13.9.12

DARI POHAMA MENJADI AL ANWAR

POHAMA. Bagi santri tua pondok pesantren Al-Anwar kata-kata POHAMA tidaklah asing bagi mereka karena mereka pasti tahu sejarah pondok pesantren al anwar kita ini tapi bagi santri sekarang kata-kata pohama seakan hilang tanpa ada bekas dan yang mereka tahu adalah al anwar. Pohama kependekan dari PONDOK HAJI MAIMOEN lalu mengapa sekarang menjadi al anwar??? mari kita simak yang berikut ini.....

KEBERADAAN pondok pesantren (PP) tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam di Indonesia. Lembaga pendidikan Islam tertua itu sudah dikenal semenjak agama Islam masuk ke wilayah Nusantara. Sejarah pondok pesantren merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perkembangan masyarakat Islam di Indonesia.

Peran para wali, ulama, dan kiai pondok pesantrem dalam merintis bertumbuh kembang desa, bahkan kota baru, terus tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Indonesia. Begitu pula dengan jejak rekam PP Al Anwar, Desa Karangmangu, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang.

Pondok pesantren yang berdiri di lahan seluas 7.712 meter persegi rintisan KH Maimun Zubair ini bukanlah pondok peninggalan. Sepulang studi di Makkah pada 1967, memicu banyak santri yang berdomisili di Pesantren Sarang untuk menimba ilmu langsung kepada KH Maimoen Zubair

Kemudian dibangunlah sebuah mushala sederhana di depan kediamannya yang menjadi tempat bagi para santri mengaji. Di sinilah cikal bakal PP Al Anwar. Melihat besarnya animo para santri, bangunan seadanya itu pun dijadikan pondok.

Fokus

Bangunan sederhana itu mereka manfaatkan untuk menginap agar lebih fokus dalam mengaji dan khidmat kepada Syaikhina KH Maimun Zubair. Oleh mereka sendiri, pondok yang diasuh putra KH Zubair itu diberi nama Pohama, kependekan Pondok Haji Maimoen.

Beberapa tahun berselang, untuk mengenang ayahanda beliau, KH Zubair Dahlan yang sebelum menunaikan ibadah haji bernama KH Anwar, nama Pohama diubah menjadi Pondok Al-Anwar.

Perkembangan jumlah santri PP Al Anwar pesat, sehingga menuntut pembangunan fisik. Pada 1971, mushala itu direnovasi dengan penambahan bangunan di atasnya, yang kemudian disebut dengan Khos Darussalam. Di tempat itu juga dibangun sebuah kantor, persis di selatan rumah Syaikhina.

Santri pun terus bertambah. Pada 1973 dibangun Khos Darunnaíim dan Khos Nurul Huda pada 1975, serta Khos AF 1980. Pada 2004, gedung serbaguna PP Al Anwar berlantai lima diresmikan Wakil Presiden RI kala itu, Dr H Hamzah Haz.




0 komentar:

Post a Comment

 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan