8.4.12

Haji Lambang Perjalanan Penempuh Thoriqot


Haji syariat adalah berhaji ke Baitullah Ta’ala dengan syarat-syarat dan rukunnya hingga sukses meraih pahala haji. Jika syarat tersebut kurang, berkurang pula pahalanya dan bahkan membatalkannya. Karena Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menuntaskan dan menyempurnakan haji melalui firmanNya:
"Dan sempurnakan haji dan ‘umroh, hanya bagi Allah…"
Diantaranya adalah Ihrom, kemudian memasuki Makkah, lalu Thawaf Qudum, kemudian wuquf di Arafah, lalu bermalam di Muzdalifah, kemudian menyembelih korban di Mina, lalu memasuki Al-Haram, Thawaf memutari ka’bah tujuh kali, lalu meminum air Zamzam, kemudian sholat dua rekaat setelah thawaf di maqom Ibrahim al-Khalil, lalu Tahallul.
Balasan haji ini adalah terbebas dari neraka Jahim dan aman dari kepaksaan Allah Ta’ala seperti firmanNya: "Siapa yang memasukinya (Al-Haram) maka ia aman…),
Setelah itu thawaf shard (mengelilingi dada ruhani) dan kembali ke negerinya, semoga Allah melimpahkan rizkinya pada kami dan kalian.
Mengenai penjelasan makna Haji secara Thoriqoh adalah dengan suatu nilai tambah disertai kendaraannya, pertama-tama adalah kecondongan hati kepada Shohibut Talqin (Mursyid) dan meraih talqin darinya, kemudian mendisipilinkan dzikir dengan lisan disertai maknanya.
Dimaksud dengan dzikir itu adalah ucapan Laa Ilaaha Illallah, yang kelak membuat hatinya hidup hingga sibuk dengan dzikrullah dalam batinnya dengan penuh kebeningan jiwanya.
Pertama-tama mendisiplinkan diri pada Asma-asma Sifat, agar muncul Ka’bah Rahasia Jiwa melalui cahaya-cahaya Sifat KemahaindahanNya sebagaimana perintahnya kepada Nabi Ibrahim as :
"Hendaknya kalian berdua menyucikan RumahKu untuk orang-orang yang thawaf."
Ka’bah Lahiriyah penyuciannya melalui orang-orang yang thawaf, sedangkan Ka’bah Batin penyuciannya melalui memandang Sang Khaliq. Dan tak ada yang lebih indah dalam penyucian jiwa dibanding yang demikian itu.
Kemudian sang penempuh melakukan Ihram dengan cahaya Ruh yang suci, kemudian memasuki Ka’bah Qalbu, lalu Thawaf Qudum dengan mendisiplinkan dzikir Asma kedua, yaitu Allah.
Lalu pergi ke Arafah Qalbu, yaitu wilayah munajat, kemudian wuquf di dalamnya dengan mengokohkan Asma ketiga, yaitu Huwa, dan Asma ke empat yaitu Haqq.
Lalu menuju Muzdalifah Spirit Qalbu, memadu Asma kelima yaitu Hayyu dan Asma keenam yaitu Qoyyum, kemudian pergi ke Mina Rahasia Jiwa yaitu antara dua Tanah Haram dan berhenti antara keduanya.
Selanjutnya menyembelih Nafsul Muthmainnah dengan mengokohkan Asma yang ketujuh yaitu Qohhar, karena Asma ini adalah Ismul Fana’ (Nama Allah yang menfanakan makhluk) dan penyingkap hijab kekafiran, seperti sabda Nabi saw:
"Kufur dan iman adalah dua maqom di balik Arasy, dan keduanya merupakan dua hijab antara hamba dengan Tuhannya yang Maha Mulia, satu bernuansa hitam dan satu bernuansa putih."
Lalu mencukur kepala Ar-Ruhul Qudsy dari sifat-sifat kemanusiaan dengan mengokohkan Asma kedelapan.
Baru kemudian memasuki Tanah Haram Rahasia Jiwa dengan mengokohkan Asma kesembilan, lalu wushul dengan melihat orang yang itikaf, kemudian beri’tikaf di hamparan Qurbah dan kemesraan Ilahi dengan mengokohkan Asma kesepuluh, lantas melihat Keindahan Sifat ShomadiyahNya, Maha Suci Dia, betapa agungNya tanpa bagaimana dan tanpa serupa.
Kemudian melalukan Thawaf tujuh kali putaran dengan mengokohkan Asma kesebelas yang disertai enam Asma dari cabang Asma utama, kemudian meminum dari Tangan Taqarrub dengan kesegaran jiwa sebagaimana firmanNya:
"Dan Tuhan mereka memberi minuman mereka dengan minuman suci."
Dari wadah minuman Asma keduabelas lantas berselubung dari Wajah Yang Maha Abadi yang Maha Suci dari keserupaan, lalu ia memandangNya dari CahayaNya kepadaNya. Inilah makna firman Allah:
"Suatu yang tak bisa dipandang mata dan tak pernah terdengar telinga serta tidak terlintas di hati manusia."
Yakni Kalam Allah Ta’ala itu tanpa perantara huruf dan suara. Sedangkan dimaksud dengan tak pernah terlintas di hati manusia adalah rasa memandang dan dialog.
Baru kemudian bertahallul dari apa yang dilarang Allah Ta’ala dengan mengganti keburukan dengan kebajikan melalui pengulangan Asma-asma Tauhid seperti firman Allah Ta’ala:
"Siapa yang bertaubat dan beriman dan beramal saleh, maka mereka Allah menggantikan keburukan mereka dengan kebajikan-kebajikan."
Barulah ia terbebas merdeka dari mekanisme nafsu dalam dirinya, lalu aman dari rasa takut dan gelisah sebagaimana firmanNya:
"Ingatlah sesungguhnya para Wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka merasakan kegelisahan."
Semoga Allah memberi rizki kepada kami dan kalian dengan anugerah utamaNya, kemurahan dan kemulianNya.
Kemudian melakukan Thawaf Dada dengan mengulang Asama-asma semuanya, kemudian kembali ke negerinya yang asli yang ada di alam suci dan alam sebaik-baik makhluk dengan mengokohkan Asma kedua belas, yaitu yang bergantung dengan alam yaqin.
Penakwilan dan interpretasi ini berada di siklus wacana dan akal, sedangkan dibalik itu semua tidak mungkin untuk diungkapkan. Karena tidak akan bias difahami, tidak pula disimakkan sebagaimana sabda Nabi saw:
"Diantara sebagian ilmu bagaikan rahasia tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh para Ulama Billah, karena jika Ulama Billah itu bicara kaum dunia mengingkarinya."
Orang ‘arif bicara yang tersembunyi, dan orang yang ‘alim bicara yang tampak belaka. Karena pengetahuan sang arif adalah rahasia Allah ta’ala dan tak ada yang tahu selain selain diriNya, sebagaimana firmanNya,
"Dan mereka tidak sedikitpun meliputi IlmuNya kecuali yang dikehendakiNya"
Yaitu dari kalangan Nabi dan Auliya’, karena Allah mengetahui yang rahasia maupun yang tersembunyi. Allah tidada Tuhan selain Dia, dan bagiNya adalah Asma-asma….Wallahu A’lam.




0 komentar:

Post a Comment

 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan