16.1.12

Khilafah Sekarang Tinggal Sebuah Nostalgia Belaka

Sumber : Blog Sebelah (Sahabalit), Maaf pada pemilik blog belum ijin share coz di blognya tidak ada kolom comment sih.. Judul Asli (wawancara dengan Bpk. Idrus Ramli)

Isi makalah yang kami baca jika dikaitkan dengan judulnya, kami menyimpulkan kalau jenengan memandang hilafah hanyalah nostalgia. Benarkah kesimpulan kami seperti ini?
Jadi persoalan khilafah  sebenarnya hanyalah satu persoalan kecil diantara sekian persoalan umat islam yang sekarang ini tidak bisa ditarapkan. Tidak bisa diterapkan ini bukan karena tidak wajib. Tapi karena memang kita tidak punya kemampuan untuk menegakkan hilafah. Berhubung didalam agama itu kewajiban selalu di kaitkan dengan kemampuan, sebagaimana Imam Haromaim dalam kitab Al-Goyasi beliau mengatakan:
نصب الامام عند امكان الواجب
artinya: mengangkat imam itu wajib ketika memang mampu, kalau tidak mampu, ya berarti tinggal nostalgia.
Dari ketidak mungkinan menurut jenengan khilafah hanyalah nostalgia, bukankah dari ketidak mungkinan ini seharusnya kita memperjuangkannya dan membuatnya menjadi mungkin?
Saya kira tidak seperti itu, karena kalau kita lihat, yang menjadi sumber utama tidak adanya kesadaran masyarakat kepada tatbiqussyariat secara umum dan mendirikan khilafah secara khusus, itu karena memang ilmu agama kurang diminati oleh masarakat. Jadi kalau kita tidak mampu menegakkan kilafah, kewajiban kita bukanlah untuk memperjuangkan tegaknya kilafah tetapi nasrul ilmi. Berbicara masalah khilafah secara sosial politik kita juga tidak mampu, karena memang kilafah itu sekupnya internasional, dan apakah bisa?, bisa atau tidak, itukan perlu kesadaran. Dari sini biasanya orang terjebak dengan slogan–slogan HTI,  padahal tidak seperti itu. Artinya, kesadaran itu butuh ilmu pengetahuan. Jadi yang kita perjuangkan adalah menyebarkan ilmu pengetahuan. Ketika khilafah itu tidak ada agama kita tidak memerintahkan kita untuk memperjuangkannya, tapi agama memerintahkan kita untuk attamsuk berpegang teguh dengan ajaran ahli sunnah wal jamaah dan menyebarkan ajarannya.
Meskipun nasrul ilmi yang seharusnya menjadi fokus kita, tetapi apakah berjuang melalui jalur politik sama sekali tidak diperlukan?
Menurut saya didalam berjuang itu yang lebih baik bukan lewat jalur politik,  tetapi lewat pesantren dan pengajian-pengajian kitab kuning. Karena tampilnya seorang imam atau pemimpin yang adil itu tergantung dari kondisi rakyat, jadi pemimpin itu miniatur gambaran kecil dari kondisi rakyat.  Karenanya didalam Al-quran ada ayat:
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya: deminianlah kami jadikan pemimpim yang dzolim bagi sebagian orang yang dzolim sebab apa yang mereka lakukan. Imam Fakhrurrozi dalam tafsirnya menjelaskan: ketika rakyat itu dzolim pemimpinnya juga dzolim, kalau rakyat menginginkan pemimpin yang adil rakyat haruslah bertaubat kepada Allah, dan  bertaubat itu tentunya  butuh ilmu pengetahuan. Metodologi seperti inlah yang sebenarnya banyak dipaparkan imam Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Jadi munculnya pemimpin yang adil itu bukan karena diperjuangkan lewat jalur politik tetapi dari jalur pendidikan guna memperbaiki kondisi rakyat, sehingga muncullah pemimpin yang baik pula .
Jadi menurut jenengan yang salah dari HTI itu dari konsep perjuangannya atau dari ideologinya?
Saya kira HTI itu salah semua, salah dari konsep perjuangan seperti itu yang seharusnya tidak perlu. mengapa demikian?, karena untuk menyadarkan masyarakat itu yang dibutuhkan adalah ilmu pengetahuan, jadi yang sebenarnya diperlukan adalah perjuangan nasrul ilmi. Dan dari sisi ideology pun HTI juga banyak yang melenceng, misalnya masalah qodo' dan qodar, mereka sama sekali tidak memperhatikan dan tidak menganggap qodo' dan qodar sebagai rukun iman sehingga rukun iman menurut mereka hanya ada lima. Dan masih banyak lagi ideologi-ideologi mereka yang melenceng. Inilah yang menjadi persoalan kita. HTI itu berjuang tetapi perjuangannya ngawur. Ketika dulu Khomaini jadi presiden Iran pimpinan HTI minta supaya Khomaini jadi seorang khilafah, padahal khomaini tidak percaya Al-Quran . lha kalo pemimpinnya tidak percaya Al-Quran, gimana nanti uamt islam ???
Jadi perbedaan perjuangan HTI dengan kita, kalau HTI perjuangannya dari atas artinya pemerintahan ditegakkan dulu dan setelah berhasil System Negara atau undang-undang dirubah kemudian setelah itu rakyat diperbaiki melalui mesin kekuasaan.   Kalau kita dari bawah artinya masarakat kita didik agar sholat dengan baik dan lain sebagainya, sebab dalam Al-quran
إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
 Artinya: bahwa sesungguhnya sholat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar .
Dari Malik Bin Dinar beliau mengutip firman-firman allah dari kitab samawi sebelumnya:
أنا الله ملك الملوك، ومالك الملوك وقلوب الملوك ونواصيهم بيدي فإن العباد أطاعوني جعلتهم عليهم رحمة وإن عصوني جعلتهم عليهم عقوبة فلا تشتغلوا بسب الملوك ولكن توبوا إليَّ أعطفهم عليكم
Akulah pemilik kerajaan dan rajanya para raja, hati dan ubun-ubun para raja ada pada kekuasaanku. barang siapa tho’at padaku maka aku jadikan pemimpn itu rohmat baginya, dan barang siapa maksiat padaku aku jadikan pemimpin itu malapetaka baginya, maka kamu jangan sibuk memaki pemimpin , tetapi tobatlah kepadaku maka akan aku jadikan hati penguasa lembut padamu.
Lha sekarang dibuletin-buletinnya HTI malah sibuk membicarakan penguasa dan sistem-sistemnya. Tidak seperti kita yang mendidik masarakat menjadi baik.
Perlu diketahui, didalam Hadis, khilafah yang syar’iyah itu hanya ada selama 30 tahun. Yaitu pada masa Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Ustman, Sayyidina Ali. Setelah itu bukan khilafah lagi, tapi “Mulk  atau Kerajaan” meskipun secara formal di panggil khilafah tetapi sistam pemerintahannya sudah kerajaan.




1 komentar:

riska sani said...

http://www.titokpriastomo.com/peristiwa/tawaran-hizbut-tahrir-kepada-khomeini.html

Post a Comment

 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan