11.1.13

KITAB TUROST SELALU BERGANDENGAN DENGAN ZAMAN

Oleh: Ag. H. Rosyid Abdulloh Ubab

Hidup di era yang serba canggih seperti sekarang ini sangatlah susah dan pelik jika berinteraksi dengan kitab-kitab turots, lebih-lebih berkonsentrasi dengan pemikiran-pemikiran yang telah lama dibangun oleh para ulama’ assolihin yang tertuang dalam kitab turost peninggalan mereka, namun sebenarnya hal itu sangatlah mudah kalau kita mau mempelajarinya. Kitab turost adalah kitab salaf karya ulama’ itu sendiri, yang dewasa ini banyak kalangan pesantren yang mempopulerkannya dengan sebutan kitab kuning.

Kitab Turost sekarang seolah-olah mulai tergerus dengan keadaan dan problematika zaman yang ada, dengan keadaan yang serba ruwet tanpa kompromi, seakan-akan anak muda penerus agama mulai melupakan bahkan tidak mau lagi mengkaji kitab-kitab turost, padahal seyogyanya kitab-kitab itu dijadikan pijakan dan pedoman hidup, sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW yang sudah popular bahwa ”ulama’ adalah pewaris para nabi”.

Para ulama’ terdahulu  sangatlah rajin memomong masyarakat kejalan yang benar,  dengan tetap  menganut ajaran Rosulullah SAW, menguraikan nasehat yang baik serta mengayomi secara luwes dengan cara-cara ampuh yang beliau miliki.Termasuk dari beberapa cara berjihad ulama terdahulu adalah  dengan menuangkan pemikiran-pemikiran brilian dalam suatu goresan pena dan mencetaknya menjadi sebuah kitab yang layak untuk dipelajari, tak ayal sampai era modern seperti sekarang inipun, karya-karya mereka masih relevan untuk dipelajari dan dijadikan tongkat  jawaban pada kemusykilan yang ada.
Turost sendiri secara harfiyyah berarti sesuatu yang di tinggalkan atau di wariskan. Dikalangan ulama’, kata” turost dipergunakan dalam khazanah ulama’ kuno yang di wariskan pada ulama’ modern.
Kitab turost adalah bukti nyata,  sebuah karya dari ulama’ yang telah mempersembahkan tulisannya sebagai oleh-oleh kepada ulama’ atau generasi setelahnya. Didalamnya banyak terkandung  segala aspek yang ada pada manusia, seperti  mas’alah ibadah dan  amaliyah yang sudah di jelaskan indepedensi ilmu fiqih,  Ilmu gramatikal arab dalam nahwu dan shorof, ilmu untuk memahami al-Qur’an lewat tafsir, dan masih banyak lagi ilmu-ilmu yang di karang oleh para ulama’ terdahulu.
Tak salah bila ada seseorang yang mengatakan,  jika  kita mampu mengkaji atau menggali satu kitab turost saja (semisal kitab fathul qorib, banyak juga yang mensyarahi sampai dua atau empat jilid) maka berjuta-juta faidah atau hikmah-hikmah akan kita temukan didalamnya, dan kita juga akan mengetahui bagaimanakah cara pandang ulama’ terdahulu dalam memenuhi da’wah kepada masyarakat. Apalagi kalau kita mau mendalami dua kitab atau lebih.
Termasuk ulama’ salaf yang banyak membuahkan karya, yang sampai sekarang masih di pelajari dikalangan masyarakat, adalah Imam as syafi’I, beliau merupakan  salah satu imam madzhab empat yang wajib diikuti menurut pandangan ahli sunnah wal jama’ah.
Kecerdasan dan tingginya ilmu beliau sudah tidak di ragukan lagi, apalagi ketika beliau membuat kitab “arrisalahkitab monumental dalam Ilmu usulul fiqhi. Semua ulama’  pada waktu itu merasa tercengang, takjub dengan keindahan bahasa dan kandungannya.
Imam syafi’I sangatlah terkenal kealimanya, Muhammad bin abdul hakam salah satu dari murid syafi’I mengatakan : jika aku tidak berguru kepada Syafii aku tidak akan bisa memahami dan mengetahui sesuatu apapun seperti sekarang ini, dengan berguru kepada belaiu, saya bisa mengerti qiyas, beliau adalah ahli hadist, lisanya menggunakan bahasa arab yang fasih, dan cara menjelaskanya mudah di fahami.
Di Indonesia kita mengenal banyak ulama yang mumpuni dari kalangan pesantren, banyak yang kita ketahui, semisal ada Syeh Nawawi dari Banten, Syeh Arsyad al-Banjari, Syeh Yasin bin Isa alfadani, Syeh Mahfudz Termas, Syeh Sholeh Darat Semarang, Syeh Ihsan Jampes Kediri dan masih banyak lagi ulama’-ulama’ lainnya.
Kesemuanya adalah ulama’- ulama’ Indonesia, banyak sekali karya-karya mereka yang diakui keberadaannya, bahkan sampai sekarang pun masih terus dipelajari dan menjadi kurikulum pesantren-pesantren di Indonesia bahkan sampai ke Timur Tengah. Seperti karya-karya yang sangat terkenal karangan Syeh Ihsan Jampes dan Syeh Nawawi Banten.
Dan tidak mustahil, semua karya-karya ulama’ tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa ini, yang sangat membutuhkan goresan-goresan ulama’ dahulu untuk di kaji dan di pelajari, karena banyak hikmah yang bisa di peroleh dari kitab kitab tersebut .
Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri banyak menjelaskan tentang keagungan ilmu dan kewajiban bagi seluruh ummat untuk mempelajarinya, tak terkecuali ilmu-ilmu yang sudah dibuat dan dikemas oleh para ulama salaf.
Ada dalil di dalam sebuah hadis, kanjeng nabi berkata:”Mempelajari ilmu adalah suatu kewajiban yang hukumnya wajib bagi setiap kaum muslimin dan muslimah “ dalam hadis ini semua bisa memahami tentang kewajiban semua ummat  muslim dan muslimah untuk  mencari ilmu. Banyak Ulama’ menafsiri mencari ilmu” yang dikehendaki dalam hadits adalah mencari ilmu agama.
Dikarenakan, seandainya kita tanpa ilmu agama, kita tidak akan mengetahui akidah dalam Islam, semisal di dalam tauhid kita di wajibkan mengetahui sifat-sifat Allah SWT yang ada dua puluh dan sifat-sifat  nabi yang ada empat, kita sudah di wajibkan untuk mengetahui satu persatu safat-sifat tersebut,  dengan tanpa taqlid buta akan tetapi mengetahui dengan secara menyeluruh, ironisnya masih banyak kalangan yang tidak mau tahu untuk mendalaminya
Para ulama sepakat akan kewajibkan mencari ilmu, mereka juga sepakat “beramal dengan alqur’an dan hadist, dikarenakan keduanya adalah petunjuk yang terang dari Allah SWT yang sudah  pasti kebenarannya. Oleh karenanya kalau toh ada orang yang mengatakan al-qur’an itu salah begitu juga dengan hadist maka bisa kita pastikan ada yang tidak beres dengan otaknya, hal ini dikarenakan al-Qur’an dari Allah dan hadis adalah perkara yang datang dari nabi Muhammad SAW seseorang yang ma’sum.
Adapun selain al-Quran dan hadist, banyak sekali ilmu-ilmu dari para ulama’, semisal golongan ahli tafsir, ahli hadist, ahli fiqih, dan mutakallimin, yang semuanya bisa diterima dengan syarat mengikuti al-Quran dan hadist.
Yusuf Qordowi di dalam karyanya ”kaifa na ta ammal ma at-trost” telah  membagi golongan turost menjadi empat bagian.
Pertama Fuqoha’; Yaitu golongan yang meneliti dengan Istinbat  Furuiyyah Syariyyah Amaliyyah dengan dalil yang diperinci.
Kedua Ahli Hadist; yaitu para ulama’ yang konsisten menulis tentang hadis rosulillah dan perjalanan shahabat maupun tabiin.
Ketiga Mutakallimin, yang bersangkutan dengan aqidah dengan asas aqli dan naqli seperti Asyariyyah dan Maturidiyyah.
Ke empat Sufiyyah; yang konsentrasinya di dalam kehidupan ruhiyyah dan batiniyyah, Seperti Ibrahim bin adham dan lainya.
Golongan tersebut mempunyai pandangan dan ijtihad dalam kajian ilmiyyah, yang barang tentu sedikit banyak akan mengambil dari al-Qur’an dan hadist, dan inilah yang boleh di ambil, adapun yang menyimpang dari al-Qur’an dan hadist perlu di tinjau lagi keabsahannya.
Al-Qordowi sendiri  juga memberikan dasar-dasar untuk ber-amal dengan turost, yaitu dengan empat dasar.
Pertama, harus mengetahui sanad, dengan tanpa langsung percaya atau diambil secara comot.
Kedua, tetapnya keyakinan untuk menolak, salagi tidak ada yang dari nabi.
Ketiga, wajib adil di dalamnya.
ke empat, tidak membatasi dengan mecacatnya/memberi tinjauan.
Dengan banyaknya ilmu-ilmu ulama’ yang bertendensi atas dasar al-Qur’an, hadist, qiyas dan ijma’, sudah sepantasanya kita sebagai  muda mudi penerus agama mengkaji dan mempelajari dengan serius dan detail, semisal kita tidak meninggalkan kitab-kitab tersebut. Bagaimana kita akan melangkah kedepan jika tanpa mengambil dari karya-karya beliau?.
Dan masih  banyak sekali hikmah- hikmah yang bisa kita petik dari kitab turost, begitu juga ilmu-ilmu yang semestinya kita serap dan selami dari kitab tersebut. Wallahu a’lam bissowab.





0 komentar:

Post a Comment

 
oleh Ahadan blog | Bloggerized by Ahadan | ahdan