakar RA pun bangkit mengimami jama'ah shalat fardhu yang pertama dan shalat-shalat berjama'ah berikutnya.

Salam Perpisahan
Senin waktu shalat Subuh,12 Rabi'ul Awwal. Rasulullah SAW menyingkap tabir kain dari pintu rumah beliau. Pandangannya mengarah kepada para sahabat. Tampak mereka tengah shalat dengan khusyu' dan tunduk di hadapan Allah SWT, di bawah pimpinan Abubakar RA. Segala puji bagi Allah, saat Rasulullah SAW memperhatikan para sahabatnya itu, masjid pun bercahaya dengan kemunculan beliau. Sampai sebagian sahabat mengatakan, " Hampir saja kami terlalaikan dari shalat kami ketika Rasulullah muncul." Abubakar RA hampir saja mundur dari pengimaman, sementara para sahabat yang lainnya hampir saja memalingkan pandangannya kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menunjuk dengan tangan beliau,"Tetaplah di tempat kalian." Kemudian beliau menutup kembali tirai di pintu masuk rumah beliau itu.

Para sahabat mengatakan, "Itulah saat terakhir Rasulullah SAW memandangi para sahabatnya." Abdullah bin Mas'ud RA, pembantu Rasulullah SAW, mengatakan,ketika Rasulullah SAW melihat mereka, beliau mengatakan, "Allah memelihara kalian,Allah memberkati kalian,Allah menguatkan kalian,Allah menolong kalian,Allah membantu kalian." Inilah salam perpisahan dari seorang yang merindukan para sahabatnya.Para sahabatpun memberi salam kepada Rasulullah SAW dan keluar dari masjid.

Dikatakan,para sahabat bergembira saat mendapati Rasulullah SAW memperhatikan mereka dari pintu rumah beliau. Mereka menyangka kondisi kesehatan Rasulullah SAW telah berangsur pulih.Karenanya, sebagian dari mereka kemudian beraktivitas lagi seperti sedia kala,dan mereka menyangka bahwa itu adalah rahmat Allah SWT terhadap mereka. Berita Kematian yang Menggembirakan

Aisyah RA berkata, "Rasulullah SAW meminta izin dari sekalian istri beliau untuk dirawat di rumahku,lalu mereka mengizinkan. Saat hari Senin itu,hari wafatnya Rasulullah SAW,tiba,ruh beliau diambil di rumahku sedangkan beliau ada dalam dekapanku." Ia berkisah, "Ketika kami semua sedang duduk,datanglah Fathimah sambil menangis. Caara berjalannya mirip cara berjalan ayahandanya, Rasulullah SAW. Kemudian beliau mendekap dan mengacupnya. Lalu beliau SAW membisikkan sesuatu di telinganya. Sesaat kemudian Fathimah mengangkat kepalanya . Ia menangis

Kemudian Rasulullah SAW memberi isyarat kepadanya, beliau ingin membisikkan lagi sesuatu kepada Fathimah. Fathimah mendekati ayahnya dan kemudian Rasulullahberbisik kepadanya. Sesaat setelah itu Fathimah kembali mengangkat kepalanya dengan penuh rasa gembira yang merona di wajahnya. Aku tidak pernah melihat tangisan yang kemudian disusul dengan tertawa seperti itu.: Aisyah RA pun bertanya kepada Fathimah RA, "Apa yang dibisikkan ayahandamu kepadamu?" Fathimah RA menjawab, "Jangan engkau hiraukan hal itu,karena aku tak mau membuka rahasia ini selagi beliau masih hidup."

Kelak setelah Rasulullah SAW wafat, Aisyah bertanya lagi tentang hal itu. Fathimah mengatakan, "Ya, ketika aku mendekati ayahku, beliau berbisik kepadaku, 'Wahai Fathimah,sekali dalam setahun Jibril mendatangiku untuk membacakan Al-Qur'an kepadaku dan pada tahun ini ia telah mendatangiku dua kali. Dan Allah telah memberikan pilihan kepada ayahmu, antara dunia dan Ar-Rafiqul A'la.'Ayahku memilih Ar-Rafiqul A'la. Dan aku diberi tahu bahwa nyawanya akan dicabut pada hari itu. Lalu aku pun menangis. Kemudian beliau memanggilku lagi dan membisikan kepadaku, 'Apakah engkau suka bahwa engkau menjadi penghulu wanita sekalian alam dan menjadi orang yang pertama kali akan menyusulku?' Aku pun bergembira dengan berita dari ayahku itu."

Kematian adalah sesuatu yang menyedihkan. Bagaimana dengan kabar kematianmu ini, wahai Zahra? Fathimah mengatakan, "Berita kematianku ini mempercepat pertemuanku dengan orang yang aku kasihi, dan inilah kehidupan yang sesungguhnya bagiku."

Dialog dengan Malaikat Maut
Aisyah melanjutkan kisahnya, "Sebelum itu kami mendengar ada sesuatu yang bergerak di balik pintu. Dan itu adalah Jibril. Jibril meminta izin Rasulullah untuk masuk. Beliau mengizinkannya.

Kemudian aku mendengar Rasulullah berkata kepadanya, 'Wahai Jibril, Ar-Rafiqul A'la…, Ar-Rafiqul A'la… Kami tahu bahwa sangkaan kami adalah tepat.'

Kemudian aku bertanya kepada Rasulullah SAW, Apa yang telah terjadi, wahai Rasulullah?' Rasulullah menjawab, ' Itulah Jibril yang datang dan berkata: Malaikat maut telah berada di depan pintu dan meminta izin. Dan tidaklah malaikat maut meminta izin kepada seorang pun baik sebelum dan sesudahmu.

Dan ia (jibril) mengatakan: Allah menyampaikan salam kepadamu dan Dia telah merindukanmu," Maka, wahai orang-orang yang berakal,apakah perpindahan kepada Tuhan yang merindukannya merupakan suatu kematian? Bukan. Kehidupan yang sebenarnya adalah perpindahan kepada Allah, Yang Mahahidup.

Kemudian malaikat maut mengatakan kepada Rasulullah SAW, "Jikalau engkau berkenan, aku akan mencabut ruhmu untuk menemui Ar-Rafiqul A'la. Namun jika engkau tak berkenan, aku akan biarkan mengikuti berlalunya masa sampai tempo waktu yang engkau inginkan."

Rasulullah memilih Allah Ta'ala. Ya, beliau memilih Sahabat Yang Teragung. Kemudian malaikat maut pun masuk dan mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW. Ia berkata lagi, "Wahai Rasulullah, apakah kau mengizinkanku?" Rasulullah SAW menjawab, "Terserah apa yang akan kau lakukan, Wahai malaikat maut. Dan berlaku lembutlah sewaktu mencabut ruhku." "Hhhhhhhhhh………." (Desis suara Rasulullah SAW menahan rasa sakit).

Rasulullah SAW kembali mengatakan kepada malaikat maut, "Berlaku lembutlah kepadaku, wahai malaikat maut." Perhatikanlah (meski dicabut dengan selembut-lembutnya pencabutan ruh yang pernah dilakukan malaikat maut), Rasulullah SAW pun merasakan sakitnya sakaratul maut. Maka bagaimana (yang akan dirasakan) oleh orang yang lalai dengan kematian dalam kehidupan mereka? Mereka tidak merenungi saat-saat ketika nyawa dicabut pada saat sakaratul maut. "Beratkan bagiku,Ringankan bagi umatku"

Maka menanjak naiklah ruh mulia Baginda Rasulullah SAW, yang ditandai dengan sentakan kedua kaki beliau. Peluh pun bercucuran dari dahi Baginda.Peluh yang bagaikan butiran permata berbau kesturi. Rasulullah SAW menyapu peluhnya itu dengan tangannya dan kemudian meletakkan tangannya pada sebuah wadah di tepinya untuk menyejukan tubuhnya.

Kembali suara berdesis dari lisan suci beliau."Hhhhhhhh……" Lantaran rasa sakit yang ia alami pada saat sakaratul maut. Beliau pun mengatakan, "Sesungguhnya maut itu amatlah berat, YA Allah,ringankan beratnya maut terhadapku" Maka para malaikat dari langit pun turun kepada beliau. Mereka berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah menyampaikan salam atasmu dan Dia menyatakan bahwa sesungguhnya perihnya sakaratul maut 20 kali lipat (dalam riwayat lain 70 kali lipat) dari rasa sakit akibat padang yang menusuk tubuh."

Rasulullah SAW pun menangis dengan tangisan yang tiada tangisan lain yang lebih menyedihkan bagi kalian semua. Beliau berdoa, "Ya Allah, beratkanlah (sakaratul maut) ini atasku, tapi ringankanlah atas umatku."

Wahai,bagaimana hati kita tidak tergetar dan semakin merasakan kerinduan kepada Rasulullah SAW? Bagaimana hati kita tidak terkesan dengan Rasulullah SAW? Bagaiman kita dapat melupakan perintah untuk mencintai beliau? Bagaimana hati kita tidak terikat untuk senantiasa merindukan beliau? Bagimana hati kita tidak tersentuh kala pribadi beliau diperdengarkan?

Pesan Terakhir
Aisyah RA berkata, "Saudaraku,Abdurrahman bin Abubakar, masuk dan ia sedang membawa sebatang kayu siwak yang ujungnya belum dilembutkan. Aku lihat Rasulullah memandang kearahnya dan adalah Rasulullah SAW menyukai siwak."

Maka, apakah kalian menyukai apa yang beliau suka dari sunnah-sunnah beliau? Adalah Rasulullah SAW menyukai siwak. Aisyah menyatakan,"Aku bertanya kepada Rasulullah,'Ya Rasulullah, apakah engkau menginginkannya (siwak)?' Rasulullah, di saat beliau sudah tak dapat lagi berkata-kata dan kami pun tak dapat mendengar sesuatu pun darinya, memberi isyarat dengan menganggukkan kepala beliau, pertanda beliau menginginkan untuk bersiwak. Dan perkara yang terakhir beliau katakana adalah, 'Ash-shalah….ash-shalah….ash-shalah…'-'Shalat…. Shalat…. Shalat…..'

Maka,apakah yang kalian lakukan terhadap wasiat Nabi kalian di saat-saat akhir dari kehidupannya di dunia ini? Shalat adalah hubungan kalian dengan Tuhan, agar terjalin hubungan yang hakiki dengan-Nya.

Wahai orang yang mendahulukan perkerjaan dunianya dan hawa nafsunya sebelum shalat,yang mendahulukan keterlenaannya disbanding shalatnya,ingatlah, wasiat yang terakhir dituturkan oleh kekasih kalian di akhir usianya adalah,'Ash-shalah…. Ash-shalah… ash-shalah….', di samping 'Berwasiatlah dengan kebaikan terhadap para wanita', dan juga,'Aku berwasiat kepadamu dengan kebaikan terhadap keluargaku.'

Sesaat kemudian,lidah Rasulullah SAW tampak kaku. Tapi, ruh beliau belum tercabut. Beliau masih berkata-kata." Dan majelis ini, kata Habib Ali, adalah salah satu kenyataan yang menggambarkan keadaan ruh Rasulullah SAW. Kalaulah tidak karena kehidupan Rasulullah SAW yang wujud dalam diri kita,niscaya kita tidak tersentak saat disebut perihal kisah wafatnya Rasulullah SAW. Bergetarnya hati kalian saat disebutkan perihal kejadian-kejadian pada saat wafatnya Rasulullah SAW adalah sebagiam dari petunjuk yang nyata bahwa kematian beliau adalah sebuah kehidupan.Adakah kematian yang dapat menggerakkan banyak hati?

Sejahteralah Jasad Beliau
Kemudian, Aisyah melanjutkan, "Rasulullah SAW memberikam isyarat lewat anggukan kepalanya, sebagai pertanda keinginannya. Maka aku berikan kepada beliau kayu siwak yang belum dilembutkan itu. Tapi kemudian aku mengambilnya dari tangan beliau ketika kulihat itu tak dapat beliau gunakan karena keras,belum dilembutkan. Lalu aku melembutkannya dengan mulutku. Aku bangga,karena,di kalangan para sahabat, benda terakhir yang masuk ke mulut beliau adalah air liurku. Lalu aku meletakkannya dalam mulut beliau. Beliau pun memegangnya dengan tangan beliau sendiri,"

Sakaratul maut yang dialami Rasulullah semakin mendalam. Cahaya memancar dari wajah beliau, dan cahaya itu meliputi keluarganya. Waktu terus berjalan.

Ruh mulia Rasulullah SAW telah sampai pada kerongkongannya. Beliau membuka kedua kelopak bola matanya. Kemudian beliau menunjukkan isyarat dengan jari telunjuknya sebagai kesaksian atas keesaan Sang Pencipta, yaitu isyarat ketauhidannya. Tak lama kemudian, beliau pun mengembuskan napas terakhir.
Sejahterakanlah jasad beliau yang agung setelah melalui hari-hari yang melelahkan, lantaran segala hal ia baktikan demi keselamtan kita.
Sejahterakanlah jasad beliau setelah perutnya kerap kali diikat dan diganjal batu karena kelaparan, demi pengorbanannya kepada kita.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang pernah dilempari batu hingga melukai beliau,demi dakwahnya kepada kita.
Sejahterakanlah jasad beliau,yang gerahamnya pernah dipatahkan, lantaran kesungguhan beliau dalam membela agama yang akan menyelamatkan kita.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang dahinya pernah dilukai sampai mengalir darah dari dahinya yang mulia itu, lalu beliau menahannya dengan tangan beliau agar darah suci beliau tak sampai jatuh ke tanah, sebagai rahmat bagi mereka, kaum yang memerangi beliau, dan bagi kita, dari kemurkaan Allah SWT.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang mata panah pernah menembus daging pipinya,demi kita.
Sejahterakanlah jasad beliau,yang kakinya sampai bengkak disebabkan pengabdian beliau kepada Allah SWT dan demi dakwah kepada kita.
Sejahterakanlah jasad yang telah memikul kesukaran,keletihan, kesakitan,dan,kelaparan karena kita.

Terhubung tak Berujung.
Ketika para penghuni rumah itu menyaksikan kepergian Rasulullah SAW, yaitu setelah ruh beliau meninggalkan jasad beliau, tangis pun meledak menyelubungi seisi rumah.
"wahai Nabi Allah….! Wahai Rasulullah…! Wahai kekasih Allah….!"
Sesaat kesedihan menyelubungi rumah itu, seketika, suasana penuh haru menyemburat di wajah para sahabat yang ada di dalam masjid. Tak lama kemudian,berita wafatnya Rasulullah pun kemudian menyebar begitu cepat ke segenap penjuru kota Madinah. Musibah Terberat

Kembali lagi sejenak pada apa yang dialami Sayyidina Ali bin Abu Thalib KW pada detik-detik yang sangat bersejarah itu. Saat itu, ia tengah duduk di sisi tubuh mulia Rasulullh SAW.
Ketika ia melihat guncangan ruh beliau, ia melihat Sayyidatuna Aisyah RA menangis. Maka kemudian ia mengangkat tubuh Rasulullah SAW dan meletakkannya di kamar beliau. Setelah meletakkan tubuh nan suci itu, di saat ruh Rasulullah SAW hampir terlepas dari jasadnya, Sayyidina Ali pun terjatuh dan kemudian tak kuasa untuk berdiri.
Maka kemudian,tatkala suara tangisan memenuhi ruangan rumah itu,terdengarlah suara yang tidak terlihat siapa yang menyatakannya. Mereka mendenga suara yang mengatakan,"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un. Ya Ahlal Bait, a'zhamallahu ajrakum. Ishbiru wahtasibu mushibatakum. Fa inna Rasulallah farathukum fil jannah."-Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Wahai penghuni rumah,semoga Allah membesarkan ganjaran pahala kalian. Bersabarlah dan bermuhasabahlah dengan musibah yang kalian alami ini. Maka sesungguhnya Rasulullah mendahuluimu sekalian di surga."

Ketika suara itu terdengar, merekapun terdiam dan menjadi tenang. Setelah suara itu berhenti,mereka pun menangis lagi. Demi Allah, Dzat Yang Disembah,kalian tidak pernah diberi musibah seperti musibah yang mereka rasakan. Tiada satu rumah pun yang pernah merasakan kehilangan seperti yang mereka rasakan.
Kabar itu tersiar cepat di kota Madinah. Para sahabat merasa kebingungan. Ketika dikatakan kepada mereka "Wahai para sahabat, tidakkah kalian tahu, Rasulullah SAW adalah manusia, dan sebagai manusia beliau pun pasti mengalami kematian?", mereka mengatakan,"Ya, tapi kehidupan beliau kekal dalam diri kami dan telah menjadi cambuk dahsyat pada jiwa kami." Hati para sahabat terus bergetar.
Kala itu, Sayyidina Umar bin Khathab menghunuskan pedangnya sambil mengibas-ngibaskannya di jalan. Karena rasa sedih yang begitu mendalam, ia berteriak,"Sekelompok dari golongan munafik berkata bahwa Rasulullah telah mati. Rasulullah SAW tidak wafat. Akan tetapi beliau menjumpai Tuhannya sebagaimana perginya Musa AS. Dan beliau kembali kepada kita. Siapa yang menyatakan Rasulullah telah mati akan kutebas dengan pedangku ini." Setelah sampai kabar kepada Abdullah bin Zaid RA, ia menangis,kemudian menengadahkan tangannya dan berdoa, "Ya Allah, ambillah penglihatanku ini,sehingga aku tak dapat melihat seorang pun lagi selepas kepergian Rasulullah SAW." Maka,ia pun kehilangan penglihatan pada saat itu juga.

Sahabat yang lain, ketika mendengar berita tentang Abdullah bin Zaid RA,berteriak, "Ya Allah,ambillah ruhku, dan tiada lagi kehidupan setelah wafatnya Rasulullh SAW." Tiba-tiba ia terjatuh.Allah mengambil nyawanya seketika itu juga. Sementara itu Sayyidina Ustman RA membisu. Ia tidak dapat berkata apa-apa.

Hidup dan Mati dalam Kebaikan
Ketika pikiran mereka terganggu,mereka kebingungan, maka telah sampai berita kepada Sayyidina Abubakar Ash Shidiq RA, dan ia pun berada dalam keadaan yang menyedihkan itu. Dari arah rumahnya, ia menuju ke Masjid Nabawi dan memasukinya. Ia mendapati Sayyidina Umar dan para sahabat yang lain tengah dalam kebingungan.
Kemudian ia melintasi masjid itu dan sampai di rumah Rasulullah. Ia meminta izin dari penghuni rumah untuk dapat masuk ke rumah dna ia diizinkzn untuk masuk. Periwayat kisah ini mengatakan,Sayyidina Abubakar RA masuk dalam keadaan dadanya berdebaran dan tampak ia penuh keluh kesah, seakan-akan nyawanya pun akan dicabut pada saat itu. Ia menangis. Kemudian terdengar darinya suara bagaikan bergolaknya air yang tengah mendidih. Ia memalingkan wajahnya, sementara air matanya terus bercucuran. Saat itu,jasad mulia Rasulullah SAW diselimuti kain. Lalu ia membuka kain selimut yang menutupi jasad mulia Rasulullah SAW,demi menatap wajah paling mulia itu. Ia memandang wajah Rasulullah SAW dna mendekatkan wajahnya. Dikecupnya kening dan pipi Rasulullah SAW. Lalu, sambil menangis ia mengatakan,"Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, betapa mulianya kehidupan dan wafatmu. Allah SWT tidak akan menimpakan dua kali wafat untukmu. Jikalau tangisan itu bermanfaat bagimu, niscaya kami akan biarkan air mata ini terus berlinang. Tetapi, tiada tempat mengadu selain Allah SWT.

Susungguhnya kita ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya lah kita akan kembali. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau, ya Muhammad, adalah utusan Allah. (Aku bersaksi bahwa) engkau telah menunaikan risalah dan menyampaikan amanah. Dan engkau meninggalkan kami di atas yang bersih."
Sayyidina Abubakar tenggelam dalam kesedihan. Napasnya pun tersengal-sengal. Ia pandangi kembali wajah Rasulullah SAW seraya berkata," Ingatlah kami di sisi Tuhanmu, wahai Muhammad."
Wahai para sahabat yang mendapat didikan langsung dari RAsulullah SAW. (Dan untuk Sayyidina Abubakar) wahai sahabat Rasulullah ketika di Gua Tsur. Jadi engkau memahami bahwa perpindahan Rasulullah SAW itu adalah suatu kehidupan baru Rasulullah SAW. Sehingga, kalian mengatakan, "Ingatlah kami di sisi Tuhanmu, wahai Muhammad."

Makna "siapa Menyembah Muhammad…"
Sayyidina Abubakar mengusap air mata dari kedua matanya yang mulia itu dengan tangannya. Lalu ia kembali menyelimuti kain penutup wajah mulia Rasulullah SAW. Ia pun kemudian beranjak kepada keluarga Rasulullah SAW dan berusaha untuk menenangkan mereka. Pada saat ia menangis dan mengatakan kepada Rasulullah SAW bahwa beliau hidup dan wafat dalam kebaikan, saat itu para wanita seisi rumah itu pun menangis. Abubakar RA kemudian keluar dan ia melihat kembali betapa seisi masjid berada dalam kepiluan. Kemudian ia menaiki mimbar kekasihnya, tuannya, dan pemimpinnya, Rasulullah SAW. Langkah kakinya telah membawanya ke mimbar itu. Maka, setelah memuji Allah SWT, bersalawat atas Nabi, ia pun mengutip firman Allah SWT,"Setiap jiwa akan mendapatkan kematian." Ia juga membacakan ayat,"Dan tidaklah Muhammad itu kecuali sebagai rasul dan telah berlalu para rasul sebelumnya." Dan ayat,"Sesungguhnya engkau mati dan mereka juga mati."

Ia berkata lagi,"Siapa yang menyembah Muhammad, Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah,Allah itu hidup dan tidak mati." Kalimat ini mengandung pemahaman yang dalam. Pemahamannya bukanlah seperti pemahaman mereka yang jahil pada saat ini, yang memahami kata-kata "Siapa yang menyembah Muhammad, Muhammad telah wafat" sebagai putusnya hubungan dengan Nabi SAW. Demi Allah, Tuhan Yang Disembah, makna kalimat itu adalah siapa yang mengaitkan dirinya dengan kehidupan Rasulullah SAW di dunia saja, kehidupan Rasulullah SAW telah berakhir. Rasulullah telah wafat. Namun siapa yang menjadikan hubungannya dengan Rasulullah SAW sebagai hubungannya dengan Allah SWT, Allah itu Mahahidup dan tidak mati.

Jadi, dengan pengertian bahwa hubungan kalian dengan Rasulullah SAW tidak akan pernah berakhir. Karena, hubungan dengan Rasulullah SAW memiliki kaitan erat dengan hubungan kepada Allah SWT, Yang Mahahidup. Kaitan ini adalah kaitan yang hidup dan tidak pernah mati.
Kemudian Sayyidina Abubakar berpaling kepada Sayyidina Umar, menghiburnya dari kebimbangan yang ia rasakan.

Aroma Kesturi
Di rumah Rasulullah SAW, Sayyidina Ali pun telah bangun setelah terjatuh lantaran kesedihan. Ia bersama Sayyidina Abbas mengurus jenazah Rasulullah SAW. Kemudian, turut pula bersama itu kedua putra Sayyidina Abbas, yaitu Abdullah dan fadhl. Dibantu oleh mereka, Sayyidina Ali KW memandikan jasad mulia Rasulullah SAW dengan pakaian yang masih beliau kenakan tanpa membuka aurat beliau sedikit pun. Sayyidina Ali mengatakan, "Kami memandikan beliau dan beliau masih mengenakan pakaiannya. Saat kami hendak memiringkan beliau ke kanan, beliau menghadap kekanan dengan sendirinya. Ketika kami hendak memiringkan beliau ke kiri, beliau menghadap ke kiri dengan sendirinya. Kami tidak mendapati seorang pun yang membantu kami untuk memandikan beliau, kecuali jasad beliau sendiri yang berubah kedudukannya."
Katanya lagi, "Ketika kami memandikan beliau,angin yang sejuk dan nyaman bertiupan kearah kami seakan-akan kami merasakan para malaikat masuk dan bersama dengan kami pada saat itu, ikut memandikan jasad mulia Rasulullah SAW. Tidaklah ada air yang jatuh dari jasad mulia baginda Rasulullah, melainkan ia lebih wangi dari aroma kesturi. Kemudian, kami kafankan jasad beliau."

Salah Satu Taman Surga
Di tempat lain, para sahabat saling bertanya,"Di manakah akan kita makamkan jasad Rasulullah SAW?" Sebagian dari mereka ada yang mengatakan agar jasad Rasulullah SAW dimakamkan di Baqi'. Imam Muslim dalam kitab Ash-Shahih nya menyatakan, sebagian sahabat mengatakan agar beliau dimakamkan di sisi mimbarnya, yaitu di dalam Masjid Nabawi. Hal ini menjelaskan bahwa, ketika Allah melaknat Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat sujud mereka, laknat tersebut bukanlah karena sujud di suatu masjid yang ada kuburnya di dalamnya. Sebab, bila cara pandang seperti itu benar, niscaya para sahabatlah yang terlebih dahulu memahami akan hal tersebut, sebagai buah dari kehidupan mereka bersama Rasulullah SAW.
Sampai kemudian Sayyidina Abubakar RA mengatakan kepada para sahabat yang lainnya, "Sesungguhnya para nabi dikuburkan di tempat mereka mengembuskan napasnya yang terakhir, sebagaimana yang aku dengar dari sabda Rasulullah SAW." Maka digalilah lubang di dalam kamar Rasulullah SAW sebagai tempat untuk menyemayamkan jasad suci beliau. Kemudian turunlah Sayyidina Ali KW ke dalam lubang kubur Rasulullah SAW, yang, demi Allah, tak lain merupakan salah satu taman dari taman-taman surga. Selain Sayyidina Ali, ikut turun pula pembantu Rasulullah SAW yang bernama Syaqran. Syaqran berkata, "Aku melihat ke atas, tempat yang pernah diduduki Rasulullah SAW. Hatiku pilu. Kini kami harus meletakkan jasad Rasulullah SAW dalam kuburnya. Aku melihat ke atas tempat duduk Rasulullah SAW. Aku mengambilnya. Aku pun berkata, "Ya Rasulullah, tiada satu pun yang boleh duduk di atas tempat duduk ini selepasmu, wahai Rasulullah!." Sayyidina Ali pun memakamkan Rasulullah SAW dalam kubur beliau, bersama para sahabat yang terlibat saat pemakaman itu. Sang Putri Menyusul
Ketika mereka telah bubar usai pemakaman, datanglah Sayyidatina Fathimah Az-Zahra. Dialah yang tidak ada kesedihan yang lebih mendalam melanda seseorang setelah kepergian Rasulullah SAW selain yang dialami oleh putri Rasulullah SAW ini. Dalam keadaan menangis, Sayyidatina Fathimah melihat Anas bin Malik RA, pembantu ayahandanya, yang besar dibawah asuhan Rasulullah SAW dan mendapat didikan Rasulullah SAW, di rumah beliau itu. Kemudian ia berkata kepada Anas, "Ya Anas, engkau sanggup meletakkan tanah di atas tubuh Rasulullah?" Anas pun menangis, sambil mengatakan, "Celakalah kami, celakalah kami, celakalah kami, wahai Fathimah. Sesungguhnya kami tidak menyadari dengan apa yang kami lakukan. Kalaulah kami telah mendengarkan terlebih dulu apa yang engkau katakan sekarang ini, niscaya kami tidak akan sanggup mengebumikannya."
Sayyidatina Fathimah pun berlalu, seakan ia tak mengenali siapa pun yang ada disitu. Hatinya amat sedih karena musibah yang menimpanya. Ia kemudian berdiri di sisi kubur ayahandanya dan mengambil segumpal tanah, lalu menciumnya. Dalam tangisannya, ia berkata, "Apa yang dapat dirasakan si pencium tanah kubur Nabi Muhammad ini…. Tidak dapat dirasakan pada selainnya sepanjang masa. Aku ditimpa musibah dengan musibah yang jika musibah selainnya menimpaku setiap hari pun niscaya tidak mengapa."
Tidak sampai lima bulan setelah wafatnya Rasulullah SAW, Sayyidatina Fathimah pun wafat. Fathimah adalah seorang yang di gelari Ummu Abiha, Ibu dari Ayahnya (Karena sejak meninggalnya Sayyidatina Khadijah, istri Rasulullah SAW, Sayyidatina Fathimah-lah yang banyak mengurus keseharian hidup Rasulullah SAW). " Wahai Rasulullah…."
Sekarang, bagaimanakah keadaan kalian semua, wahai para sahabat, selepas wafatnya Rasulullah SAW? Adakah kalian memahaminya sebagai akhir dari kehidupan Rasulullah SAW? Demi Allah, tidak demikian. Dugaan seperti itu benar-benar meleset. Seperti yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari jilid kedua pada kitab Memohon Pertolongan, sebagaimana juga ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Al-Hakim, dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang shahih, Bilal ibn Harits Al-Muzuni, salah seorang sahabat Nabi, datang berziarah ke makam Rasulullah SAW. Saat itu musim paceklik tengah melanda,yaitu pada masa pemerintahan Sayyidina Umar RA. Ia pun berdiri di sisi makam mulia Rasulullah SAW dan berkata, "Ya Rasulullah…." Perhatikanlah baik-baik, sahabat Nabi ini mengatakan "Ya Rasulullah…." (Yaitu memanggil Rasulullah SAW secara langsung, atau sebagai orang kedua).
"Ya Rasulullah. Banyak yang telah binasa, mohonkanlah air kepada Allah untuk umatmu." Karena mereka memahami bahwa Rasulullah SAW hidup di dalam kuburnya. Beliau mendengarkan shalawat yang diucapkan atas beliau, dan menjawab salam yang diucapkan kepada beliau. Beliaulah yang telah bersabda,"Sesungguhnya para nabi itu hidup dalam kubur mereka." Selesai.

Wallahu a'lam Semoga bermanfaat.

Sumber : Majalah Alkisah edisi 05/2011

11.1.15

Video Mauidloh KH. Ahmad Wafi di Kalisafi Sayung Demak


Video Mauidloh
KH. Ahmad Wafi MZ
di Desa Kalisari Kec. Sayung Kab. Demak
Dalam Acara : Haflah Akhirussanah MD Assalafiyah


 PART 1

 PART 2
PART 3
PART 4



4.1.15

DALIL - DALIL PAHALA TIDAK SAMPAI PADA MAYIT ( HADIAH PAHALA UNTUK MAYIT Bag. 3)



DALIL-DALIL KELOMPOK LAIN, DAN SANGGAHANNYA
OLEH : GUS ROUF
            Kelompok yang berpendapat bahwa mayit tidak bisa mendapatkan manfaat dari amal orang lain mengemukakan beberapa dalil. Diantaranya adalah
1.    Firman Alloh Subhanahu wa ta’ala :
وأن ليس للإنسان إلا ما سعى
“Dan bahwasanya manusia tidak akan mendapat (pahala) melainkan dari usaha yang telah dia kerjakan” (QS. Annajm: 39).
           
SANGGAHAN.
Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat tersebut menurut Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma telah dihapus hukumnya (mansukh) oleh ayat:
والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان  ألحقنا بهم ذريتهم
“Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka” (QS. Atthur: 21)
            Menurut pendapat yang lain, ayat tersebut khusus untuk kaum Nabi Musa dan Nabi Ibrohim 'alaihimassalam, karena secara lengkap bunyi ayat tersebut adalah:
أم لم ينبأ بما في صحف موسى. وإبراهيم الذي وفى. ألا تزر وازرة وزر أخرى. وأن ليس للإنسان إلا ما سعى.
“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa. Dan lembaran-lembaran Ibrohim yang selalu menyempurnakan janji. (Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. Annajm: 36-39)
            Dalam “Aqidah Atthohawiyyah” (hal. 925) Syekh Ibnu Abil’izz menjelaskan bahwa Alqur’an (dalam ayat diatas) tidaklah menafikan seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal orang lain. Yang dinafikan adalah seseorang bisa memiliki amal orang lain.
Diantara dua hal ini terdapat perbedaan yang jelas. Alloh ta’ala mengambarkan bahwa seseorang tidak bisa memiliki kecuali apa yang telah dia kerjakan. Adapun amal orang lain, maka milik orang tersebut. Apabila dia mau, maka dia bisa memberikannya kepada orang lain, dan apabila dia mau maka dia bisa membiarkannya untuk dirinya sendiri.
Adapun firman Alloh ta’ala: “(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”, kedua ayat tersebut adalah muhkam (tidak mansukh), dan menunjukkan keadilan Tuhan yang Maha Mulia.
Ayat yang pertama menunjukkan bahwa Dia tidak menghukum seseorang sebab dosa orang lain, sebagaimana yang sering dilakukan oleh raja-raja di dunia.
Ayat kedua menunjukkan bahwa seseorang tidak akan berbahagia di akherat kecuali dengan amalnya sendiri, agar dia tidak tamak dan mengharapkan keselamatan dari amal orang tua atau gurunya, sebagaimana kebiasaan orang yang tamak. Alloh ta’ala tidak berfirman bahwa seseorang tidak bisa mendapatkan manfaat kecuali dari apa yang telah dia usahakan. 

2.    Dalil lain yang mereka paparkan adalah hadits:
إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له
“Apabila seorang manusia telah meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya” (HR. Muslim)

SANGGAHAN
Dalam beberapa hadits lain dijelaskan amal-amal lain yang pahalanya juga tidak terputus oleh kematian, seperti membuat sumur, mewakafkan Alqur’an, membuat sungai, membangun masjid, menanam pohon dan lain-lain.
Oleh karena itu, hadits diatas tidak bisa dijadikan dalil bahwa selain tiga hal diatas maka pahalanya terputus oleh kematian. Karena mafhum dari suatu hitungan tidaklah bisa dijadikan hujjah, atau karena Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam diberitahu oleh Alloh ta’ala mengenai tiga hal diatas, lalu Alloh ta’ala memberitahu beliau hal-hal yang lain.
            Syekh Ibnu Abil’izz dalam “syarh Aqidah Atthohawiyyah” menjelaskan bahwa menjadikan hadits “Apabila anak Adam telah meninggal maka putus amalnya…“ sebagai dalil adalah tindakan yang salah, karena Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam tidak bersabda “putus dari mendapatkan manfaat”, sabda Beliau adalah “putus amalnya”. Adapun amal orang lain maka menjadi milik orang itu. Apabila orang itu memberikan pahala amalnya bagi mayit maka pahala amal orang itu sampai kepada mayit, bukan pahala amalnya mayit. Seperti seseorang yang mempunyai hutang, lalu hutangnya dilunasi orang lain, maka dia menjadi bebas dari hutangnya, tapi dia tidak memiliki uang yang dipakai untuk melunasi hutangnya.  

PENDAPAT SYEKH IBNU TAIMIYYAH
            Syekh Taqiyyuddin Ahmad bin Taimiyyah berkata : Barangsiapa berkeyakinan bahwa seseorang tidak bisa mendapatkan manfaat kecuali dari amalnya sendiri maka sungguh dia telah melanggar ijma’ dan keyakinan tersebut hal yang bathil karena berbagai hal:

  1. Sesungguhnya manusia mendapat manfaat dari doa orang lain, dan hal ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  2. Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam memberi syafaat bagi orang-orang di padang mahsyar untuk dihisab, lalu memberi syafaat bagi penduduk surga untuk masuk surga, lalu memberi syafaat bagi orang-orang yang melakukan dosa besar untuk keluar dari neraka, dan hal-hal tersebut adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  3. Setiap Nabi dan orang sholeh bisa memberi syafaat, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain
  4. Para malaikat mendoakan dan memintakan ampunan untuk penduduk bumi, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  5. Alloh ta’ala mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali dari neraka, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari selain amal mereka
  6. Anak-anak orang mukmin masuk surga sebab amal orang tua mereka, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari selain amal mereka secara murni.
  7.  Alloh ta’ala berfirman dalam kisah dua anak yatim: “Dan orang tua mereka berdua adalah orang sholeh”, maka kedua anak yatim tersebut mendapatkan manfaat dari kesholehan orang tua mereka, dan hal tersebut bukan merupakan usaha mereka.
  8. Sesungguhnya mayit mendapatkan manfaaat dari shodaqoh yang dihadiahkan kepadanya dan dari memerdekakan budak seperti diterangkan dalam hadits dan ijma’, dan itu adalah amal orang lain
  9. Haji fardhu bisa gugur dari mayit dengan cara dihajikan walinya seperti diterangkan dalam hadits, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  10. Nadzar haji atau nadzar puasa bisa gugur dari mayit apabila dikerjakan orang lain, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  11. Orang yang berhutang yang mana Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam tidak berkenan menyolatinya sehingga hutangnya dilunasi Abu Qotadah radhiyallahu 'anhu, dan dalam kejadian lain dilunasi Ali bin Abu Tholib karromallohu wajhah, lalu dia mendapatkan manfaat dari sholatnya Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam dan hutangnya menjadi lunas. Hal tersebut adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  12. Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam bersabda terhadap orang yang sholat sendirian: “Agar seseorang bershodaqoh kepada orang ini, yaitu sholat bersamanya”, maka orang tersebut mendapat keutamaan sholat jamaah sebab perbuatan orang lain
  13. Seseorang bisa bebas dari tanggungan hutang-hutangnya apabila ada orang lain yang melunasinya, dan itu adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  14. Seseorang yang menanggung berbagai tanggungan dan perbuatan dholim bisa gugur tanggungannya apabila telah dimaafkan oleh mereka yang bersangkutan, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  15. Tetangga yang sholeh bisa memberi manfaat ketika hidupnya dan setelah wafatnya sebagaimana dijelaskan dalam hadits, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  16. Orang yang duduk bersama orang-orang yang berdzikir maka dia ikut mendapatkan rohmat meskipun dia tidak termasuk golongan mereka dan tidak duduk untuk berdzikir, dia duduk bersama mereka karena suatu keperluan. Maka orang itu mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  17. Mayit mendapatkan manfaat dari sholat jenazah dan dari doa untuknya yang dibaca dalam sholat jenazah, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  18. Sholat Jum’at dan sholat berjamaah terjadi dengan berkumpulnya orang banyak. Hal itu berarti sebagian orang mendapatkan manfaat dari sebagian yang lain.
  19. Alloh ta’ala berfirman: “Dan Alloh sekali-kali tidak akan mengadzab mereka sedang kamu berada diantara mereka”(QS. Al Anfal:33), “Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain pasti rusaklah bumi ini”(QS. Albaqoroh: 251). Maka Alloh ta’ala menolak suatu adzab dari suatu golongan karena adanya golongan yang lain, dan itu adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain.
  20. Zakat fitrah wajib atas anak kecil dan lain-lain, dan anak kecil telah lunas zakat fitrahnya apabila telah ditunaikan oleh walinya, dan ini adalah mendapatkan manfaat dari amal orang lain
  21. Zakat hukumnya wajib atas harta anak kecil dan orang gila dan mereka mendapatkan pahala meskipun bukan mereka yang menunaikannya. Dan barangsiapa mau meneliti maka dia akan menemukan hal-hal yang hampir tidak bisa dihitung (karena terlalu banyak) yang menunjukkan bahwa seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal orang lain (lihat: Ghoyatulmaqshud karya Syekh Abdulloh bin Humaid hal. 101)
(Sumber: Tahqiiqul aamaal fiimaa yanfa’ulmayyita minal a’maal dan Manhajussalaf fii fahminnushuush, keduanya karya Abuya Sayyid Muhammad Alawi Almaliki Alhasani rohimahulloh rohmatan wasi’ah)




DALIL-DALIL SAMPAINYA PAHALA PADA MAYIT HADIAH PAHALA UNTUK MAYIT (Bag. 2)

HADIAH PAHALA UNTUK MAYIT (Bag. 2)

Oleh : Gus ROUF

DALIL-DALIL SAMPAINYA PAHALA PADA MAYIT

Nash shorih Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (الحشر :10

“ Dan orang-orang yang datang sesudah mereka ( Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa : “ Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau tanmkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang” (Al Hasyr : 10)

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, An-nasa’i dan Ibnu Hibban dan beliau menghukuminya sebagai hadits shohih bahwa Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

اقرأوا يس على موتاكم

“Bacakanlah Yaasiin bagi mayit-mayit kalian”

Imam Nawawi dalam Al adzkar berkata: para ulama ahli hadits dan ahli fiqh dan yang lain menyatakan bahwa boleh mengamalkan hadits dhoif selama tidak tergolong hadits maudhu’ (palsu) dalam masalah fadhoil a’mal dan targhib dan tarhib. Abuya Sayyid Muhammad Alawi Almaliki menjelaskan bahwa Imam Abu Dawud diam dan tidak mengomentari hadits tersebut, maka hal tersebut menunjukkan bahwa hadits tersebut minimal mencapai derajat hasan lighoirih, maka bisa diamalkan dan bisa menolak pendapat orang-orang yang mengingkari. Lebih-lebih hadits tersebut telah diamalkan para fuqoha’ di segala negeri, sebagaimana dinyatakan oleh Syekh Ibnul qoyyim dalam kitabnya Arruuh. Dan hadits dhoif apabila telah lazim diamalkan maka menjadi kuat dan para ulama’ tidak mengingkari amaliah itu serta tidak menghukuminya sebagai bid’ah dholalah atau melanggar syariat. Maka bisa disimpulkan bahwa hadits tersebut bisa diterima dan diamalkan dalam masalah ini.

 Diriwayatkan dalam Musnad Al-firdaus dari Abu Darda’:

ما من ميت تقرأ عنده يس إلا هون الله عز وجل عليه

“Tiada mayit yang dibacakan Yasin disampingnya kecuali Alloh ta’ala memberi keringanan baginya”

Imam Muhibbuddin At-thobari berkata: yang dimaksud adalah mayit yang telah wafat, adapun pendapat yang mengarahkan hadits tersebut kepada orang yang akan dicabut nyawanya adalah pendapat yang tidak berdasar. Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

من دخل المقابر فقرأ سورة يس خفف عنهم يومئذ وكان له بعدد من فيها حسنات

“Barangsiapa masuk pekuburan lalu membaca Yasin maka para mayit diberi keringanan pada hari itu dan orang itu diberi pahala sebanyak hitungan para mayit” (HR. Atthobaroni)

 Sabda Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam :

لعله أن يخفف عنهما ما لم ييبسا

“Semoga kedua orang itu siksanya diberikan keringanan selama kedua pelepah kurma itu belum kering” (HR. Albukhori)

Imam Qodhi Iyadh dalam syarh Shohih Muslim berkata: para ulama berdasarkan hadits tersebut menyatakan bahwa membacakan Alqu’an untuk mayyit hukumnya adalah sunnah, karena kedua mayit tersebut diberikan keringanan sebab tasbih yang dibaca kedua pelepah kurma, maka bacaan Alqur’an lebih utama.

Sabda Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم

“ Diriwayatkan dari Abi Hurairoh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : sesungguhnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : apabila manusia meninggal, akan terputus amalnya kecuali tiga perkara ; Shodaqoh Jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya”(HR. muslim).

 Sabda Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam :

عن جرير بن عبد الله قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أجْرُهَا، وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورهمْ شَيءٌ، وَمَنْ سَنَّ في الإسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا ، وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ ، مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أوْزَارِهمْ شَيءٌ ( رواه مسلم

“ Diriwayatkan dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : barang siapa yang melakukan sunnah/perilaku yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahalanya ditambah pahala dari orang-orang setelahnya yang mengikuti sunnah/perilaku baik tersebut tanpa mengurangi pahala mereka, dan barang siapa yang melakukan sunnah/perilaku jelek dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosanya ditambah dosa dari orang-orang setelahnya yang mengikuti perilaku jelek tersebut tanpa mengurangi dosa mereka ”(HR. Muslim).

Sabda Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam :

عن ابْنُ عَبَّاسٍ : أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ ، وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَأَتَى النَّبِىَّ ( صلى الله عليه وسلم ) ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ ، وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، فَهَلْ يَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا ، قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِىَ الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
“ Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : sesungguhnya ketika ibundanya Sa’ad bin ‘Ubadah meninggal dunia sedang ia tidak menyaksikannya, lalu ia mendatangi Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : wahai Rasulallah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedang saya tidak menyaksikannya, apakah bisa bermanfaat jika aku bersedekah untuknya ?, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : ya (bisa bermanfaat). lalu Sa’ad berkata : saya persaksikan dihadapanmu sesungguhnya kebunku yang berbuah saya sedekahkan (yang pahalanya) untuk ibuku ”(HR. Muslim).

Hadits shohih yang diriwayatkan Albukhori dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa seorang wanita dari suku Juhainah datang kepada Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk pergi haji, tetapi dia meninggal sebelum mengerjakan haji itu, apakah boleh saya berhaji untuk menggantikan hajinya ibuku? Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:

نعم ، حجى عنها ، أرأيت لو كان على أمك دين أكنت قاضيته ؟ اقضوا الله ، فالله أحق بالوفاء.

“Iya, berhajilah untuk menggantikan hajinya ibumu. Perhatikan, andaikan ibumu mempunyai hutang, apakah engkau membayarnya? Bayarlah (hutangnya) kepada Alloh, karena (hutang) kepada Alloh lebih berhak untuk dilunasi”

Sabda Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam :

عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّي تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ قَالَ فَقَالَ وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا قَالَ صُومِي عَنْهَا قَالَتْ إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ حُجِّي عَنْهَا (رواه مسلم

“ Diriwayatkan dari Buraidah radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata : pada suatu ketika, saat kami sedang duduk bersama rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang perempuan mendatangi beliau dan berkata : sesungguhnya aku telah bersedekah kepada ibuku budak perempuan (jariyah), lalu ibuku meninggal, buraidah berkata : lalu Rasul bersabda : kamu sudah mendapatkan pahalanya, dan budak tadi kembali menjadi milikmu dengan jalan warisan, perempuan tadi berkata : wahai rasul, sesungguhnya ibuku mempunyai tanggungan puasa sebulan, apakah saya harus mengqodhoi puasanya ? Nabi menjawab : puasalah untuknya, perempuan tadi berkata lagi : sesungguhnya ibuku belum pernah haji sama sekali, apakah bisa aku tunaikan haji untuknya ? Nabi bersabda : tunaikanlah haji untuknya”,
.
Sabda Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam :

عن ابن عباس قال جاء رجلٌ إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إن أمي ماتت وعليها صوم شهرٍ أفأقضيه عنها فقال لو كان على أمك دينٌ أكنت قاضيه عنها قال نعم قال فدين الله أحق أن يقضى

“ Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : ada seorang laki-laki datang kepada Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : wahai Rasulallah, sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang ia punya tanggungan puasa selama satu bulan, apakah harus saya qodhoi ?, kemudian rasulullah balik bertanya : apabila ibumu mempunyai tanggungan hutang apakah akan kamu bayarkan ? ia menjawab : ya, Nabi bersabda : maka, hutang (tanggungan) kepada Allah itu lebih berhak untuk dibayar (ditunaikan). ” (HR. Bukhori).

Sabda Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ نَذْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا قَالَ أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ فَقَضَيْتِيهِ أَكَانَ يُؤَدِّي ذَلِكِ عَنْهَا قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَصُومِي عَنْ أُمِّكِ (رواه البخاري

“ Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata : ada seorang perempuan mendatangi Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : wahai Rasulallah, sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang ia punya tanggungan puasa nadzar, apakah harus saya qodhoi ?, kemudian rasulullah balik bertanya : apabila ibumu mempunyai tanggungan hutang lalu kamu bayarkan, apakah mencukupi untuknya ? ia menjawab : ya, Nabi bersabda : kalau begitu, puasalah untuk (mengqodhoi) ibumu. ” (HR. Bukhori).

Para ulama’ sepakat bahwasanya ketika ada seseorang yang masih hidup mempunyai tanggungan hutang, bisa gugur apabila orang yang menghutangi (ridho) tidak mau menerima hutangnya, meskipun orang yang hutang tersebut masih bisa membayar hutangnya, apalagi hutangnya mayit yang sudah tidak mungkin bisa membayar sendiri lagi, maka dari itu tanggungan orang mati tersebut gugur berdasarkan nas dan ijma’.

Kemudian apabila ibro’ (membebaskan hutang) bisa bermanfa’at bagi mayyit, secara otomatis hal tersebut juga berlaku pada masalah hibah, hadiah dan shodaqoh yang pahalanya ditujukan kepada mayyit, maka dari itu, dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara orang yang masih hidup dengan orang yang sudah mati. 

Pahala shodaqoh yang semestinya adalah hak milik orang yang beramal, ketika di niatkan atau di tujukan kepada mayyit, maka hak pahala tersebut akan sampai kepada mayyit, seperti halnya ketika ada orang yang mempunyai hak piutang yang ditanggung oleh mayyit, kemudian orang tersebut mengibro’kan/membebaskan tanggungan si mayyit, maka sahlah ibro’ tersebut sehingga hutangnya menjadi gugur. 

Jadi, Hak yang berupa pahala maupun hak yang berupa piutang pada awalnya keduanya dimiliki oleh seseorang yang masih hidup. kalau hak piutang dapat diberikan maka hak pahala juga dapat diberikan pada yang lain. Manakah ada nash, qiyas atau qoidah syara’ yang membedakan keduanya ?
Sesungguhnya, pahala itu adalah haknya orang yang beramal, namun ketika si ‘amil (yang beramal) memberikan pahalanya kepada orang muslim lainnya maka pahala itu pasti sampai, seperti halnya sahnya hibah yang diberikan seseorang kepada orang lain semasa hidupmya dan juga sahnya ibro’ seseorang yang masih hidup kepada si mayit.

Puasa saja yang bentuk ibadahnya hanya dengan niat dan menahan nafsu dari perkara yang membatalkan puasa, namun, sungguh Allah telah memberikan pahala puasa seseorang yang masih hidup kepada orang yang sudah mati, maka, bagaimana dengan ibadah membaca al-qur’an yang bentuk amaliyahnya dikerjakan dengan amal dan niat, pahalanya tidak bisa sampai pada mayyit ? bahkan membaca Al Qur’an terkadang tidak membutuhkan niat. Hal ini merupakan bukti bahwasannya pahala ibadah yang lain juga bisa sampai kepada mayyit.

Kita tahu, bahwa Ibadah itu dibagi menjadi dua bagian, ibadah maaliyyah (yang berupa harta benda) dan ibadah badaniyyah (yang dilakukan dengan anggota badan). Syari’at islam telah menjelaskan kepada kita bahwasannya bisa sampainya pahala shodaqoh kepada mayit adalah bukti bisa sampainya pahala ibadah maaliyyah lainnya, dan bisa sampainya pahala puasa adalah bukti bisa sampainya pahala ibadah badaniyah yang lain, serta sampainya pahala ibadah haji yang bentuk ibadahnya merupakan gabungan dari ibadah maaliyyah dan ibadah badaniyyah. Ketiga masalah ini sudah ditetapkan dalam nash dan i’tibar (pemahaman).

Masih banyak dalil yang menerangkan tentang sampainya pahala yang dihadiahkan kepada mayit.





 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan